Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
02 Digerebek
Santaka menganggukkan kepalanya. “Permisi, Mbak. Saya duluan.”
Nandini balas mengangguk. Ngapain sih tuh orang nyapa-nyapa? Ndak ada kerjaan. Ganggu saja.
Padahal kalo cah ayu kayak aku lagi nangis gini, ndak usah disapa. Ngisini, malu. Gus kok ndak paham.
Nandini kembali melanjutkan sedihnya. Ia biarkan dirinya menumpahkan segala beban yang menghimpit di dada.
Malam ini saja. Besok lupakan. Kalau perlu Nandini akan menghajar Alex jika bertemu kembali. Niatnya, semoga konsisten, tak seperti yang sudah-sudah.
Santaka masuk ke dalam mobil. Ia melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul 9 malam.
Sudah semalam ini, Nandini, montir kenalannya yang kebetulan masih tetangga, menangis di kafe. Apa Santaka tega untuk abai?
Santaka memutuskan untuk menunggu. Hal teraman yang bisa ia lakukan. Setelah setengah jam, gadis itu akhirnya bangkit.
Nandini berjalan lesu sambil menenteng sepatunya. Santaka jadi penasaran, ada apa sampai sebegitu sedihnya?
Nandini terlihat celingak celinguk di halaman kafe. Ia menatap layar ponselnya. Wajahnya terlihat kalut.
Santaka menipiskan bibirnya. Hatinya bimbang. Jika ia abai, rasanya nuraninya mati. Apalagi Nandini seorang perempuan plus tetangganya.
Namun, apa pantas seorang Gus seperti dirinya memberi tumpangan pada perempuan yang bukan mahromnya? Tidak elok rasanya secara agama ataupun etika.
Sang gus tampan akhirnya memilih tak mengabaikan rasa tepa saliranya. Ia turun dari mobil berwarna abu tuanya.
“Ngapunten, Mbak Dini. Mbak, mau pulang atau bagaimana?”
Mata Nandini memicing mendengar perkataan Santaka. Ya ampun Gus Taka, kamu ini ndak punya kerjaan apa? Ndak bisa banget liat anak wedok ayu nganggur. Kepooo.
“Oh iya Gus. Ini saya mau pulang. Sudah ditunggu Bapak. Ada apa ya?” Nandini menatap malas. Ia melupakan tata krama, saking sedihnya.
“Sudah ada kendaraan pulang?” Santaka kembali bertanya.
“Ini lagi nunggu Go-Car, angel banget, susah. Dari tadi kena cancel.” Nandini memiringkan bibirnya.
“Hhmm, mau bareng saya? Kita kan tetangga, jadi searah.” Santaka tersenyum, menatap sekilas pada Nandini.
Eh, serius ini? Ada Gus nawarin balik bareng. Heboh ini kalo dunia tau.
“Ndak usah Gus. Nanti rame orang-orang pada ngomongin. Jadi bahan gibah nanti kita.”
“Tapi ini sudah malam, Mbak. Saya khawatir Mbak kenapa-kenapa.”
Duh, lembut tenan si Gus ini. Ndak hati, ndak omongan. Beda emang produk pesantren. Ndak kaya si Alex kelek sialan.
Ikut aja kali ya, duduk di kursi belakang. Jadi aman. Daripada makin malem pulangnya. Mana kakiku sakit tenan. Sepatu ndeso!
Senyam senyum mulu Gus, baru pertama ngajak anak wedok ya? Mulai nakal yaaa, hehehe...
“Yo wes, boleh Gus. Saya di belakang berarti ya?”
“Boleh Mbak. Cuma saya habis belanja tadi sore. Jadi bagasi sama kursi belakang penuh barang. Ndak apa-apa?”
“Iya, Gus, ndak apa-apa. Tau diri saya Gus.”
Nandini mengekor di belakang Santaka. Gadis itu masih tak menggunakan alas kaki. Kakinya sudah sakit tak terperi. Lecet dan pegal.
Nandini membuka pintu belakang, sepatunya ia simpan di bagian bawah mobil. Ia menghela napas melihat jok belakang penuh dengan barang.
Ada tumpukan gula, krim, segala rupa bahan kue. Nandini tak paham itu apa.
Hanya ada sedikit celah. Tak mungkin bisa duduk nyaman. Masa ia harus duduk miring macam ada bisul di bokongnya?
“Gus, maaf di belakang penuh tenan. Kalo saya di depan, apa Gus ndak keberatan?”
Santaka terdiam sejenak. Ia melipat bibirnya. “Iya Mbak, ndak apa-apa. Silakan.”
Nandini membuka pintu depan. Ternyata di bagian bawah depan ada tumpukan telur.
Ya ampun, ini mobil apa kulkas? Segala bahan makanan ada.
Nandini duduk tegak agar kakinya tak mengenai tumpukan telur di depan kaki cederanya itu. Cedera akibat sepatu berhak tinggi. Sangat tidak Nandini.
Hening menguasai kabin mobil. Mobil Mazda CX-5 yang memiliki aroma green tea, bercampur wangi spicy woody dari pemilik kendaraan.
Wangi juga si Gus. Duh, diem gini jadi ngantuk. Ndak sopan ya kalau aku tidur? Apa ngobrol saja ya?
“Gus, biasa belanja banyak kayak gini?” Nandini menoleh ke arah Santaka yang menatap lurus jalan raya.
“Iya Mbak.”
“Ndak ada yang bantu?”
“Ndak Mbak.”
Irit omong tenan, Gus. Duh, tambah ngantuk aku. Minta puter musik ndak sopan ya?
“Gus itu bahan kue ya? Telor sebanyak ini. Di bawah sama di belakang ada. Gus, mau hajat apa gimana?”
“Lho, Mbak Dini ndak tau? Saya punya toko kue Mbak, di Blulukan.” Santaka menjaga fokus netranya ke jalan raya.
Nandini menoleh. “Oh ya, ndak begitu jauh ke bengkel Bapak dong? Wah, saya ndak tau. Kalo tau, mampir.”
“Iya Mbak.”
“Hhmm, boleh ya Gus bikin kue?” Nandini menatap Santaka.
Sang Gus terkekeh. “Ya boleh tho, Mbak. Bikin kue, masak kan ndak haram, ndak dosa.”
“Tapi kan itu kerjaan wedok, perempuan. Eh, tapi saya wedok ndak bisa masak juga sih.” Nandini jadi ikut terkekeh.
“Nah, jadi ndak ada pembagian kayak gitu. Masak, bikin kue juga bisa dilakuin laki-laki.”
“Paham, Gus. Cuma kalau di pesantren, boleh?”
“Hhmm, kalau masak boleh. Santri laki-laki masak di pesantren itu biasa. Cuma ya bikin kue memang ndak biasa.” Santaka memiringkan bibirnya. Ia konsisten tak menatap ke arah Nandini.
“Berarti Gus luar biasa?” Nandini mencoba mencairkan suasana.
“Biasa saja Mbak.”
Duh, lempeng tenan jadi laki-laki. Ini kalo si Alex pasti udah nyombong sampe Mars. Ngerasa hebat. Ih, kok malah inget si kelek.
Oh iya, aku mau putus. Mumpung lagi waras.
Nandini mengirimkan pesan pada Alex. [Lex, kita putus! Aku capek.]
Untung aja aku ndak pernah mau diapa-apain sama si Alex, jadi ndak berat mutusinnya.
Berat di dompet sih. Nanti aku tagih utang dia. Enak saja!
Santaka melirik sedikit. Ia bersyukur Nandini menyibukkan diri dengan ponsel. Ia merasa tak enak tak menanggapinya, tapi memang tak baik jika ditanggapi. Tak boleh.
Di mobil yang harum itu, ternyata makhluk hidupnya tak cuma Santaka dan Nandini. Ada makhluk lain. Kulitnya keras, berwarna cokelat. Ada antena.
Sepertinya makhluk itu ada di sekitar kafe dan tertarik dengan bahan makanan yang ada di mobil Santaka. Nama makhluk itu... kecoa.
Sang kecoa menyelip dari dasbor. Ia mengintai perlahan. Ada sesosok gadis muda, menarik untuk dihinggapi. Ia masih bergeming. Goncangan di mobil membuatnya tak nyaman.
Santaka menarik rem tangannya. Ia berhenti depan rumah Nandini. Berjarak sekitar 400 meter saja dari Ndalem, tempat tinggalnya.
Santaka tersenyum sekilas pada Nandini. Sang gadis bersiap turun.
Dengan gagah berani, sang kecoa terbang, hinggap di dada Nandini. Montir itu boleh tampak galak bak singa, namun ia sangat takut pada kecoa. Waktu kecil pernah hampir memakan kecoa, trauma yang menjijikkan.
“Aaa, ya ampun kecoa!” Nandini melonjak. Sang kecoa malah merayap ke perut gadis itu.
“Aaa, Gus tolong, saya takut kecoaaa, jangan diem saja!” Nandini melonjak-lonjak di jok.
Santaka melongo, terkejut, berusaha mencerna situasi. Si kecoa makin bertingkah, naik lagi ke dada Nandini. Montir keok itu mengusap-usap kasar dadanya sambil tetap melonjak-lonjak. Kecoa itu berkelit.
Kaki imut nan kasar kecoa menginjak kulit halus dada Nandini. Gadis itu makin histeris. Kakinya menendang tumpukan telur. Satu kali, dua kali, tiga kali. Mantap.
Bau amis menguar di dalam mobil. Cairan telur melumuri kaki Nandini.
“Mbak, tenang dulu. Kalau Mbak kayak gini saya ndak bisa bantu.”
Tangan Santaka terulur untuk mengambil kecoa yang ada di paha Nandini. Sepertinya makhluk jorok itu fans berat sang montir.
Mendapati kecoa merayapi pahanya, Nandini meraih tangan Santaka. Ia malah melompat jauh ke... pangkuan Santaka.
Si kecoa durjana turun dan akhirnya terbang. Terganggu juga melihat targetnya terlalu heboh.
Nandini tak menyadari kalau kecoa itu sudah tak ada. Ia masih melonjak-lonjak, di atas pangkuan Santaka.
Santaka mendorong halus tubuh sintal itu. Ia memejamkan mata. Kata istigfar keluar dari mulutnya. Nandini masih mereog tak jelas.
Kaki Nandini yang kotor mengenai celana Santaka. Kacau sekali situasi di dalam mobil.
“Mbak Dini!” teriak Santaka. Ia tak tahan lagi. Selain emosi karena kesal, ia juga khawatir kelaki-lakiannya terpancing.
Laki-laki mana yang tak terpikat oleh gerakan intens di pangkuannya? Jika Nandini terus bergoyang dapat dipastikan Santaka akan bereaksi secara biologis.
Ternyata teriakan kencang Santaka malah mengundang tanya para bapak penjaga keamanan lingkungan, di sekitar rumah mereka. Mereka sedang berjalan tak jauh dari kendaraan sang Gus.
Tiga orang itu gegas menghampiri. Apa lagi mereka mengenali mobil Santaka.
Kaca mobil Santaka tak terlalu gelap. Di jarak dekat orang dapat melihat ke dalam.
Senter menyorot, mata terfokus. “Astagfirullahaladziim!” seru ketiga bapak itu bersamaan.
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj