NovelToon NovelToon
Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Geminiorum Pendekar Sayap Putih

Status: tamat
Genre:Action / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: Vi nhnựg nười Nĩóđs

Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.

Ia bernapas.

Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.

Di dunia manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: PARA PENGUASA LANGIT

Di jantung Istana Celestia, berdiri sebuah ruangan yang tak terhingga luasnya, namun terasa begitu intim bagi mereka yang memijaknya. Itu adalah Aula Cahaya—tempat di mana takdir alam semesta dirumuskan, tempat di mana hukum-hukum dasar realitas ditetapkan dan dijaga. Lantai aula ini bukan terbuat dari marmer atau emas, melainkan dari cermin cair yang memantulkan cahaya bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya, seolah-olah para penghuninya sedang berdiri tepat di tengah-tengah galaksi yang berputar.

Di sana, di bawah kubah langit yang terbuka lebar, sembilan sosok telah berkumpul.

Mereka bukanlah raja biasa yang duduk di atas tahta karena kekuasaan atau warisan darah. Mereka adalah manifestasi dari konsep-konsep tertinggi. Mereka adalah Dewan Seraph—sembilan penjaga eksistensi, yang kehadirannya saja mampu membuat waktu berhenti sejenak dan ruang bergetar hormat.

Saat mereka berdiri berbaris, sayap-sayap megah mereka terbentang penuh, menciptakan siluet-siluet agung yang membelah cahaya. Setiap pasang sayap memiliki warna, tekstur, dan aura yang berbeda, mencerminkan esensi dari kekuatan yang mereka pegang. Di hadapan mereka, segala hal yang kecil dan remeh tampak semakin tidak berarti, namun di saat yang sama, kehidupan di seluruh dunia terasa terlindungi di bawah naungan kekuatan mereka.

Altharion, yang baru saja tiba dari balkon, mengambil tempatnya di posisi tengah. Ia adalah penguasa bintang dan energi kosmik. Di sebelahnya, udara terasa berdenyut dengan ritme yang tak terlihat.

Di sisi kanannya berdiri Seraphel. Sosok ini memancarkan aura yang kuno dan tak terhingga. Di tangannya, ia menggenggam sebuah tongkat kayu yang dihiasi dengan roda-roda mekanis yang terus berputar tanpa henti, melacak detik-detik yang belum terjadi dan momen-momen yang telah lewat. Ia adalah penjaga waktu, dan matanya mampu melihat ke belakang, ke depan, dan ke segala kemungkinan yang ada di antara keduanya.

Di sebelah Seraphel ada Elyndra. Kehadirannya bagaikan matahari pagi yang pertama kali menampakkan diri setelah malam yang panjang. Aura hangat memancar dari setiap pori-pori tubuhnya, membawa aroma kehidupan dan harapan. Rambutnya berwarna keemasan yang bergerak seolah ditiup angin, meskipun di aula ini angin tak berhembus. Ia adalah cahaya kehidupan, sumber dari segala yang tumbuh, bernapas, dan merasa.

Di sisi lain, berdiri Vaelion. Berbeda dengan Elyndra yang terang, Vaelion tampak seperti terbungkus dalam bayangan yang elegan. Pakaiannya berwarna hitam pekat yang menyerap cahaya di sekitarnya, namun matanya bersinar tajam seperti dua buah lubang menuju dimensi lain. Ia adalah pengendali ruang dan kehampaan, yang mampu melipat jarak seolah melipat selembar kain, dan membuka pintu menuju tempat-tempat yang bahkan pikiran pun sulit menjangkaunya.

Tepat di depan, berdiri sosok yang paling menjulang dan kokoh: Kaelthar. Ia adalah jenderal perang, pelindung garis depan realitas. Tubuhnya diselimuti armor biru gelap yang dipahat dari bintang-bintang yang telah mati, memancarkan kekuatan yang keras dan tak tertembus. Tangannya yang kokoh menggenggam gagang tombak besar yang bersinar samar, siap untuk membelah apa pun yang berani mengganggu keseimbangan.

Di dekat Vaelion, ada Isriel. Penjaga jiwa ini memiliki penampilan yang paling halus. Sayapnya tidak terbuat dari bulu, melainkan dari kristal transparan yang membiarkan cahaya menembusnya, menciptakan pelangi-pelangi kecil di lantai aula. Tatapannya dalam, seolah mampu melihat bukan hanya ke dalam hati, melainkan ke dalam aliran abadi dari mana segala jiwa berasal dan kembali.

Duduk sedikit di belakang, dengan mata yang selalu terpejam atau menatap ke tempat yang tak terlihat, adalah Lunareth. Ia adalah peramal, sang pelihat takdir. Udara di sekitarnya terasa kabur dan samar, seolah ia sendiri bukanlah bagian dari masa kini yang pasti, melainkan sekilas bayangan dari masa depan.

Di antara terang dan gelap, berdiri Solmira. Penyeimbang ini mengenakan jubah yang terbagi dua warna—satu sisi putih bersih, sisi lain hitam legam. Wajahnya tenang, tanpa ekspresi berlebih, karena tugasnya adalah memastikan tidak ada sisi yang menang terlalu mutlak atau kalah terlalu dalam.

Dan terakhir, di posisi paling ujung, sedikit terpisah dari yang lain, berdiri Nyxarion.

Ia adalah penjaga akhir. Sosok yang paling misterius bahkan di antara para Seraph sendiri. Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terpikir olehnya, atau apa yang tersimpan di balik tatapan matanya yang dingin dan kosong. Kehadirannya membawa kesunyian yang berat, sebuah pengingat bahwa setiap awal pasti memiliki akhir.

Suasana di aula itu hening. Terlalu hening. Hening yang tidak damai, melainkan hening yang menahan napas.

Lunareth adalah yang pertama kali memecahkan kebisuan itu. Suaranya lembut, namun bergema jelas di setiap sudut ruangan, bergetar halus seperti senar gitar yang dipetik dengan hati-hati.

“Retakan itu meluas,” katanya. Nada suaranya tidak menyalahkan, namun membawa kepastian yang menakutkan. “Aku telah melihat masa depan… dan itu tidak utuh. Ada bagian-bagian yang hilang, terpotong, seolah-olah buku sejarah sedang disobek-sobek oleh tangan yang tak terlihat.”

Kaelthar mengerutkan kening. Otot-otot di lengannya menegang.

“Jelaskan,” perintahnya singkat. Tidak ada kemarahan dalam suaranya, hanya urgensi murni.

Lunareth perlahan mengangkat tangannya yang pucat. Dari telapak tangannya, memancarlah cahaya perak yang membentuk proyeksi di tengah udara. Gambar-gambar berkelebat cepat namun jelas di hadapan mereka semua.

Mereka melihat dunia-dunia yang runtuh bukan karena ledakan, melainkan karena lenyap. Mereka melihat bintang-bintang yang padam seolah dipadamkan oleh angin. Mereka melihat keteraturan yang berubah menjadi kekacauan. Dan di pusat dari semua kehancuran itu, ada sesuatu… sesuatu yang tidak memiliki bentuk pasti, sesuatu yang bergerak seperti cairan hitam yang hidup.

“Kehampaan,” bisik Lunareth, dan kata itu terasa dingin menusuk tulang. “Ia bangun. Apa yang kita kunci sejak zaman purba kini mulai menggeliat, mencari jalan keluar.”

Elyndra menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak ngeri. “Tidak mungkin… Kami telah menjaga aliran energi tetap stabil. Bagaimana bisa ia bangun?”

“Karena dindingnya mulai tipis,” jawab Nyxarion tiba-tiba.

Suaranya rendah, berat, dan datar, membuat semua orang menoleh ke arahnya. Ia masih berdiri membelakangi mereka, menatap ke arah langit melalui kubah transparan aula.

“Segala sesuatu memiliki batas ketahanan,” lanjutnya tanpa menoleh. “Bahkan hukum alam sekalipun.”

Altharion menghela napas panjang, rasa berat di dadanya kini terbagi menjadi sembilan. Musuh yang mereka hadapi bukanlah pasukan pemberontak atau makhluk asing. Musuh mereka adalah konsep kehancuran itu sendiri.

Dan pertempuran untuk menyelamatkan Elarion baru saja dimulai di dalam ruangan ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!