NovelToon NovelToon
Devil Dragon System

Devil Dragon System

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Balas Dendam / Sistem
Popularitas:203
Nilai: 5
Nama Author: BE SA

Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.

Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.

Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.

Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.

Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?

[Ding!]

[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Permainan Racun

Tiga hari setelah kebangkitan.

Arjuna berdiri di atas tebing hutan gelap dengan sebuah vial kaca kecil di tangan kirinya.

“Venom Fang Poison,” gumam Arjuna tersenyum menyeringai.

Cairan hitam pekat di dalam botol bergerak sendiri, seperti makhluk hidup yang merayap di dinding kaca.

Selama tiga tahun di pos perbatasan Prefektur Ethereal, Arjuna telah memetakan setiap sudut hutan ini dengan presisi.

Ia mengenal setiap pohon beracun, setiap mineral yang bisa diekstrak, dan setiap binatang yang membawa racun dalam gigitan atau sengatannya.

Tidak ada yang dilakukan sembarangan dalam tiga tahun itu.

Setiap eksplorasi, setiap pengamatan, dan setiap catatan dalam ingatannya adalah persiapan untuk sesuatu yang belum ia ketahui pada saat itu.

Sekarang ia tahu.

Arjuna melihat ke arah pos perbatasan yang jauh di bawah, cahaya-cahaya biru dari panel energi masih berkilau di kegelapan malam. “Aku akan memberikan mereka kejutan dengan Venom Fang Poison ini, hahaha ….”

Di balik tembok itu, kesepuluh prajurit Etherion yang menghinanya sedang tidur, makan, atau merayakan pembunuhan mereka terhadap Arjuna.

Mereka tidak tahu bahwa manusia yang mereka bunuh itu masih hidup. Atau lebih tepatnya telah bangkit kembali.

Mereka tidak tahu bahwa manusia itu sekarang menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Panel hologram merah tiba-tiba muncul di hadapan Arjuna, meluncur ke arah matanya dengan cahaya yang menyilaukan.

Arjuna tidak terkejut, karena sistemnya sudah memberitahu bahwa status akan muncul kapan saja.

[Ding! Status]

[{}]^^^^^^^^^^^^^[{}]

[Nama Inang: Arjuna Sasrabahu]

[Usia: 23 tahun]

[Ras: High Human]

[Ranah Kultivasi: Mortal Frame Realm, Lapisan 1: Morning Star]

[Skill Pasif: Dragon's Hunger, aktif mengumpulkan energi dari sekitar. Tingkat penyerapan energi: 10 kali lipat]

[Saldo: 0 Koin Emas]

[Inventaris: -]

[Misi Aktif: Balasan, Kumpulkan jantung ras Etherion: 0/10 jantung Etherion. Deadline: 7 hari. Hukuman: Jantung Host meledak. Hadiah: Teknik Kultivasi Devil Dragon Abyss]

[{}]^^^^^^^^^^^^^[{}]

Arjuna menatap status itu dengan mata yang membesar, dan hanya sekilas, sebelum ekspresinya kembali datar.

"Sepuluh kali lipat?” ucap Arjuna, suaranya rendah seperti bisikan angin yang melewati batu. "Itu lebih cepat dari kalkulasiku."

Tiga hari ini dia merasa energi dari sekitar terus mengalir ke tubuhnya, dan jauh lebih banyak dari yang seharusnya.

Skill Dragon's Hunger itu bekerja tanpa henti, menyerap energi apapun dari hutan, dan cahaya dari bintang. Bahkan kehidupan dari makhluk kecil yang lewat.

Arjuna menghitung cepat dalam kepala, dan jari-jarinya bergerak pelan di udara seolah mengikuti kalkulasi yang sedang berjalan.

Jika dia terus berada di hutan yang penuh energi spiritual berjenis Ether seperti ini, dia bisa naik ke Lapisan 2 dalam waktu dua minggu, mungkin lebih cepat.

Akan tetapi deadline misinya hanya tujuh hari.

Arjuna menutup panel dengan isyarat tangan untuk memusatkan perhatian kembali ke vial beracun di tangannya.

"Dua minggu untuk naik satu lapisan, atau tujuh hari untuk mengumpulkan sepuluh jantung," desah Arjuna, matanya mempertimbangkan kedua pilihan dengan cermat. "Keduanya bisa dicapai."

Dia memutuskan untuk tidak terkejut meskipun status itu menunjukkan kemampuan yang melampaui ekspektasinya.

Terkejut adalah emosi yang membuat boros waktu. Kalkulasi haruslah presisi. Itu yang menjadi mottonya.

"Rendi akan mati hari ini," ucap Arjuna, suaranya datar seperti seseorang yang menyatakan laporan cuaca. 

Matanya mencermati peta mental yang sudah dia buat selama tiga tahun, jalur patroli, waktu istirahat, dan kebiasaan setiap prajurit.

Rendi selalu sendirian di pos pengawasan utara setiap fajar, sebelum prajurit shift berikutnya tiba.

Kesempatan sempurna untuk penyamarataan neraca atau keseimbangan yang telah dikalkulasikan di dalam kepalanya.

Arjuna melangkah maju, tubuhnya bergerak dengan tenang, dan penuh perhitungan.

Cahaya merah yang memancar dari tubuhnya sudah berkurang. Dia sudah belajar untuk menyembunyikan aura Dragon's Hungernya dalam tiga hari terakhir.

Jika dia terlalu terang, prajurit Etherion akan menyadarinya dengan mudah.

Dua jam perjalanan melalui hutan gelap menuju pos pengawasan utara.

Arjuna tidak memerlukan cahaya, karena matanya yang mulai berubah merah sudah bisa melihat dalam kegelapan total, seperti makhluk malam yang baru saja terbangun dari hibernasi ribuan tahun.

“Evolusi ke High Human ini sungguh menarik,” batin Arjuna tersenyum licik.

Dia sampai di bawah pos pengawasan utara tepat sebelum fajar, ketika langit mulai berwarna ungu gelap.

Rendi duduk sendirian di kursi kayu, mata setengah tertutup sedang memegang cangkir teh yang masih mengepul panas.

Arjuna bergerak seperti bayangan yang tidak memiliki bobot.

Dia naik melewati tiang-tiang kayu tanpa suara, melewati dinding, sampai berdiri tepat di belakang Rendi.

"Hah," gerutu Rendi dalam tidurnya, tubuhnya bergerak sedikit. "Siapa itu?"

"Hanya angin," bisik Arjuna, suaranya begitu pelan sehingga terdengar seperti hembusan angin sendiri, "Hanya angin yang lewat."

Rendi tidak bangun, malah kembali tertidur.

Dari kantong celana, Arjuna mengeluarkan sesuatu yang kecil dan hitam. Sebuah benih dari pohon yang tumbuh di area paling dalam hutan Ethereal.

Dia sudah mengetahui selama bertahun-tahun bahwa benih ini mengandung racun yang beraksi lambat.

Dengan gerakan yang telah dilatih ribuan kali dalam imajinasi, Arjuna menjatuhkan benih itu ke dalam cangkir teh Rendi.

Rendi tidak menyadari apa pun, dia hanya menggumam pelan, dan mengambil tegukan lagi.

Cairan panas itu menelan benih hitam tanpa meninggalkan jejak.

“Racun akan beraksi dalam dua jam, dan aku sudah menghitungnya dengan sempurna,” batin Arjuna tersenyum menyeringai dalam kegelapan malam.”

Dua jam dimana Rendi akan merasa lelah, otot akan terasa lemah, dan pada akhirnya dia akan terjatuh dari pos pengawasan ke jurang di bawah.

Akan terlihat seperti kecelakaan sederhana.

Arjuna berbalik dan melangkah mundur, bergerak dengan kecepatan yang sama lambatnya, tanpa sekalipun menoleh ke belakang, dan bergumam, “Dia tidak perlu menunggu hasilnya karena kalkulasiku tidak pernah meleset.”

Saat Arjuna sudah berada dua ratus meter dari pos, suara jatuh terdengar di kejauhan, keras dan mengerikan.

Kemudian teriakan prajurit lain yang menemukan tubuh Rendi pecah di bawah jurang.

Kalkulasi pertama sempurna.

[Misi: Balasan, Kemajuan: 1 dari 10 jantung Etherion dikumpulkan]

[Kemajuan Kultivasi: 5% menuju 10%]

Panel sistem menampilkan jantung Rendi sudah terekstrak secara otomatis, dan disimpan dalam dimensi penyimpanan yang tidak Arjuna pahami sepenuhnya.

Sistemnya bekerja sendiri, mengumpulkan hadiah dari setiap kematian dengan presisi mekanis.

Arjuna melanjutkan perjalanan ke hutan yang lebih dalam, mengkalkulasi target berikutnya sambil membayangkan nama, dan wajah prajurit nomor dua.

"Masih sembilan jantung lagi," desahnya dalam hati.

Kemudian ia melanjutkan dengan nada tenang, "Masih enam hari empat jam."

Waktu cukup, asalkan dia tidak membuat kesalahan, karena Arjuna Sasrabahu tidak akan membuat kesalahan.

Panel hologram merah muncul tiba-tiba di depan Arjuna saat dia berjalan menembus kegelapan hutan.

[Skill Unlock: Vital Strike]

[Skill Pasif Baru: Venom Fang Poison, aktif menginjeksi racun fatal ke target melalui sentuhan. Tingkat kerusakan: 50% dari total energi target per detik]

[Kemajuan Kultivasi: 5% menuju 10%]

Arjuna menghentikan langkahnya, mata merah miliknya bersinar lebih terang saat membaca notification sistem.

"Vital Strike," gumam Arjuna, senyuman licik muncul di sudut bibirnya, "Skill yang sempurna untuk eksekusi diam-diam ataupun serangan kejutan."

Skill pasif Venom Fang Poison itu berarti racun miliknya kini bukan hanya item, tapi bagian integral dari tubuhnya.

Setiap sentuhan, setiap cengkeraman, setiap pukulan maupun tendangan bisa mengirimkan racun mematikan langsung ke dalam tubuh target.

"Sembilan jantung," ucap Arjuna, suaranya dingin seperti es yang membeku. Dia mengepalkan tangan, energi merah mulai mengalir di sela-sela jarinya, dan tawa gila meluncur dari bibirnya. "Mereka akan mengalami rasa sakit yang tidak pernah ada di alam semesta ini sebelum jantung mereka berhenti berdetak.”

1
carat28
Hai kak, boleh follback? Saya mau kirim inbox terkait penawaran kepenulisan. Terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!