NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Rahasia Sang Mantan (Cinta Tertinggal)

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Psikopat itu cintaku / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Jika Laudia

[JANGAN LUPA LIKE SETIAP MEMBACA]

Setelah bertahun-tahun hancur akibat dicampakkan tanpa alasan oleh sang istri, akhirnya Nevandra Ardiona kembali menemukan keberanian untuk membuka lembaran baru.

Namun, rupanya takdir masih belum bosan bercanda dengannya karena sang masa lalu justru kembali menyapa dan membuat perasaan yang susah payah ditata Nevan kembali jungkir balik.

Gantari Dihyan Irawan, seorang gadis manis yang pernah mati-matian dicintai Nevan hadir kembali dengan sikap berbeda. Begitu dingin dan ... galak.

Akankah Nevan kembali dengan kisah lamanya? Atau tetap melanjutkan kisah yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jika Laudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sweet Story

Sweet Story adalah part yang diibaratkan air mengalir di Padang tandus #eaaaa.

Happy reading.

***

Nevan membanting ke kanan dan ke kiri tubuhnya di kasur, mendendang selimut, kemudian menariknya lagi. Hanya karena insiden sekaleng minuman soda sudah mampu membuat Nevan gelisah semalaman begini.

***

Seorang gadis sedang duduk bersandar pada rak buku sains di perpustakaan sekolah. Keningnya sesekali berkerut ketika mencoba menghafal sesuatu. Mulutnya dari tadi sibuk komat kamit saja. Di telinga kirinya terselip pulpen pillot berwarna hitam, sedangkan tutupnya ia gigit sesekali.

"Pantes, dicariin di kantin nggak ada," seorang pemuda langsung mengambil posisi berjongkok di hadapan sang gadis yang langsung membuat perempuan itu terlonjak kaget.

Dia langsung menepuk pelan lengan laki-laki itu kesal, lalu kembali menelusuri buku bacaannya sembari bergumam, "Nanti ulangan."

"Makanya belajar itu di rumah," bisik Nevan menyindir, lantas diambilnya tutup pena yang sudah keriting digigit Gantari.

Gantari bergeming. Dia masih fokus menghafal nama latin buah dan tanaman.

"Makan dulu. Nanti keburu bel," lanjut Nevan, masih berbisik. Maklum, Bu Dina, penanggung jawab perpus terkenal garang. Berisik sedikit, KBBI langsung dikeplak ke kepala. Becanda, deng.

"Iya," jawab Gantari tanpa menoleh.

"Dihyan, makan dulu."

"Iya." Gantari menganggukkan kepalanya berkali-kali dengan mata yang tak juga beralih dari buku biologinya.

"Makan dulu, sayang."

Tap! Buku tertutup sempurna. Gantari melotot menatap Nevan yang sedang tersenyum licik dihadapannya. Kali ini dia harus menurut karena ucapan Nevan barusan adalah ancaman.

Gantari celingak-celinguk, memastikan tidak ada yang mendengarnya, sedangkan Nevan nyengir saja. Dia tidak mengerti kenapa pacarnya itu masih malu dipanggil begitu.

***

Gantari sedang berbincang dengan Yoga si ketua kelas, ketika Nevan baru saja datang dan langsung meluncur untuk ikut nimbrung. Pembicaraan mereka tentu saja terjeda dan Nevan tidak peduli.

"Ngomongin apa, sih?"

Pernyataan Nevan barusan langsung dihadiahi lirikan tajam Gantari. Yoga yang polos-polos saja dengan sabar menjelaskan, "Oh, ini masalah piket. Banyak yang ngeluh, soalnya ada beberapa yang nggak pernah piket."

Nevan ber-O paham. Padahal mah dia peduli amat. Toh, dia salah satu orang yang dimaksud tidak pernah piket itu.

Pembicaraan yang tertunda tadi Yoga lanjutkan. Dia kembali serius berdiskusi dengan sekretarisnya, Gantari.

Nevan menepuk tangannya, seolah punya ide hingga fokus keduanya pecah lagi. "Kasih sanksi aja, ketua."

Yoga mengangguk. "Ini lagi didiskusikan baik buruknya." Baru saja dia mau menoleh pada Gantari, Nevan bersuara lagi.

"Nggak usah bolehin dia masuk kelas."

"..."

"Lapor wali kelas!"

"..."

"Seksi keamanan siapa, sih?" Nevan celingak-celinguk mencoba mencari struktural kelas.

"Dion?"

"Ya?" Nevan menoleh pada Gantari yang tadi menyebut namanya.

"Duduk, yok. Sebentar lagi masuk," ajak Gantari dengan senyum paksa.

Nevan mengangguk. "Bisa bantuin aku sebentar nggak, Dihyan? Soal Bahasa Indonesia nomor 4 susah banget."

Gantari tersenyum garing, ia tahu tujuan Nevan. Kemudian ia beranjak dari mejanya menuju meja Nevan.

"Si Yoga itu modus," bisik Nevan penuh penekanan yang langsung dihadiahi cubitan di pinggang oleh Gantari.

***

Nevandra Ardiona: Lagi ngapain?

19.03 PM Read

Gantari Dihyan: Belajar

20.10 PM Read

Nevandra Ardiona: Pantes balasnya lama

20.10 PM Read

                       Gantari Dihyan: Kenapa?

                        20.12 PM Read

Nevandra Ardiona: Kangen

20.12 PM Read

Nevandra Ardiona: Dih di R doang

20.15 PM Read

Nevandra Ardiona: Kok aku ngerasa dunia ini nggak adil, ya. Kok aku sendiri yang kangen.

20.17 PM Read

            Gantari Dihyan: Tadi dipanggil ibu

             20.20 PM Read

Nevandra Ardiona: Ibu sehat?

20.20 PM Read

                  Gantari Dihyan: Lagi nggak enak badan

                   20.21 PM Read

Nevandra Ardiona: Jaga kesehatan ya ibunya calon ibu anak-anakku

20.21 PM Read

                      Gantari Dihyan: Dih

                       20.22 PM Read

Nevandra Ardiona: Kangen akutuh

20.22 PM Read

Nevandra Ardiona: Habis UN liburnya kok panjang bener

20.23 PM Read

       Gantari Dihyan: Belajar. Katanya  mau lulus SNMPTN

        20. 24 PM Read

Nevandra Ardiona: Perasaan aku aja atau emang kangenku dicuekin

20.24 PM Read

                 Gantari Dihyan: Hahaha

                  20.25 PM Read

Nevandra Ardiona: Nggak lucu. Sumpah.

20.27 PM Read

              Gantari Dihyan: Selamat belajar, sayang. Sampai jumpa di Univ yang sama.

              20.29 PM Read

Nevan tertawa girang. Dia bahkan mengguling-gulingkan tubuhkan ke kasur. Kemudian lanjut mau membalas chat, tapi tidak jadi. Dia lebih tertarik memilih menekan icon panggil diponselnya.

***

Hari kelulusan tiba. Semua terlihat bahagia, terutama karena angkatan kali ini lulus 100%. Dinda berlonjak bahagia dan lari memeluk Gantari, sahabat sebangkunya. Gantari tidak kalah bahagia, ia meneteskan air matanya sembari mengucap syukur berkali-kali dan membalas erat pelukan itu. Anya dan Vika berteriak dan seolah tidak mau ketinggalan, dia ikut menghambur memeluk Dinda dan Gantari. Semua saling mengucapkan selamat. Tidak ada acara coret-coret seragam. Satu persatu dari mereka menemui guru-guru dan mencium punggung tangan mereka dan bonus mendapat pelukan juga, sehingga terciptalah suasana bahagia namun haru.

"Yah, nanti nggak bisa dengar ibu teriak-teriak lagi, deh," seloroh Vino yang langsung mendapatkan pukulan dipundak oleh Bu Siti.

"Maafin saya, ya, Pak. PR bapak banyak nyonteknya saya," ucap Fatur. Pak Ardi manggut-manggut.

"Kamu kira saya nggak tau," ucapnya pura-pura marah, hingga membuat teman-teman lain tertawa.

"Dihyan, bakal kangen sama ibu." Gantari memeluk Bu Fatma, wali kelasnya. Bu Fatma tidak langsung membalas ucapan Gantari karena beliau sudah menangis sesegukan. Hanya tangannyalah yang menepuk pundak Gantari. Setelah melepas pelukan, Bu Fatma menyentuh pipi Gantari dan menatapnya sayang. "Matahari ibu. Mataharinya kelas XII IPA 2," katanya kemudian.

"Matahari Dion juga, Bu."

Hampir saja Gantari merasakan jantungnya copot mendengar teriakan seseorang dari belakang tubuhnya. Tanpa menoleh pun dia tahu siapa pelakunya.

Nevan membungkuk dan mencium punggung tangan Bu Fatma dan sempat-sempatnya dia mengerling pada Gantari. Bu Fatma langsung menepuk pundak Nevan. "Kurang-kurangin godain anak gadis orang," katanya.

Nevan menggaruk tengkuknya kikuk karena teman-temannya mulai menertawainya.

Rasanya semua guru sudah mereka Salami, termasuk Pak Anto, Pak Wisman, Bu Nining, Bu Mini, selaku petugas keamanan dan kebersihan sekolah mereka. Mbak-mbak kantin juga sudah.

Gantari mengedarkan pandang. Ini sudah lewat dua jam dari pengumuman kelulusan mereka dan mereka sudah diperbolehkan untuk pulang. Ada satu orang yang sedang Gantari cari dan belum mengucapkan selamat padanya karena tadi terlalu sibuk mengharu biru dengan sahabat dan para guru. Dia melangkah menyelusuri lorong. Meninggalkan sahabat-sahabatnya yang asyik berswafoto.

Dia celingak-celinguk mencari sosok yang ketika tidak dicari muncul terus, giliran dicari malah tidak kelihatan batang hidungnya. Lapangan basket masih penuh dengan siswa-siswa yang bersalaman dan bersenda gurau, kemudian menyusun formasi untuk foto bersama. Gantari memilih absen. Dia masih penasaran dengan keberadaan Nevan.

Suara tawa cekikikan beberapa perempuan terdengar di dekat loker. Gantari berjalan mendekat dan suasana hatinya langsung anjlok. Perempuan-perempuan itu sedang mengelilingi Nevan minta jatah ucapan selamat. Bahkan ada yang mengamit lengan Nevan dan meminta temannya untuk mengambil gambar.

Gantari mendengus. Dia tahu kekasihnya itu masuk jajaran alpha male di sekolah, tapi yang tidak habis pikir olehnya adalah Nevan tampak menikmatinya. Dia cengengesan saja ditarik kesana kemari.

Ponsel Gantari terus saja bergetar selama dirinya berada di dalam angkot dan dia tidak peduli.

Nevandra Ardiona: Dimana?

13.12 PM Read

Nevandra Ardiona: Telponku kok nggak dijawab?

13.15 PM Read

Nevandra Ardiona: Udah pulang?

13.15 PM Read

Nevandra Ardiona: Dimana, Dihyan?

13.20 PM Read

Nevandra Ardiona: Dihyan

13.21 PM Read

Nevandra Ardiona: Dihyan

13.21 PM Read

Nevandra Ardiona: Sayang dimana?

13.25 PM Read

          Gantari Dihyan: Sayang yang mana nih? Yang nyubit pipi, yang ngerangkul, atau yang ketawanya kayak kuntilanak?

           13. 25 PM Read

Nevan terkikik membaca balasan Gantari. Dengan senyum yang masih mengembang dia mengetik balasan.

Nevandra Ardiona: yang cemburu.

13.26 PM Read

***

Nevan mengetuk pintu dan rupanya ibu Gantari yang membukakan. Seperti beliau baru pulang kerja. Nevan langsung mencium punggung tangan ibu dan menanyakan kabar.

"Alhamdulillah. Selamat, ya, Dion. Semoga jadi langkah menuju masa depan yang lebih baik," doa ibu tulus.

Nevan tersenyum dan langsung mengaminkan sepenuh hati.

"Ibu pulang cepat? Masih sakit?" tanya Nevan khawatir.

Ibu tidak langsung menjawab, dia terkejut menyadari jika mereka sedang mengobrol depan pintu. Sambil terkekeh, dia mempersilakan Nevan masuk. Setelah duduk barulah dijawab pertanyaan itu.

"Enggak. Ibu izin sebentar dari pabrik. Nanti balik lagi. Ngucapin Dihyan selamat dulu," kekehnya.

Nevan tersenyum. Kasih sayang seorang ibu nyata sekali jika melihat Gantari dan ibunya ini. Sang ibu rela menjadi buruh pabrik mie instan diusianya yang tak lagi muda. Kalimat-kalimat yang beliau ucapkan selalu terdengar hangat dan menenangkan. Pantas saja Gantari bisa seindah itu, pikirnya.

"Hari ini ibu masak banyak," katanya antusias, "Sebagai rasa syukur kelulusan kalian."

Ia beranjak dan membuka tudung saji, lalu memanggil Nevan agar duduk disana. Ternyata yang dimaksud masak banyak, ya memang banyak dan lezat. Ada ayam goreng, capcay baso, goreng bakwan jagung, perkedel kentang, dan cumi asam manis kesukaannya.

Gantari muncul dari pintu depan, sehabis mengantarkan sedikit makanan untuk para tetangga. Berbagi kebahagiaan.

Keningnya langsung mengernyit melihat Nevan. Sebenarnya dia sudah tahu ketika melihat motornya terparkir di depan rumah.

"Ayo sini, sayang," panggil ibu. "Kalian pasti lapar, kan?"

Gantari menurut. Dia duduk dengan tenang dan makan dengan lahap sebelum Nevan mengganggunya dengan banyak tingkah. Menyenggol lengannya, menendang pelan kakinya, minta dituangkan minum, minta diambilkan perkedel, dan masih banyak lagi. Andai tidak ada ibu, Gantari pasti sudah menjambak rambut Nevan.

Selesai menemani Gantari dan Nevan makan, ibu pamit bekerja lagi. Gantari memeluk ibunya sembari mengucapkan terimakasih dan hati-hati selama bekerja. Gantari tumbuh menjadi anak yang pintar dan pekerja keras hanya demi satu alasan, membuat ibunya hidup layak. Sama seperti ketika ayahnya masih ada.

Sebelum ibu berangkat, Nevan meminta izin untuk mengajak Gantari keluar. Ibu tampak berpikir, kemudian mengizinkannya dengan syarat pulang sebelum Maghrib dan hati-hati di jalan.

"Pintunya dibuka aja, ya. Nggak bagus berduaan di dalam," pesan ibu sebelum pergi.

Nevan terkikik canggung, kemudian memilih menunggu Gantari di teras rumah.

"Udah solat?" tanya Gantari setelah selesai mengganti pakaian dan kini sedang mengunci pintu.

Dia mendengus ketika melihat Nevan menepuk keningnya sendiri.

"Sama Tuhan aja lupa, apalagi sama yang lain," sindir Gantari.

"Habisnya tadi buru-buru. Ada yang cemburu," kekehnya.

Ucapan Nevan barusan langsung dihadiahi delikkan tajam Gantari.

"Pegangan," ucap Nevan, sambil menolehkan kepalanya ke belakang. Sambil cemberut Gantari memegang ujung jaket Nevan.

"Ini belum dipegang cewek-cewek tadi, kan?"

Nevan tertawa geli mendengar pertanyaan Gantari yang ketara sekali cemburu. Kemudian ia mulai melajukan sepeda motornya keluar perkarangan rumah menuju masjid dulu untuk salat Zuhur.

Gantari menatap Nevan yang sedang mengikat tali sepatu. Wajahnya masih basah oleh sisa-sisa air wudhu. Lelaki taat selalu tampak lebih tampan, batin Gantari.

"Udah belum?"

Gantari terlonjak. "Apanya?"

"Udah puas mandangin aku belum? Kalau udah aku berdiri, nih."

Gantari melotot, lalu menggigit bibir bawahnya menahan tawa. Nevan terkekeh, kemudian berdiri.

"Udah nggak marah lagi, dong."

"Siapa yang marah?"

"Iya, maksudnya udah nggak cemburu lagi, dong."

"Siapa yang cemburu!" Gantari ngegas. Kemudian membekap mulutnya sendiri takut jadi pusat perhatian.

Nevan terkikik. "Udahan dong, cemburunya," matanya menatap Gantari yang membuang pandang ke jalan raya. "Nggak ada yang aku sayang selain Dihyan."

Gantari sontak menutup mulut Nevan dengan telapak tangan kanannya, kemudian ia lepaskan lagi. "Harus gitu, ya, ngegombal di depan masjid." Kepala Gantari lalu menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang disekitar mereka.

"Serius," balas Nevan. "Dihyan?"

"Hm."

"Dihyan?"

"Apa?" Dihyan akhirnya menoleh  membalas tatapan Nevan.

"Ayo nikah."

1
betters
Kecewa
betters
Buruk
Cinta Rodriques
thour blm nikah kok udh. selesai aja....
Wiwik Widyaningsih
seperti bang maher ya
Syakilla
novel pertama ku baca...dan sampai skarang ku ulang2 karna suka...pokoknya the bast
Hikmah Mashuroh
Kecewa
Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman
ehhh bru lulus Sekolah atau lgi kuliah kali yaa 18 taun
Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman
apa Kakek gantari engga tau klo cucunya udah menikah?

lanjutttt bau bau Clbk ini sih 🤭
Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman
ini alurnya mundur kak kak?

menarik nihh
lanjut baca deh
Ojjo Gumunan, Getunan, Aleman
mampir yg kedua kali di krya kak jika Claudia setelah suprbia yg entah endingnya blm tahu🤭🙏
Joeiksa Tree
aku mampir kak,
Ova
loe bener bener sedeng y thooor....

cerita loe ga ke detack...😎
Ama
tubuhkan = tubuhnya
Ama
kamu yang cemburu
Ama
gak.
Ama
Adiwiyata
Ama
keluarga Ardiwinata atau Adiwinata. ?????
Eti
dia mantan istriku.......kata Nevan.
Eti
kata 'pada' kok berasa ganggu yah 🤔🤔🤔
Ditta
ngelamar orang tuh pake cinta Bang,bukan pake kasihan 😒😒😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!