Veyra Aletha, ia tidak pernah berniat mencintai siapapun selain suaminya. Baginya, Alvero Halim Winata adalah rumah pertama, lelaki yang ia pilih untuk membangun keluarga kecil mereka bersama putra semata wayang mereka, Renzio Althar Halim.
Kehidupan pernikahan tidak selalu berjalan seperti yang dibayangkan. Di tengah kesibukan Alvero yang semakin tenggelem dalam pekerjaan, hadir Regan Han Sebastian, sahabat sekaligus rekan kerja suaminya yang selalu punya waktu untuk hadir saat Veyra merasa sendiri.
Menemani Renzio bermain. Mengantar Veyra saat Alvero sibuk. Datang membawa makanan. Dan perlahan mengisi ruang kosong yang tidak pernah Veyra sadari sebelumnya.
Hingga suatu hari, kecelakaan mengubah segalanya. Veyra dinyatakan hilang di lokasi kejadian.
Saat semua orang percaya Veyra telah hilang, Regan justru membawanya pergi ke Singapura. Menyimpan rahasia besar yang perlahan mengaburkan batas anatara cinta, rasa bersalah, dan obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02: Keluarga Ardion
Pagi di kediaman keluarga Ardion selalu dimulai suara kecil yang berlarian kesana kemari.
"Opaa pegi mana?" celetoh anak laki-laki berusia dua tahun.
"Opa mau pamit duluan, ya. Di kantor banyak kerjaan," jawab Ardion sambil menggendong cucunya.
"Keja, keja!"
Suara cempreng Renzino dari ruang makan.
Veyra baru saja turun dari tangga, lalu di susul Renzio yang memeluk kakinya.
"Mama!"
Veyra terkekeh kecil lalu mengangkat tubuh kecil putranya.
"Vey, Papa berangkat ya." Pamit Ardion sambil keluar dari ruang makan.
"Iya, Pah. Hati-hati." Jawab Veyra.
Tatapan Veyra langsung jatuh ke Renzio, ia menciumnya beberapa kali.
"Zio belum mandi ya?"
Anak kecil itu langsung menggeleng cepat sambil menyembunyikan wajah di leher ibunya.
"Gak mau ama, Mbak..."
"Terus maunya sama siapa?"
"Ama Papa."
Baru saja kalimat itu selesai... seseorang muncul dari arah ruang kerja sambil menggulung lengan kemeja putihnya.
"Siapa yang nyari Papa?"
Renzio langsung tertawa kecil. "Papaa!"
Alvero membawa anaknya dari pangkuan Veyra. Mengecup pipi anak itu berkali-kali sampai Renzio tertawa geli.
Veyra memperhatikan itu sambil tersenyum kecil. Pemandangan ini sudah menjadi favoritnya setiap pagi.
"Katanya gak mau mandi kalau sama, Mbak. Maunya sama Papa," ujar Veyra.
Alvero langsung mengangguk serius. "Oke, sebelum Papa berangkat. Papa siap bertugas memandikan Tuan muda."
Renzio tertawa sedikit lebih keras. "Papa ucuuu!"
"Papa emang lucu."
"Nggak," sahut Veyra cepat. "Papa kamu nyebelin."
"Loh..."
Belum sempat Alvero membela diri, suara Serena langsung terdengar dari arah dapur.
"Jangan ribut pagi-pagi. Mama pusing dengernya."
Serena tersenyum hangat sambil membawa sarapan ke meja makan. Tatapan wanita paruh baya itu jatuh pada Veyra beberapa detik. Ada lingkar hitam halus di kantung mata menantunya.
"Semalam kurang tidur lagi ya?"
Veyra mengangguk sambil tersenyum kecil. "Zio bangun jam dua pagi." Bibir Veyra seketika mengerucut.
"Zio kenapa bobonya gak nyenyak? Kasihan Mamanya jadi kurang tidur."
Renzio hanya menggeleng. Seolah memberi jawaban tidak tahu.
Setelah itu, Alvero pergi sambil membawa Renzio untuk dimandikan. Veyra dan Serena sarapan lebih dulu.
Suasana pagi hari di rumah itu selalu hangat, dipenuhi tawa dan ocehan dari Renzio. Bahkan semuanya terasa begitu tenang dan damai.
Serena yang tak banyak menghakimi atau ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Justru, dia selalu memperhatikan kesehatan Veyra. Selalu memastikan Veyra tidur nyenyak, makan lahap, dan tidak kecapean dalam hal apapun.
Dan bagi Veyra, itu semua adalah keberuntungan yang berhasil ia dapatkan. Memiliki ibu mertua seperti Serena, dan suami yang penuh kasih sayang, tanggung jawab seperti Alvero.
Di luar, matahari mulai naik ke tengah langit. Membuat hawa panas yang bikin gerah. Kontras dengan suasana di dalam kantor yang terasa sejuk karena pendingin ruangan.
Dari lorong menuju ruangan Alvero, Regan menenteng dua kantong cukup penuh. Wajahnya selalu tersenyum. Selalu menyapa siapapun yang berpapasan dengannya.
Di depan pintu, Regan menaruh satu kantong. Lalu mengetuk pintu.
"Alvero, buka pintunya!"
Sementara di dalam ruangan, Alvero mendengar samar suara yang begitu ia kenal. Tapi ia tak langsung membuka pintu, membiarkannya cukup lama.
Suara ketukan terus berlanjut, bahkan sekarang ketukan itu tanpa jeda. Membuat Alvero menarik napas, lalu menahannya sebentar.
"Ada apa lagi?" gumamnya sambil menutup telinganya.
Semakin dibiarkan, semakin kencang juga ketukannya. Membuat Alvero akhirnya membuka pintu.
Ia mematung satu detik, satu tangan dimasukan ke saku. Matanya menatap Regan dengan pasrah.
"Apa tidak ada tempat makan yang nyaman selain di ruanganku?"
Regan nyengir lebar. Lalu menggeleng cepat. "Tidak ada. Ruangan ini bahkan lebih nyaman dari hotel berbintang delapan."
Ia meraih satu kantong, lalu menerobos masuk. Alvero memijat pelipisnya. Ia kembali menutup pintu, dan duduk di kursinya.
Regan tengah sibuk menata makanan di atas meja. Dua burger, satu kentang goreng berukuran besar. Dua kotak pastry, rice bowl Jepang dan donat campur seabrek.
Dua iced americano, satunya. Ia simpan di meja kerja Alvero.
"Kalau kamu mati gara-gara ngurus laporan keuangan. Dady bisa marah besar."
Alvero menatap kopi itu, tatapannya kini mengikuti langkah Regan yang duduk di sofa dengan santai.
Aroma makanan di atas meja langsung menusuk ke penciuman Alvero. Yang berhasil mengundang rasa lapar.
"Kenapa cuma bengong? Kamu nggak ngiler?" tanya Regan dengan mulut penuh burger.
Alvero akhirnya tersenyum kecil, ia ikut duduk di sebelah Regan. Dan ikut menikmati makanan yang Regan bawa.
Itu bukan pertama kalinya Regan membawa makanan seabrek. Sering juga, Regan traktir seluruh karyawan kantor.
Dan itu jadi salah satu alasan, kenapa para karyawan menyukainya.
"Regan, kamu lupa? Tuan Raymond mengirimmu kesini untuk belajar, bukan untuk liburan!"
"Aku selalu ingat, Pak Direktur. Nanti aku akan belajar, sekarang makan dulu."
Mendengar jawaban Regan, Alvero hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.
Setelah menghabiskan satu burger dan satu kotak pastry. Alvero kembali duduk di kursi kerjanya.
Ia menatap Regan sejenak. "Kalau tidak ingin aku usir, jangan ganggu. Kerjaanku masih banyak."
"Apakah sebanyak uangku yang tidak akan habis, Al?"
Alvero terkekeh, tak menjawab ocehan Regan yang mulai ngawur. Jemarinya kembali bergerak lincah di atas keyboard.
Beberapa menit, Regan nurut. Duduk diam dan hanya memainkan ponsel. Tapi semua itu tidak bertahan sampai satu jam.
Regan bangun dari duduknya, awalnya hanya berdiri di belakang Alvero. Memainkan rambutnya, niup lehernya, sampai akhirnya memutar kursi kerja yang diduduki Alvero. Membuat tubuh Alvero ikut berputar.
"Regan, diem!" bentak Alvero.
"Di ruangan ini terlalu kaku, Al. Apa kamu tidak bosan hanya berhadapan dengan laptop saja?"
Bukannya diam, Regan malah beralih ke samping meja. Menatap layar laptop dari jarak dekat.
"Al, kenapa kopinya belum kamu minum?" Regan mengangkat iced americano.
"Awas tumpah!" Kata Alvaro tanpa menoleh.
Regan mengangguk, kembali menyimpan minuman itu. Ia hendak kembali ke sofa, tapi entah bagaimana bisa tangannya menyenggol cup minuman itu.
Cairan kopi dingin meluber di atas meja, Alvero refleks angkat laptopnya. Regan mematung dengan mulut terbuka.
"Regan!" teriak Alvero. Matanya terbelalak saat melihat map merah sudah basah kuyup.
"Keluar!!" Alvero nunjuk ke arah pintu.
"Al, aku nggak sengaja." Regan nyengir kikuk.
"Aku udah bilang, Regan. Kalau mau di sini jangan ganggu. Berkas itu untuk meeting besok sore."
Alvero mengangkat berkas itu yang sekarang sudah bau kopi.
"Malam ini kamu lembur, tanggung jawab. Catat ulang semua isinya."
Regan membuang napas pasrah. "Kenapa gak di fotocopy aja?"
Alvero mendecak. "Hasilnya gak akan sebagus di print langsung, Regan."
Tatapan Alvero berubah kesal, ingin rasanya dia marah. Memaki-maki pria di dekatnya. Tapi kenyataan menyadarkan Alvero. Regan anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja sekarang.
masih banyak cewek cantik kok. 🤣
normal ya Reg, punya pacar makanya🤣
ngalahin anaknya Al, ih kamu Reg.. 😩🤦🏻♀️🤦🏻♀️
apa Alvaro siap di binor sama Regan