NovelToon NovelToon
Posesif

Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lasti Handayani

Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...

"Kita akan menikah hari ini."

"Aku tidak mau!"

"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."

NB: Season 2 dari Obsession

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

Hari ini rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Dev pergi sejak pagi, katanya ada pertemuan dengan beberapa rekan bisnis. Ia sempat menawariku ikut.

“Aku tidak ingin kamu bosan sendirian di rumah,” katanya sebelum berangkat.

Aku menggeleng pelan. “Tidak apa-apa, aku ingin istirahat saja.”

Padahal bukan itu alasannya. Aku masih teringat suasana dapur restoran waktu itu. Tatapan karyawan, nama Viona yang disebut tanpa ragu, dan wajah Dev yang berubah tegas, dingin, hampir menakutkan. Entah mengapa, sejak hari itu aku merasa sedikit… tidak aman berada di ruang-ruang yang menjadi miliknya.

Begitu pintu utama tertutup dan suara mobilnya menghilang, rumah ini seperti kehilangan napas, terlalu besar dan kosong.

Langkah kakiku menggema pelan di lantai marmer. Aku memandangi ruang tamu, dapur, lorong panjang menuju taman belakang. Semua terlihat rapi, bersih, tertata sempurna.

Rumah sebesar ini hanya dihuni satu orang sebelumnya—Devandra.

Dan tiba-tiba aku sadar satu hal. Selama tinggal di sini… aku belum pernah masuk ke kamarnya. Aneh...

Aku tidur di kamar tamu. Kami memang sering bersama, tetapi selalu ada batas tak terlihat yang tidak pernah kulewati. Dan hari ini, ketika rumah sedang kosong, rasa penasaran itu muncul pelan-pelan. Tidak ada yang melarangku. Namun tetap saja rasanya seperti melanggar sesuatu.

Aku menatap tangga menuju lantai atas cukup lama, sebelum akhirnya kakiku melangkah sendiri.

Satu anak tangga.. dua.. tiga.

Jantungku berdetak sedikit lebih cepat—seolah aku sedang melakukan hal yang tidak seharusnya. Di ujung lorong lantai atas, ada pintu abu-abu dengan gagang perak.

“Pasti dikunci,” gumamku pelan.

Tanganku menyentuh gagang pintu. Aku menarik napas, lalu menekannya perlahan.

Klik... terbuka.

Aku terdiam beberapa detik, tidak menyangka. Entah kenapa, ada perasaan lega yang aneh. Seolah-olah Dev tidak benar-benar menyembunyikan apa pun dariku. Pintu terbuka sepenuhnya. Aroma khas Dev langsung menyambutku. Wangi kayu dan sedikit aroma parfum yang familiar.

Kamar itu teduh. Tembok abu-abu lembut berpadu dengan cahaya matahari yang menyelinap dari balik tirai tipis. Tidak terlalu luas, tapi juga tidak sempit. Semuanya tertata rapi.

Lemari penuh buku berdiri di sudut ruangan. Ranjang dengan seprai motif catur hitam-putih terlihat sederhana namun elegan. Meja kerja di dekat jendela dipenuhi buku, pena, dan beberapa map. Aku melangkah masuk perlahan, menutup pintu di belakangku.

Sejenak aku hanya berdiri, memandangi ruangan itu seperti sedang mempelajari sisi Dev yang belum pernah kutahu. Aku duduk di tepi ranjang. Kasurnya empuk dan hangat, seolah menyimpan sisa kehadiran pemiliknya. Tanganku mengelus seprai pelan.

“Jadi ini tempatmu beristirahat,” bisikku. Rasanya intim.

Pandangan mataku beralih ke meja kerja. Rasa penasaran kembali muncul. Aku berdiri dan mendekat, buku-buku tersusun rapi, catatan kecil dengan tulisan tangan Dev. Tanganku menarik laci pertama, beberapa dokumen, tidak ada yang menarik.

Laci kedua.

Aku menemukan bingkai foto kecil, aku mengambilnya. Foto masa SMP... Dev, Leon, dan Keanu berdiri berdampingan dengan seragam putih-biru. Wajah mereka masih polos, penuh tawa yang belum terbebani tanggung jawab.

Aku tersenyum kecil.

Dev dan Leon ternyata memang mirip sejak dulu. Bentuk rahangnya, cara mereka tersenyum. Bahkan tatapan mata mereka. Hatiku terasa sedikit hangat melihat persahabatan itu.

Aku membuka laci lain.

Sebagian besar hanya buku dan berkas. Sampai akhirnya tanganku menyentuh sesuatu yang lebih besar—Sebuah album.

Aku menariknya keluar. Sampulnya polos, hitam, sedikit berdebu di sudutnya. Perlahan aku membukanya, halaman pertama dipenuhi foto-foto masa sekolah. Tiga sahabat itu lagi, foto kelas, foto kegiatan sekolah. Senyum mereka terlihat begitu tulus. Aku membalik halaman berikutnya.

Dan di sanalah aku melihatnya.

Viona.

Jantungku seperti terhenti sesaat. Di foto itu, Viona berdiri di samping Dev, seragam putih-abu-abu, rambutnya tergerai rapi, senyumnya cerah, penuh percaya diri.

Dev berdiri di sebelahnya, dan ia tersenyum.

Senyum yang sama persis seperti yang selalu ia berikan padaku.

Tanganku mulai terasa dingin.

Aku membalik halaman berikutnya. Foto lain, Dev dan Viona duduk berdampingan. Lalu foto berempat bersama Leon dan Keanu. Tawa mereka terlihat begitu lepas.

Dadaku mulai terasa sesak. Dev memang bukan orang yang mudah tersenyum. Ia dingin pada banyak orang. Ekspresinya datar, tapi di foto-foto ini… ia terlihat berbeda—Bahagia.

Aku menelan ludah.

“Sudah sejauh apa kalian dulu?” gumamku pelan tanpa sadar.

Aku menutup album itu perlahan. Aku seharusnya tidak merasa seperti ini. Itu masa lalu, semua orang punya masa lalu. Aku berlutut untuk menyimpan album itu kembali ke dalam laci. Saat itulah mataku menangkap sesuatu di sudut dalam. Sebuah benda kecil berwarna merah, awalnya kupikir bungkus permen. Tapi bentuknya terlalu familiar, tanganku gemetar saat mengambilnya.

Plastik tipis, persegi kecil. Aku tahu betul itu apa.

Alat kontrasepsi.

Darahku seperti mengalir deras ke kepala.

Untuk apa benda ini ada di sini?

Itu milik siapa?

Apakah itu milik Dev?

Apakah… ia pernah—

Aku menelan kalimat itu sebelum pikiranku sendiri menyelesaikannya. Napasku terasa pendek. Album foto tadi, senyum Dev, Viona.

Semuanya berputar-putar di kepalaku. Aku berdiri terlalu cepat hingga hampir kehilangan keseimbangan. Tanganku meletakkan kembali benda itu dengan terburu-buru, seolah benda itu panas dan bisa membakar kulitku.

Aku tidak sanggup berada di ruangan ini lebih lama. Aku membuka pintu dan berlari kecil menuruni tangga. Langkahku terhenti mendadak.

“Nara.”

Suara itu membuat jantungku hampir meloncat keluar. Dev berdiri di bawah tangga.

Ia menatapku dengan alis sedikit terangkat.

“Kamu sedang apa?”

Aku menelan ludah. “Aku… dari atas.”

“Dari atas?” Ia menoleh sekilas ke arah lantai dua. “Ngapain di sana?”

“Cuma melihat-lihat saja. Selama di sini aku belum pernah naik ke lantai atas.” Aku berusaha terdengar santai.

Dev menatapku beberapa detik. Lalu sudut bibirnya terangkat.

“Kamu tidak masuk ke kamarku, kan?” Nada suaranya terdengar menggoda.

Jantungku berdegup lebih cepat. “Memangnya tidak boleh?” balasku, mencoba tersenyum.

Ia mendekat satu langkah. “Boleh. Kamarku juga kamarmu.”

Kalimat itu seharusnya membuatku tenang.

Tapi anehnya, justru membuat dadaku semakin berat. Ia memperhatikanku sesaat lebih lama.

“Kamu pucat. Tidak apa-apa?”

“Aku baik-baik saja.”

Ia mengangguk pelan. “Aku mau ke kamar sebentar. Kamu istirahat saja.”

Aku hanya mengangguk. Kami berjalan ke arah masing-masing. Begitu pintu kamarku tertutup, aku bersandar lemah di baliknya.

Pikiranku berisik.

Apakah itu milik Dev?

Untuk apa?

Apakah ia dan Viona pernah sejauh itu?

Kenapa benda itu masih ada?

Kalau itu benda lama… kenapa tidak dibuang?

“Berhenti,” bisikku pada diriku sendiri.

Aku tidak bisa asal menuduh. Aku tidak tahu apa-apa. Tapi semakin aku mencoba menenangkan diri, semakin jelas bayangan foto-foto tadi muncul di kepalaku.

Senyum Dev pada Viona. Senyum yang sama yang ia berikan padaku.

Dadaku kembali terasa nyeri. Dan untuk pertama kalinya, pertanyaan itu muncul lebih jelas dari sebelumnya—Apakah Dev mencintaiku…

atau hanya mencintai bayangan seseorang yang mirip denganku?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!