Dika Nugraha seorang CEO di sebuah perusahaan besar. Saat ini dia sudah berusia 30 tahun namun dia belum juga mau untuk menikah. Karena sebuah kecelakaan dia mengalami kelumpuhan dan harus duduk di kursi roda.
Pak Nugraha sebagai papah Dika merasa kasihan pada putra nya itu. Akhir nya dia membeli gadis bernama Nisa Putri Surya yang masih berusia 19 tahun untuk Dika nikahi.
Dika di beri minuman oleh sang papah agar dia berhubungan badan dengan Nisa.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Tetap setia di sini😊😊😊
Terima kasih banyak 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diyah nur arroyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Nisa mengangguk lemas. Dika terus memeluk Nisa erat. Dia telah melihat sisi lemah Nisa sekarang. Seorang gadis kecil yang melihat jelas teror bom tepat di depan mata nya.
Dika menggenggam tangan nya erat dia merasa sangat marah dengan kejadian tadi.
"Kalau memang ini semua di rencana kan untuk melukai Nisa. Aku pastikan mereka semua akan mendapat balasan yang menyakitkan" Guman Dika dalam hati.
Huda melihat Dika yang sangat marah. Ekspresi wajah Dika terlihat jelas kalau dia sedang marah besar.
Huda mempercepat laju mobil nya agar lebih cepat sampai di rumah. Karena Nisa masih belum juga berhenti menangis.
"Tenang saja Dika. Gue akan cari tau siapa yang melakukan ini semua dan gue pastikan pelaku nya akan menderita" Guman Huda dalam hati.
Di rumah.
Nisa badan nya terasa lemas tidak bertenaga. Dika yang melihat merasa kasihan dengan Nisa.
"Huda gendong Nisa masuk ke dalam kamar" Ucap Dika.
"Aku?" Tanya Huda.
"Iya siapa lagi? Mana bisa aku menggendong nya" Ucap Dika marah.
Belum juga Huda mengiyakan permintaan Dika. Nisa sudah pingsan dan terjatuh ke lantai rumah. Dika yang melihat Nisa pingsan dengan sepontan lompat dari kursi roda nya.
"Nisa sadar Nisa" Ucap Dika khawatir.
"Kenapa diam saja. Cepat panggil Dokter " Teriak Dika marah.
Simbok langsung berlari ke arah telfon rumah. Dia menghubungi Dokter pribadi keluarga Nugraha.
Sedangkan Dika mengangkat Nisa masuk ke dalam kamar nya. Dia menidurkan Nisa ke kasur lalu menyelimuti nya.
"Sudah panggil Dokter?" Tanya Dika pada Huda yang membawa kursi roda Dika.
"Sudah. Dokter dalam perjalanan kesini sekarang" Jawab Huda.
"Elo tau apa yang harus elo lakukan kan Huda?" Ucap Dika.
"Baik. Saya akan kerjakan sekarang" Jawab Huda.
Huda keluar dari kamar Dika. Dia menutup pintu kamar Dika. Dika mengusap kepala Nisa lembut.
"Aku sangat takut kamu terluka Nisa. Aku takut kehilangan kamu" Ucap Dika.
Dika terus memandangi wajah Nisa yang pucat. Dia merasa bersalah dengan Nisa karena membawa Nisa ke dalam bahaya dengan menikahi nya.
Pak Nugraha masuk ke dalam kamar Dika. Dia langsung pulang ketika mendengar tempat yang di datangi Dika dan Nisa terkena teror bom.
"Bagaimana keadaan Nisa?" Tanya Pak Nugraha.
"Belum tau pah. Dokter belum datang" Jawab Dika.
"Apa dia terluka?" Tanya pak Nugraha lagi.
"Tidak pah. Dia hanya ketakutan saja" Jawab Dika lagi.
"Bersabar lah. Dokter aka segera datang" Ucap pak Nugraha menepuk bahu Dika.
Dika mengangguk namun tetap fokus melihat Nisa yang tidak sadarkan diri.
Tak lama Dokter telag datang. Dika yang sudah duduk kembali ke kursi roda nya memberikan ruang pada Dokter untuk memeriksa Nisa.
"Bagaimana Dok?" Tanya Dika khawatir.
"Tenang saja tuan. Nona baik baik saja. Dia hanya terkejut. Biarkan nona istirahat saja dulu" Jelas Dokter.
"Iya Dok terima kasih" Ucap Dika lega.
"Saya memberikan vitamin untuk nona. Ini di minum sehari satu kali saja setiap pagi setelah makan" Imbuh Dokter.
"Baik Dok. Terima kasih" Ucap Dika sopan.
"Kalau begitu saya permisi " Pamit Dokter.
"Iya Dok silahkan" Jawab Dika.
Setelah Dokter keluar dari kamar nya. Dika berdiri dari duduk nya untuk menghampiri Nisa.
"Maaf kan aku yang lalai menjaga kamu Nisa" Ucap Dika lirih.
Tok tok tok
Huda masuk ke dalam kamar Dika. Dia datang ke kamar Dika untuk memberi informasi yang di minta Dika.
"Ada apa? Apa kamu sudah mendapatkan jawaban nya?" Tanya Dika tanpa melihat ke arah Huda.
"Ini soal setatus Nisa " Ucap Huda.
Dika menatap ke arah Huda dengan tatapan tajam nya.
"Gue nggak perduli dengan dia sebagai umpan atau tidak. Yang gue pedulikan sekarang dia istri gue. Istri yang harus gue jaga dan lindungi" Ucap Dika tegas.
"Dia tidak ada hubungan nya sama sekali dengan pihak luar. Dia murni di jual oleh sepupu nya sendiri. Dia juga tidak tau akan masalah perebutan ini" Jelas Huda.
Mendengar penjelasan Huda. Dika semakin merasa bersalah karena dia sempat ragu dengan Nisa. Dia menggenggam tangan Nisa dan menciumi punggung tangan Nisa.
"Maaf maaf atas keraguan ku Nisa. Maafkan aku" Ucap Dika menyesal.
Huda tau persis apa yang di rasakan Dika. Dika yang meragukan istri nya sendiri yang polos. Apa lagi umur Nisa yang masih sangat muda.
"Istirahat lah. Jaga kesehatan kamu. Medan perang masih menunggu mu" Ucap Huda menepuk bahu Nisa.
"Iya. Awasi keluarga Nisa. Gue mau tau semua hal tentang Nisa" Ucap Dika.
"Baik. Gue akan kerjakan" Jawab Huda.
Dika mengangguk lalu menyuruh Huda keluar dari kamar nya. Dika tetap dalam posisi nya yang terus menggenggam tangan Nisa. Tanpa sadar dia mulai terlelap.
Tengah malam Nisa terbangun dari tidur nya. Dia merasa berat di bagian tangan nya.
"Mas Dika" Ucap Nisa lirih.
Nisa mengusap kepala Dika lembut. Dika yang merasakan sentuhan di kepala nya mulai membuka mata. Dia tersenyum ketika melihat Nisa yang sudah sadar.
"Mas Dika kom tidur di sini?" Tanya Nisa lembut
"Iya aku ketiduran tadi pas jagain kamu" Jawab Dika
"Nisa bantu naik ke kasur ya. Mas Dika tidur di kasur saja " Ucap Nisa.
Dika mengangguk. Nisa turun dari ranjang lalu membantu Dika naik ke ranjang agar Dika istirahat dengan nyenyak.
"Mas Dika tidur saja dulu. Nisa mau ke kamar mandi" Ucap Nisa.
"Iya" Jawab Dika mengangguk.
Nisa berjalan ke arah kamar mandi. Dika tersenyum melihat Nisa yang baik baik saja sekarang.
"Aku lega melihat kamu baik baik saja Nisa." Guman Dika dalam hati.
Dika menyelimuti diri nya lalu mulai menutup mata nya lagi. Tak lama dia telah masuk ke alam mimpi nya.
Nisa keluar dari kamar mandi. Dia melihat Dika yang sudah tidur lelap. Nisa naik ke ranjang untuk kembali istirahat.
Beberapa hari berlalu sejak kejadian teror bom kemarin. Nisa juga sudah mulai beraktivitas normal.
Di rumah Nisa terus belajar membuat kue kue dari buku resep yang ia beli kemarin. Dika yang bekerja di kantor terus mengawasi Nisa melalui cctv yang ia sambungkan ke leptop nya.
"Ada berkas yang anda harus tanda tangani tuan" Ucap Huda menaruh berkas ke meja Dika.
Namun Dika tidak merespon ucapan Huda. Dia masih saja asik melihat leptop nya drngan senyuman yang membuat Huda jijik.
"Sejak kapan anda bertingkah aneh seperti ini?" Tanya Huda.
"Dia sangat menggemaskan Huda. Dia terlihat senang sekali karena kue buatan nya berhasil dengan hasil yang memuaskan" Ucap Dika antusias.
"Lebih baik anda pulang jika anda tetap di sini anda akan gila saat pulang nanti" Ucap Huda yang malas melihat senyuman aneh Dika.
"Kamu benar. Aku harus pulang sekarang. Dia pasti sangat senang kalau melihat aku pulang lebih awal" Ucap Dika.
Huda melotot karena ide gila nya di setujui oleh Dika begitu saja. Padahal kerjaan Dika sangat lah banyak hari ini. Dia juga memiliki beberapa rapat yang harus dia hadiri.
# selamat membaca ya kak
# terima kasih banyak