Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Yang Tak Dianggap
POV Aluna
Malam itu terasa terlalu sunyi.
Aku masih duduk di tepi ranjang, gaun pengantin yang belum sempat kulepas terasa semakin menyesakkan.
Ayah…
Bayangan wajahnya terus menghantui pikiranku.bahkan lebih kejamnya mereka tidak mengijinkan aku ikut ke pemakaman ayah,
Air mataku bahkan belum sempat mengering… tapi aku sudah berada di tempat asing ini.
Menjadi istri… bagi pria yang bahkan tak menginginkanku.
Klik.
Suara pintu kamar mandi terbuka.
Aku refleks menoleh.
Zayn keluar dengan santai, rambutnya sedikit basah, kemejanya terbuka di bagian atas. Wajahnya tetap sama dingin dan tak tersentuh.
Seolah tidak ada yang terjadi hari ini.
Seolah… kematian ayahku tidak berarti apa-apa.
Dadaku kembali terasa sakit.
“Zayn…” suaraku lirih, nyaris tak terdengar.
Ia berhenti sebentar, tapi tidak menoleh.
“Ayahku…” aku menelan ludah, berusaha kuat. “Dia baru saja meninggal…”
Hening.
Aku berharap… setidaknya ada satu kalimat penghiburan.
Satu saja.
Tapi yang kudapatkan
“Itu bukan urusan saya.”
Deg.
Kalimat itu seperti pisau yang langsung menusuk.
Aku terdiam.
Tidak percaya.
“Apa,mudah sekali kamu mengatakan itu?”ucapku dengan nada agak tinggi
Zayn akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, dingin, dan benar-benar tanpa empati.
“Jangan libatkan perasaan dalam hal yang tidak perlu,” lanjutnya datar. “Kita punya kesepakatan, bukan?”
Kesepakatan?
Jantungku berdegup cepat.
“Aku tidak mengerti, kesepakatan apa yang kamu bicarakan,satu hal yang harus kamu tahu tuan Zayn ,aku di minta ayah untuk menikah dengan anak tuannya ,tanpa menjelaskan apapun”
Ia menghela napas, seolah aku ini merepotkan.
“Dan itu urusanmu dan ayahmu Yang jelas Mulai sekarang, kamu tinggal di sini. Jalankan peranmu di depan orang lain”
Langkahnya mendekat.
Setiap langkah terasa menekan.
“Tapi jangan pernah berharap saya akan memperlakukanmu seperti istri,saya harap kamu paham dan jangan terlalu banyak bertanya”
Hatiku… runtuh.
“Apa aku… hanya… pajangan ,kalau seperti itu kenapa kamu menikahi ku?” tanyaku, suara mulai bergetar.
Zayn tidak langsung menjawab.
Ia menatapku beberapa detik… sebelum akhirnya berkata
“jangan banyak bertanya,karena sampai kapanpun kamu tidak akan mendapat jawabannya,, kamu hanya bagian dari kebutuhan tuan besar devandra,atau mungkin kebutuhan keluarga ini yang aku tidak habis pikir kenapa harus kamu,apalagi kamu terlalu cerewet dan banyak bertanya.”ucapnys dengan entengnya
Kebutuhan?
Apa maksudnya…?
Aku semakin tidak mengerti.
Tapi satu hal yang pasti…
Aku tidak diinginkan di sini.
Pagi harinya.
Aku terbangun dengan kepala berat.
Mataku sembab, tubuhku lelah… tapi tidak ada waktu untuk berlarut-larut dalam kesedihan.
Ini rumah orang lain.
Aku harus… menyesuaikan diri.
Dengan langkah pelan, aku keluar dari kamar.
Rumah ini terlalu besar.
Lorong panjang, lantai marmer, lukisan mahal… semuanya membuatku merasa semakin kecil.
“Sudah bangun?”
Suara itu membuatku berhenti.
Aku menoleh.
Tuan Misra Devandra duduk di ruang tengah, membaca koran dengan santai.
Seolah tidak ada yang terjadi kemarin.
Aku menunduk sopan.
“Iya… Tuan…”
“Mulai sekarang panggil saya Ayah,” potongnya.
Aku sedikit terkejut.
“Tapi…”
“Kamu sudah menikah dengan Zayn,” lanjutnya tanpa melihatku. “Jangan mempermalukan keluarga ini.”
Aku menggenggam ujung bajuku.
“Iya… Ayah…”
Ia akhirnya melipat korannya dan menatapku.
Tatapannya tajam. Menilai.
“Mulai hari ini, kamu harus belajar banyak hal,” katanya. “Etika, cara berbicara, cara bersikap. Kamu sekarang bagian dari keluarga Devandra.”
Aku mengangguk pelan.
Walau dalam hati… aku merasa seperti orang asing.
“Dan satu hal lagi,” lanjutnya.
Nada suaranya berubah. Lebih dalam.
“Malam nanti, kamu tidur di kamar Zayn.”
Aku membeku.
“Tapi… kemarin dia bilang,,,,”
“Itu urusan kalian berdua,” potongnya tegas. “Saya hanya ingin hasil.”
Hasil?
Alisku berkerut.
“Maksud Tuan…?”
Misra menatapku lama.
Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
Lalu…
Ia tersenyum tipis.
“Cepat atau lambat, kamu akan mengerti.”
Jawaban yang… tidak menjawab apa-apa.
Tapi entah kenapa
Ucapan itu membuatku merinding.
Malam kembali datang.
Aku berdiri di depan pintu kamar Zayn.
Jantungku berdebar tidak karuan.
Aku tidak tahu harus bagaimana.
Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa.
Aku bahkan tidak tahu… apa sebenarnya yang diinginkan keluarga devandra dari pernikahan ini.
Dengan tangan gemetar, aku mengetuk pintu.
Tok… tok…
“Masuk.”
Suara dingin itu langsung terdengar.
Aku menarik napas… lalu membuka pintu.
Zayn sudah ada di dalam.
Duduk santai, membaca sesuatu di tabletnya.
Tanpa melihat ke arahku.
“Aku…” suaraku pelan. “Disuruh Ayah untuk…”
“saya tahu.”
Ia memotong tanpa menoleh.
Aku terdiam.
Lalu perlahan masuk.
Menutup pintu di belakangku.
Sunyi.
Menekan.
Aku berdiri canggung… tidak tahu harus ke mana.
Sampai akhirnya
“Kalau kamu pikir kamu datang ke sini untuk menjalankan peran sebagai istri… lupakan itu.”
Aku mengangkat wajahku.
Zayn akhirnya menatapku.
Tatapannya tajam.
“Jangan membuat masalah,” lanjutnya. “Selama kamu diam dan mengikuti aturan, hidupmu di sini akan mudah.”
“Tapi kalau tidak…” ia menyipitkan mata.
“Jangan salahkan saya kalau kamu menyesal.”
Ancaman.
Jelas sekali.
Tanganku mengepal pelan.
“Aku tidak pernah meminta semua ini,kamu pikir,,,,” ucapku terhenti
"syuuuuuuut,,,jangan banyak bicara,ikuti saja,oke"ucapnya
"kamu sebaiknya tidur saja, bisa diranjang,di sofa atau di mana pun yang kamu inginkan,satu permintaan saya,jangan banyak bicara atau bertanya, apalagi mengganggu saya yang sedang bekerja"potongnya
Untuk pertama kalinya…
Tatapannya berubah.
Sedikit.
Hanya sepersekian detik.
Tapi cukup untuk membuatku sadar
Ada sesuatu yang dia sembunyikan.
Sesuatu yang bahkan lebih besar dari sikap dinginnya.
Dan tanpa aku sadari…
Aku tidak hanya terjebak dalam pernikahan tanpa cinta.
Tapi juga…
dalam rahasia besar keluarga Devandra yang perlahan akan menghancurkanku