NovelToon NovelToon
Frekuensi Kematian

Frekuensi Kematian

Status: tamat
Genre:Action / Teen School/College / Tamat
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Lovey Dovey

Di SMA Nambu, kelas 3-B adalah kelas paling viral-bukan karena prestasi, tapi karena jumlah problem child-nya. Malam itu, hukuman belajar tambahan untuk 30 siswa mereka berubah jadi mimpi buruk hidup-hari saat invasi makhluk asing berawal di sekolah mereka. Makhluk-makhluk fotofobia yang mengerikan, terluka oleh cahaya terang tapi memangsanya seperti ngengat, menjadikan sekolah sebagai arena berburu. Dipimpin oleh ketua kelas yang panik dan wakilnya yang berusaha tegar, mereka harus bertahan dengan satu aturan: JANGAN MENYALA.


Apakah mereka berhasil melawan makluk itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovey Dovey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Illusi?

Cahaya abu-abu fajar menyusup lemah melalui celah-celah gorden, membangunkan mereka dari tidur yang gelisah. Tubuh mereka kaku dan perut keroncongan lebih keras dari sebelumnya. Kenyataan pahit kembali menghampiri dengan sinar pagi yang kejam.

Jimin, dengan wajah yang masih terlihat lelah tapi matanya sudah kembali fokus, mengumpulkan mereka.

"Kita gak bisa stay di sini selamanya. Air hampir habis. Kita butuh rencana baru."

Jimin mengeluarkan ponselnya yang nyaris mati, menunjukkan screenshot peta yang dia ambil sebelum sinyal hilang total.

"Fasilitas karantina darurat pemerintah. Di Pusat Kota, dekat Balai Kota," Jimin menjelaskan, menatap ponselnya yang layarnya sudah retak. "Dari info sebelum semuanya down, tempat itu dirancang khusus untuk keadaan seperti ini. Dindingnya diperkuat, ada sistem filtrasi udara independen, generator listrik sendiri, dan yang paling penting-ada penjagaan keamanan ketat oleh militer dan persediaan logistik besar-besaran."

Kata-kata itu menggantung di udara lembap kereta. "Penjagaan militer?" gumam Stella, ada secercah harap di suaranya.

"Persediaan besar?" Chenle menelan ludah keringnya.

"Tempat yang aman?" Sunkyung bersandar lebih erat pada Minjeong.

Untuk sesaat, gambaran itu terasa seperti oasis di padang pasir kematian. Sebuah benteng di tengah kota yang telah menjadi kuburan.

Tapi kemudian, Hina memecahkan ilusi itu dengan suara datar dan penuh kepahitan. "Dan gimana kalo kita cuma ditipu lagi? Kayak kemaren? Kita disuruh ke Stasiun Gangnam, 'Titik Kumpulan Aman'. Dah capek-capak nyampe sini, malah hampir dimakan Klepek-Klepek, malah ketemu kuburan sama mayat tentara. Sekarang disuruh jalan kaki lagi ke Pusat Kota? Buat apa? Buat ketemu mayat yang lebih banyak? Atau malah buat dimangsa Klepek-Klepek yang lagi nungguin makan siang?"

Ucapannya seperti air dingin yang disiramkan ke wajah mereka. Semua memandangi Hina, lalu ke Jimin, lalu ke lantai. Kenangan akan horor di plaza, ketakutan saat berlari, dan kenyataan pahit stasiun yang sepi kembali menghantui.

"Tapi... tapi kalo informasi ini bener..." Yeri mencoba, tapi suaranya lemah.

"Kalo. Itu kata kuncinya, Yer. Kalo," sambung A-na, kali ini tanpa amarah, hanya kelelahan yang mendalam. "Kita udah salah percaya sekali. Sekali lagi mungkin bakal jadi yang terakhir."

"Tapi Pusat Kota? Itu jaraknya dari sini... kurleb 5 jam jalan kaki normal," hitung Shotaro.

"Terus kita mau apa? Tinggal di sini sampe jadi mumi?" tantang Minjeong, meski suaranya juga mulai terdengar letih. "Setidaknya di fasilitas itu ADA KEMUNGKINAN. Di sini? NOL. Kita bisa hitung sendiri sisa air dan biskuit. Besok kita bakal mulai saling tuding siapa yang layak dapet jatah."

Suasana kembali tegang. Dua kubu: yang takut dibohongi lagi dan lebih memilih 'neraka yang sudah dikenal', melawan yang masih berpegang pada secercah harap akan 'surga yang dijanjikan', meski jalannya adalah neraka yang lain.

"Oke," Jaemin berdiri, mencoba mengambil alih. "Sebelum mutusin buat pergi ke neraka yang belum kita tau, kita musti tau dulu kondisi neraka yang di depan mata kita. Kita perlu intel. Siapa yang mau keluar lihat kondisi stasiun dan jalan keluar?"

Diam yang mencekam. Semua menunduk, memeriksa sepatu mereka yang kotor. Hingga akhirnya, puluhan pasang mata, hampir serempak, tertuju pada Haechan.

"Woi, woi, WOI! Ngapain pada liatin gue?!" Haechan nyaris terloncat dari kursinya, wajahnya pucat.

"Ya lo, Chan," kata Renjun santai,

"Respon lo kan paling cepet, Waktu di parkiran, lo yang pertama ngeh ada Klepek-Klepek. Reflek lo cepet. Dan lari lo... dude, lo kayak cheetah yang lagi dikejar singa."

"BUKAN ALASAN YANG BAGUS, HUANG!" teriak Haechan, panik.

"Gue lari cepet karena gue takut! Bukan karena gue pemberani!"

"Tapi lo lincah," timpal Sohee. "Lo bisa ngindarin rintangan dengan baik. Perfect buat mata-mata."

"ITU BUKAN KELEBIHAN, ITU NALURI " bantah Haechan, suaranya tinggi.

Haechan melihat sekeliling, mencari sekutu. Tatapannya nyangkut di Mark, yang sedang berusaha terlihat sibuk merapikan tas kosongnya. "Hmm OKE KALAU PADA MAKSA! gue ngajak Mark! Dia kan ketua kelas! pemimpin harus turun tangan dulu, dong! Masa cuma nyuruh-nyuruh doang? ''

Mark menengok, matanya melotot. "HAECHAN, GUE BAKAL BUNUH LO! NGAPAIN NYERET GUE?!"

"Kita kan partner! Masa gue mati sendirian?" rengek Haechan dengan dramatis.

"Lo yang ditunjuk, ngajak-ngajak gue pula!" ngotot mark

Setelah debat singkat yang akhirnya dimenangkan oleh tatapan "lo harus ikut" dari hampir semua orang (termasuk Yeri yang cuma bisa nyengir kasihan), akhirnya diputuskan: Haechan dan Mark yang akan menyelinap keluar kereta untuk mengintai area stasiun dan sekitarnya.

Dengan jantung yang deg-degan kayak mau copot, mereka mendekati pintu kereta. Jeno perlahan membuka kuncinya. Ssshhhk. Pintu terbuka sedikit. Mereka melongok. Stasiun sunyi, masih remang-remang. Tidak ada tanda Klepek-Klepek.

"Good luck," bisik Jaemin.

"Hidupin walkie kalau nemu," tambah Giselle, menyodorkan dua walkie-talkie tua yang dia temukan di kabin masinis, baterainya masih hidup tipis.

...

Haechan dan Mark melompat keluar dengan hati-hati, dan pintu segera ditutup pelan di belakang mereka. Selama sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh tahun, semua orang di dalam kereta menahan napas.

Gak lama kemudian Lalu, walkie-talkie yang dipegang Jimin bersuara, disertai desis. "Gue Mark. Area stasiun... clear. Tapi... lo gak akan percaya apa yang kita temuin."

"Apa?" tanya Jimin.

"Senjata. Beberapa pistol. Dan... dua buah rifle. Kayaknya punya polisi atau tentara yang... yang gugur di sini. Masih ada magazennya, gak tau isinya masih atau nggak."

Suasana di dalam kereta berubah drastis. Senjata! Itu bisa mengubah segalanya. Bukan untuk menyerang, tapi untuk membela diri, atau paling tidak, untuk memberi mereka sedikit kepercayaan diri.

"Ambil. Tapi hati-hati," instruksi Jimin.

"Kita berdua gak cukup buat bawa semuanya. Butuh bantuan," lapor Haechan.

Jimin menoleh ke sekeliling.

"Siapa yang mau ambil? Butuh yang fisiknya ok."

Jaemin langsung mengangkat tangan. "Gue."

"Sungchan," kata yang bersangkutan, tanpa ragu.

"Gue ikut," ujar Renjun.

"Eunseok, ayo," ajak Jaemin pada temannya yang pendiam tapi kuat. Eunseok mengangguk.

Kelompok kedua-Jaemin, Sungchan, Renjun, dan Eunseok-dikirim keluar. Dengan gerakan cepat dan sunyi, mereka menyusuri stasiun yang penuh bayangan, menemukan Mark dan Haechan yang sedang jongkok di balik konter informasi, di depan beberapa jenazah berseragam yang sudah tak bernyawa. Di sebelahnya, tergeletak senjata-senjata itu.

Dengan perasaan campur aduk-antara jijik, sedih, dan sedikit harapan-mereka mengumpulkan senjata dan magazen yang tersebar. Mereka juga menemukan beberapa botol air dan ransum darurat militer yang belum terbuka di tas salah satu tentara.

...

Dalam waktu lima menit, mereka sudah kembali ke kereta, membawa 'harta karun' yang bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati.

Sekarang, dengan beberapa pucuk senjata (yang tidak semua orang tahu cara pakainya) dan sedikit tambahan persediaan, keputusan harus dibuat: apakah mereka akan mempertaruhkan segalanya untuk berjalan 5 jam menuju fasilitas karantina di Pusat Kota, atau tetap bertahan di kuburan besi yang bernama stasiun ini?

Senjata-senjata itu tergeletak di lantai kereta bagaikan benda asing dari dunia lain. Beberapa pucuk pistol, dua buah rifle yang terasa berat, dan beberapa magazen. Mereka memandanginya dengan campuran harap dan ngeri. Itu adalah kekuatan, tapi juga beban.

"Ada yang pernah pegang senjata api sebelumnya?" tanya Jaemin, memecah kesunyian.

Hening. Hanya Sungchan yang mengangkat tangan pelan.

"Gue pernah ikut ayah ke shooting range beberapa kali. Pistol doang, bukan yang kayak gini." Dia menunjuk rifle.

"Cukup," kata Jaemin.

"Sungchan, ajarin yang lain dasar-dasarnya. gimana cara pegang, cara cek magazen, cara amannya. INI BUKAN UNTUK MENYERANG. Ini cuma untuk... untuk bikin kita merasa sedikit lebih aman, dan buat kondisi darurat mutlak."

Pelatihan singkat dan tegang pun dilakukan di lorong kereta yang gelap. Sungchan dengan suara rendah menjelaskan cara melepas safety, cara mengarahkan, dan paling penting: jangan pernah mengarahkan ke teman. Sentuhan dingin logam di tangan mereka terasa aneh dan menakutkan.

Sementara itu, Jimin dan Jaemin merencanakan rute.

"Kita musti tetap di bayangan. Manfaatin gedung-gedung, gang-gang sempit. Hindari jalan utama," bisik Jaemin, menelusuri peta di tablet Giselle yang baterainya tinggal 10%.

"Kita musti bagi kelompok. Kelompok depan dengan senjata, kelompok tengah yang paling rentan, kelompok belakang jaga dengan senjata," tambah Jimin.

"Rute ini berisiko," bisik Giselle, menunjuk layar tabletnya.

"Tapi ini satu-satunya yang punya cukup banyak titik persembunyian. Kita akan seperti tikus, berlari dari satu lubang ke lubang lain."

"Dan kalau 'lubang' itu sudah ditempati Klepek-Klepek?" tanya Hina, suaranya penuh tantangan. "Kita sudah lihat mereka di atap, di plaza. Apa yang buat kita berpikir mereka gk ada di setiap gang gelap?"

"Karena kita tidak punya pilihan lain, Hina!" Minjeong membalas, suaranya meninggi sedikit sebelum dia berhasil mengendalikannya.

"Diskusi 'gimana kalau' sudah selesai. Sekarang waktunya 'meskipun'. Meskipun menakutkan, meskipun berisiko, kita harus bergerak."

Setelah persiapan singkat yang terasa seperti forever, saatnya memutuskan. "Yang masih mau ke karantina, angkat tangan," kata Jimin.

Perlahan, satu per satu tangan terangkat. Awalnya dari mereka yang paling tegar: Jaemin, Minjeong, Jimin, Jeno, Sungchan. Lalu diikuti oleh yang lain, terbawa oleh arus dan sedikit keberanian dari keberadaan senjata. Bahkan A-na dan Hina, dengan raut wajah masih ragu, akhirnya mengangkat tangan mereka. Tidak ada lagi yang ingin tinggal sendirian di kuburan stasiun ini.

"Oke. Kita berangkat dalam 5 menit. Bawa barang seperlunya. Air dan makanan dibagi rata. Yang bawa senjata, tetap di depan dan belakang."

Lima menit itu berlalu dengan cepat. Mereka mengencangkan sepatu, memastikan tas tidak berbunyi, dan saling memberikan pandangan terakhir yang penuh arti sebelum melangkah ke dalam ketidakpastian.

...

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
oalah👏👏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!