NovelToon NovelToon
Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Tak Berniat Mengkhianati Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Pengkhianatan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lautan Ungu_07

Judul sebelumnya: Obsesi Sahabat Suami.

Regan Han Sebastian dikirim Dady-nya dari Singapura ke Indonesia untuk belajar bisnis di bawah bimbingan Alvero Halim Winata, sahabat sekaligus orang yang paling ia hormati.

Semua berjalan sesuai rencana... hingga Alvero mulai selalu melibatkan kehadiran Regan dalam rumah tangganya.

Kehangatan sebuah keluarga. Tawa seorang anak kecil. Dan perhatian sederhana dari seorang wanita bernama Veyra Alettha, istri dari Alvero.

Regan berusaha menjaga jarak, saat ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan kepada siapapun. Ia bahkan memilih kembali ke Singapura demi melupakan semuanya.

Namun saat kembali ke Indonesia, yang pulang bukan lagi Regan yang sama.

Ia membawa perasaan yang tak pernah ia inginkan.

Perasaan yang perlahan berubah menjadi pengkhianatan terhadap satu-satunya sahabat yang paling ia hormati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 02: Keluarga Ardion

Pagi di kediaman keluarga Ardion selalu dimulai suara kecil yang berlarian kesana kemari.

"Opaa pegi mana?" celetoh anak laki-laki berusia dua tahun.

"Opa mau pamit duluan, ya. Di kantor banyak kerjaan," jawab Ardion sambil menggendong cucunya.

"Keja, keja!"

Suara cempreng Renzino dari ruang makan.

Veyra baru saja turun dari tangga, lalu di susul Renzio yang memeluk kakinya.

"Mama!"

Veyra terkekeh kecil lalu mengangkat tubuh kecil putranya.

"Vey, Papa berangkat ya." Pamit Ardion sambil keluar dari ruang makan.

"Iya, Pah. Hati-hati." Jawab Veyra.

Tatapan Veyra langsung jatuh ke Renzio, ia menciumnya beberapa kali.

"Zio belum mandi ya?"

Anak kecil itu langsung menggeleng cepat sambil menyembunyikan wajah di leher ibunya.

"Gak mau ama, Mbak..."

"Terus maunya sama siapa?"

"Ama Papa."

Baru saja kalimat itu selesai... seseorang muncul dari arah ruang kerja sambil menggulung lengan kemeja putihnya.

"Siapa yang nyari Papa?"

Renzio langsung tertawa kecil. "Papaa!"

Alvero membawa anaknya dari pangkuan Veyra. Mengecup pipi anak itu berkali-kali sampai Renzio tertawa geli.

Veyra memperhatikan itu sambil tersenyum kecil. Pemandangan ini sudah menjadi favoritnya setiap pagi.

"Katanya gak mau mandi kalau sama, Mbak. Maunya sama Papa," ujar Veyra.

Alvero langsung mengangguk serius. "Oke, sebelum Papa berangkat. Papa siap bertugas memandikan Tuan muda."

Renzio tertawa sedikit lebih keras. "Papa ucuuu!"

"Papa emang lucu."

"Nggak," sahut Veyra cepat. "Papa kamu nyebelin."

"Loh..."

Belum sempat Alvero membela diri, suara Serena langsung terdengar dari arah dapur.

"Jangan ribut pagi-pagi. Mama pusing dengernya."

Serena tersenyum hangat sambil membawa sarapan ke meja makan. Tatapan wanita paruh baya itu jatuh pada Veyra beberapa detik. Ada lingkar hitam halus di kantung mata menantunya.

"Semalam kurang tidur lagi ya?"

Veyra mengangguk sambil tersenyum kecil. "Zio bangun jam dua pagi." Bibir Veyra seketika mengerucut.

"Zio kenapa bobonya gak nyenyak? Kasihan Mamanya jadi kurang tidur."

Renzio hanya menggeleng. Seolah memberi jawaban tidak tahu.

Setelah itu, Alvero pergi sambil membawa Renzio untuk dimandikan. Veyra dan Serena sarapan lebih dulu.

Suasana pagi hari di rumah itu selalu hangat, dipenuhi tawa dan ocehan dari Renzio. Bahkan semuanya terasa begitu tenang dan damai.

Serena yang tak banyak menghakimi atau ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya. Justru, dia selalu memperhatikan kesehatan Veyra. Selalu memastikan Veyra tidur nyenyak, makan lahap, dan tidak kecapean dalam hal apapun.

Dan bagi Veyra, itu semua adalah keberuntungan yang berhasil ia dapatkan. Memiliki ibu mertua seperti Serena, dan suami yang penuh kasih sayang, tanggung jawab seperti Alvero.

Di luar, matahari mulai naik ke tengah langit. Membuat hawa panas yang bikin gerah. Kontras dengan suasana di dalam kantor yang terasa sejuk karena pendingin ruangan.

Dari lorong menuju ruangan Alvero, Regan menenteng dua kantong cukup penuh. Wajahnya selalu tersenyum. Selalu menyapa siapapun yang berpapasan dengannya.

Di depan pintu, Regan menaruh satu kantong. Lalu mengetuk pintu.

"Alvero, buka pintunya!"

Sementara di dalam ruangan, Alvero mendengar samar suara yang begitu ia kenal. Tapi ia tak langsung membuka pintu, membiarkannya cukup lama.

Suara ketukan terus berlanjut, bahkan sekarang ketukan itu tanpa jeda. Membuat Alvero menarik napas, lalu menahannya sebentar.

"Ada apa lagi?" gumamnya sambil menutup telinganya.

Semakin dibiarkan, semakin kencang juga ketukannya. Membuat Alvero akhirnya membuka pintu.

Ia mematung satu detik, satu tangan dimasukan ke saku. Matanya menatap Regan dengan pasrah.

"Apa tidak ada tempat makan yang nyaman selain di ruanganku?"

Regan nyengir lebar. Lalu menggeleng cepat. "Tidak ada. Ruangan ini bahkan lebih nyaman dari hotel berbintang delapan."

Ia meraih satu kantong, lalu menerobos masuk. Alvero memijat pelipisnya. Ia kembali menutup pintu, dan duduk di kursinya.

Regan tengah sibuk menata makanan di atas meja. Dua burger, satu kentang goreng berukuran besar. Dua kotak pastry, rice bowl Jepang dan donat campur seabrek.

Dua iced americano, satunya. Ia simpan di meja kerja Alvero.

"Kalau kamu mati gara-gara ngurus laporan keuangan. Dady bisa marah besar."

Alvero menatap kopi itu, tatapannya kini mengikuti langkah Regan yang duduk di sofa dengan santai.

Aroma makanan di atas meja langsung menusuk ke penciuman Alvero. Yang berhasil mengundang rasa lapar.

"Kenapa cuma bengong? Kamu nggak ngiler?" tanya Regan dengan mulut penuh burger.

Alvero akhirnya tersenyum kecil, ia ikut duduk di sebelah Regan. Dan ikut menikmati makanan yang Regan bawa.

Itu bukan pertama kalinya Regan membawa makanan seabrek. Sering juga, Regan traktir seluruh karyawan kantor.

Dan itu jadi salah satu alasan, kenapa para karyawan menyukainya.

"Regan, kamu lupa? Tuan Raymond mengirimmu kesini untuk belajar, bukan untuk liburan!"

"Aku selalu ingat, Pak Direktur. Nanti aku akan belajar, sekarang makan dulu."

Mendengar jawaban Regan, Alvero hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.

Setelah menghabiskan satu burger dan satu kotak pastry. Alvero kembali duduk di kursi kerjanya.

Ia menatap Regan sejenak. "Kalau tidak ingin aku usir, jangan ganggu. Kerjaanku masih banyak."

"Apakah sebanyak uangku yang tidak akan habis, Al?"

Alvero terkekeh, tak menjawab ocehan Regan yang mulai ngawur. Jemarinya kembali bergerak lincah di atas keyboard.

Beberapa menit, Regan nurut. Duduk diam dan hanya memainkan ponsel. Tapi semua itu tidak bertahan sampai satu jam.

Regan bangun dari duduknya, awalnya hanya berdiri di belakang Alvero. Memainkan rambutnya, niup lehernya, sampai akhirnya memutar kursi kerja yang diduduki Alvero. Membuat tubuh Alvero ikut berputar.

"Regan, diem!" bentak Alvero.

"Di ruangan ini terlalu kaku, Al. Apa kamu tidak bosan hanya berhadapan dengan laptop saja?"

Bukannya diam, Regan malah beralih ke samping meja. Menatap layar laptop dari jarak dekat.

"Al, kenapa kopinya belum kamu minum?" Regan mengangkat iced americano.

"Awas tumpah!" Kata Alvaro tanpa menoleh.

Regan mengangguk, kembali menyimpan minuman itu. Ia hendak kembali ke sofa, tapi entah bagaimana bisa tangannya menyenggol cup minuman itu.

Cairan kopi dingin meluber di atas meja, Alvero refleks angkat laptopnya. Regan mematung dengan mulut terbuka.

"Regan!" teriak Alvero. Matanya terbelalak saat melihat map merah sudah basah kuyup.

"Keluar!!" Alvero nunjuk ke arah pintu.

"Al, aku nggak sengaja." Regan nyengir kikuk.

"Aku udah bilang, Regan. Kalau mau di sini jangan ganggu. Berkas itu untuk meeting besok sore."

Alvero mengangkat berkas itu yang sekarang sudah bau kopi.

"Malam ini kamu lembur, tanggung jawab. Catat ulang semua isinya."

Regan membuang napas pasrah. "Kenapa gak di fotocopy aja?"

Alvero mendecak. "Hasilnya gak akan sebagus di print langsung, Regan."

Tatapan Alvero berubah kesal, ingin rasanya dia marah. Memaki-maki pria di dekatnya. Tapi kenyataan menyadarkan Alvero. Regan anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja sekarang.

1
Laila Sarifah
Pleaseee jgn sampai lengan vey, Regan itu sebenarnya suka sama kamu😭
james
kira-kira Veyra kenapa yah/Doge/
james
ah Veyra yang tergoda atau Regan /Sly/
Addb_Rh
Veyra... ingatlah trs suamimu.. jan ingat pria lain.. ya...? 🥲
Lenny Utami
go regan🤭
Lenny Utami
holang kaya ini mahj
Addb_Rh
Ini si, gmn pinternya ngendaliin perasaan aja. Btw, congrats Gan. akhirnya bisa ya ngeyakinin kerja sama sama mereka
Agatha soul
tanggung jawab lhoo
Its me
sikap veyra bisa mancing Regan nih
hati-hati lidah tak bertulang vey
mama Al
untung Alvero ga marah.
kebanyakan suami kan ga suka istrinya dekat dengan pria lain walaupun sahabatnya sendiri
arsyila putri
regan Regan kok bisa sih
Laila Sarifah
Kamu udah mulai ada rasa ya Gan sama Veyra?
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
ooooo.. regan memang begitu toh. mudah akrab ke siapa aja
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
di sini aku mulai curiga regan suka sama veyra
SANG
Lanjut👍👍👍💪👍👍👍👍💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
SANG
Like iklan plus komen 💪👍
SANG
Semangat ya thor 💪👍
SANG
Apaan tuh
SANG
Tuh, disana
SANG
Aku kasih suka ya Thor 💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!