NovelToon NovelToon
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA

​Kegelapan kamar itu terasa menekan paru-paru Siham. Di sampingnya, napas Dewangga terdengar sangat stabil, ritme yang menandakan bahwa pria itu tidak memiliki beban pikiran sedikit pun. Dewangga bisa tertidur dengan mudah setelah hari yang melelahkan di kantor, seolah dunia ini memang berputar hanya untuk melayaninya. Sementara Siham? Ia merasa seperti sedang tenggelam di tengah samudra yang tenang namun mematikan.

​Siham mencoba memejamkan mata, namun bayangan naskah, tekanan dari Ayah mertuanya, dan sikap dingin Dewangga sore tadi terus menari-nari di pelupuk matanya. Selimut sutra yang membungkus tubuhnya terasa kasar di kulitnya yang sensitif malam ini. Akhirnya, dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak mengusik sang Raja di sampingnya, Siham bergeser ke tepi ranjang.

​Ia meraih tablet dari nakas. Benda itu adalah satu-satunya pelarian yang ia miliki. Dengan hati-hati, ia bangkit dan melangkah menuju sofa kecil di sudut kamar yang remang-remang. Ia tidak ingin menyalakan lampu utama; ia hanya butuh cahaya dari layar tabletnya untuk menyinari lubang hitam di hatinya.

​Bagi Dewangga, tablet itu hanyalah alat kerja. Sang CEO sering melihat istrinya berkutat dengan benda itu, mengira Siham sedang mengedit naskah penulis atau memeriksa jadwal penerbitan untuk memastikan citra perusahaan tetap stabil. Dewangga tidak pernah bertanya lebih jauh, dan Siham membiarkan asumsi itu tetap ada. Baginya, tablet itu adalah bunker rahasia satu-satunya tempat di mana ia tidak perlu menjadi istri sempurna.

​Siham menyalakan layarnya. Cahaya putih dari tablet memantul di bola matanya yang mulai sembap. Alih-alih membuka aplikasi kerja, jemarinya bergerak lincah membuka sebuah aplikasi media sosial anonim. Di sana, ia bukan Siham sang editor senior. Di sana, ia adalah Aksara Renjana, seorang pengembara kata yang hanya ingin membuang luka.

​Ia mulai menulis. Ujung stylus pen-nya menari di atas layar kaca, merangkai kalimat yang sejak tadi tersangkut di tenggorokannya saat makan malam.

​"Kamu adalah rumah yang pintunya selalu terkunci, sementara aku adalah tamu yang lupa bahwa aku punya kunci sendiri untuk pergi. Lima tahun aku menyajikan hangatnya sup di atas meja, tapi kau lebih memilih kedinginan dalam egomu yang setinggi menara."

​Siham menarik napas panjang, menahan isak yang nyaris lolos. Ia melirik sekilas ke arah tempat tidur, ke arah sosok suaminya yang masih bergeming. Ia menambahkan baris penutup yang paling tajam.

​"Ternyata, menjadi bagian dari prestasimu adalah hukuman paling sunyi yang pernah aku terima. Karena di matamu, aku hanyalah editor yang bertugas merapikan bab-bab hidupmu agar terlihat sempurna di mata dunia, sementara naskah cintaku sendiri kau anggap sampah."

​Tanpa ragu, ia menekan tombol post. Biarlah kata-kata itu menguap di jagat maya, menjadi konsumsi orang-orang asing yang tidak akan pernah tahu siapa laki-laki yang ia sindir. Baginya, ini adalah satu-satunya cara agar ia tidak gila.

​Beberapa saat kemudian, suasana hening itu pecah oleh suara gumaman rendah dari arah tempat tidur. Dewangga terbangun. Bukan karena suara Siham, tapi karena kebiasaan tubuhnya yang selalu terjaga jika merasa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya. Ia meraba sisi ranjang yang kosong, lalu matanya menangkap siluet istrinya yang sedang meringkuk di sofa dengan cahaya tablet yang menerangi wajahnya.

​"Siham? Belum tidur?" suara Dewangga serak, namun tetap terdengar otoriter.

​Siham tersentak, hampir menjatuhkan tabletnya. Ia segera mematikan layar.

"Belum, Mas. Ada beberapa naskah yang perlu aku cek sebentar untuk besok."

​Dewangga mendengus pelan sambil bangkit dan duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajahnya kasar. "Kamu terlalu terobsesi dengan pekerjaan. Ayah sudah bilang, kamu tidak perlu bekerja sekeras itu sekarang. Fokus saja menjaga namaku dan keluarga."

​Kata-kata itu. Selalu saja soal nama baik dan keluarga. Tidak pernah soal "Bagaimana perasaanmu?".

​Dewangga kemudian berdiri, melangkah menuju meja kecil di sudut kamar untuk mengambil air minum. Namun, matanya tertuju pada sebuah tas kerja milik Siham yang diletakkan di atas meja rias. Dari sela-sela tas yang sedikit terbuka, menyembul sebuah buku dengan sampul yang mencolok.

​Dewangga mengambil buku itu. Sebuah novel fisik yang tampaknya naskah contoh dari kantor Siham. Di sampulnya, terdapat ilustrasi seorang wanita yang menatap jendela hujan dengan judul yang menurut Dewangga sangat cengeng.

​Mata Dewangga tertuju pada nama penulis yang tertera di sana: Aksara Renjana.

​"Aksara Renjana?" gumam Dewangga pelan. Nama itu terasa asing sekaligus menggelitik telinganya. "Ini penulis baru yang kamu pegang?"

​Siham membeku di sofa. Jantungnya berdegup kencang. "I-iya, Mas. Penulis baru yang sedang naik daun."

​Dewangga membuka lembar pertama secara acak. Sebagai pria yang tumbuh dengan logika bisnis dan efisiensi, Dewangga selalu menganggap karya sastra romansa adalah hiburan kelas bawah yang membuang waktu.

​Ia membaca satu paragraf pendek di sana: "Cinta yang paling menyakitkan bukanlah saat kau dikhianati, melainkan saat kau dianggap tidak ada di saat kau berdiri tepat di depan matanya."

​Dewangga mendengus sinis. Ia menutup buku itu dengan sedikit kasar. "Novel sampah," ucapnya dingin. "Bagaimana bisa orang-orang menghabiskan waktu hanya untuk membaca keluhan yang dibungkus dengan bahasa berbunga-bunga seperti ini? Sangat tidak produktif."

​Ia meletakkan buku itu kembali dengan posisi sembarangan. "Jangan biarkan naskah-naskah tidak logis seperti ini mempengaruhi caramu berpikir, Siham. Hidup itu tentang eksekusi, bukan ratapan."

​Siham hanya terdiam, tangannya mengepal di balik daster sutranya. Ia ingin berteriak bahwa novel sampah itu adalah jiwanya. Ia ingin memaki pria yang menganggap perasaannya sebagai hal yang tidak produktif. Namun, seperti biasa, ia memilih untuk menelan kembali belati itu.

​Dewangga kembali ke tempat tidur, seolah tidak baru saja menghancurkan hati istrinya berkeping-keping. "Sudah, matikan tabletmu. Besok kita ada acara makan siang dengan kolega Papa. Aku tidak mau kamu terlihat kuyu."

​Malam itu, keduanya kembali berada di bawah selimut yang sama. Dewangga kembali terlelap dalam hitungan menit, merasa dunianya sudah terkendali dengan sempurna. Namun di sampingnya, Siham menatap langit-langit kamar dengan mata yang benar-benar kering.

​Ia baru saja menyadari satu hal: Dewangga tidak hanya tidak mencintainya, tapi pria itu bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Dan di jagat maya, ribuan orang sedang mulai menyukai puisi belati yang baru saja ia kirimkan untuk suaminya yang sedang tertidur lelap itu.

1
Maya Lara Faderik
cerita yang memilukan penuh luka tak dapat dibayangkan kalau didunia nyata,kalau ia pun Kalian dijodohkan Dewangga jangan lah membenci siham , memarahi nya juga siham hanya dituntut oleh kedua orang tua kalian lagipun mantan mu yang mengkhinat meninggalkan dirimu tapi kenapa harus siham tempat kau melempias kemarahan dan kebencian,lelaki yang teregois,angkuh dan tersombong didunia novel ...adakah aku patut bersyukur itu hanya mimpi untuk menyedarkan Dewangga...tapi hatiku masih sakit kerana menangis terisak2 ,... hidung ku tersumbat banyak mengeluarkan air mata...Thor..karyamu sangat membuat ku terbawa perasaan ..terrrbaik thorr...
Maya Lara Faderik: Amin 🙏🙏🙏
total 4 replies
sukensri hardiati
sukaa....nggak nyangka klo dewangga cuma mimpi...tak kira ceritanya mengulang waktu....yaaah...efeknya sama sih...ngadih dewangga kesempatan buat memperbaiki semuanya ....
sukensri hardiati
aduuuh....tamatnya jangan begini laah....
sukensri hardiati
semoga bapak siham juga selamat....sehat sampai punya cucu
Sherly Neovita
🥰
Erna Nurwahyu
😭😭😭😭😭jahat banget sih Thor ini mata sampe bengkak karna nangis terus part ini😭😭😭😭
Erna Nurwahyu
aku nangis terus part ini😭😭😭😭
Mas Nunah
aku nangis nangis baca novel ini
Ainun Nasir
ya Ampun kaget banget pas di akhir ada tulisan tamat
blcak areng: Maaf Kak🙏
total 1 replies
Charlie Si Pendiam
kok tamat sih Thor, sudah melow berat🤭
blcak areng: Maaf ya kak 🙏
total 1 replies
Uthie
Apakah Judul itu kelanjutannya????
Uthie: Yaaaa..😢😢😢
total 2 replies
Uthie
Yaaa...koq Tamat aja 😢😢😢😢
Bunga
sedih banget/Sob/
Uthie
Semoga masih ada kesempatan untuk kalian hidup bahagia yaaa.... not Sad Ending 👍👍👍
Uthie
💞💞💞💞
Haryati Atie
thoor ini ga ada cerita unboxing kli ya , ku kira cerita bakal bede sma mimpi dewangga .
Uthie
Masihkah mereka dapat bersatu dan mengubah takdir 😢
Uthie
Semoga di kesempatan kali ini, mereka bisa bersama selamanya 😢
Uthie
Nexxxttt.... lagiiii
Uthie
syukurlah...bisa kembali bersama merubah kejadian tragis di masa depan 👍👍😥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!