Aku nyaman berada di samping nya, Cinta nya yang begitu sangat tulus dan kedewasaan nya membuat diriku sangat nyaman berada di samping nya.
Dia sangat setia pada Negara dan kekasih hatinya Aku, hanya satu ungkapan untuk ku yaitu Kamu telah memilih ku, Aku milik Negara tak hanya milikmu kamu harus siap menerima suatu saat nanti hanya nama dalam kenangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Herliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Kebahagiaan Atau Kesedihan
" Iya nanti Dika kesana."
Dika mematikan ponselnya saat setelah menerima panggilan telepon nya, lalu Dika berjalan bergabung dengan para Anggota lain nya yang tengah berjaga di pos.
" Bang, lusa ada kunjungan Menteri Abang kebagian tugas mengawal? " Ucap sersan Anton.
" Lusa kayak nya Aku nggak bisa soalnya ada keperluan mendadak, nanti Aku bilang sama Pak Danyon untuk mengganti tugas mengawal nya. " Ucap Dika.
********
" Kebayanya kok pada nggak muat mba mince." Ucap Tasya saat sedang mencoba sebuah kebaya untuk acara kelulusan besok.
" Itu udah yang ukuran besar say, terus lihat deh di kaca dada kamu itu loh."
Tasya memperhatikan dada nya berubah, dan perubahan di tubuh nya.
" Mba Mince, Aku sekarang berisi deh coba lihat dada sama pinggulnya."
" Berarti kamu gemuk say, nih coba ukuran yang ini."
*******
" Iya.. iya Dika sekarang kesana, tapi mungkin sore nggak bisa sekarang langsung berangkat ada acara."
#####
#####
#####
#####
#####
#####
#####
Dika lalu mencoba menghubungi Tasya namun tidak ada jawaban dari Tasya lalu Dika mencoba mengirim pesan pada Tasya.
******
Semua Siswa Siswi kelas 12 telah selesai mengikuti ujian nasional dan nilai terbaik pun mereka semua terima, rasa bahagia saat kepala sekolah menyatakan mereka lulus seratus persen.
" Akh.. bahagianya." Ucap Kinan sembari memeluk Tasya.
" Iya akhirnya kita lulus, ih.. sedih tahu kita nggak sama - sama lagi." Ucap Tasya yang sudah meneteskan air mata nya.
" Nanti kalau nikah sama om Tentara jangan lupa kasih undangan ya."
" Iya, pasti."
******
" Selamat nak, kamu akhirnya lulus juga." Ucap Ibu Wati memeluk Tasya.
" Terima kasih Bu, karena doa Ibu dan semangat dari Ibu." ucap Tasya.
" Ibu bangga punya anak seperti kamu, lulus dengan nilai yang memuaskan."
" Alhamdullilah bu."
" Kamu sudah kasih kabar Dika? "
" Belum bu, malah Saya nungguin mas Dika."
" Kamu kabari dia, kamu lulus." Ucap Ibu Wati.
" Iya bu, oh iya bu nanti besok acara perpisahan pake kebaya pinjam di salon mba Mince."
" Kebaya nya bagaimana cocok? "
" Sampe lama nyari kebaya yang muat Karen perubahan tubuh Tasya lihat bu, dada sama Pantat nya."
Ibu Wati memperhatikan tubuh Tasya, dan ada sedikit rasa ganjil di tubuh Tasya namun Ibu Wati segera menepisnya.
***
Tasya membuka ponselnya dan ada satu chat dari kekasih nya, lalu Tasya pun membaca Chat yang di kirim oleh Dika.
❤ My Love ❤
Dek, maaf mas nggak bisa datang di hari kelulusan kamu, dan besok saat acara perpisahan di sekolah Mas nggak bisa antar. Selamat sayang, pasti calon istri mas lulus. Tunggu mas, sesuai janji Mas, setelah lulus Mas akan melamar kamu, kita nikah kita yakin akan dapat restu dari mereka. I love you sayang
Tasya lalu menyimpan ponselnya di atas nakas, di pandang nya photo Dika dengan seragam loreng nya hingga terlihat gagah.
" Aku tunggu janji kamu mas, Aku tunggu."
*****
Saat pagi sudah siap akan berangkat Tasya merasa sangat mual hingga perutnya terasa seperti di aduk - aduk.
Tasya pun lari ke kamar mandi, hingga memuntahkan semua isi perutnya.
" Tasya kamu kenapa nak? " Tanya Ibu Wati saat tahu anak nya lari kedalam kamar mandi.
" Nggak tahu bu pusing banget sama mual."
" Ya sudah jangan datang lagi di acara perpisahan nya kondisi kamu pucat banget."
" Nggak mau Bu, ini acara penting."
" Terus kamu bagaimana kondisi kamu seperti ini." Ucap Ibu Wati panik.
" Nggak apa - apa bu Tasya kuat."
*****
Acara pun sangat meriah berbagai hiburan yang di sumbangkan oleh adik kelas dan anak kelas 12 pun ikut memeriahkan acara perpisahan tersebut.
Hawa panas dan wangi perfume yang begitu menyengat hingga terasa di hidung, acara perpisahan pun sangat berbeda karena kedatangan Pak Menteri di acara tersebut hingga banyak pengawalan ketat.
" Eh Tasya Om Tentara ada nggak? Bisik Kinan.
" Kayak nya nggak ada." Jawab Tasya yang menahan mual nya.
Namun karena tak tahan menahan mual, Tasya keluar dari dalam Aula menuju ke arah Toilet. Tasya pun berlari kecil hingga dia tak tahan memuntahkan isi perutnya di bawah pohon mangga yang ada di sekolah nya.
Hoek.. hoek...
Sebuah tangan kekar memijat tengkuk leher Tasya, dan Tasya sedikit menoleh ke arah siapa yang memijat tengkuk leher nya.
" Keluar kan semua, biar lega." Ucap Reza.
Tasya pun merasa sedikit lega saat memuntahkan isi perutnya nya yang hanya berupa cairan.
" Kamu pucat loh, kita ke ruang kesehatan ya." Ajak Reza.
" Nggak usah kak, Tasya butuh udara segar." Ucap Tasya dengan wajah pucat dan keringat yang membasahi pelipisnya.
Tasya lalu duduk di sebuah bangku dekat pembatas lapangan voly, dia menyandarkan kepalanya di sebuah tiang.
Tanpa sepengetahuan Tasya, Dika memotret Tasya dan mengirim photo Tasya pada Pada Dika.
Me
Calon istri kamu sedang sakit??
Pesan itu pun terkirim ke Dika, namun belum dapat respon.
***
" Tasya maaf kakak nggak bisa antar kamu pulang, karena mengawal Pak Menteri." Ucap Dika saat Acara sudah selesai.
" Iya Kak nggak apa - apa ini juga Tasya sudah baikan."
" Hati - hati, Aku sudah kabari ke Dika tentang kondisi kamu sekarang."
" Terima kasih banyak Kak."
" Sama - sama."
******
Di dalam kamar Tasya terus memandang ponselnya, tak ada pesan satu pun dari Dika, rasa rindu baru beberapa hari sangat terasa.
" Mas kamu kemana, chat Aku saja tidak di balas."
Tasya membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur, namun rasa mual itu pun terus melanda.
" Ya Allah Aku kenapa, dari pagi nggak sembuh - sembuh." Ucap Tasya sembari memegang perutnya dan menutupi mulutnya.
Namun saat mata Tasya melihat ke arah kalender mata Tasya terbelak kaget lalu dia mengingat - ingat kapan dia terakhir datang bulan.
*******
Tasya terus mencoba menghubungi Dika, namun ponselnya tidak aktif, mencoba berulang kali namun tetap sama.
" Mas kemana kamu, Aku butuh kamu sekarang."
Tasya mencoba mengirim beberapa chat namun hanya centang satu, hingga akhirnya Tasya melemparkan ponselnya di atas tempat tidur.
Tasya terus memandang alat kecil berwarna Putin dengan garis merah dua, Tasya lalu mengambil alat tespek tersebut dan memfotonya untuk dia kirim ke Dika, namun Tasya urungkan niat nya.
" Nanti saja kalau Mas Dika pulang, takut nya dia kaget lagi."
******
" Arrrgghhh... sial.. sial... "
Pranggg.....
" Aarrgghhhh.... "
Dika melemparkan semua barang - barang yang ada di dalam kamar nya, dan dia bersandar di Sisi tempat tidurnya.
Dika meremas rambut cepak nya, dan menundukkan wajahnya.
" Maaf.. maaf kan Mas.. maaf... maaf... "
*****
" Mas.. jangan tinggalin Tasya, hiks.. hiks... jangan tinggalin Tasya."
Tasya mengigau dalam tidurnya hingga dari sudut kelopak matanya meneteskan air mata.