Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Beberapa hari setelah malam yang penuh dengan air mata dan pertikaian di koridor rumah sakit, kondisi fisik Humairah perlahan-lahan mulai membaik.
Meskipun gurat kelelahan batin belum sepenuhnya sirna dari wajah cantiknya, dokter akhirnya sudah memperbolehkan Humairah pulang setelah memastikan demam tifusnya benar-benar reda dan nafsu makannya kembali pulih.
Di dalam kamar perawatan yang kini terasa lebih lapang, Umi Mamik tampak sibuk merapikan pakaian kotor ke dalam tas jinjing.
Di sela-sela aktivitasnya, wanita paruh baya itu mengeluarkan sebuah toples kecil berisikan abon daging sapi buatan rumah yang sengaja ia siapkan dari rumah.
Dengan penuh kasih sayang, Umi Mamik memberikan abon itu kepada putrinya yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Ini dibawa ya, Nak. Kalau nanti kamu merasa lapar di kamar, langsung makan saja, jangan ditahan-tahan lagi," ucap Umi Mamik dengan suara yang lembut namun bergetar, menyiratkan rasa khawatir yang teramat mendalam seandainya sang putri kembali ditelantarkan di dapur pesantren.
Humairah menerima toples itu dengan senyum tipis, lalu mengangguk lambat.
"Iya, Umi. Terima kasih. Humairah akan selalu ingat pesan Umi."
Tak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka. Fathan melangkah keluar dengan pakaian rapi.
Sejak kejadian tamparan beberapa hari lalu, pria itu tidak lagi berani menyentuh atau mendekati Humairah tanpa izin, namun ia tetap setia berjaga di sofa rumah sakit setiap malam demi memastikan keselamatan istrinya.
Sebelum mereka benar-benar melangkah keluar, Abi Sasongko berdiri menghadang di depan pintu.
Pria sepuh itu menatap lekat wajah Fathan dengan sorot mata yang begitu tajam dan mengintimidasi.
Tidak ada lagi toleransi atau keramahan persahabatan di matanya, yang tersisa hanyalah ketegasan seorang ayah kandung.
"Jaga putriku dengan baik, Fathan. Jangan biarkan dia menangis atau kelaparan lagi," ucap Abi Sasongko dengan suara rendah yang sarat akan ancaman nyata.
"Jika sampai aku mendengar dia disakiti lagi oleh ibumu atau oleh dirimu sendiri, aku yang akan menyusulnya langsung ke kamarmu dan membawanya pulang tanpa perlu meminta izin darimu lagi."
Mendengar ultimatum yang begitu dingin dari sang mertua, Fathan tertunduk dalam.
Jantungnya berdegup kencang, menyadari bahwa ia tidak memiliki ruang lagi untuk berbuat salah.
Fathan menganggukkan kepalanya dengan takzim dan penuh rasa hormat.
"Baik, Abi. Fathan berjanji demi Allah akan menjaga Humairah dengan seluruh jiwa Fathan," jawabnya parau.
Fathan kemudian melangkah mendekati kursi roda yang sudah disiapkan di samping ranjang.
Dengan gerakan yang sangat lembut dan berhati-hati, ia mempersilakan Humairah untuk duduk, lalu mulai mendorong kursi roda istrinya menyusuri koridor rumah sakit menuju lobi utama.
Selama perjalanan, Humairah hanya diam membisu, menatap lurus ke depan dengan dinding pembatas yang masih tegak kokoh di matanya.
Sesampainya di pintu keluar lobi, seorang perawat yang mendampingi mereka menyerahkan sebuah kantong plastik kecil berisikan deretan obat-obatan.
"Ini obat antibiotik dan vitaminnya ya, Pak. Masih harus diminum secara teratur oleh Ibu Humairah sampai habis, tepat setelah makan," pesan perawat itu ramah sembari memberikan dokumen kepulangan kepada Fathan.
"Baik, Sus. Terima kasih banyak," ujar Fathan.
Setelah membantu Humairah masuk dan duduk dengan nyaman di kursi penumpang depan, Fathan memutari kap mobil dan duduk di balik kemudi.
Ia sempat menatap wajah samping istrinya yang masih dingin membeku, sebelum akhirnya menghela napas panjang.
Kemudian, Fathan melajukan mobilnya membelah jalanan kota, bergerak perlahan namun pasti menuju ke rumahnya—kembali ke tempat di mana perjuangannya yang sesungguhnya untuk meruntuhkan dinding hati Humairah baru saja dimulai.
Keheningan kembali menyelimuti kabin mobil yang bergerak membelah ramainya jalanan kota.
Di samping kemudi, Humairah menatap keluar jendela, memandangi deretan ruko dan pepohonan yang bergerak mundur.
Rasa hambar di lidahnya akibat berhari-hari mengonsumsi makanan rumah sakit mendadak memicu rasa lapar yang samar.
Perlahan, Humairah meraih tas kecilnya dan mengeluarkan toples abon pemberian Umi Mamik.
Di dalam mobil, Humairah membuka abon itu dan mencicipinya sedikit demi sedikit menggunakan ujung jarinya.
Rasa gurih daging sapi dan manis ketumbar khas masakan ibunya seketika menyebar di rongga mulut, menghantarkan kehangatan yang sempat hilang sekaligus memicu kerinduan mendalam pada rumah orang tuanya.
Fathan sesekali melirik ke arah kiri melalui kaca spion tengah.
Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyuman kecil yang tulus saat melihat istrinya mulai memiliki nafsu makan.
Ada rasa lega yang membuncah di dadanya, meskipun ia tahu perjalanan untuk mendapatkan kembali hati Humairah masih teramat panjang.
Menyadari bahwa beberapa suap abon tidak akan cukup untuk memulihkan stamina istrinya yang baru sembuh dari tifus, Fathan memperlambat laju kendaraan saat mereka melewati deretan pusat kuliner.
"Kita mampir rumah makan dulu sebelum sampai rumah," ucap Fathan dengan nada suara yang sangat lembut, penuh kehati-hatian agar tidak terdengar seperti sebuah paksaan.
"Kamu harus makan makanan yang mengenyangkan agar bisa minum obat antibiotik dari perawat tadi."
Humairah menghentikan gerakan jemarinya di dalam toples.
Ia terdiam sejenak, menimbang-nimbang tawaran suaminya.
Alih-alih melayangkan sindiran tajam seperti biasanya, kali ini Humairah hanya menganggukkan kepalanya perlahan, tanda menyetujui ucapan Fathan.
Meskipun tanggapan itu sangat singkat dan tanpa sepatah kata pun, bagi Fathan, anggukan kecil itu adalah sebuah kemajuan besar.
Pria itu segera menyalakan lampu sen kiri, mengarahkan moncong mobilnya menuju pelataran parkir sebuah rumah makan yang bersih dan nyaman, bersiap untuk memberikan pelayanan terbaik yang selama ini luput ia berikan kepada makmumnya.
Mobil putih yang dikendarai Fathan perlahan berhenti di area parkir sebuah rumah makan keluarga yang bernuansa asri dan tenang.
Setelah mematikan mesin, Fathan bergegas turun mendahului istrinya.
Ia memutari kap mobil dengan langkah lebar, lalu membukakan pintu mobil di sisi penumpang depan tempat Humairah duduk.
Fathan membungkuk sedikit, menatap wajah pucat Humairah dengan sorot mata yang penuh kelembutan.
"Mau aku papah atau jalan sendiri?" tanyanya menawarkan bantuan dengan sangat hati-hati.
Humairah sempat tertegun melihat perubahan sikap suaminya yang kini begitu perhatian.
Ia mencengkeram tas kecil di pangkuannya, lalu menjawab dengan suara lirih, "J-jalan sendiri saja, Ustadz."
Meskipun mendapat penolakan halus, Fathan tidak langsung menjauh.
Saat Humairah mulai mengayunkan kakinya turun dari jok mobil, Fathan dengan lembut meraih dan menggenggam tangan istrinya sambil tersenyum kecil.
Ia ingin memastikan wanita yang baru sembuh itu tidak limbung atau kehilangan keseimbangan.
Sentuhan hangat itu membuat Humairah sedikit tersentak, namun ia memilih tidak memberontak demi menghemat energinya yang belum pulih sepenuhnya.
Setelah itu, mereka berjalan berdampingan memasuki area rumah makan, menuju salah satu meja kosong di sudut yang agak tenang.
Seorang pelayan segera datang mendekat dan menyodorkan selembar daftar menu.
Humairah membolak-balik menu sejenak sebelum menatap pelayan tersebut.
"Aku pesan nasi goreng," ucapnya ringkas.
Mendengar itu, Fathan menggelengkan kepalanya dengan cepat namun tetap menunjukkan raut wajah yang teduh.
Ia mengambil alih daftar menu dari meja.
"Kamu baru saja keluar dari rumah sakit, lebih baik makan nasi dan soto ayam kuah bening," potong Fathan memberikan saran yang lebih sehat untuk lambung istrinya yang baru pulih dari tifus.
"Nasi goreng terlalu berminyak dan berat untuk pencernaanmu sekarang."
Humairah menatap Fathan sejenak. Alih-alih membantah atau menyindir ego suaminya seperti hari-hari lalu, ia memilih mengalah karena menyadari tubuhnya memang masih membutuhkan makanan yang hangat dan lembut.
"Baiklah, aku akan memesan itu," jawab Humairah patuh seraya mengalihkan pandangannya kembali ke arah luar jendela.
Fathan tersenyum lega mendengar jawaban pasrah istrinya, lalu segera mencatat pesanan tersebut kepada pelayan bersama segelas air putih hangat demi memastikan kepulangan Humairah hari ini dimulai dengan perawatan terbaik yang bisa ia berikan.
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
dari pada dari pada..
lanjut thor🙏
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭