NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 2

***

Tengah malam telah lewat. Jam besar di sudut ruangan berdetak dengan ritme yang monoton, seolah-olah menghitung sisa-sisa waktu ketenangan Lilianne. Kamar pengantin yang luas itu terasa semakin mencekam. Lilianne telah berganti pakaian dengan gaun tidur sutra berwarna putih gading yang tipis, rambut peraknya terurai panjang menutupi bahunya yang kecil.

Ia baru saja hendak memejamkan mata di atas ranjang yang terlalu luas dan asing itu, mencoba menenangkan debar jantungnya yang tak kunjung reda. Namun, ketenangan itu hancur dalam sekejap.

BRAK!

Pintu ganda kamar itu terbuka dengan hantaman keras, menghantam dinding hingga suaranya menggema ke seluruh langit-langit tinggi. Di sana berdiri Arthur Valerius de Valerieth. Ia tidak lagi mengenakan seragam kebesarannya. Kemeja putihnya terbuka di bagian dada, menampakkan otot-otot keras dan beberapa bekas luka perang yang melintang di kulitnya yang pucat. Aroma alkohol yang kuat bercampur dengan bau maskulin yang tajam menyeruak masuk bersamanya.

Wajah Arthur tidak lagi dingin dan datar. Matanya yang biru gelap kini menyala dengan gairah yang liar dan haus—tatapan seekor hewan buas yang telah menemukan mangsa paling berharga di tengah hutan salju.

Lilianne tersentak, ia segera terduduk dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Y—Yang Mulia..." suaranya bergetar hebat, sekecil bisikan angin.

Arthur melangkah mendekat. Setiap derap langkah sepatunya di lantai marmer terdengar seperti vonis mati. Ia berhenti tepat di depan ranjang, menatap Lilianne dari atas ke bawah dengan seringai yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Kenapa kau begitu gemetar, Putri Mahkotaku?" suara Arthur terdengar parau dan berat, penuh dengan nada ejekan. "Ke mana perginya Lady angkuh yang tadi sore bicara tentang catur dan pion? Ke mana perginya keberanian yang kau pamerkan saat kau menyebut dirimu Ratu?"

Lilianne mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang emas itu. "Saya... saya hanya terkejut dengan kedatangan Anda yang tiba-tiba."

Arthur tertawa kecil, suara tawa yang gelap dan mengancam. Ia merangkak naik ke atas ranjang, memerangkap tubuh kecil Lilianne di antara kedua lengannya yang kekar.

"Bukankah kau sendiri yang bilang, bahwa kau sudah menjadi milikku sejak cincin itu melingkar? Aku hanya datang untuk mengambil apa yang menjadi hakku."

"Lakukan tugasmu malam ini, Lilianne. Memberikan pewaris kerajaan lebih cepat lebih baik, bukan? Bukankah itu yang kau inginkan untuk mengamankan posisimu sebagai Ratu?"

**

Arthur tidak memberikan ruang bagi istrinya untuk bernapas. Tangannya yang besar mencengkeram tengkuk Lilianne, memaksa kepala gadis itu mendongak hingga leher jenjangnya terekspos. Ketika bibir Arthur membungkam bibirnya, Lilianne merasakan hantaman emosi yang luar biasa itu bukan ciuman, itu adalah cara Arthur menyatakan kepemilikan.

"Mmmph—Yang Mulia—" Lilianne berusaha memalingkan wajah, namun cengkeraman Arthur di rambut peraknya semakin mengerat.

"Diamlah, Lili" desis Arthur di sela-sela cumbuan kasarnya. Suaranya rendah, bergetar oleh gairah yang tidak tertahankan. "Kau bilang kau bukan pion yang mudah tunduk. Mari kita lihat apakah tubuhmu sekuat mulutmu."

SREET!

Satu sentakan kuat dari tangan sang Putra Mahkota membuat gaun tidur sutra Lilianne robek hingga ke pinggang. Kain yang hancur itu jatuh di sisi ranjang seperti kelopak bunga yang layu. Lilianne terengah, tangannya yang gemetar mencoba menutupi dadanya, namun Arthur dengan cepat mengunci kedua pergelangan tangannya di atas kepala.

"Jangan menutupi apa yang sudah menjadi milikku, Lilianne," gumam Arthur, matanya yang biru gelap menyusuri setiap inci kulit putih Lilianne yang kontras dengan seprai obsidian. "Kau tampak begitu rapuh... begitu murni... dan aku tidak sabar untuk menodaimu."

"Kumohon... hiks... pelan-pelan, Yang Mulia... saya takut," Lilianne terisak, air matanya kini membasahi bantal sutra.

Arthur tertawa, sebuah suara bariton yang dalam namun mengerikan. "Takut? Rasa takutmu justru membuatku semakin bergairah. Kau harus tahu, Lilianne, di medan perang, aku paling suka saat musuhku memohon. Dan di sini... kau adalah musuh tercantikku."

Tanpa peringatan, Arthur melepaskan seluruh pakaiannya dan menindih tubuh mungil itu. Lilianne merasa seolah sedang dihimpit oleh gunung batu. Dan ketika penyatuan paksa itu terjadi, sebuah teriakan melengking membelah kesunyian malam.

"AKHHH! SAKIT! SAKIT SEKALI!" Lilianne merintih sejadi-jadinya. Tubuhnya yang mungil menegang, jari-jari kakinya meringkuk menahan pedih yang luar biasa. Ia merasa tubuhnya seperti dirobek oleh sebilah pedang yang tumpul.

"A-ah... sial, kau begitu sempit," Arthur mengerang panjang, kepalanya mendongak ke atas sementara otot-otot di leher dan bahunya menegang kuat. Matanya terpejam saat merasakan sensasi yang menyiksa sekaligus nikmat luar biasa. "Lilianne... kau benar-benar candu."

"Hiks... ugh... ahhh... berhenti... kumohon... sakit sekali, Yang Mulia!" Rintihan Lilianne berubah menjadi isak tangis yang memilukan. Darah perawannya merembes, menodai seprai mahal itu, sebuah bukti nyata dari hancurnya kemurnian sang putri Utara.

Arthur justru semakin memacu gerakannya. Setiap kali Lilianne merintih kesakitan, Arthur justru mengerang lebih nikmat. "Ughhh... rintihlah lagi, Lilianne! Aku ingin mendengar suaramu memenuhi kamar ini! Biarkan seluruh istana tahu bahwa kau sedang menyerahkan segalanya padaku!"

"Nngh... ahhh... hiks... ampun..." Lilianne mencakar punggung Arthur, meninggalkan guratan-guratan merah yang panjang. Tubuhnya berguncang hebat mengikuti ritme suaminya yang tak kenal ampun. "Rasanya... rasanya saya akan mati... ahhh!"

"Kau tidak akan mati, Lilianne. Aku baru saja akan memulai," desis Arthur. Ia membungkuk, menjilat air mata yang mengalir di pipi Lilianne, seolah rasa asin itu adalah nektar yang paling manis. "Nikmati rasa sakit ini... karena rasa sakit inilah yang akan mengikatmu selamanya padaku."

Malam itu seolah tidak berujung. Setiap kali Lilianne hampir kehilangan kesadaran, Arthur akan memaksanya kembali dengan sentuhan-sentuhan yang menuntut dan kasar. Erangan kenikmatan Arthur yang dalam bersahutan dengan rintihan pilu Lilianne hingga menjelang pagi. Bagi Arthur, ini adalah penaklukan terbesar dalam hidupnya, lebih memuaskan daripada memenangkan seribu perang.

Hingga matahari pertama Valerieth mengintip dari balik cakrawala, Lilianne akhirnya terkulai lemas. Matanya terpejam, tubuhnya penuh dengan memar kemerahan dan sisa-sisa penyatuan mereka yang brutal. Ia pingsan dalam pelukan pria yang kini menjadi pemilik sah atas seluruh hidup dan raganya.

Arthur menatap istrinya yang tak berdaya itu dengan napas yang masih memburu. Ia menyeringai puas, mengusap noda darah di pahanya sendiri, lalu berbisik di telinga Lilianne yang sudah tak sadarkan diri.

"Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik untuk malam pertama, Putri Mahkotaku."

Setiap kali Lilianne merasa ia akan pingsan karena rasa sakit, Arthur akan memaksanya kembali ke realitas dengan sentuhan-sentuhannya yang menuntut.

Arthur benar-benar menemukan mainan baru yang tak ingin ia lepaskan. Baginya, kepolosan Lilianne adalah kanvas putih yang ingin ia warnai dengan kekuasaannya. Ia mengerang nikmat berulang kali, menyerap setiap tetes kekuatan Lilianne sebagai bahan bakar gairahnya.

"Kau akan melahirkan anak-anakku, Lilianne... kau akan menjadi wadah bagi darah Valerieth..." bisik Arthur berulang kali di tengah peluh dan rintihan yang memenuhi ruangan.

Lilianne sudah tidak mampu lagi berkata-kata. Suaranya sudah serak karena terus memohon dan merintih. Pikirannya mulai kabur. Di antara rasa sakit yang menghunjam dan kelelahan yang luar biasa, ia hanya bisa menatap langit-langit ranjang yang megah, merasa harga dirinya sedang diinjak-injak oleh pria yang kini menjadi suaminya.

Hingga akhirnya, saat fajar mulai mengintip dari balik tirai obsidian dan matahari pertama Valerieth terbit, Arthur melepaskan puncaknya yang terakhir dengan geraman kepuasan yang memenuhi kamar.

Lilianne, dengan tubuh yang penuh dengan tanda merah keunguan dan sisa darah yang mengering di pahanya, akhirnya kehilangan kesadaran. Ia pingsan karena rasa sakit dan kelelahan yang tak tertahankan, tertidur di bawah bayang-bayang pria yang ia janjikan akan ia tundukkan suatu hari nanti.

Arthur bangkit, menatap tubuh istrinya yang tak berdaya itu dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara kepuasan, dominasi, dan sedikit rasa penasaran yang aneh. Ia mengusap helai rambut perak Lilianne yang menempel di wajahnya yang basah oleh air mata.

"Selamat datang di nerakaku, putri mahkota," bisiknya dingin, sebelum ia melangkah pergi meninggalkan kamar, membiarkan Lilianne tergeletak dalam kehancuran mahkotanya yang baru saja dimulai.

****

Bersambung...

1
Mei TResna Rahmatika
kasian banget arthur😭
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!