NovelToon NovelToon
Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Istri Bar-Bar Ustadz Hanan

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga & Kasih Sayang / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:351.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Mommy_Ar

“Bagaimana hafalanmu?"
“Susah! Bisakah dikurangi hafalannya!”
“Pakaianmu boleh diskon. Tapi urusan agama, jangan sampai ikut didiskon.”
Kayla Aurora adalah gadis cantik dengan dunia yang bebas, akrab dengan mabuk, klub malam, dan balap liar.
Aturan bukan temannya, apalagi nasihat agama. Hingga sebuah keputusan memaksanya masuk ke pondok pesantren.
Tempat yang terasa seperti penjara,
penuh hafalan, disiplin, dan larangan yang membuatnya tersiksa.
Di sanalah Kayla bertemu Hanan, lelaki tenang dengan kesabaran yang tak mudah habis.
Alih-alih menghakimi, Hanan memilih membimbing. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan pengertian dan doa.
Di antara pelajaran yang memberatkan dan hati yang perlahan dilunakkan,
benih cinta pun tumbuh… bersamaan dengan iman yang mulai menemukan jalannya.
Karena terkadang,
Allah mempertemukan dua insan bukan untuk menyamakan dunia, melainkan untuk saling mendekatkan kepada-Nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Alis Kayla mengerut. Tangannya refleks menoleh ke arah jam dinding di kamarnya. Dan benar saja. Jarum pendek sudah menunjuk angka satu. Siang. Dadanya terasa mengempis.

“Maaf, Eyang…” ucapnya pelan.

‘Kenapa waktu cepet banget jalannya. Perasaan baru merem,’ gumam Kayla dalam hati.

Tak langsung ada jawaban. Hanya terdengar napas berat yang tertahan, seperti seseorang yang ingin menegur, tapi memilih mengalah.

“Kapan kamu ke rumah eyang?” tanya sang eyang akhirnya.

Kayla memejamkan mata sejenak. Pertanyaan itu. Selalu itu. “Kayla belum ada waktu, Eyang. Kayla masih sibuk kuliah.”

Alasan yang sama. Berulang-ulang.

“Nduk…” suara eyangnya melembut. “Eyang kangen sama kamu. Pulang ya, Nduk. Temani eyang sebentar."

Kayla menggigit bibir. “Tapi Kayla masih kuliah, Eyang.”

Hening.

Beberapa detik terasa begitu panjang. Kayla bisa membayangkan eyangnya di rumah tua itu duduk di kursi kayu, memegang ponsel dengan tangan berkerut, menatap kosong halaman depan sambil menahan rindu.

Lalu suara lain menyela, lebih tegas namun tetap hangat.

“Kayla, eyang itu sakit karena kangen sama kamu.”

Napas Kayla tertahan.

“Om Arman?” gumamnya lirih.

“Pulang, Kay.” Suara Om Arman terdengar penuh desakan. “Sebentar saja. Nanti Om jemput di bandara.”

“Tapi Om—”

“Kamu gak mau eyangmu kenapa-kenapa, toh?” Kalimat itu menghantam tepat di dada.

Kayla menunduk.

Tangannya mengepal di atas seprai kusut. Segala pembelaan yang sudah siap di kepalanya runtuh begitu saja. Ia hanya bisa menghela napas panjang, berat, seperti menyerah.

Sejak dulu… hanya eyangnya yang benar-benar peduli. Saat Mama dan Papa sibuk saling menyalahkan, eyanglah yang selalu mengirim pesan.

Saat Kayla memilih hidup sendiri, eyanglah yang tak pernah berhenti menunggu. Tak pernah menghakimi. Tak pernah menuntut. Hanya bertanya, “Kamu sehat, Nduk?”

Dan sekarang, di saat hidup Kayla berantakan dalam gemerlap malam Jakarta, eyangnya masih memanggilnya pulang.

“Iya…” suara Kayla nyaris berbisik. “Kayla pulang.”

Di seberang sana, terdengar helaan napas lega. Kayla menutup panggilan dan memandangi ponselnya lama. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada perasaan aneh menguar di dadanya.

Takut.

Bersalah.

Dan… rindu.

Ia tak tahu bahwa kepulangan itu bukan sekadar pulang kampung. Melainkan awal dari perjalanan yang akan mengubah seluruh hidupnya.

**

Menempuh perjalanan berjam-jam melalui udara dan darat, tubuh Kayla terasa lelah. Namun begitu mobil yang ditumpanginya berhenti di depan sebuah rumah tua bergaya kolonial di sudut kota Surabaya, hatinya justru terasa sesak.

Rumah itu tak banyak berubah.

Pagar besi berwarna hijau tua masih berderit pelan saat dibuka. Pohon mangga di halaman depan masih berdiri kokoh, menaungi teras kecil tempat eyangnya biasa duduk di sore hari.

Bau khas rumah lama perpaduan kayu, tanah, dan kenangan langsung menyergap inderanya. Begitu pintu terbuka, Kayla melihat sosok yang selama ini hanya ia dengar suaranya dari balik telepon.

“Eyang!”

Tanpa peduli lelah, Kayla langsung berlari kecil dan berlutut, memeluk tubuh ringkih itu erat-erat.

Tangannya merangkul pundak eyang Narti, mencium bau minyak kayu putih yang selalu sama sejak ia kecil.

Wanita tua itu tersenyum dari kursi rodanya, keriput di wajahnya semakin terlihat saat matanya menyipit hangat.

“Kamu itu ya… kalau nggak disuruh, nggak pernah inisiatif pulang!”

Kayla menyengir, masih memeluk. “Maafin Kayla, Eyang. Namanya juga kuliah, sibuk, Eyang.”

Eyang Narti menggeleng pelan, jemarinya mengusap punggung cucunya. “Alasan terus.”

Kayla terkekeh kecil, lalu berdiri dan berdiri di belakang kursi roda eyangnya.

Tangannya memegang pegangan kursi itu, seperti dulu, saat ia masih bocah dan eyangnya masih bisa berjalan pelan-pelan.

“Gimana Papa kamu?” tanya eyang Narti tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat langkah Kayla terhenti sesaat.

“Kayla… udah lama nggak ke rumah Papa,” jawabnya jujur, tanpa berusaha mempermanis. Eyang Narti terdiam, lalu menghela napas panjang.

“Astaga… padahal kalian sama-sama di Jakarta. Tapi masa bisa nggak tahu kabar sih?”

Kayla menunduk. Tangannya kembali mendorong kursi roda itu menuju ruang tamu. Roda berderit pelan, mengisi keheningan yang canggung.

“Eyang lupa,” ucap Kayla ringan, seolah bercanda, “cucu Eyang ini anak buangan. Jadi ya… nggak bakal dipeduliin lagi.”

“Hush!” Eyang Narti menepuk tangan Kayla pelan. “Kamu ini kalau ngomong jangan sembarangan!”

Kayla tertawa kecil. “Hehehe… kan fakta, Eyang.”

Tapi tawa itu terdengar kosong. Eyang Narti menoleh, menatap cucunya lama.

Tatapan itu bukan marah, bukan kecewa melainkan penuh kepedihan. Ia mengenal Kayla terlalu baik. Tertawa adalah tamengnya. Candaan adalah caranya menutupi luka.

Padahal di balik itu, hati cucunya rapuh. Terlalu rapuh untuk usia yang seharusnya masih belajar berharap.

“Kayla…” suara eyangnya melembut. “Kamu itu bukan anak buangan. Kamu cuma anak yang orang tuanya lupa caranya mencintai dengan benar.”

Kayla terdiam.

Dadanya terasa hangat sekaligus nyeri. Ia memilih memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan tasnya.

“Di sini saja dulu, ya, Nduk,” lanjut eyang Narti. “Nggak usah mikir apa-apa. Di rumah ini kamu selalu punya tempat.”

Kayla mengangguk pelan. “Iya, Eyang.”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Kayla merasa tidak sendirian.

**

Malam turun perlahan di Surabaya. Jam dinding di ruang tengah berdetak pelan, menemani suara televisi yang dibiarkan menyala tanpa benar-benar ditonton siapa pun.

Eyang Narti sudah terlelap di kamarnya, sementara Om Arman sibuk merapikan beberapa berkas di meja makan.

Kayla duduk di sofa dengan satu kaki ditekuk. Ponselnya ia bolak-balikkan di tangan, layar menyala lalu mati lagi. Tak ada notifikasi menarik. Tak ada suara bising. Tak ada dentuman musik.

Terlalu sepi.

Dada Kayla terasa gelisah. Sudah bertahun-tahun ia hidup dalam kebisingan, klub malam, tawa palsu, mesin mobil yang meraung di lintasan balap. Kini, keheningan rumah eyangnya justru membuat pikirannya berisik.

Ia berdiri tiba-tiba.

“Om, minjem mobilnya ya.” ucap Kayla santai.

Arman yang sedang menuang air minum menoleh. “Kamu mau ke mana, Kay?”

“Keluar sebentar.” Kayla mengambil jaket tipis yang tergantung di sandaran kursi. “Om juga nggak akan ke mana-mana kan?”

“Ya nggak sih,” Arman mengernyit, “tapi udah malam. Kamu mau ke mana?”

Kayla mengenakan jaketnya, menarik resleting sampai dada. “Ke alun-alun doang. Mau cari angin.”

Arman menatapnya beberapa detik, menimbang. Ia mengenal Kayla, keras, mandiri, tapi juga menyimpan banyak luka. Menahan gadis itu hanya akan membuatnya semakin memberontak.

Karena pernah kejadian, dulu saat Kayla kecil. Di usia sepuluh tahun, Kayla ingin belajar motor. Tapi karena pada khawatir, tidak ada yang mengizinkan.

Alhasil, Kayla belajar diam diam dan berakhir ke rumah sakit.

Sifat Kayla sangat keras, penuh rasa penasaran. Melarangnya, sama saja dengan menyuruhnya.

“Ya sudah sana.” Arman akhirnya mengalah. “Tapi jangan malam-malam pulangnya.”

Kayla tersenyum kecil. “Oke, Om. Bilangin ke Eyang nanti kalau nyari Kayla.”

“Iya, gampang.”

1
Rosy
serem juga sih tapi mungkin dg cara ini Arfin bisa sadar kalau Fatimah sangat berarti untuknya
di dunia nyata mereka kalang kabut nyari Fatimah tapi mungkin di dunia gaib Fatimah sedang menikmati kebersamaannya dg Tante Laras tanpa tau waktu sudah berlalu begitu lama 😬
Nengsih Irawati
Bolak balik lihat belom up mommy,,,,😊
Yanti Gunawan
D tunggu gk muncul" thor😭😭😭😭😭
Arsyad Algifari.
mommy kapan up 🙏🙏
Farid Atallah
kok blm up sih Thor 😥
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
dan ternyata Fatimah dan Arash dibawa jin 😔🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
apa kah iya ya , keluarga Kevin keluarga jin 🤔🤔🤔
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
biar Desi, biarin anakmu mikirin mantan terus , sampai Fatimah benar² pergi dan gak bisa dimiliki Arfin lagi 😡
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
eh ini gimana kok Arash ngobrol gitu ama Bianca🤔
Bianca sama Bia sama gak sih 🤔🤔
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kalau Kevin orang baik, semoga jodoh Fatimah 🤲🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Arfin mau memiliki Arash sendiri 🤔
kasihan Fatim dijauhkan dari Arash😔
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
siapa dia ya kok tau namanya Fatimah 🤔
Susilawati
jgn terlalu overthinking Kay, nggak baik buat kesehatan kamu dan juga kehamilan kamu, pokok nya jalani aja sekarang buat diri kamu bahagia, senang2 biar kehamilan kamu baik2 aja
🍎billaacha90🍎
Kak Mommy author 📢📢📢📢 ayo update udah habis bab nya🤭🤭
🍎billaacha90🍎: Oke dech Mommy aku setia menunggu ini😁, semoga besok di kasih dobbel bonus update🤭🤭🙈🙈
total 2 replies
🍎billaacha90🍎
Wah siapa pelakunya ini kok sampai tega melakukan nya. tak mungkin mama nya Arfin kan🤔🤔
🍎billaacha90🍎
nah benar itu Abah, apalagi kalau perasaan kosong gampang di masukin
🍎billaacha90🍎
Kamu serius tidak, jangan hanya mengucapkan janji terus Arfin, kalau tidak bisa menepati
Susilawati
terserah kamu ajalah Fatima yg penting kamu bahagia 🤭
Susilawati
kayaknya bakalan ada anggota keluarga baru nih 🤭
Susilawati
ayolah Kayla, mana Kayla yg dulu yg penuh dgn percaya dirinya, percayalah sama suami kamu Kayla agar hati mu bisa tenang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!