NovelToon NovelToon
Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Istri Tanpa Sentuhan Pewaris Adinata

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: najwa aini

Shafiya Elara Hanum, namanya. Ia tidak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan pria yang tak pernah benar-benar menjadi suaminya.




Ia adalah putri seorang kiai.
Dibesarkan dengan kehormatan dan batasan.
Namun satu kesalahan yang tidak ia lakukan, telah merenggut segalanya. Pernikahannya batal. Nama baik keluarganya ikut hancur, dan ia pun terseret ke dalam ikatan dengan SAGARA ADINATA.
Pewaris tunggal keluarga Adinata.
Seorang pria yang dingin. Tegas. Dan tidak percaya pada pernikahan.




Mereka menikah tanpa cinta.
Tanpa keinginan. Tanpa sentuhan.
Namun satu hal mengikat mereka--Seorang anak yang tumbuh di rahim Shafiya…
anak yang bahkan tidak pernah mereka rencanakan.




Di balik hubungan yang datar dan penuh jarak, rahasia demi rahasia mulai terkuak.
Dan perlahan, batas yang mereka jaga mulai goyah.



Mampukah mereka bertahan dalam pernikahan yang bukan hanya sekedar kesepakatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Calon Suami Yang Ditinggalkan

Bab 2: Calon Suami Yang Ditinggalkan.

Lift berhenti di lantai dua. Shafiya keluar. Tetap diikuti Winda dan dua orang petugas yang lain. Mereka melewati koridor yang cukup panjang dan hening. Lalu sebuah pintu ruang rawat terlihat di depan. Pintunya terkuak sedikit. Shafiya berhenti, beberapa langkah di depan pintu. Ia menarik napas sejenak, sebelum mengucap salam.

Assalamualaikum.

"Waalaikumsalam."

Terdengar jawaban dari dalam. Tidak keras. Dan seperti bukan hanya dari satu suara.

Shafiya meraih gagang pintu. Mendorongnya pelan. Ia lalu melangkah masuk.

Aroma obat langsung menyambut.

Di dalam, beberapa orang menoleh.

Ada dua orang bibinya. Sepupunya. Dan dua orang santri yang biasa membantu di pesantren.

Semuanya adalah wajah-wajah yang ia kenal.

Wajah-wajah yang… kini terasa sedikit berbeda.

“Shafiya…” suara bibinya lirih, tapi jelas terdengar lega.

Shafiya tersenyum tipis. “Bagaimana Abi?"

“Sudah lebih baik. Tadi sempat turun tensinya, tapi sekarang sudah stabil.”

Shafiya mengangguk pelan.

Langkahnya mendekat ke ranjang.

Kyai Fakih terbaring tenang. Sepasang matanya terpejam. Wajahnya pucat, tapi tidak setegang yang ia bayangkan.

Shafiya duduk di sampingnya. Perlahan dan hati-hati--seolah takut gerakannya akan menyakiti sang abi.

Tangannya kemudian terulur, menyentuh punggung tangan kyai Fakih dengan hati-hati.

Terasa hangat.

Alhamdulillah…

Dadanya sedikit lega. Ia menunduk, mencium punggung tangan itu berulang-ulang. Menahan rasa campur aduk yang menyerang. Rindu. Takut. Lega. Serta rasa bersalah yang datang.

Shafiya kembali duduk tegak. Mengerjapkan sepasang matanya, agar bulir bening itu tidak jatuh.

“Baru datang, Nduk?”

Salah satu bibinya mendekat. Senyumnya ada, tapi matanya… mengamati.

“Iya, Bi. Ma'af." Kabar itu sampai padanya tadi malam. Tapi ia tak segera datang untuk melihat kondisi abinya. Adinata Residence 3 tempatnya tinggal, dipenuhi aturan yang tak serta merta bisa ia langgar.

"Kamu sehat, Nduk?"

"Sehat." Shafiya menjawab singkat.

"Sedikit pucat. Sudah periksa?"

Pertanyaan itu ringan. Terdengar wajar.

Namun entah kenapa, jari Shafiya sedikit mengencang.

“Sudah, Bi. Saya baik-baik saja."

Bibinya mengangguk. Tidak mendesak.

Seperti yang ia tahu… keluarganya tidak terbiasa menggali cerita terlalu dalam.

Tapi itu bukan berarti mereka tidak bertanya.

Hanya saja... caranya yang berbeda.

Pandangan lain menyusul.

Dari sepupunya. Menatap Shafiya sedikit lebih lama. Lalu bergeser ke satu tempat.

Tepatnya ke luar pintu.

Dua orang santri yang berdiri di sudut, juga melihat ke arah yang sama.

Ke arah Winda dan dua petugas yang berdiri rapi. Diam dan menunggu.

Tatapan mereka penuh tanya. Seperti melihat hal yang janggal.

Shafiya putri kyai. Penampilannya tertutup dan Syar'i. Namun kali ini ia ditemani wanita yang memang berpakaian rapi, tetap sopan meski tak sepenuhnya menutup aurat seperti Shafiya.

Lalu dua orang lelaki yang berpakaian sama--yang lebih tepat disebut sebagai pengawal pribadi.

Wajar, jika tatap mereka bertanya.

Shafiya menelan semua itu dalam diam. Tak ingin menjelaskan apapun.

“Dari tadi mereka menunggu di luar?” tanya sepupunya akhirnya, dengan nada hati-hati.

“Iya,” jawab Shafiya.

“Orang kantor, Mbak?"

Hanya menyimpulkan sesaat, mungkin karena melihat pakaian mereka.

Hening sebentar. Shafiya masih diam.

“Orang rumah.”

Ia kemudian memberi jawaban itu. Jawaban menggantung. Tidak menjelaskan apa pun.

Tapi justru… membuka banyak kemungkinan, dan beberapa pertanyaan lain.

“Rumah…” ulang bibinya pelan.

Tidak ada nada menuduh.

Tapi juga… tidak sepenuhnya seperti biasa.

“Alhamdulillah,” sambungnya kemudian, mencoba tetap hangat. Karena Shafiya tetap diam. “Berarti kamu sudah ada yang menjaga.”

Shafiya mengangguk.

Namun di dalam dadanya--ada sesuatu yang terasa berat. Ia tahu apa yang mereka pikirkan, meski tidak diucapkan.

Tentang pernikahannya yang tiba-tiba gagal.

Tentang calon suami yang ditinggalkan.

Tentang dirinya yang tak lagi tinggal di pesantren. Dan… yang kini datang dengan pengawalan.

Dan semua itu--tanpa satu pun penjelasan.

Kyai Fakih bergerak pelan.

Matanya terbuka.

“Shafa…”

Suara itu lemah, tapi cukup membuat seluruh ruangan kembali fokus.

Shafiya langsung bangkit sedikit. “Abi…”

Tangannya menggenggam lebih erat.

“Sudah datang…” bisik beliau.

“Iya." Shafiya mengangguk berkali-kali.

Pandangan Kyai Fakih turun perlahan.

Ke arah perut Shafiya. Menatap sesaat.

Namun cukup membuat Shafiya menahan napas.

Beliau tidak berkata apa-apa.Tidak bertanya.

Hanya menutup mata sejenak… lalu menghela napas panjang. Tapi justru itu yang membuat Shafiya seakan dihantam beban berat.

"Abi... ma'af." Suara Shafiya nyaris pecah.

Kyai Fakih membuka mata. Menatap Shafiya teduh. Tersenyum tipis.

Bukan senyum yang ringan... tapi senyum yang menenangkan, sekaligus menguatkan.

"Abi sakit apa?" Pertanyaan Shafiya dengan suara yang setengah terbata.

"Sebentar lagi, Mbak." Sepupunya yang menjawab. "Gus Ilzam sedang mengambil hasil pemeriksaan Paman."

"Gus Ilzam." Shafiya mengulang nama itu pelan.

“Iya, calon suamimu,” jawab bibinya refleks. Terucap dengan cepat. Tanpa nada sengaja. Secepat itu pula, bibinya yang lain memberi tatapan peringatan.

Namun kata itu… sudah terlanjur jatuh.

Calon suami.

Shafiya tidak langsung menanggapi.

Wajahnya tetap tenang.

Namun jemarinya… perlahan mengendur dari genggaman tangan abinya.

Sepersekian detik kemudian.

“Itu dulu,” ucapnya pelan.

Langkah kaki terdengar dari luar.

Langkah yang tenang. Tidak tergesa.

Namun jelas terdengar mendekat.

Beberapa orang kemudian menoleh.

Pintu ruang rawat itu terbuka.

Gus Ilzam masuk dengan map hasil pemeriksaan Kyai Fakih di tangannya.

“Paman…”

Suaranya rendah, penuh hormat.

Ia mendekat. Menyalami Kyai Fakih dengan takzim. Menunduk sedikit. Seperti biasa. Tidak ada yang berubah dengan sikapnya.

Namun saat ia mengangkat wajah--pandangannya bertemu dengan Shafiya.

Dan saat itu, waktu… seolah terhenti.

Tidak ada sapaan.

Tidak ada senyum.

Hanya tatapan. Sekilas. Namun menyimpan terlalu banyak hal yang tak sempat diselesaikan.

Shafiya refleks berdiri perlahan.

“Gus…”

Hampir tak terdengar.

Ilzam menatapnya beberapa detik.

Lalu mengangguk tipis. “Ning Shafiya.”

Suaranya tenang. Nadanya terjaga.

Seolah semuanya… memang sudah selesai.

Namun tidak bagi Shafiya. Dadanya terasa sesak. Bukan karena rindu. Tapi karena ia yang pergi meninggalkan tanpa memberi cukup alasan. Dan semua hal tersebut, belum sempat ditutup dengan baik.

“Bagaimana hasilnya?” tanya salah satu sepupu Shafiya.

Ilzam mengalihkan pandangan. Kembali pada perannya.

“Alhamdulillah, tidak ada yang mengkhawatirkan. Hanya kelelahan dan tekanan darah yang sedikit menurun. Perlu istirahat penuh.”

Beberapa orang mengangguk lega.

Suasana pun mencair.

Namun sebenarnya hanya di permukaan.

Shafiya kembali duduk.

Kali ini, ia tidak lagi menatap ke arah Ilzam.

Dan Ilzam… Tatapannya juga lurus, tidak mencari Shafiya. Mereka sama-sama terlihat biasa.

Ilzam kemudian menyerahkan map hasil pemeriksaan pada Shafiya. Gesturnya sopan. Shafiya menerima dengan bahasa tubuh yang sepadan. Keduanya sama-sama tahu cara menghargai masing-masing.

Dan Ilzam, sekalipun mungkin pernah ada rasa sakit hati. Tapi penghormatannya pada Shafiya tidak pernah dikurangi.

"Mereka sebenarnya pasangan yang serasi."

Suara itu terdengar pelan. Nyaris seperti angin lewat.

"Tapi tidak ditakdirkan... Ning Shafiya meninggalkan gus Ilzam."

Shafiya tidak menoleh. Namun jemarinya perlahan mengencang di atas map yang ia pegang.

1
iqha_24
hari libur kah, ga ada up ?
i_r cute
kyknya mulai ada cemburu tipis2 nih Sagara....
iqha_24
ayo dong sagara lebih peka dan lebih perhatian lagi ke shafiya
iqha_24
makin seru nii 👍
iqha_24
up lagi kak
Afsa
Komporin saja Pak Raven..aq seneng Kalo Saga cemburu😄
徐梦
🤣🤣🤣🤭
Eeeeee Panassss sagara awas lo cemburu 🤣
iqha_24
naah kan .. Sagara ga tenang
i_r cute
nunggu part shafiya cuekin Sagara, lama banget thor.....
iqha_24
nii sagara kapan peka nya yaa
Amalia Siswati
ya syafia bersikaplah seperti cermin,memantulkan.
Amalia Siswati
plot2 seperti ini nya mohon di kurangi dech thor,1 bab kebanyakan klimaknya bukan alur cerita intinya
Najwa Aini: Dan masukan dari kakak ini akan jadi bagian pertimbanganku..🌹🌹
total 2 replies
iqha_24
ayo Gam, panas2in aja si Sagara
iqha_24
lanjut
徐梦
Weeeeh agaknya ada yg cembukur ni ciee cieeee
Ayok mas Agam pelet trus ning cantik
Masih bnyak yg nunggu jandanya😍
Najwa Aini: Agam said: Siapppp
total 1 replies
徐梦
Semoga aja ada laki2 lain yg menunggu jandamu syifa thor buat sagara uring2n dong 🤭🤭🤭🤣
Najwa Aini: uring²an yang tetap elegan ya kak..
total 1 replies
Ayuwidia
Kisahnya sukses bikin baper. Bahasanya berbobot, nggak bertele-tele. Mencerminkan kecerdasan authornya. Karakter tokoh prianya bikin para pembaca gemes-gemes tapi cinta.

Semoga Sagara & Ning Shafiya sukses menaklukan retensi dari 20 bab sampai 100 bab, aamiin.

Semangat & semoga sukses, Ning Najwa ♥️
Ayuwidia: uhuk, nggak cocok Ning disematkan untukku yang minim ilmu agama, Kak.
total 2 replies
be83
Ceritanya sangat menarik
Semoga update nya lebih sering
Najwa Aini: Terima kasih Kak..
semoga updatenya konsisten ya
total 1 replies
Amalia Siswati
buat syafia yang dingin sekarang,biar dia mikir jika kehamilannya butuh perjuangan bersama..
Najwa Aini: Trims sarannya ya Kak..
aku tampung deh. nanti ku diskusikan dgn Shafiya
total 1 replies
Yus Marni
aku dukung syafiya kabur, gak akan berubah tu si saga kalau gak dikasih pelajaran🫢🫢
Najwa Aini: Kabur kemana kak??
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!