Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2.
Zira merapikan penampilannya kemudian kembali ke meja makan. Sejenak pandangannya tertuju ke arah kursi dihadapannya yang nampak kosong. Sampai tak lama berselang, pemilik kursi tersebut pun terlihat kembali dengan membawa ponsel di genggaman tangannya.
"Ada apa denganmu sayang, kenapa wajahmu kelihatan pucat?." Tanya Leon saat menyadari wajah pucat Zira.
Teguran Leon membuat Zira spontan menyentuh wajahnya.
"Tiba-tiba aku merasa kurang enak badan, Leon."
"Ya ampun, sayang..." Mommy berdiri dari duduknya, mendekat pada Zira.
"Sebaiknya kamu segera membawa Zira ke rumah sakit, Leon! Mommy tidak ingin sampai Zira kenapa-napa."
"Nggak perlu, Mom. Lagian, cuma sedikit kurang enak badan saja kok. Sebentar lagi juga enakan, kalau Zira sudah beristirahat." Zira menolak dengan halus.
"Sebaiknya kamu mengantarku pulang saja, Leon!."
"Yakin, nggak perlu ke rumah sakit, sayang?." Leon ragu, mengingat saat ini wajah calon istrinya tersebut terlihat sangat pucat, tubuhnya pun nampak tak bersemangat.
"Aku yakin, kamu nggak perlu terlalu cemas!. Sesampainya di rumah, aku akan meminum vitamin." Zira kekeuh ingin diantar pulang saja, tak ingin ke rumah sakit. Karena kenyataannya ia tidak sedang sakit sama sekali, wajah pucat nya saat ini diakibatkan oleh rasa syok atas tindakan serta pengakuan pria dihadapannya itu. Pria yang saat ini tetap terlihat tenang, seolah tidak terjadi apapun barusan. Ia malah terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Baiklah, aku akan segera mengantarmu pulang, sayang." Baru saja beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba ponsel Leon bergetar pertanda seseorang tengah melakukan panggilan telepon. Leon merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya. Melihat nama asisten pribadinya tertera dilayar ponselnya, Leon pun menerima panggilan telepon tersebut.
"Ada apa?."
"....."
"Baik, saya ke sana sekarang."
"Ada apa, Leon?." Tanya Daddy, melihat mimik wajah putra bungsunya itu tiba-tiba berubah cemas.
"Terjadi sedikit masalah di perusahaan, ada beberapa orang pria asing membuat keributan di gedung perusahaan, pah. Leon khawatir mereka sampai melakukan pengerusakan dan security tak sanggup menghandle, pah." Jelas Leon.
"Jika kamu pergi, lalu bagaimana dengan Zira, siapa yang akan mengantarnya pulang?." Tanya Mommy bingung, sebab sopir pribadi keluarga sedang mengambil cuti dan pulang kampung hingga beberapa hari ke depan.
"Biar aku yang mengantarnya pulang." Lexi yang sejak tadi hanya diam saja, kini terdengar menawarkan diri untuk mengantarkan Zira pulang.
"Tidak perlu, aku bisa naik taksi." Zira langsung bersuara untuk menolak.
"Aku pasti tidak akan tenang kalau kamu pulangnya naik taksi, sayang. Sebaiknya kamu diantar sama mas Lexi." Kata Leon.
"Baiklah." Zira ingin kembali menolak namun Mommy dan Daddy-nya Leon justru mendukung jika ia diantar pulang oleh Lexi, sehingga dengan berat hati Zira pun akhirnya mengiyakannya.
Entah apa jadinya jika ia berduaan di dalam mobil bersama dengan pria itu, Zira semakin gelisah.
Jantung Zira semakin berdebar ketakutan ketika pria bertubuh atletis dengan tinggi badan mencapai seratus sembilan puluh centimeter tersebut berdiri dari duduknya.
Lexi menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobilnya. Meskipun lama tak menginjakan kaki di tanah air bukan berarti membuat pria tampan tersebut lupa dengan seluk beluk kota kelahirannya, termasuk jalanan nya.
Mommy mengantarkan calon menantunya itu menuju mobil milik anak sambungnya, Lexi, sedangkan mobil Leon sudah berlalu menuju perusahaan sejak beberapa saat lalu.
"Maaf ya sayang, Leon tidak sempat mengantar kamu pulang." Mommy merasa bersalah.
"Nggak papa, mom." Zira memaksakan senyum di bibirnya, meski kenyataannya hatinya ingin menjerit.
Tanpa sepatah katapun Lexi membukakan pintu mobil untuk Zira, sebelum sesaat kemudian ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi.
Mobil Lexi mulai bergerak meninggalkan kediaman Fernandez.
"Rupanya pepatah yang mengatakan dunia tak selebar daun kelor, itu tidak benar. Buktinya, aku bisa bertemu lagi dengan anda Nona Azira putri. Bahkan dengan status yang begitu mengejutkan." Perkataan Lexi sekaligus memecah keheningan di dalam mobil mewah tersebut.
"Apa sebenarnya yang anda inginkan?."
"Simple, tinggalkan Leon! Lagipula, jika sampai Leon tahu yang sebenarnya, belum tentu dia bersedia menerima wanita bekas kakaknya sendiri."
Deg.
Zira merasa dunianya runtuh seketika. Namun begitu, Zira masih berusaha untuk bersikap tenang.
"Bagaimana jika saya menolak?." Mendengar jawaban Zira sontak membuat Lexi menginjak pedal rem secara mendadak.
"Ummmhhh....." Zira berontak saat Lexi tiba-tiba menci-um dan melu-mat bibirnya, akan tetapi postur tubuh Zira yang jauh lebih kecil dari tubuh Lexi membuat usaha Zira sia-sia.
Lexi justru menyudahi aksinya saat menyadari Zira terdiam, tak lagi berontak. Lexi menjauhkan tubuhnya saat melihat Zira menitihkan air mata. Pria itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku kemudi, dan helaan napasnya pun terdengar berat.
"Apa tidak cukup sekali saja anda merendahkan harga diri saya, apa anda perlu mengulanginya kembali." Di sela tangisnya, terdengar lirih suara Zira. Ucapan Zira berhasil mengalihkan pandangan Lexi kembali pada wanita itu.
Lexi tak dapat lagi berkata-kata. Kini pria itu kembali melajukan mobilnya ke alamat yang diberitahu oleh Leon sebelumnya.
Setibanya di depan kediaman orang tuanya, Zira segera turun dari mobil Lexi tanpa sepatah katapun. Lexi terus memandangi Zira hingga tubuh wanita itu menghilang dibalik pintu gerbang.
Zira berusaha terlihat baik-baik saja di depan keluarganya, terutama abangnya, Tomi.
"Tumben, Leon nggak mampir dulu?." Tutur Tomi saat melihat adiknya memasuki pintu utama seorang diri tanpa keberadaan Leon mengantarkannya masuk walau hanya sebentar.
"Leon masih ada urusan penting, makanya nggak sempat mampir, mas." Zira terpaksa berdusta agar tak sampai memancing pertanyaan yang lebih banyak lagi dari Abangnya.
Tomi mengangguk paham. Zira kembali mengayunkan langkah menapaki anak tangga menuju lantai atas, di mana kamarnya berada.
Setibanya di kamar, Zira mengunci pintu kemudian menjatuhkan tubuhnya telentang di ranjang. Tangisannya pun kembali pecah tak tertahankan ketika ingatannya kembali pada kejadian tiga tahun lalu.
Hari itu berbeda dari biasanya, Zira dan salah seorang temannya masih berada di kampus hingga larut malam karena harus menyelesaikan tugas dari salah seorang dosen. Sebenarnya mereka bisa melanjutkannya nanti, namun kosa kata tanggung membuat Zira dan temannya tersebut enggan untuk menyudahi kegiatan belajar mereka di gedung perpustakaan kampus tersebut. Lagipula, bukan hanya mereka berdua yang masih tersisa di kampus, masih ada beberapa mahasiswa lainnya yang juga berada di gedung kampus.
"Pamanku sudah datang menjemput di depan, aku harus segera pulang, Zira." Teman Zira berpamitan karena sang paman sudah datang menjemputnya. "Sebaiknya kau juga segera pulang! Kita bisa melanjutkannya besok."
"Kau duluan saja, sebentar lagi aku juga akan segera pulang kok." Balas Zira.
"Baiklah." Mahasiswi cantik yang juga berasal dari tanah air tersebut akhirnya berlalu meninggalkan Zira.
Siapa sangka, ketika hendak bersiap-siap pulang, Zira Mendengar suara derap langkah pantofel pria memasuki ruangan perpustakaan. Pria bertubuh atletis dengan tinggi badan yang mampu membuat Zira mendongak saat berdiri dihadapannya tersebut, tiba-tiba menggendong tubuh Zira dan membawanya dengan paksa menuju mobilnya.
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣