"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Poin yang Terenggut
Teriknya matahari di SMA Cakrawala seolah tidak memberi ampun. Di tengah lapangan, ratusan siswa baru berbaris rapi di bawah komando para pengurus OSIS.
Aurora berdiri di barisan paling belakang, mencoba menutupi luka lecet di sikunya dengan lengan seragam. Peluhnya bercucuran, membasahi papan nama kardus yang kini sedikit melengkung.
"Perhatian semuanya!" suara Kaila Ranisatya menggema melalui pengeras suara. "Sekarang adalah waktu pemeriksaan kelengkapan atribut. Siapa pun yang atributnya tidak lengkap atau kotor, akan mendapatkan pengurangan poin kedisiplinan dan hukuman tambahan!"
Jantung Aurora mencelos. Ia melirik kertas makalah di dalam map beningnya yang kini memiliki noda bekas tapak sepatu Arvin. Noda itu hitam, pekat, dan sangat mencolok di atas kertas putih bersih.
Satu per satu pengurus OSIS mulai berkeliling. Saat giliran barisan Aurora, seorang kakak kelas laki-laki bertampang garang berhenti tepat di depannya.
"Mana makalah Visi Misi kamu?" tanya kakak kelas itu ketus.
Dengan tangan gemetar, Aurora menyerahkannya. Kakak kelas itu mengerutkan dahi, lalu mengangkat kertas itu tinggi-tinggi.
"Apa-apaan ini? Kamu mengumpulkan tugas atau sampah? Kenapa ada bekas sepatu di sini? Kamu menginjak tugas kamu sendiri?"
"Bukan, Kak... itu tadi..." Aurora menggantung kalimatnya. Ia melihat Arvin sedang duduk di pinggir lapangan bersama gengnya, memperhatikannya sambil tertawa kecil dan meminum es teh. Arvin menatapnya dengan tatapan menantang, seolah berani jika Aurora menyebut namanya.
"Tadi apa?! Kamu nggak menghargai tugas yang kami berikan?!" bentak kakak kelas itu lagi.
"Maaf, Kak. Tadi terjatuh dan tidak sengaja terinjak," bohong Aurora lirih. Ia menunduk, tak sanggup melihat wajah-wajah yang mulai menghakiminya.
"Alasan! Karena kamu tidak rapi, poin kamu saya potong sepuluh. Dan sebagai hukuman, setelah apel ini, kamu harus membersihkan seluruh sampah di tribun penonton sendirian!"
Aurora hanya bisa mengangguk pasrah. Di pinggir lapangan, Arvin tampak membisikkan sesuatu kepada Bimo, lalu mereka tertawa lebih keras. Rasa sakit di hati Aurora jauh lebih perih daripada panas matahari yang menyengat kulitnya.
Satu jam kemudian, lapangan mulai sepi karena para siswa baru dipindahkan ke aula yang ber-AC untuk menerima materi. Namun tidak bagi Aurora. Ia masih berada di tribun penonton yang luas, memunguti botol plastik dan bungkus makanan satu per satu. Tangannya yang mungil mulai memerah karena panasnya beton tribun.
"Kasihan banget sih, si anak baru."
Aurora tersentak. Ia menoleh dan menemukan Arvin berdiri di atas tribun, beberapa anak tangga dari tempatnya berdiri. Arvin tidak sendirian; Bimo dan beberapa teman lainnya ada di sana.
"Gara-gara lo ceroboh di koridor tadi, lo jadi babu sekolah sekarang," ejek Arvin. Ia sengaja menjatuhkan botol minumnya yang masih setengah penuh ke arah kaki Aurora, membuat airnya muncrat mengenai sepatu Aurora. "Eh, jatuh. Pungut dong, Dek."
Bimo yang melihat itu mulai merasa tidak enak. "Vin, sudah lah. Dia kan sudah dihukum."
Arvin tidak peduli. Ia berjalan mendekati Aurora, suaranya mengecil menjadi bisikan yang hanya bisa didengar oleh gadis itu.
"Ini baru permulaan, Aurora. Kalau lo pikir sekolah ini bakal jadi tempat lo bisa bernapas lega, lo salah besar. Di sini, gue rajanya. Dan lo tetaplah noda yang harus gue singkirkan."
Aurora berhenti memunguti sampah. Ia berdiri dan menatap mata kakaknya yang penuh kebencian itu. "Kenapa, Kak? Kenapa Kakak benci banget sama aku? Aku nggak pernah minta untuk dilahirkan ke dunia ini. Kalau aku bisa milih, aku juga nggak mau lahir kalau itu artinya harus buat Mama pergi."
Suasana mendadak dingin meskipun matahari sedang terik. Senyum di wajah Arvin menghilang, digantikan oleh rahang yang mengeras. Ia mencengkeram bahu Aurora dengan kuat, membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Jangan pernah sebut kata 'Mama' dari mulut kotor lo itu," desis Arvin tajam. "Lo nggak pantas."
Arvin melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Aurora terhuyung menabrak kursi tribun. Tanpa sepatah kata lagi, Arvin berbalik dan pergi meninggalkan tribun.
Bimo sempat terdiam sejenak, menatap. Aurora yang kini kembali berjongkok memunguti sampah dengan bahu yang bergetar karena tangis yang ditahan. Bimo mendekat, lalu diam-diam meletakkan sebotol air mineral dingin di dekat tangan Aurora.
"Minum, Ra. Jangan sampai pingsan," ucap Bimo pendek sebelum menyusul Arvin.
Aurora menatap botol air itu. Itu adalah kebaikan kecil pertama yang ia terima di sekolah ini, tapi ironisnya, itu datang dari teman orang yang paling membencinya.
Malam nanti, ia harus pulang ke rumah itu lagi. Rumah di mana empat orang kakak laki-lakinya akan menatapnya dengan kebencian yang sama, dan seorang Ayah yang menganggapnya tidak ada. Aurora mengusap air matanya dengan punggung tangan, lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Tolong... sayangi aku sedikit saja," bisiknya pada angin, sebuah doa yang entah kapan akan dikabulkan.
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹