Rania Azarina Seorang manajer Brand Strategy di perusahaan ternama, ia sudah bekerja mati-matian demi kursi Direktur Regional. Sayangnya, tepat ketika garis finis sudah di depan mata, direksi mengumumkan syarat paling absurd dalam sejarah perusahaan: kandidat direktur harus memiliki kehidupan pribadi yang stabil—alias sudah menikah.
Masalahnya, Rania masih lajang.
Lebih parah lagi, pesaing terbesarnya adalah Gavin Mahendra—manajer Creative Campaign yang menyebalkan, terlalu santai, dan punya bakat alami membuat tekanan darahnya naik hanya dengan satu senyuman tengil.
Ketika keduanya sama-sama terancam kehilangan peluang promosi
sebuah ide nekat muncul, menikah kontrak.
Kesepakatannya sederhana. Menikah selama enam bulan, lalu bercerai setelah salah satu mendapatkan jabatan impian.
Tapi Bagaimana jika pernikahan palsu ini justru melahirkan perasaan yang terlalu nyata untuk diakhiri?
⚠️⚠️⚠️
DILARANG KERAS PLAGIAT ATAU COPY PASTE JIKA TIDAK INGIN KENA DENDA KARNA PELANGGARAN HAK CIPTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Mi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 2 Proposal Paling Absurd
Rania Azarina keluar dari ruang rapat dengan langkah cepat dan rahang mengeras.
Ia tidak tahu mana yang lebih ingin ia lakukan saat ini: memprotes keputusan Theo Santoso secara resmi ke HR, menulis email sepanjang tiga halaman tentang diskriminasi status pernikahan di lingkungan kerja, atau pura-pura pingsan di lobby agar keputusan itu dinyatakan batal secara hukum.
“Bu?”
Nisa menyusul di belakangnya dengan tablet di dada seperti tameng.
“Itu tadi… beneran ya?”
Rania menekan tombol lift berkali-kali, seolah semakin sering ditekan, semakin besar kemungkinan pintunya terbuka ke dimensi lain yang lebih masuk akal.
“Kalau ini prank, saya harap pelakunya dipecat.”
Nisa menggaruk pipinya.
“Jadi… kita harus nyari calon suami?” Tanya nya polos.
Rania menoleh tajam.
“Kita?”
“Eh—maksudnya saya, Bu,” buru-buru meralat ucapannya.
“Bagus. Karena saya tidak pernah memasukkan ‘berburu suami’ ke dalam job description divisi kita.”
Pintu lift terbuka.
Rania melangkah masuk tanpa menunggu siapa pun.
Saat pintu hampir menutup, sebuah tangan terulur sehingga pintu lift itu kembali terbuka.
Gavin Mahendra masuk dengan ekspresi santai yang membuat naluri waspada Rania muncul seketika.
Nisa yang melihat situasi itu memilih mundur secara perlahan.
“Saya naik lift berikutnya saja.” ucapnya, dan langsung keluar.
Pintu lift tertutup.
Kini hanya ada mereka berdua.
Dalam keheningan yang terasa seperti perang dingin dalam bentuk vertikal.
Rania menatap lurus ke depan.
“Kalau kamu mau bilang ‘turut berduka cita’, sebaiknya hemat tenagamu.”
Gavin memasukkan tangan ke saku celana.
“Justru saya mau bilang selamat.”
Rania menoleh.
“Untuk?”
“Kita resmi hidup di perusahaan paling absurd se-Asia Tenggara.” jawab Gavin.
Rania mendengus.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia setuju dengan Gavin.
Lift turun perlahan.
“Jadi?” tanya Gavin santai. “Strategi kamu apa?”
“Strategi?”
“Untuk enam bulan ke depan.”
Rania melipat tangan.
“Saya akan tetap kerja seperti biasa dan berharap Pak Theo sadar kalau aturan ini tidak masuk akal.”
Gavin terkekeh pelan.
“Kamu terlalu optimis.”
“Dan kamu terlalu percaya diri.”
“Bukan percaya diri. Realistis.”
Lift berhenti di lantai tujuh.
Pintu terbuka.
Mereka keluar bersamaan.
Open office yang biasanya riuh mendadak hening saat melihat keduanya muncul.
Rania bisa merasakan tatapan penasaran dari segala arah.
Di kubikel dekat jendela, Kevin bahkan terang-terangan mengangkat papan kecil bertuliskan:
TEAM GAVIN
Di sisi lain, Nisa membalas dengan sticky note besar:
TEAM BU RANIA
Anak-anak kurang kerjaan.
Rania mengabaikan semuanya dan berjalan menuju pantry.
Ia butuh kopi untuk menenangkan pikirannya.
Namun baru saja Rania menuang americano ke cangkir, suara langkah familiar mendekat.
“Kalau kamu ke sini cuma buat mengganggu ketenangan mental saya, antre.” Ucap Rania.
Ia bahkan tak perlu menoleh; aroma parfum Gavin yang terlalu familiar sudah cukup jadi petunjuk.
Gavin berdiri di sampingnya sambil menyandarkan pinggul ke meja pantry.
“Tenang. Saya datang bawa solusi.”
Rania mendecak.
“Kalau solusi yang kamu maksud adalah untuk menculik Pak Theo dan mencuci otaknya, maka akan saya dengarkan.”
“Lebih sederhana dari itu.” Kata Gavin.
Rania akhirnya menoleh.
Tatapan Gavin kali ini berbeda.
Tidak ada senyum jahil.
Tidak ada nada menggoda.
Ekspresinya serius.
Dan justru itu yang membuat Rania waspada.
“Menikah sama saya," ucap Gavin dengan tatapan lurus ke mata Rania.
Untuk pertama kalinya sejak masuk pantry, Gavin tampak ragu sepersekian detik.
Seolah bahkan dirinya sendiri sadar betapa gilanya kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya.
Untuk sesaat Gavin kembali teringat foto lama di laci apartemennya. Wajah Ethan. Dan perempuan yang sekarang berdiri di depannya.
Rania Azarina.
Kebetulan?
Atau sesuatu yang selama ini ia lewatkan?
Setelah itu ekspresinya kembali tenang.
Mesin kopi berdengung pelan.
Seseorang di luar pantry menjatuhkan map.
Rania berkedip.
Sekali.
Dua kali.
Lalu tertawa.
Keras.
Begitu keras sampai Pak Darto yang sedang mengepel dekat pintu berhenti bekerja.
“Ya ampun,” katanya sambil terengah setelah puas tertawa. “Kamu serius.”
“Serius.”
Rania menatapnya seperti baru menyadari bahwa pria ini mungkin baru saja kehilangan kewarasannya.
“Oke. Saya kasih kesempatan kedua. Coba ulangi, mungkin saya salah dengar.” ucap Rania. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja Gavin tawarkan kepadanya.
Gavin menyilangkan tangan.
“Kita menikah kontrak.”
Rania menatapnya datar.
“Ah. Jadi saya tidak salah dengar. Kamu memang gila.”
“Dengarkan saya dulu,” ucap Gavin membujuk.
“Tidak tertarik,” balas Rania cepat.
“Kita kandidat final.”
“Tahu.”
“Kita sama-sama belum menikah.”
“Sayangnya.”
“Kita sama-sama butuh jabatan itu.”
“Masih relevan.”
“Nah.”
Gavin merentangkan tangan seperti baru saja mempresentasikan solusi paling brilian.
“Ini win-win solution.”
Rania memijat pelipis.
“Dalam dunia seperti apa menikah sama kompetitor disebut win-win?”
Ia benar-benar tidak habis pikir dengan ide yang baru saja diajukan Gavin.
“Dunia korporat.”
“Itu bukan dunia. Itu penyakit.”
Gavin nyaris tersenyum.
“Kita nikah kontrak selama enam bulan. Cukup untuk lolos evaluasi. Setelah posisi diumumkan, kita bercerai baik-baik.”
Rania menatapnya tanpa ekspresi.
Lalu mengangkat cangkir dan menyesap kopi dengan tenang.
Tiga detik.
Empat detik.
Kemudian—
“Tidak.”
Jawaban itu tegas.
Final.
Mutlak.
Namun Gavin tidak tampak kecewa.
Ia justru terlihat seperti sudah menduga jika Rania pasti akan menolaknya.
“Kenapa?” tanya Gavin.
Rania menurunkan cangkirnya.
“Pertama, itu adalah ide yang paling tidak masuk akal.”
“Oke.”
“Kedua, saya lebih memilih kehilangan promosi daripada terikat secara legal dengan manusia yang menganggap provokasi sebagai hobi.”
“Terus.”
“Ketiga—”
Ia menatap Gavin lurus-lurus.
“Kalau kita menikah, besar kemungkinan saya dipenjara karena membunuh suami sendiri.”
Gavin terkekeh.
“Noted.”
Rania berbalik hendak pergi.
Namun suara Gavin menghentikannya.
“Bagaimana jika saya bilang justru ini adalah cara tercepat agar kamu bisa menang?”
Langkah Rania terhenti.
Ia menoleh perlahan.
“Maksud kamu?”
Gavin mendekat satu langkah.
“Pikirkan. Kita menikah kontrak. Pak Theo puas. Evaluasi jalan.” jelas Gavin.
“Lalu?”
“Lalu saat penilaian final, kita tetap bersaing secara profesional.”
Rania menyipit.
“Kenapa saya harus percaya kepadamu, bagaimana jika kamu sedang mencoba untuk menjebak saya?”
“Karena kalau salah satu dari kita gagal, yang lain otomatis menang.”
Ia berhenti sejenak.
“Dan saya lebih suka kalah secara fair daripada menang karena aturan kuno,” Gavin kembali melanjutkan ucapannya.
“Karena kalau kita sama-sama tidak memenuhi syarat itu, direksi bisa saja membuka kandidat baru.”
Kalimat itu membuat Rania diam.
Ia belum memikirkan kemungkinan itu.
“Dan kalau itu terjadi,” lanjut Gavin pelan, “semua yang sudah kita perjuangkan selama ini akan hilang begitu saja.”
Untuk sesaat.
Rania mencoba mencari tanda kebohongan di wajah Gavin.
Senyum manipulatif.
Tatapan licik.
Apa pun itu.
Namun yang ia temukan justru keseriusan yang mengganggu.
“Kasih saya satu alasan kuat kenapa saya harus mempertimbangkan ini.”
Gavin menatapnya lekat-lekat.
Lalu berkata pelan,
"Karena kalau kamu menolak, enam bulan dari sekarang saya akan duduk di kursi direktur itu.”
Ia menatap Rania tanpa berkedip.
“Dan kamu tahu saya tidak pernah main-main soal target.”
Rania membeku.
Bukan karena ancamannya.
Tapi karena pria itu mengatakannya dengan keyakinan mutlak.
Dan yang paling menyebalkannya…
Rania tahu Gavin mungkin benar.
“Pikirkan baik-baik,” ujar Gavin sambil mundur selangkah.
Ia berbalik, lalu melangkah keluar pantry. Namun, sebelum menghilang di balik pintu, Gavin kembali menoleh.
“Oh iya.”
“Apa?” Tanya Rania.
Senyum Gavin kembali muncul.
Senyum menyebalkan khas Gavin Mahendra.
“Jika kamu setuju, saya maunya akad hari Sabtu. Biar Senin kita bisa langsung bikin orang sekantor syok.”
Lalu ia pergi.
Meninggalkan Rania yang berdiri mematung dengan cangkir kopi di tangan.
Dan satu kenyataan mengerikan berputar-putar di kepalanya.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Gavin Mahendra, Rania membenci satu Fakta sederhana.
Ide gila pria itu... Masuk akal.
Tapi yang paling membuat Rania kesal adalah fakta bahwa sebagian kecil otaknya—mulai menghitung kemungkinan berhasilnya ide itu.
Apalagi Mama Ratna dan Mama Ambar.
Ceritanya bikin penasara.