Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sangkar Kayu Cendana
Perjalanan dari bandara menuju komplek pesantren di pinggiran Jakarta terasa seperti eksekusi mati yang diperlambat bagi Lea. Di dalam mobil mewah yang aromanya didominasi wangi kayu cendana dan parfum maskulin yang samar, keheningan terasa begitu pekat hingga Lea merasa bisa mendengarnya.
Gus Malik duduk di kursi kemudi dengan punggung tegak, matanya fokus pada jalanan seolah-olah spion tengah adalah benda terlarang karena di sana, ia bisa saja tidak sengaja menangkap bayangan Lea yang duduk di kursi belakang. Najwa duduk di sampingnya, terus menggenggam tangan Malik dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengusap kepala Arkan yang mulai terkantuk-kantuk di pangkuan Lea.
Lea menatap keluar jendela. Gedung-gedung tinggi Jakarta perlahan berganti menjadi deretan pohon rindang dan tembok-tembok tinggi yang membatasi area pesantren.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Lea ketus, memecah kesunyian. "Gue mau ke rumah Ibu. Lo bilang Ibu sakit, Kak."
Najwa menoleh kecil, senyumnya nampak getir. "Ibu ada di rumah utama pesantren, Lea. Sejak kondisinya menurun, Mas Malik meminta Ibu tinggal bersama kami supaya lebih mudah dipantau."
Lea mendengus. "Baguslah. Jadi gue nggak perlu lama-lama di sini. Lihat Ibu, mastiin dia nggak mati, terus gue cabut."
*Ciiiittt!*
Rem mendadak membuat tubuh Lea terdorong ke depan. Gus Malik menghentikan mobil tepat di depan gerbang kayu besar yang melengkung indah. Pria itu tidak berbalik, namun cengkeramannya pada kemudi terlihat memutih.
"Jaga lisanmu, Kalea," suara Malik terdengar seperti gemuruh rendah sebelum badai. "Kamu sedang berada di lingkungan yang menjaga adab. Jika tidak bisa menghormati istrimu sendiri, setidaknya hormati Ibu yang sedang berjuang melawan sakitnya."
Lea tertawa hambar, meski jantungnya berdegup kencang karena aura intimidasi pria itu. "Oh, akhirnya 'Patung Es' ini bisa bicara juga? Gue pikir lo cuma bisa istighfar kalau lihat gue."
"Mas... sudah," bisik Najwa lembut, menyentuh lengan suaminya.
Malik menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak, lalu kembali menjalankan mobil masuk ke dalam area pesantren. Lea membuang muka, hatinya mendidih. Ia merasa seperti alien yang baru saja mendarat di planet yang penuh aturan kaku.
Begitu sampai di rumah utama yang bergaya arsitektur Jawa-modern itu, Lea langsung turun tanpa menunggu dibukakan pintu. Ia melangkah lebar menuju pintu jati besar, namun langkahnya terhenti saat ia menyadari betapa kontras penampilannya dengan lingkungan sekitar. Santri-santri yang sedang menyapu halaman atau berjalan menuju masjid mendadak berhenti. Mereka menunduk, namun Lea tahu mereka sedang berbisik-bisik melihat wanita dengan celana jeans ketat dan rambut pirang yang mencolok masuk ke kediaman Gus mereka.
"Lea, lewat sini," panggil Najwa, menuntunnya menuju sebuah kamar luas di lantai bawah.
Di dalam kamar yang tenang dan harum minyak zaitun itu, seorang wanita tua terbaring lemah. Ibunya. Wajah wanita itu pucat, tubuhnya jauh lebih kurus dari terakhir kali Lea melihatnya di layar ponsel.
"Ibu..." suara Lea bergetar. Seberapa pun bencinya ia pada aturan keluarga ini, melihat wanita yang melahirkannya dalam kondisi seperti ini tetap menghancurkan hatinya.
Ia duduk di tepi ranjang, hendak memegang tangan ibunya, namun tangannya berhenti di udara. Ia merasa tangannya yang penuh kuteks merah ini tak pantas menyentuh kulit suci ibunya.
"Lea? Ini Lea?" suara ibu sangat parau. Matanya terbuka sedikit, menatap wajah anaknya dengan binar haru. "Kamu pulang, Nak... Alhamdulillah..."
"Iya, Bu. Lea di sini," bisik Lea, akhirnya memberanikan diri menggenggam tangan ibunya.
Najwa berdiri di ambang pintu bersama Malik. Najwa menangis dalam diam, sementara Malik hanya berdiri mematung, menatap pemandangan itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Najwa... Malik... kemari," panggil Ibu lemah.
Saat Malik mendekat, ia mencium tangan ibu mertuanya dengan takzim. Malik terlihat sangat berbeda saat berada di dekat Ibu ada kelembutan yang tersembunyi di balik wajah kakunya.
"Jaga Lea ya..." bisik Ibu tiba-tiba.
Lea tersentak. "Bu, apa sih? Aku cuma sebentar di sini. Aku punya kerjaan di London, punya—"
"Ibu lelah, Lea," potong Ibu dengan suara yang nyaris hilang. "Ibu tenang kalau tahu kamu ada yang membimbing. Najwa sudah cerita semuanya..."
Lea mengerutkan kening. "Cerita apa? Kak?"
Najwa segera mendekat dan memeluk bahu Lea. "Nanti kita bicara, Lea. Ibu harus istirahat."
Malam itu, Lea ditempatkan di sebuah kamar tamu yang luas. Kamar itu sangat bersih, dengan sajadah tertata rapi di sudut dan aroma mawar yang menenangkan. Namun bagi Lea, kamar ini terasa seperti sel penjara.
Ia baru saja selesai m
embersihkan riasannya saat pintu kamarnya diketuk. Najwa masuk membawa sebuah kotak kayu berukir.
"Boleh Kakak masuk?"
Lea hanya mengangguk, duduk di pinggir ranjang dengan kaos santai yang untungnya masih cukup tertutup.
Najwa duduk di sampingnya, lalu membuka kotak itu. Isinya adalah sebuah mukena sutra putih yang sangat indah dan sebuah Al-Qur'an kecil.
"Lea, ada sesuatu yang harus Kakak bicarakan. Sebenarnya... alasan Kakak memintamu pulang bukan hanya karena Ibu."
"Gue udah tahu. Lo mau pamer kalau lo punya suami Gus ganteng dan hidup sempurna di sini kan?"
Najwa menggeleng perlahan, air mata mulai menggenang di matanya yang indah. "Kakak sakit, Lea. Kanker serviks stadium lanjut. Dokter bilang... kemungkinan Kakak bertahan tidak lama lagi."
Dunia seolah runtuh menimpa kepala Lea. Ia membeku. "Nggak... nggak lucu, Kak. Tadi lo kelihatan sehat-sehat aja."
"Itu karena Kakak berusaha kuat di depan Arkan dan Mas Malik. Tapi tubuh Kakak sudah menyerah," Najwa memegang tangan Lea, tangannya terasa sangat dingin. "Mas Malik tahu. Dia hancur, tapi dia tetap tegar demi Kakak. Dia suami yang luar biasa, Lea. Dia tidak pernah membiarkan Kakak merasa sendirian."
Lea masih terdiam, otaknya berusaha memproses informasi ini.
"Dan Kakak punya satu permohonan," lanjut Najwa, suaranya kini bergetar hebat. "Kakak tidak mau Arkan kehilangan sosok ibu. Kakak tidak mau Mas Malik kehilangan arah. Kakak ingin... kamu yang menggantikan posisi Kakak."
"Lo gila!" Lea berdiri seketika, mundur menjauh dari Najwa. "Gue nggak tahu agama! Gue nggak bisa pakai kerudung! Gue punya pacar di London! Dan yang paling penting... suami lo itu benci sama gue! Dia lihat gue kayak lihat setan!"
"Dia hanya belum mengenalmu, Lea. Di balik sifat dinginnya, dia pria yang paling setia. Dia akan menjagamu sebagaimana dia menjagaku."
"Gue bukan barang warisan, Kak! Gue bukan ban serep yang bisa lo pasang kalau ban utama lo bocor!" teriak Lea frustrasi.
"Ini bukan soal warisan, Lea. Ini soal menyelamatkanmu," Najwa ikut berdiri, memeluk Lea dengan sisa tenaganya. "Kakak tahu kamu menderita di London. Kakak tahu kamu merasa dibuang. Ini cara Kakak menarikmu kembali ke jalan yang benar. Mas Malik bisa membimbingmu."
"Gue nggak mau dibimbing! Gue mau hidup gue sendiri!"
Di luar kamar, di balik pintu kayu yang tebal, Gus Malik berdiri mematung. Ia mendengar setiap teriakan Lea. Tangannya terkepal kuat di samping tubuh. Ia membenci rencana ini. Ia membenci kenyataan bahwa ia harus menikahi wanita yang menurutnya sangat jauh dari kriteria wanita shalihah hanya karena itu adalah wasiat terakhir istri tercintanya.
Malik menatap langit-langit koridor yang gelap. Ya Allah, jika ini adalah ujian kesabaran yang Kau berikan, mampukah hamba melaluinya tanpa menyakiti amanah ini?
Malik berbalik dan melangkah pergi dengan langkah berat, meninggalkan dua saudari yang sedang menangisi takdir yang tidak adil di dalam kamar. Hidup Lea baru saja berubah menjadi labirin yang tak punya pintu keluar.