NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 - siapa gadis itu?

Deru mesin yang biasanya jadi candu buat Rama, pagi ini terasa seperti palu yang menghantam kepalanya. Ia terbangun dengan napas memburu, peluh membasahi kaus putihnya. Jam weker digital di atas nakas mewah kamarnya menunjukkan pukul 05.30 WIB. Cahaya matahari pagi Yogyakerto mulai mengintip dari balik gorden tebal. Rama bangkit perlahan, langsung meringis menahan sakit. Seluruh badannya serasa habis digilas truk pasir.

Ada memar kebiruan yang cukup besar di pinggang sebelah kiri, dan goresan panjang memerah di siku kanannya akibat berciuman dengan aspal semalam. Namun, lucunya, rasa perih di kulitnya malah kalah dengan rasa penasaran yang sedari tadi malam menggerogoti otaknya. Pikirannya terus-menerus kembali pada kejadian di lintasan bypass Bukit Selatan. Bukan memikirkan geng lawan yang gagal dia pecundangi, tapi tentang sepasang mata bulat yang menatapnya nyalang penuh amarah.

Mata milik cewek berjilbab ungu yang nyaris saja dia tabrak.

"Gila," gumam Rama pelan, mengusap wajahnya kasar. "Kenapa gue kepikiran terus, sih?"

Biasanya, kalau ada orang asing yang berani-beraninya mengacaukan balapan, apalagi sampai bikin dia jatuh dan rugi bandar, Rama pasti sudah mengamuk habis-habisan. Galang, Bagas, dan Cakra semalam bahkan sudah bersiap mau mengintimidasi cewek itu. Tapi entah kenapa, saat melihat wajah pucat bercampur marah dari cewek tersebut, lidah Rama kelu. Ada wangi samar seperti bunga melati yang entah bagaimana mengalahkan tajamnya bau sangit aspal dan karet ban terbakar.

Bukannya marah, dada Rama malah berdesir aneh. Apalagi saat cewek itu tanpa takut balik menceramahi rombongan geng motornya dengan lantang. Keberaniannya beda. Polos, nekat, tapi bikin Rama terpaku.

Rama menggelengkan kepala kuat-kuat, mencoba mengusir bayangan itu. Waktunya kembali ke realita. Sandiwara babak pertama harus segera dimulai.

Setengah jam kemudian, sosok bad boy beringas Wana Asri lenyap tak berbekas. Di depan cermin, berdirilah Rama Arsya Anta, si anak emas kebanggaan keluarga. Seragam putih abunya disetrika tanpa cela, dasi terpasang rapi mencekik kerah, rambut disisir klimis menyamping, dan kacamata minus berbingkai hitam kembali bertengger di hidung mancungnya. Luka di sikunya sudah dia plester dan tertutup rapat oleh lengan kemeja.

Di ruang makan yang luas dan kaku, Pak Hardi dan Ibu Ranti sudah duduk tenang menghadap menu sarapan sehat mereka. Suasana hening, hanya terdengar denting sendok dan garpu.

"Gimana persiapan ujian akhir kamu, Rama?" tegur Pak Hardi tanpa menoleh dari layar tabletnya. "Ayah dengar dari wali kelasmu, nilai try out kimia kamu turun satu poin dari bulan lalu. Jangan sampai kamu lengah. Anak laki-laki keluarga Anta tidak boleh berada di urutan kedua."

Rama menelan kunyahan rotinya dengan susah payah, rusuknya yang memar sedikit ngilu saat dia menarik napas. "Maaf, Ayah. Kemarin ada satu rumus yang Rama keliru masukkan. Rama janji di ujian sesungguhnya nggak akan ada kesalahan."

"Bagus. Ingat, kamu itu contoh buat yang lain. Jangan bergaul sama anak-anak yang nggak punya masa depan," tambah ibunya dengan nada datar, sibuk mengecek jadwal sosialitanya.

"Iya, Bunda," jawab Rama sopan, menundukkan pandangan. Tangannya yang memegang garpu sedikit memutih karena cengkeraman yang terlalu kuat. Dalam hati, dia tertawa sinis. Kalau kalian tahu apa yang anak teladan kalian lakukan tiap malam, rumah ini pasti kiamat.

Sesampainya di pelataran SMA Taruna Bangsa, sekolah elit dengan disiplin militer yang ketat, Rama langsung disambut sapaan hormat dari adik-adik kelas dan senyum kagum dari siswi-siswi yang berpapasan dengannya. Rama membalas semuanya dengan anggukan tipis dan senyum standar. Sempurna, terkalkulasi, tanpa celah.

"Ram! Gila lo, PR fisika yang nomor lima panjang banget jalannya. Gue nyontek punya lo dong, otak gue udah ngebul nih!" keluh Dika, teman sebangkunya yang langsung mencegat Rama begitu cowok itu duduk di bangkunya di kelas XII IPA 1.

"Kebiasaan lo, Dik. Makanya kalau malam tuh belajar, jangan main game terus," balas Rama sambil mengeluarkan buku tugasnya, gaya bicaranya tertata rapi persis seperti ketua OSIS idaman, sangat berbeda dengan cara bicaranya semalam saat mengomandoi anak-anak bengkel.

Pelajaran pertama berjalan sangat membosankan bagi Rama. Guru sedang menerangkan teori-teori panjang yang sebenarnya sudah Rama kuasai di luar kepala. Matanya menatap lurus ke papan tulis, tapi pikirannya kembali melayang ke jalanan aspal bypass. Dia memutar-mutar pena di jarinya. Cewek berjilbab ungu itu... siapa ya namanya? Tinggal di mana dia? Berani banget malam-malam keluyuran di area balap liar sendirian.

Teng! Teng! Teng!

Bel istirahat akhirnya berbunyi, menyelamatkan kewarasan Rama. Sambil memasukkan buku ke dalam tas, dia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Tempat paling aman untuk menghindari kerisikan teman-temannya yang hobi membicarakan turnamen futsal.

Rama berjalan menyusuri koridor utama sekolah yang luas. Langkahnya tenang, sesekali merapikan posisi kacamatanya. Namun, saat dia melewati area mading dekat ruang guru, langkah kakinya mendadak berhenti seolah terpaku ke lantai keramik. Jantungnya serasa melompat dari rongga dadanya.

Di depan mading, membelakangi arahnya, berdiri seorang siswi. Seragamnya sedikit kebesaran, rok abunya menjuntai panjang menutupi mata kaki, dan di kepalanya... terpasang sebuah jilbab ungu yang sangat familier. Warna ungu yang sama persis mencoloknya dengan yang ia lihat di bawah temaram lampu jalanan semalam.

Rama menelan ludah. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. Nggak mungkin. Masa iya? batinnya berkecamuk.

Seolah merasakan ada sepasang mata yang menatapnya intens, siswi itu menoleh perlahan. Detik itu juga, waktu seakan berhenti berputar di koridor SMA Taruna Bangsa. Mata bulat itu bersirobok dengan mata Rama di balik lensa kacamata.

Gadis itu terkesiap, tubuhnya menegang. Keterkejutan tergambar jelas di wajahnya yang bersih tanpa riasan. Perlahan, telunjuknya terangkat, menunjuk ke arah Rama dengan tangan sedikit bergetar. Mulutnya setengah terbuka.

"Lo... lo cowok gila yang semalam, kan?!" pekiknya tertahan, suaranya setengah berbisik tapi cukup tajam untuk mengiris gendang telinga Rama.

Rama berdiri mematung. Sial. Bencana besar. Di sekolah ini, dia adalah dewa prestasi yang suci tanpa dosa. Tidak ada satu pun murid, guru, atau tukang kebun yang tahu identitas rahasianya sebagai bos geng motor paling ditakuti se-Yogyakerto. Dan sekarang, cewek ini—yang ternyata satu sekolah dengannya—memegang kunci untuk menghancurkan seluruh sandiwaranya dalam hitungan detik.

"Lo..." Rama berusaha keras mengontrol suaranya agar tidak gemetar, mengabaikan nyeri di rusuknya yang tiba-tiba berdenyut. "...sekolah di sini?"

Bukannya takut seperti semalam, gadis itu perlahan menurunkan tangannya. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, matanya memicing menilai Rama dari ujung rambut yang klimis sampai ujung sepatu pantofel yang disemir mengkilap. Kacamata tebal, kemeja rapi dimasukkan, dan emblem ketua klub sains di dada kiri. Sebuah senyum sinis perlahan mengembang di bibir gadis itu, senyum yang membuat bulu kuduk Rama berdiri.

"Wah... wah... wah..." gumam gadis itu pelan, matanya berkilat geli sekaligus mengancam. Dia melangkah maju satu tindak, memangkas jarak. "Siapa sangka, bos berandal jalanan yang sok jagoan balapan Wana Asri semalam... ternyata wujud aslinya adalah si cupu kebanggaan guru sekolah? Menarik banget."

Skakmat. Rama merasa aspal jalanan tempatnya berpijak seakan amblas. Rahasianya, dunia pelariannya, kini berada di tangan seorang gadis yang bahkan belum ia ketahui namanya. Dan dari kilat matanya, Rama tahu, hidupnya yang tenang di sekolah tidak akan pernah sama lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!