NovelToon NovelToon
Vintage Heartbeats

Vintage Heartbeats

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan / Pernikahan Kilat
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.

Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.

"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."

"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.

Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#25

Ketegangan di ruang kerja Lexington belum juga surut meski Kensington sudah melangkah pergi dengan aura berandalnya yang pekat. Catalonia Vera West—atau Late Vera—masih berdiri mematung di tengah ruangan.

Ia menatap pintu yang baru saja tertutup dengan tatapan jijik yang tak tertutupi, seolah-olah udara di ruangan itu baru saja tercemar oleh jelaga motor dan keringat pria yang tidak mengenal kata rapi.

Ia berbalik menatap Lexington yang sudah kembali fokus pada tumpukan jurnal riset, seolah tidak ada hal luar biasa yang baru saja terjadi.

"Bagaimana mungkin, Profesor?" suara Late Vera memecah keheningan, nadanya penuh dengan keheranan yang sinis. "Bagaimana rupa yang identik itu bisa menghasilkan dua kutub yang begitu berbeda? Satu adalah Dewa Kampus yang diagungkan karena presisinya, dan yang satunya lagi... hanya berandal yang menjadi polusi bagi mata siapa pun yang melihatnya. Itu adalah kegagalan genetika yang paling nyata yang pernah saya lihat."

Lexington menghentikan pergerakan pulpennya di atas kertas. Ia melepaskan kacamata bacanya, menatap Late Vera dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan peringatan di balik matanya yang gelap.

"Jangan katakan itu, Vera," ucap Lexington, suaranya rendah dan sarat akan makna. "Kau mungkin membenci kekasarannya sekarang, tapi jangan terkejut jika suatu saat kau justru akan mencintai wajah yang kau sebut polusi itu. Valerio memiliki cara tersendiri untuk menjebak orang-orang yang terlalu percaya diri seperti kau."

Late Vera mendengus, sebuah senyum meremehkan tersungging di bibirnya. "Mencintainya? Tidak akan pernah. Saya benci semua yang ada pada dirinya. Tato, tindikan, rambut berantakan, dan mulut kasarnya itu... dia adalah penghinaan bagi standar estetika saya."

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka kembali. Hadiyan masuk dengan langkah terburu-buru, wajahnya tampak sedikit cemas sambil menyodorkan sebuah ponsel yang terus bergetar hebat.

"Lex... angkat telepon dari istrimu. Ini sudah panggilan kelima," bisik Hadiyan, mengabaikan kehadiran Late Vera di sana.

Lexington segera meraih ponselnya. Namun, sebelum ia sempat menekan tombol hijau, suara Late Vera kembali terdengar, kali ini dengan nada yang jauh lebih tajam dan penuh sindiran.

"Hanya seorang istri yang tidak bisa jauh dari suaminya barang sedetik pun... benar-benar kekanak-kanakan," ucap Late sambil merapikan tumpukan kertas di meja dengan gerakan yang disengaja. "Apakah dia tidak punya pekerjaan lain selain meneror suaminya di jam kerja? Benar-benar perilaku wanita yang tidak memiliki nilai fungsional."

Ruangan itu mendadak senyap. Hadiyan tertegun, menoleh ke arah Late Vera dengan tatapan tak percaya. Keberanian wanita ini sudah melewati batas kewarasan.

"Apa pembahasan soal kemarin masih berlanjut?" tanya Hadiyan pada Lexington, suaranya mengandung nada peringatan. Ia tahu betul bagaimana temperamen Lexington jika menyangkut Briella.

Lexington tidak langsung menjawab. Ia meletakkan ponselnya kembali di meja—membiarkannya terus bergetar—lalu berdiri perlahan. Aura dominasinya memenuhi ruangan, membuat Late Vera secara tidak sadar mundur satu langkah.

"Vera," panggil Lexington, suaranya sangat tenang, namun itulah yang membuatnya menakutkan. "Istriku sedang hamil. Kebutuhan dan kecemasannya adalah prioritas mutlak di atas segala riset atau pertemuan dewan di gedung ini. Jadi, kuharap kau membuang jauh-jauh pikiranmu yang penuh polusi itu untuk mengganggu pernikahanku."

Mata Lexington menyipit tajam. "Jika kau tidak bisa menjaga mulutmu dari menghina keluargaku, maka waktu tiga minggumu itu selesai hari ini. Kau bisa kembali ke meja ayahmu sekarang juga."

Late Vera terdiam sejenak, namun bukannya gentar, ia justru tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat dipaksakan untuk menutupi rasa terkejutnya.

"Kau takut, Profesor?" tantang Late Vera, menatap tepat ke manik mata Lexington. "Kau ingin aku menjauh karena kau sadar bahwa aku yang sempurna ini sudah kau bandingkan dengan istrimu yang ceroboh itu, kan? Kau takut karena setiap detik bersamaku, kau diingatkan bahwa ada wanita yang jauh lebih kompeten untuk mendampingimu daripada seorang dokter kecantikan yang bahkan tidak bisa menyiapkan sarapan tanpa membuat kekacauan."

Deg.

Hadiyan menahan napas. Ia melirik Lexington dan melihat rahang pria itu mengeras hingga otot-otot lehernya menonjol. Ini bukan lagi soal persaingan asisten; ini adalah serangan langsung pada titik terlemah Lexington.

"Hadiyan..." suara Lexington terdengar sangat rendah, hampir seperti geraman.

"Ya, Lex?"

"Bawa dia keluar. Sekarang juga. Aku muak mendengar suara kicauannya yang tidak berdasar," perintah Lexington tanpa mengalihkan pandangan dari Late Vera.

Hadiyan segera melangkah maju, memberikan isyarat tegas pada Late Vera. "Mari, Nona Vera. Sebaiknya Anda pergi sebelum Tuan Valerio benar-benar kehilangan kendalinya."

Late Vera mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Ia meraih tasnya dengan anggun, seolah-olah ia baru saja memenangkan sebuah perdebatan besar. Sebelum keluar, ia melirik ponsel Lexington yang masih menyala.

"Selamat menikmati keruwetanmu dengan wanita ceroboh itu, Profesor," ucapnya sinis sebelum melangkah keluar dengan suara hak sepatu yang beradu keras dengan lantai marmer.

Begitu pintu tertutup, Lexington langsung menyambar ponselnya. Ia menekan tombol panggil balik dengan tangan yang sedikit gemetar karena emosi yang tertahan.

"Bri? Sayang? Kau baik-baik saja?" tanya Lexington seketika saat panggilan terhubung. Suaranya berubah drastis—dari es yang membeku menjadi air yang mengalir hangat.

Di seberang telepon, suara Briella terdengar serak, setengah menangis. "Lex... aku menjatuhkan botol vitamin... pecahannya mengenai kakiku... dan aku... aku takut ini pertanda buruk..."

"Tenang, Bri. Tarik napas. Itu hanya kecerobohan kecil, bukan pertanda apa pun," bisik Lexington, matanya terpejam erat. "Dengarkan aku, jangan bergerak. Tetap di sana. Aku pulang sekarang."

Lexington mematikan ponselnya dan menatap Hadiyan yang masih berdiri di sana.

"Batalkan semua jadwal siang ini. Aku tidak peduli dengan dekan atau siapa pun," perintah Lexington sambil menyambar jasnya.

"Lalu bagaimana dengan Late Vera? Ayahnya pasti akan bertanya kenapa putrinya diusir," tanya Hadiyan.

Lexington berhenti di ambang pintu, menoleh dengan tatapan yang sangat dingin. "Katakan pada Dekan West, jika dia tidak bisa mendidik putrinya untuk menghargai privasi orang lain, maka aku tidak keberatan memindahkan seluruh riset dan pendanaanku ke universitas pesaing. Aku tidak butuh asisten 'sempurna' yang berjiwa busuk."

Lexington melangkah pergi dengan terburu-buru. Di kepalanya hanya ada satu hal: Briella. Wanita yang dituduh "tidak fungsional" oleh Late Vera itu adalah pusat gravitasinya. Kecerobohan Briella, tangisnya adalah alasan mengapa Lexington tetap merasa menjadi manusia di tengah dunia akademis yang kaku dan penuh kepalsuan seperti yang ditawarkan oleh Catalonia Vera West.

Sementara itu, di koridor kampus, Late Vera berdiri bersandar di dinding, menatap punggung Lexington yang menjauh. Ia mengambil ponselnya dan mengetik sebuah pesan untuk ayahnya.

“Ayah, Istrinya hamil. Aku benar-benar tidak rela Perempuan ceroboh itu mengandung pewaris Valerio.”

Perang ini belum berakhir. Bagi Late Vera, kehamilan Briella bukanlah penghalang, melainkan variabel baru yang harus ia hancurkan dalam persamaannya untuk mendapatkan Lexington.

Di sisi lain, Kensington yang mengawasi dari kejauhan sambil menyulut rokoknya, hanya bisa menyeringai tipis. Ia tahu, badai besar sedang menuju ke arah saudaranya, dan ia sangat ingin tahu, seberapa kuat Dewa Kampus itu melindungi dunianya yang rapuh.

1
Almeera
pengen aku getok, tapi dia ganteng
Ros 🍂: getok cinta aja kak🤭😘
total 1 replies
Binti Rusidah
bagus sekali
Ros 🍂: Ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Almeera
best, konflik orang ketiga tidak berlarut 😍
Ros 🍂: Iya kak🤭
total 1 replies
azzura faradiva
next....☺️
Ros 🍂: siap kak🫶
total 1 replies
azzura faradiva
kayaknya nanti ada sesuatu hal yang menyebabkan zane tdk jadi kembali....🤔
Ros 🍂: kak, silent 🤭😁
total 1 replies
Almeera
Latte kami cocoknya ratu lebah 🐝
Ros 🍂: ide baruuuu🤣 nanti tak jadikan Ratu lebah 🐝✌🏻🤣
total 1 replies
Almeera
enak yaa kalau hidungnya kek perosotan anak tk, kacamata anteng aja gak melorot😍
Almeera
sama sama gak gau diri artinya latte
Ros 🍂: heheh🤭
total 1 replies
azzura faradiva
biasanya tiap hari ngebut up terbaru bisa 3-4x,hari ini tumben enggak up...😔
Ros 🍂: Pengen Rasain dirindukan Reader dulu 🫶🌷🤭
total 1 replies
Almeera
Aku butuh Abang kaya gini, co di keranjang kuning ada gak ya?
Ros 🍂: bentar kak, author siapkan 😭🤭
total 1 replies
Almeera
Pasangan satu frekuensi 😍😍
Ros 🍂: Ma'aciww ya atas Jejak nya kak🫶😘
total 1 replies
Almeera
Kaaaaaa, Demi Tuhan aku kecanduan baca ini 😍😍😍
mana aku bacanya pake nada...
ditambah berada ikut kedalam alurnya
Ros 🍂: Walahhh ma'aciww kak🫶😘
total 1 replies
Almeera
nih coffe latte ginii nih, percaya diri itu perlu tapi Tahu Diri lebih penting
Ros 🍂: coffee latte 😭🤣
total 1 replies
Almeera
Astaga
Almeera
definisi mari bertemu di versi terbaik 🥲🥲🥲
Ros 🍂: Aaakkk😭
total 1 replies
Almeera
jokes orang cerdas selalu tepat 😍😍😍
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Almeera
Diborong semua sih Lex, terus aku harus cari kamu di orang yang mana 🥲🥲
Ros 🍂: semoga bisa dicari di dunia nyata ya kak🤭😘
total 1 replies
Almeera
🌹🌹🌹🌹 mawar terkirim, bentar aku meeting dulu
Ros 🍂: aaa Cemunguttt kak🫶💪🏼
total 1 replies
Almeera
yaa masa nyalahin pak RT
Ros 🍂: pak RT angkat tangan kak 😭
total 1 replies
Almeera
Kaaan kaaann kaaannn apa aku bilang dibahas teros hahahhaa
Ros 🍂: hahah Lexington said : 100 kebaikan tetap kalah dengan 1 perkataan 🤭🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!