Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.
Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.
Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Kenapa Kita Harus Berpisah
Isakan keluar dari mulut Nowi, segala rasa yang ditahan selama ini akhirnya meledak. Vito menarik tubuh Nowi masuk ke dalam pelukannya, mendekapnya erat di dada sementara keduanya menangis bersama.
“Maaf, Vito. Aku minta maaf banget.”
“Aku juga. Tapi sekarang aku punya satu pertanyaan yang harus kamu jawab.”
“Tanya aja. Apa pun. Please.”
Nowi sangat ingin menenangkan Vito. Dia rela memberikan apa saja agar rasa sakit pria itu berkurang dan semua yang terjadi dapat diperbaiki.
“Kenapa?”
Wajah Vito terlihat jelas kecewa, rapuh, dan hancur. Dada Nowi terasa perih melihat penderitaan yang dia sebabkan sendiri.
Dia sudah tahu momen ini akan datang. Dia sadar suatu saat harus menjawab pertanyaan itu, dan paham penjelasan ini berat serta dampaknya tidak hanya untuk dirinya.
Nowi duduk lebih tegak di sofa lalu memberi jarak sedikit.
“Nggak se simpel itu, Vito. Banyak hal yang bikin aku akhirnya pergi,” katanya jujur.
“Kamu diterima di Universitas Surabaya, dan kita lagi nunggu kabar aku. Kamu udah susun banyak rencana buat kita, aku juga pengin hal sama. Tapi ada yang nggak pernah aku bilang, aku daftar juga ke sekolah kuliner di Jogjakarta. Sebesar apa pun aku ingin ke sana, aku sebenernya siap buang mimpi itu demi tetap sama kamu dan tinggal di sini.”
“Nowi—”
“Dengerin dulu ya.” Nowi langsung memotong ucapan itu. “Aku nggak bakal sanggup bahas ini dua kali, Vito. Rasanya nyiksa banget.”
Dia menarik napas dengan tangan gemetar. “Aku simpan surat diterima itu di kamar karena senang banget bisa lolos, sekaligus pingin jadi kenang-kenangan.” Nowi menunduk sebentar lalu lanjut bicara. “Bulan Juni, jauh sebelum kita lulus SMA ...”
Ucapannya terhenti sejenak. Jari-jarinya saling bertaut gugup di pangkuan. Dia menatap mata Vito dengan rasa takut luar biasa.
“Aku sempat curiga kalau aku hamil.”
Wajah Vito langsung berubah pucat. Pria itu segera mendekat, lalu menaruh kedua tangannya di paha Nowi.
“Barusan kamu bilang apa?” suaranya terdengar bergetar. “Nowi... kamu hamil? Kita berdua? Padahal kita selalu hati-hati banget lho, kamu.”
“Nggak. Nggak jadi kok.” Nowi buru-buru menggeleng. “Aku nggak hamil. Sumpah deh.”
Dia langsung lanjut bicara sebelum Vito sempat salah paham.
“Tapi mamaku nemuin alat tes kehamilan itu. Dan dia ... dia benar-benar hancur banget, Vito.” Suara Nowi mulai serak. “Waktu itu dia lagi sedih. Dia bilang hal yang paling nyakitin buat dia adalah lihat aku jalani hidup persis seperti dia.”
Nowi menarik napas panjang.
“Walaupun kita udah pacaran bertahun-tahun, banyak hal di rumah yang aku sembunyiin dari kamu.” Matanya mulai terasa panas. “Waktu kecil, ibuku orangnya ceria banget. Tapi pas aku SMA, sifat cerianya hilang perlahan. Papaku bikin dia berubah pelan-pelan sampai gak berdaya. Harusnya Papa sayang sama mama, tapi Mama malah kehilangan segalanya demi Papa. Setelah itu dia lesu terus tiap hari.”
Nowi menggigit bibir, berusaha tetap tenang.
“Mama nggak mau hal itu terjadi ke aku. Dia yakin aku terlalu buta sama kamu dan cuma cinta monyet, sampai bisa ambil keputusan besar padahal kita jelas jelas belum siap.” Nowi mengusap wajah pelan. “Dia maksa aku janji buat nggak bakal mempertaruhkan hidupku bergantung sama kamu ... atau sama laki-laki mana pun. Katanya aku harus hidup mandiri dulu sebelum menetap sama siapa-siapa.”
Nowi menggeleng pelan.
“Pikiran kalau mungkin aja aku hamil itu bikin aku takut setengah mati. Sebesar apa pun aku pingin jadi ibu nantinya, aku belum siap sama sekali.”
Suara Nowi makin pelan.
“Harusnya aku cerita ke kamu. Aku sadar itu. Tapi suara Mamaku terus ada di kepala aku.” Matanya berair. “Aku cuma nggak mau berakhir kayak dia, Vito.”
Nowi sengaja tidak menunjuk Vito sebagai penyebab semua itu. Dia lebih memilih mengakui bahwa dia yang salah karena mengambil keputusan itu.
“Belum sadar apa yang terjadi, mamaku udah urus pendaftaran aku ke UNS dan telepon sekolah kuliner itu buat aku.” Nowi menghela napas panjang. “Aku bingung banget saat itu. Dia bikin aku ragu sama semuanya, Vito.”
Dia menyeka air mata yang mulai jatuh.
“Aku ... rasanya mati rasa waktu itu.”
“Terus kamu pergi gitu aja,” kata Vito pelan. “Kamu kabur tanpa penjelasan. Seminggu sebelum berangkat, kamu kelihatan banget menjauh dari aku. Aku bingung dan nggak ngerti sama sekali alasannya.”
“Maaf banget, Vito.” Nowi buru-buru jawab. “Aku pingin banget ngomong sama kamu, tapi nggak tahu caranya. Terlalu banyak masalah numpuk. Aku takut. Aku sadar aku pengecut waktu itu.”
Dia mengusap wajah dengan tangan gemetar.
“Rencananya mau hubungi kamu kalau semuanya udah tenang, tapi aku takut sama respons kamu. Waktu terus berlalu, dan tiba-tiba empat tahun berlalu begitu aja. Aku kira kesempatan buat jelasin dan dimaafin udah terlambat.”
Tangannya bergerak sedikit di antara mereka.
“Aku bingung banget cara jelasin semua ini biar kamu ngerti.”
Vito menunduk diam beberapa detik. “Kamu tahu apa yang terjadi setelah kamu pergi, Nowi?”
Nowi tidak sanggup menatap matanya lagi. Dia hanya melihat kaki Vito yang bergerak gelisah.
“Nggak...”
“Aku hancur ... sampai harus tunda kuliah satu tahun.” Suara Vito mulai retak. “Aku ambil cuti kuliah. Hampir nggak pernah keluar kamar. Jarang banget makan. Aku sampai nggak bisa buat jalanin hidup normal.”
Dadanya naik turun dengan kencang.
“Nggak ada satu pun yang mau bilang ke mana kamu pergi atau kenapa kamu ninggalin aku.” Pria itu tertawa getir. “Orang tuaku sampai paksa aku terapi.” Vito menatap tepat ke mata Nowi. “Kamu hancurin hidup aku, Nowi.”
Vito tiba-tiba berdiri lalu berjalan mondar-mandir di depan Nowi. Dia menunjuk dadanya sendiri dengan kasar, menekan kuat seolah ingin mengeluarkan rasa sakit itu.
“Jadi pas kamu sibuk nyelamatin diri dan masa depan kamu...” Vito tertawa tanpa senyum sama sekali. “Kamu justru bikin aku hancur lebur, tau kan kamu itu egois!”
Vito berhenti bergerak. Tatapannya tajam dan menusuk.
“Terus sekarang kamu bilang alasannya pergi karena mama kamu pikir hubungan kita bakal berakhir kayak orang tua kamu?” Suaranya pecah antara marah dan sakit hati. “Bahwa cinta yang aku kasih selama tujuh tahun bakal habis gitu aja, terus kamu bakal jadi orang yang kosong seperti mamamu?”
Vito mengacak rambutnya karena kesal, lalu berbalik badan menatap kegelapan di luar ruangan. “Gitu ya pemikiran kamu, Nowi?”
Nowi bingung harus menjawab apa. Yang bisa keluar dari mulutnya hanya permintaan maaf.
“Vito ... maafin aku ya.” Suaranya pecah. “Waktu itu aku baru delapan belas tahun. Kita berdua masih anak-anak.”
Vito langsung berbalik cepat lalu menunjuk ke arah Nowi. “Jangan ngomong gitu. Jangan pernah remehin apa yang pernah kita punya. Kamu tahu banget hubungan kita beda dari yang lain.” Rahangnya mengeras. “Kamu rasain itu, Nowi. Aku juga.”
Suaranya makin bergetar. “Di setiap tatapan mata kita.”
Vito melangkah satu kali dan mendekat. “Di setiap sentuhan kecil.”
Napasnya terdengar berat. “Di setiap ciuman kita.”
Mata Vito sampai memerah menahan tangis. “Di setiap momen bersama kita.”
Dia menggeleng pelan. “Jadi jangan pernah bilang hal itu lagi ya.”
Setiap kata yang keluar penuh rasa benci pada dirinya sendiri. Nowi sampai gemetar mendengarnya. Hatinya yang sudah retak rasanya jadi hancur berkeping-keping.
Vito bertanya dalam hati, berapa kali sebuah hati bisa hancur, sebelum benar-benar mati rasa?