Sekuel Dinikahi Konglomerat Sejagat!
Biar terasa greget baca dulu novel tersebut, baru maraton ke sini.
Devin terpaksa menikahi anak dari asisten pribadi orangtuanya, karena calon istrinya kabur di hari pernikahannya.
Perintah dari Argan selaku orangtua, tidak dapat dia tolak. Terpaksa menerima pengantin pengganti, meski dia tidak mempunyai perasaan apapun.
Akankah Devin bisa membangun cinta, bersama Tasya yang super cuek? Atau justru Tasya yang sulit membangun cinta, pada Devin yang dingin nan arogan?
Simak kisahnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pocong Palsu
Keesokan harinya, Tasya bersiap-siap kembali untuk pergi ke sekolah. Seperti biasa, dia sarapan bersama suami dan mertuanya.
"Tasya, apa Kakak kamu tidak ada kabar sampai sekarang?" Tanya Nadin.
"Tidak ada Ma, dia seperti hilang ditelan bumi." Jawab Tasya.
"Devin, kamu 'kan satu kampus dengan Elina. Apa kamu tidak pernah melihatnya, masuk ke dalam kampus." Ujar Argan.
"Tidak ada Pa. Kalau ada, pasti sudah aku beri tahu mertuaku." Jawab Devin.
Tasya dan Devin berpamitan, setelah menghabiskan makanan di piring masing-masing.
"Tasya, aku tidak mau kamu seperti kemarin. Kalau ada apa-apa, harus segera memberi kabar." Ucap Devin.
"Iya tuan." Jawab Tasya.
Devin masih menghadap kaca depan. Dia fokus menyetir mobilnya. Tak berselang lama, Tasya sudah sampai di depan pintu gerbang sekolahnya. Dia melepas sabuk pengaman, lalu turun setelah membuka pintu mobil.
"Pocong!" Teriak Tasya.
Devin sudah melajukan mobilnya, ke kampus. Dia tidak mendengar, Tasya yang berteriak. Tasya segera berlari, masuk ke dalam lingkungan sekolah. Dia merasa curiga, kenapa mendengar dua pocong tertawa.
'Jangan-jangan, ini pocong palsu.' Batin Tasya.
Dia segera melepas sepatunya, lalu melemparkan ke arah dua pocong tepat sasaran.
"Aduh, kepalaku sakit." Ujar si pocong.
"Aduh, pundak ku juga sakit." Jawab pocong di sebelahnya.
"Benar saja, memang pocong palsu. Kalau pocong asli, tidak mungkin bisa berdiskusi." Monolog Tasya.
Tasya berlari ke arah sumber suara, dia melihat pocong-pocong yang melompat menginjak tanah. Tasya terbesit ide jail, dia mengambil sepatunya kembali. Tasya mengejar dua pocong palsu, lalu memukuli punggung mereka secara bergantian.
"Rasain kalian, berani-beraninya mengerjai aku." Ujar Tasya. Dia menarik tali pocong dari belakang.
Daripada malu karena ketahuan, si pocong mendorong tubuh Tasya lalu kabur. Tasya tidak mengejar mereka yang sudah berlari jauh, dengan terbirit-birit.
"Tasya, kenapa wajahmu banyak keringat?" Tanya Okta, saat melihat Tasya memasuki kelas.
"Ini karena ulah pocong palsu." Jawab Tasya.
"Hah, pocong palsu." Ketiga temannya kaget.
"Iya kalian tidak tahu saja, di sekolah ini masih ada orang jail yang membuat orang terkejut." Jawabnya.
Ferdian masuk ke dalam kelas, dia baru saja datang.
"Tasya, aku punya sesuatu untuk kamu." Ucapnya.
"Apa itu?" Tanya Tasya.
"Boneka Pokemon." Jawab Ferdian, dia mengeluarkan tangan yang berada di belakang.
Tasya menerimanya, dia hanya ingin menghargai pemberian Ferdian.
"Terimakasih iya teman sekelas." Ujar Tasya, maksudnya supaya Ferdian tidak berharap lebih.
"Iya sama-sama." Jawabnya ramah.
Devin melalui sekumpulan mahasiswa dan mahasiswi. Dia tidak merespon Aldo yang tersenyum kepada dirinya.
"Devin, kamu masih marah padaku?" Tanya Aldo.
"Tidak penting." Jawab Devin.
"Lalu kenapa berubah." Pancing Aldo.
Devin menoleh ke belakang, lalu memegang kedua pundak Aldo.
"Terimakasih, telah mengambil perempuan tidak setia dalam hidupku. Karena kemuliaan hatimu, aku bisa bersama orang yang tepat." Ujar Devin, dia malah terbayang istri kecilnya.
Devin menepuk sedikit keras, sebanyak empat kali. Setelah tersenyum devil, dia memutuskan untuk pergi dari pandangan Aldo.
Guru menjelaskan dengan detail mengenai pelajaran IPA, semua murid memperhatikan kecuali Ferdian.
"Ferdian, Tasya memang cantik. Tapi, bukan berarti bisa menjadi alasan untuk kamu jadikan bahan pelajaran." Tegur pak guru.
Tasya menjadi pusat perhatian siswa dan siswi di kelas. Mereka ada yang berbisik, ada juga yang tertawa. Mata Tasya melotot ke arah Ferdian, sengaja memberi tahu bahwa dia marah.
Waktu istirahat telah tiba, Tasya ke kantin bersama ketiga temannya.
"Jelita, aku kesal sekali dengan Ferdian. Bisa-bisanya dia memperhatikan aku tanpa melihat situasi." Curahan hati Tasya.
"Iya, lihatlah tadi, kalian menjadi pusat perbelanjaan." Sahut Tera.
"Pusat perhatian Tera sayang." Jawab Jelita, dia menarik sedikit sudut bibirnya.
"Pusat keramaian pria tampan hahha." Okta tertawa lepas, sambil menghadap kaca.
"Dasar genit." Sorak Tera.
"Biarin." Okta fokus memoles bedak.
Mereka duduk di kursi barisan paling tengah. Seperti biasa, mereka membeli makanan di kantin langganan.
"Sebentar lagi kita lulus, akan berpisah dengan semua kegiatan di sekolah ini." Ujar Jelita, dengan raut wajah sedih.
"Iya, sampai jumpa kembali di kampus yang sama." Jawab Tera.
"Kamu mau kuliah di mana Sya?" Tanya Okta.
"Orangtuaku menyuruh aku kuliah satu kampus dengan tuan Devin." Jawab Tasya.
'Iya karena aku istrinya, makanya disuruh satu kampus untuk mempermudah jadwal keberangkatan. Padahal aku bukan istri sungguhan, aku hanya mendadak jadi pengantin pengganti.' Batin Tasya.
Rumi dan Rubis masuk ke dalam kantin. Melangkahkan kaki masing-masing dengan santai. Mereka memesan makanan, setelah itu duduk di kursi paling pojok.
"Awas kalian berdua, aku akan mengerjai kalian balik." Tasya bergumam pelan.
Dia teringat dengan dua pocong palsu yang kabur tadi. Tasya yakin, bila itu adalah Rubis dan Rumi.
"Kamu kenapa Sya?" Tanya Tera.
"Lihatlah, ada dua manusia masuk kantin." Jawab Tasya.
"Bukan manusia, tapi dua rubah busuk." Sahut Okta.
Tasya menghampiri pemilik kedai, lalu meminta izin untuk mengantar makanan Rubis dan Rumi. Sambal rebus sesendok penuh, sengaja dia masukkan ke dalam kuah. Tasya melakukannya secara diam-diam, sambil tertawa kecil membayangkan reaksi mereka.
"Rasain kalian, pasti bakalan kepedasan." Tasya berbicara sendiri.
Dia memberikan nampan pada seorang siswi perempuan. Biar tidak curiga, dia menyuruh orang lain lagi untuk mengantarnya.
"Ini pesanan kalian." Ujar siswi itu.
"Kenapa kamu yang mengantar?" Tanya Rumi.
"Pemilik kedai kewalahan, karena banyak yang pesan makanan." Alibinya.
Mereka menyantap makanan soto ayam itu. Siswi itu pergi, sambil mengacungkan dua jempol pada Tasya.
'Hebat, kalian memakan senjata yang aku umpan.' Batin Tasya.
Rumi dan Rubis menikmati makanan itu. Tiba-tiba, dia merasa sangat kepedasan.
"Aduh, perutku sakit." Keluh Rubis.
"Aku juga." Jawab Rumi.
Mereka segera berlari menuju arah toilet. Mereka saling dorong mendorong, berebut ingin masuk duluan ke dalam sana.
"Aku harus duluan." Ujar Rumi.
"Tidak, pokoknya aku yang duluan." Jawab Rubis.
Rumi mendorong tubuh Rubis dari samping. Begitupula dengan Rubis, dia mendorong tubuh Rumi dari samping. Tasya gembira ria, dia mengabadikan momen tersebut di ponselnya.
'Haha rasain kalian, bagaimana rasanya masuk sosial media. Aku akan mempermalukan kalian balik, biar kalian jera.' Batin Tasya.
Apa jadinya, bila dua perempuan genit berebut toilet karena sedang diare. Tasya memikirkan postingan tersebut menjadi trending topik. Tasya melompat-lompat di balik tembok pembatas. Rubis kalah telak dari Rumi, kini dia menunggu di luar sambil menggerutu.
"Rumi cepat." Rubis menggedor-gedor pintu.
"Tunggu sebentar Rubis, perutku masih sakit." Jawab Rumi.
Rubis menyilang kan kedua kakinya, dia berusaha menahan usus perutnya yang bocor.