NovelToon NovelToon
Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Api Di Brantas: Kisah Jatuhnya Singhasari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.

Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Api Pertama

Wira baru saja melangkah ke dalam rumah ketika pintu belakang dihantam keras dari luar.

Bunyi kayu bergetar membuatnya refleks menoleh. Panca yang baru saja masuk di belakangnya ikut tersentak, sementara ibunya segera menutup pintu depan dengan gerakan cepat. Dari luar, teriakan warga makin kacau. Suara kuda, langkah kaki, dan benturan senjata bercampur menjadi satu. Desa yang tadi pagi masih tenang kini berubah seperti sarang tawon yang diinjak.

“Masuk ke ruang belakang,” kata ibunya tegas.

Wira masih berdiri di tengah ruangan kecil yang biasa dipakai untuk menyimpan anyaman dan alat dapur. Ia belum sempat memahami apa yang sedang terjadi. Yang ia tahu hanya satu hal: nama dirinya tadi dipanggil orang asing, rombongan kuda datang mencari dirinya, lalu api mulai muncul di desa. Hubungan ketiga hal itu terasa seperti simpul yang belum bisa ia pecahkan.

“Bu,” kata Wira, “apa yang terjadi?”

Ibunya menatapnya sekilas. Wajah perempuan itu tenang, tetapi matanya tidak. Ada kegentingan yang tidak biasa di sana. “Tidak ada waktu untuk menjelaskan sekarang.”

Panca menatap pintu belakang yang masih bergetar dari hantaman tadi. “Mereka mau masuk?”

Sebelum ibunya menjawab, dari luar terdengar suara keras. “Buka pintu! Periksa rumah itu!”

Wira merasakan tengkuknya dingin. Ia menoleh ke ibunya. “Siapa mereka?”

“Orang yang tidak boleh kau temui.”

Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun, dan justru karena itu Wira semakin gelisah. Dari luar, suara langkah terdengar mendekat. Seseorang memukul daun pintu lagi, kali ini lebih keras. Ibunya segera memandang Panca. “Kalau ada kesempatan, bawa Wira keluar dari belakang.”

Panca mengangkat alis. “Bibi—”

“Jangan banyak bicara.”

Wira melangkah ke depan. “Aku tidak akan lari sendirian.”

Ibunya menatapnya dalam-dalam. “Ini bukan soal berani atau tidak. Ini soal hidup.”

Kalimat itu menancap di dada Wira, tetapi ia belum sempat menjawab. Pintu depan terdengar dihantam lagi, disusul suara kayu retak. Dari celah dinding, asap tipis mulai merayap masuk. Bau gosong menyusup ke hidung. Api di luar pasti sudah membesar.

Panca berbisik, “Wira, ke belakang.”

Wira akhirnya bergerak. Ia mengikuti ibunya melewati ruang tengah menuju pintu belakang rumah. Di sana, udara sudah terasa lebih panas. Dari jendela kecil, ia bisa melihat kepulan asap naik di atas atap rumah tetangga. Salah satu rumah di ujung jalan sudah menyala. Api kecil di pagi hari itu kini berubah jadi lidah merah yang menjilat jerami, dinding kayu, dan pagar bambu.

Di luar, suara perempuan menangis terdengar dekat sekali. “Anakku! Anakku!”

Wira menoleh cepat. Ibunya menarik lengannya agar ia tetap bergerak. “Jangan lihat terlalu lama,” katanya singkat.

Panca membuka pintu belakang sedikit dan mengintip keluar. “Ada dua orang di halaman.”

“Bersenjata?” tanya ibunya.

Panca mengangguk. “Satu tombak, satu pedang.”

Wira merasakan jantungnya berdetak keras. Ia belum pernah menghadapi orang bersenjata. Selama ini pertengkaran di desa paling jauh hanya berakhir dengan dorongan, pukulan, atau teriakan. Tapi malam—atau lebih tepatnya pagi—ini, semuanya terasa lain. Orang-orang datang bukan untuk berdebat. Mereka datang untuk mengambil sesuatu.

Atau seseorang.

“Jangan panik,” kata ibunya.

Wira menatapnya tajam. “Aku tidak panik.”

Panca mendecak pelan. “Itu bohong, Wira.”

Wira ingin membalas, tapi suara benturan keras dari depan rumah membuat semuanya kembali diam. Seseorang sepertinya berhasil mendobrak pintu utama. Langkah kaki masuk ke dalam. Terdengar perintah kasar dan suara barang jatuh. Ibunya menegakkan tubuh. Wajahnya berubah tegas.

“Sekarang,” katanya.

Ia mendorong pintu belakang hingga terbuka. Angin panas menyapu wajah mereka. Dari halaman sempit belakang rumah, Wira melihat lorong kecil yang mengarah ke kebun singkong dan rumpun bambu. Jalur itu sempit, berlumpur, dan cukup untuk satu orang berlari dalam baris. Panca segera turun lebih dulu, lalu Wira mengikuti, masih sempat menoleh ke arah rumah.

Ibunya tidak ikut segera. Ia berdiri di ambang pintu, memandang ke dalam rumah dengan ekspresi yang tidak bisa Wira baca. Ada sesuatu seperti keputusan berat di wajahnya. Lalu ia menoleh pada Wira.

“Kalau nanti ada yang memanggil namamu,” katanya pelan namun tajam, “jangan jawab dulu.”

Wira mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Karena tidak semua yang memanggil namamu datang untuk menyelamatkanmu.”

Wira belum sempat bertanya lagi. Ibunya mendorongnya keluar. Panca sudah lebih dulu berlari melewati rumpun singkong. Wira menyusul, menjauh dari rumah yang kini mulai dipenuhi asap. Dari balik bahu, ia sempat melihat salah satu lelaki bersenjata keluar ke halaman depan, lalu menoleh ke arah belakang rumah. Untung mereka sudah cukup jauh.

“Ke mana?” tanya Panca sambil terengah.

Wira menatap sekeliling cepat. Jalur belakang rumah mereka berakhir di kebun singkong, lalu turun ke aliran air kecil yang bercabang menuju sungai. Ia tahu tempat itu. Ia dan Panca sering bersembunyi di sana waktu kecil. “Ke sungai kecil,” jawabnya. “Kalau kita lewat bambu, mungkin mereka tak lihat.”

Mereka berlari menunduk di antara daun-daun lebar singkong, lalu masuk ke rumpun bambu yang rapat. Udara di situ lebih lembap dan gelap. Bunyi pergerakan daun mengiringi langkah mereka. Dari sela batang bambu, Wira masih bisa melihat sebagian desa. Api di atap rumah yang tadi dekat balai kini membesar, dan dua rumah lain tampak ikut dijilat api. Orang-orang berlarian ke arah sawah. Beberapa mengangkut barang seadanya. Beberapa hanya menjerit.

Panca berbisik keras, “Siapa yang menyerang kita?”

Wira menggeleng. “Aku tidak tahu.”

“Tapi mereka menyebut namamu.”

“Itu yang ingin kutahu.”

Panca menatapnya, lalu kembali lari. “Bagus, berarti kita sama-sama tidak tahu.”

Mereka tiba di ujung bambu dekat aliran air kecil. Airnya dangkal, namun deras karena hujan malam tadi. Wira menunduk dan mencuci wajahnya sekilas, tetapi yang ia rasakan hanya dingin singkat sebelum panas lain kembali menyelinap dari arah desa. Di kejauhan, suara kuda mendekat lagi. Bukan hanya satu atau dua. Lebih banyak dari sebelumnya.

Wira menoleh ke arah jalan utara.

Derap itu semakin jelas.

Panca ikut mendengar. “Mereka datang dari atas.”

Wira mengangguk. Di jalur bukit yang tadi ditunjuk rombongan asing, debu mulai naik. Beberapa bayangan penunggang bergerak menuruni jalan tanah dengan cepat. Di antara mereka, ada satu orang yang berdiri lebih tegak dari yang lain. Wira tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tetapi suara panggilan tadi terasa terkait dengan orang itu. Entah kenapa, ia yakin orang tersebutlah yang sejak awal mencari dirinya.

“Wira!”

Suara itu kembali terdengar.

Lebih dekat.

Lebih keras.

Dan kali ini Wira bisa menangkap nada yang berbeda—bukan marah, bukan panik, melainkan penuh keyakinan, seolah orang itu tahu Wira pasti ada di desa ini dan tak mungkin bersembunyi lama.

Panca menatapnya cemas. “Kau dengar juga, kan?”

Wira mengangguk.

“Jadi kau benar-benar kenal orang itu?”

“Tidak.”

“Kalau begitu kenapa dia memanggilmu seperti itu?”

Wira tidak menjawab. Ia sendiri bingung. Suara itu terdengar asing, tetapi juga tidak sepenuhnya asing. Seperti seseorang yang menyebut namanya dari masa lalu yang tidak ia ingat. Namun pada saat yang sama, ia tahu pasti bahwa ia belum pernah bertemu orang itu.

Mereka bergerak lagi, kali ini menyusuri aliran air kecil ke arah sungai utama. Jalurnya turun melewati batu licin, akar pohon, dan semak yang saling bertaut. Wira beberapa kali hampir terpeleset. Panca yang di belakangnya memaki kecil saat sepatunya masuk lumpur. Di atas mereka, suara teriakan dari desa bercampur dengan teriakan perintah.

Wira sempat menoleh sekali dan melihat salah satu rumah mulai runtuh sebagian atapnya. Asap tebal mengepul dari arah balai desa. Api menjalar cepat, lebih cepat dari yang ia sangka. Ia tiba-tiba teringat wajah ibunya saat mendorongnya keluar dari rumah. Wajah itu begitu tegas, tetapi justru karena itu Wira merasakan ketakutan yang lebih dalam. Ibunya pasti tahu sesuatu. Sesuatu yang belum sempat ia katakan.

“Wira!” Panca menarik lengannya. “Lihat depan!”

Wira buru-buru menoleh. Jalur mereka hampir bertemu dengan tepian batu yang curam di sisi sungai kecil. Untuk turun, mereka harus melangkah melewati akar besar yang licin. Ia melompat lebih dulu, lalu membantu Panca menyeberang. Setelah itu mereka berlari menembus semak menuju pinggir sungai kecil yang lebih lebar.

Di sana, Wira akhirnya melihat sesuatu yang membuat napasnya tertahan.

Di seberang sungai, berdiri seorang pria asing.

Orang itu tidak memakai pakaian perang terbuka. Kainnya gelap dan sederhana, tetapi geraknya tenang. Wajahnya sebagian tertutup bayangan pohon, namun jelas bahwa ia bukan warga desa. Ia berdiri diam seperti orang yang sudah menunggu mereka. Dan saat Wira melihatnya, pria itu mengangkat tangan sedikit, seolah memberi isyarat agar mereka tidak panik.

Wira langsung berhenti.

Panca juga terpaku. “Siapa itu?”

Wira menggeleng pelan. “Aku tidak tahu.”

Pria itu menatap mereka sebentar, lalu memandang ke arah desa yang terbakar. Setelah itu matanya kembali ke Wira. “Kau terlambat,” katanya singkat.

Wira mengernyit. “Siapa kau?”

Pria itu tidak menjawab langsung. Ia justru melangkah ke batu sungai yang lebih datar, lalu berkata, “Kalau kau masih ingin hidup, jangan berdiri di tempat terbuka.”

Belum sempat Wira membalas, terdengar suara lain dari belakang.

“Tangkap dia!”

Tiga penunggang kuda muncul di atas jalur bukit, lalu turun ke arah mereka dengan cepat. Salah satunya mengangkat tombak. Yang lain mencabut pedang. Pria asing itu langsung menoleh ke mereka, wajahnya kini lebih jelas. Ada bekas luka tipis di dekat pelipisnya. Sorot matanya tajam dan dingin, seperti orang yang sudah terlalu sering melihat bahaya.

Ia menatap Wira sekali lagi. “Kalau kau ingin tahu siapa yang memburu namamu, ikut aku.”

Wira membeku sesaat. Panca menoleh ke arahnya dengan wajah tegang. Di belakang, para penunggang itu semakin dekat. Di depan, pria asing itu berdiri tenang di tepi sungai, seolah dunia yang kacau di sekitarnya bukan urusannya.

“Kenapa aku harus percaya?” tanya Wira cepat.

Pria itu mengangkat alis tipis. “Karena kalau aku ingin menjebakmu, kau sudah jatuh sejak tadi.”

Kata-kata itu membuat Wira menegang, tetapi derap kuda sudah terlalu dekat untuk memberi waktu berpikir lama. Satu penunggang turun lebih dulu dan menghantam tanah dengan keras. Wira mundur satu langkah. Panca berada di sisi kirinya, napasnya pendek-pendek.

Pria asing itu mengamati mereka sejenak, lalu berkata, “Kalau mau hidup, cepat.”

Wira menatap ibunya yang masih samar jauh di balik asap desa. Lalu ia menatap pria asing di depannya. Lalu balik ke tiga penunggang yang mulai mengepung mereka. Dalam hati, ia tahu bahwa kalau ia tetap di tempat, semuanya akan berakhir lebih buruk.

“Panca,” katanya pelan.

“Ya?”

“Kalau aku lari, ikut.”

Panca mengangguk tegas. “Sudah jelas.”

Wira akhirnya bergerak. Ia melangkah ke arah pria asing itu, sementara tombak dari belakang hampir menyambar udara di tempat ia tadi berdiri. Mereka berlari menyeberangi batu-batu sungai kecil. Air memercik ke kaki. Ki Rangga—demikian lelaki itu kemudian menyebut dirinya—menuntun mereka menuju jalur sempit di sisi bukit kecil yang tertutup semak rapat.

Di belakang, para penunggang meneriakkan sesuatu, tetapi Wira tidak menoleh. Ia hanya berlari. Napasnya terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan karena lelah saja, melainkan karena ia merasa sedang masuk ke jalan yang tidak bisa ia lihat ujungnya. Desa di belakangnya terbakar. Suara ibunya hilang. Dan orang asing di depannya seolah tahu terlalu banyak.

Mereka tiba di celah batu sempit yang nyaris tersembunyi di balik akar dan ilalang. Ki Rangga melambaikan tangan singkat. “Masuk.”

Wira menatap celah itu. Gelap. Sempit. Tapi cukup untuk bersembunyi sejenak.

Ia menoleh sekali ke belakang. Di atas bukit, asap desa masih menjulang. Suara kuda terus mendekat. Dan panggilan namanya masih terasa bergema di kepalanya, seperti tanda bahwa semuanya baru saja dimulai.

Wira menggertakkan gigi, lalu mengikuti Ki Rangga masuk ke celah batu bersama Panca.

Dan di belakang mereka, api pertama mulai benar-benar melahap desa.

1
baca yg gue suka
nyampe chap ni isinya cuman kabur mlulu.
bukin pusing aja
baca yg gue suka
kalimat yg sama diulang2 terus
Filan
yang panggil itu bertentangan sama orang-orang yang datang kan?
Filan
kejam juga. mereka yang bakar kan?
Elisabeth Pasaribu
seru banget Thor, jangan lupa mampir ya di karya ku
B. Toon
Wah, mantap. Cerita baru lg, ini gak kalah seru sama 'Badai Pusaka di Tanah Gadhing'. Yang ini cerita fiksi di campur sejarah Kerajaan Nusantara. Smangat thor, ditunggu bab-bab selanjutnya /Good//Good/
Restu Agung Nirwana: Makasih bang, siap. Saya usahakan, ikutin trs petualangan Wira sama Panca bang. Jgn sampe ketinggalan 😄😄🙏🙏
total 1 replies
B. Toon
Wah, si Wira udah mulai nunjukin benih-benih calon pendekar 👍👍
Restu Agung Nirwana: Hehehe... iya donk 😄
total 1 replies
B. Toon
Makin menarik, dibikin penasaran trs 😄
Restu Agung Nirwana: makasih bang, baca sampai tamat ya 👍👍
total 1 replies
B. Toon
Seru thor, baru bab 1 udah di suguhi tragedi di desanya MC . Penasaran giman nasibnya Wira sama Panca nanti. Lanjut, jgn berhenti di tengah jalan thor 😄😄👍👍
Restu Agung Nirwana: iya bang, sat-set 😄😄😄😄
total 1 replies
Slow ego
wira... panca👍
Restu Agung Nirwana: 😄😄😄 terimakasih dukungannya,
ini komen pertama. Gimana kak ceritanya? minta pendapatnya. Kalau ada yg kurang, sebisa mungkin saya perbaiki 🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!