NovelToon NovelToon
MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

MILIARDER JALUR DEWA BALAS DENDAM SANG PEWARIS NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Selama tiga tahun menjadi menantu yang numpang hidup, Arya Permana dianggap tak lebih dari sampah. Ia dihina oleh ibu mertuanya, dipandang rendah oleh saingan bisnis istrinya, dan menjadi bahan tertawaan seisi kota Metropolitan. Arya diam dan menanggung semua penghinaan itu demi melindungi wanita yang dicintainya.
​Namun, kesabarannya memiliki batas. Ketika keluarganya didorong ke ambang kehancuran, setetes darah Arya tanpa sengaja jatuh ke atas cincin usang warisan mendiang ibunya.
​Ding! [Sistem Naga Leluhur Berhasil Diaktifkan!]
​Dalam semalam, takdirnya berbalik 180 derajat. Tabir masa lalunya terbongkar; Arya ternyata bukan anak yatim piatu miskin, melainkan pewaris tunggal dari keluarga konglomerat paling berkuasa di dunia yang sedang disembunyikan.
​Berbekal kartu hitam dengan saldo triliunan dolar, keterampilan medis tingkat dewa yang bisa menghidupkan orang mati, dan teknik kultivasi kuno pembelah langit, Arya mulai menunjukkan taring aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Pembersihan Internal di Menara Naga

​Deru halus mesin V12 dari belasan Rolls-Royce Phantom membelah jalanan malam Nusantara City layaknya parade bayangan. Di dalam mobil terdepan yang berlapis baja, Arya Permana duduk bersandar dalam diam. Kaus pudar dan celemek kusamnya terasa sangat kontras dengan interior kulit premium di sekelilingnya, namun aura yang memancar dari tubuhnya membuat udara di dalam kabin terasa berat.

​Di kursi seberang, Thomas, manajer eksekutif yang telah mengabdi pada Keluarga Permana selama empat dekade, membuka sebuah tablet keamanan tingkat militer. Wajah tuanya yang penuh wibawa tampak sangat serius.

​"Tuan Muda, sungguh sebuah kehormatan bisa melayani Anda kembali," buka Thomas, suaranya dipenuhi rasa hormat yang mendalam. "Namun, saya harus melaporkan bahwa situasi di Nusantara City saat ini tidak sepenuhnya berada di bawah kendali kita."

​Arya mengalihkan pandangannya dari jendela ke arah Thomas. Matanya setenang danau es, cerminan dari kedewasaan mental yang ditempa oleh penghinaan selama tiga tahun. "Bicaralah."

​"Tiga tahun lalu, ketika Tuan Besar menjatuhkan hukuman pengasingan untuk menguji mental Anda, seluruh aset Dragon Corp cabang Asia Tenggara diserahkan di bawah pengawasan manajer proksi bernama Hendra Salim," jelas Thomas sambil menggeser layar tablet, menampilkan profil seorang pria paruh baya berkacamata.

​"Berdasarkan audit rahasia kami minggu ini, Hendra telah mengkhianati kepercayaan Keluarga Permana. Dia diam-diam mengalihkan dana perusahaan ke rekening pribadinya, dan yang terburuk... malam ini dia berencana menandatangani kontrak rahasia untuk menjual tiga puluh persen saham Dragon Corp kepada Aliansi Empat Keluarga Besar Nusantara."

​Mata Arya menyipit. "Menjual aset milikku tanpa izin? Keberanian yang luar biasa."

​"Tuan Muda, Hendra Salim tidak bertindak sendirian," tambah Thomas dengan nada peringatan. "Dia didukung oleh Asosiasi Naga Hitam, sebuah faksi dunia bawah tanah yang memiliki praktisi bela diri kuno. Itulah sebabnya saya membawa Pasukan Bayangan malam ini. Kita tidak bisa meremehkan pengamanan Hendra."

​Arya terdiam sejenak. Berkat Fisik Petarung Tahap Awal yang baru saja ia terima dari Sistem Naga Leluhur, panca inderanya menjadi sangat tajam. Ia bahkan bisa mendengar detak jantung Thomas dan aliran darah pengawal di kursi depan. Ia tahu ranah bela diri bukanlah mitos belaka, dan dunia urban ini menyimpan lapisan rahasia yang jauh lebih kejam dari sekadar persaingan bisnis.

​"Tidak perlu pasukan. Malam ini, aku hanya butuh kau sebagai saksi," ucap Arya dingin. "Sebuah kerajaan tidak bisa dibangun di atas fondasi pengkhianatan. Mereka yang berani mencuri dari Keluarga Permana, harus membayar dengan darah."

​Tiga puluh menit kemudian, konvoi berhenti di pelataran Menara Naga, gedung pencakar langit tertinggi di Nusantara City yang memiliki seratus lantai. Gedung ini adalah simbol kekuasaan absolut di dunia bisnis.

​Saat Arya dan Thomas melangkah masuk ke lobi utama yang berlapis marmer emas, beberapa petugas keamanan berseragam hitam segera mencegat mereka. Wajah para penjaga itu tampak garang, tangan mereka bersiap di gagang tongkat kejut.

​"Maaf, Tuan Thomas. Tuan Hendra menginstruksikan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh naik ke lantai seratus malam ini. Beliau sedang mengadakan rapat penting tertutup," kata kepala keamanan dengan nada yang terdengar sopan namun menyiratkan ancaman. Ia melirik sinis ke arah pakaian kumal Arya. "Dan pemulung ini... silakan buang dia keluar."

​Plak!

​Sebelum penjaga itu sempat berkedip, Thomas telah melayangkan tamparan keras ke wajahnya. Suara tamparan itu menggema di lobi yang luas.

​"Jaga mulutmu!" bentak Thomas, auranya sebagai petinggi elit dunia meledak. "Di hadapan Tuan Muda Permana, bahkan presiden sebuah negara harus menundukkan kepalanya! Kau hanya anjing penjaga Hendra, beraninya kau menghalangi jalan?!"

​Para penjaga lain terkejut dan hendak menarik senjata mereka, namun Arya hanya menghentakkan kakinya ringan ke lantai marmer.

​Brak!

​Sebuah gelombang energi tak kasat mata menyebar dari titik pijakan Arya. Lantai marmer setebal lima sentimeter retak seperti jaring laba-laba. Tekanan intimidasi yang luar biasa menekan dada para penjaga, membuat mereka seketika jatuh berlutut, kehabisan napas dengan wajah pucat pasi.

​Ini adalah penerapan logis dari sirkulasi Qi (energi kehidupan) dasar dari Fisik Petarung. Arya tidak perlu melakukan gerakan akrobatik yang konyol; sedikit tekanan aura sudah cukup untuk menghancurkan mental manusia biasa.

​"Naik," perintah Arya singkat, melangkah melewati para penjaga yang lumpuh ketakutan menuju lift VIP pribadi.

​Di lantai seratus, ruang rapat direksi yang mewah dipenuhi oleh asap cerutu. Hendra Salim duduk di kursi utama dengan senyum penuh kemenangan. Di sekeliling meja panjang, duduk empat perwakilan dari Keluarga Besar Nusantara, serta seorang pria botak berotot kawat yang memancarkan aura membunuh yang kental—dia adalah Master Zhao, ahli bela diri tingkat menengah dari Asosiasi Naga Hitam.

​"Tuan-tuan, kontrak telah disiapkan," kata Hendra sambil menyorongkan tumpukan dokumen ke tengah meja. "Dengan ditandatanganinya perjanjian ini, Dragon Corp Nusantara resmi melepaskan cengkeramannya, dan Asosiasi Naga Hitam akan menjamin keselamatan kita dari intervensi pusat. Keuntungan kita akan berlipat ganda."

​Para perwakilan keluarga besar tertawa puas. Tepat ketika salah satu dari mereka mengangkat pena emas untuk menandatangani dokumen...

​Brak!

​Pintu kayu jati solid berukir seberat dua ratus kilogram itu ditendang hingga hancur berkeping-keping. Serpihan kayu beterbangan ke segala arah.

​Asap cerutu di ruangan itu tersapu oleh hembusan angin dingin. Di ambang pintu, berdirilah Arya Permana, dengan Thomas berdiri hormat satu langkah di belakang kanannya.

​"Rapat yang menarik," suara bariton Arya memecah keheningan yang mencekam. "Tapi sepertinya kalian lupa mengundang pemilik sah dari kursi yang kau duduki itu, Hendra."

​Hendra terlonjak dari kursinya. Wajahnya yang tadi merah karena alkohol seketika menjadi pucat pasi saat melihat Thomas. Namun, ketika matanya tertuju pada Arya yang berpakaian gembel, kebingungan menyelimuti pikirannya.

​"T-Tuan Thomas? Apa arti semua ini? Siapa gembel ini, dan beraninya kalian menerobos masuk ke rapat pribadiku?!" bentak Hendra, berusaha menutupi kepanikannya dengan amarah.

​"Gembel?" Thomas tersenyum dingin. "Hendra Salim, buka matamu lebar-lebar. Mulai malam ini, masa pengasingan telah berakhir. Berdirilah di hadapan Tuan Muda Arya Permana, pewaris tunggal Dragon Global Corp!"

​Keheningan mutlak melanda ruangan itu. Para perwakilan keluarga besar saling berpandangan dengan keringat dingin mengucur di pelipis mereka. Nama "Keluarga Permana" adalah tabu besar, raksasa global yang bisa menghancurkan ekonomi negara kecil hanya dengan satu jentikan jari.

​Namun, Hendra yang telah dikuasai keserakahan menolak untuk percaya. Ia tertawa sinis. "Tuan Muda? Omong kosong! Tuan Besar sudah lama tidak ada kabar, dan kau, Thomas, pasti mencoba membawa boneka cacat ini untuk merebut kekuasaanku! Master Zhao, bunuh mereka berdua! Aku akan bertanggung jawab penuh!"

​Pria botak bernama Master Zhao itu menyeringai kejam. Sendi-sendinya berbunyi gemeretak saat ia bangkit berdiri. "Hehe... sudah lama aku tidak mematahkan leher anjing-anjing dari ibu kota. Bocah, salahkan nasib burukmu karena masuk ke ruangan yang salah."

​Master Zhao melesat dengan kecepatan yang sulit diikuti oleh mata manusia biasa. Tinju kanannya meluncur ke arah pelipis Arya, membawa kekuatan yang cukup untuk menghancurkan blok beton. Ini bukan pertarungan jalanan; ini adalah serangan mematikan dari seorang seniman bela diri sejati.

​Namun, ekspresi Arya tidak berubah sedikit pun. Ia tidak menghindar, tidak juga berkedip. Ia hanya mengangkat satu tangannya dengan santai, seolah sedang menepis lalat.

​Pakk!

​Tinju Master Zhao yang meluncur seperti peluru meriam berhenti seketika, tertahan dengan sempurna di telapak tangan Arya. Udara di sekitar mereka berdesir akibat benturan energi.

​Mata Master Zhao terbelalak ngeri. Ia merasa tinjunya seperti menabrak gunung baja yang tak tergoyahkan. "B-Bagaimana mungkin?! Kau... kau juga seorang kultivator?!"

​"Teknik yang lemah, fondasi yang rapuh," gumam Arya dingin. "Kecepatanmu... terlalu lambat."

​Tanpa ampun, jari-jari Arya mencengkeram kepalan tangan Master Zhao dan memutarnya dengan sudut yang mustahil.

​KRAK!

​"ARGHHHHH!" Jeritan melengking Master Zhao menggema di seluruh lantai seratus saat lengan kanannya hancur total, tulangnya mencuat menembus kulit.

​Belum selesai Master Zhao berteriak, Arya melayangkan sebuah tendangan lurus tepat ke dada pria botak itu.

​Bum!

​Tubuh Master Zhao terpental sejauh sepuluh meter, menabrak dinding marmer hingga dinding itu retak, lalu jatuh ke lantai tak sadarkan diri sambil memuntahkan darah segar. Seorang ahli bela diri tingkat menengah, dikalahkan hanya dalam waktu kurang dari dua detik.

​Seluruh ruangan membeku. Hawa dingin merayap di tulang belakang Hendra dan para perwakilan keluarga besar.

​Arya berjalan perlahan mendekati meja rapat. Setiap langkah kakinya terdengar seperti detak jam kematian di telinga para pengkhianat itu. Ia menatap Hendra yang kini gemetar hebat hingga kehilangan kendali atas kandung kemihnya.

​"Penggelapan dana. Percobaan pencurian aset. Dan pemberontakan," Arya menghitung kesalahan Hendra dengan nada datar, benar-benar mengabaikan bau pesing yang mulai menguar. Ia mengambil dokumen kontrak di atas meja, lalu merobeknya menjadi serpihan kecil.

​Arya menunduk, menatap tajam ke mata Hendra. "Katakan padaku, Hendra. Hukuman apa yang pantas menurut hukum Keluarga Permana?"

​Hendra jatuh berlutut dengan suara berdebum keras. Kepalanya dibenturkan ke lantai berulang kali. "Ampun... ampun, Tuan Muda! Saya dibutakan oleh keserakahan! Tolong ampuni nyawa anjing ini!"

​Arya berbalik, berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap langsung ke panorama gemerlap Nusantara City. Ia menyatukan kedua tangannya di belakang punggung.

​"Thomas," panggil Arya.

​"Ya, Tuan Muda."

​"Cabut semua asetnya, potong kedua tangannya agar dia tidak pernah bisa lagi menandatangani dokumen pengkhianatan, dan serahkan dia ke kepolisian dengan bukti penggelapan pajak. Biarkan dia membusuk di penjara seumur hidup."

​"Sesuai perintah Anda, Tuan Muda."

​Arya menatap bayangan dirinya di kaca. Tiga tahun menjadi benalu telah mati. Malam ini, fondasi pertama dari kerajaan barunya telah ditegakkan. Namun, ia tahu ini baru permulaan. Asosiasi Naga Hitam dan kekuatan-kekuatan tersembunyi yang mencoba memangsa asetnya tidak akan tinggal diam.

​"Siapkan lelang besok malam," ucap Arya memecah keheningan malam. "Aku butuh ramuan spiritual untuk menerobos tahap selanjutnya. Mari kita lihat, seberapa dalam air di Nusantara City ini sebenarnya."

1
T28J
hadiir 👍
Aisyah Suyuti
menarik
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!