NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

“Clay, apa yang bisa aku kerjakan?”

Nindi langsung bertanya begitu Clay mendekat ke area bar. Nada suaranya terdengar tegas, tanpa ragu, seolah ia memang sudah siap bekerja, bukan sekadar mencoba.

Clay tidak langsung menjawab.Ia tetap sibuk mengambil es batu dari ice bin, memasukkannya ke dalam gelas dengan gerakan yang terlatih dan presisi.

“Terserah kamu,” jawabnya singkat, dingin. Seolah pertanyaan itu tidak penting.

Nindi menarik napas pelan, berusaha menahan responsnya.

“Jangan ‘terserah’,” katanya kemudian. “Lebih baik kamu beri aku tugas yang jelas. Supaya tidak terjadi keributan di antara kita.”

Clay berhenti. Bukan karena terpengaruh, lebih karena kata keributan itu terdengar mengganggu di telinganya.

“Keributan?” ulangnya pelan, masih belum menoleh. “Aku tidak paham maksudmu.”

Nada suaranya santai, tapi jelas mengandung sikap meremehkan.

“Ya, keributan,” jawab Nindi tanpa mundur. “Sonya bilang kamu perfeksionis. Kamu tidak suka orang mengacaukan pekerjaanmu.”

Kini Clay menoleh. Perlahan. Tatapannya jatuh tepat ke arah Nindi.

“Jadi sebelum aku melakukan kesalahan,” lanjut Nindi, “dan kamu marah padaku, lebih baik kita buat batasan dari awal. Apa yang harus kulakukan dan apa yang harus kamu lakukan.”

Sunyi sejenak.

Clay menatapnya tanpa ekspresi. Lalu tersenyum miring. Ia melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Hingga akhirnya Nindi terdesak di antara tubuhnya dan meja bar. Clay menumpukan kedua lengannya di sisi meja, mengurung posisi Nindi tanpa benar-benar menyentuhnya. Tapi cukup dekat. Bahkan terlalu dekat.

“Jadi kamu sudah tahu aku seperti apa?”

Suara Clay merendah, nyaris seperti bisikan. Tatapannya tajam menusuk. Nindi menelan ludah.Ia bisa merasakan jarak di antara mereka yang hampir tidak ada. Nindi bisa melihat warna biru mata Clay dengan jelas. Nindi juga bisa merasakan tekanan tak kasat mata dari sikapnya. Dari jarak sedekat ini, detail wajah Clay tampak jelas, rahang tegas, hidung mancung, bulu mata panjang, dan ekspresi yang terlalu percaya diri.

Apa Nindi mulai Gugup? Ya, sedikit. Tapi ia tidak mundur.

“Iya,” jawabnya akhirnya. “Dan justru karena itu, kita harus membuat kesepakatan. Supaya kita bisa bekerja dengan fair.”

“Bagaimana kalau aku tidak mau?” tanya Clay, semakin mendekatkan wajahnya. Napasnya terasa.

Nindi menahan diri untuk tidak mundur. “Kamu pasti mau,”

Alis Clay terangkat. “Oh ya? Sejak kapan kamu yang menentukan keputusanku?”

“Karena aku juga sama,” balas Nindi cepat. “Aku juga perfeksionis.”

Kalimat itu membuat Clay sedikit terdiam.

“Aku tidak suka mesin diperlakukan sembarangan,” lanjut Nindi. “Aku tidak suka rasa minuman berubah dari standar racikanku. Aku tidak suka ada tangan lain mencampuri hasil kerjaku.”

Tatapan mereka bertemu. Kuat. Seimbang. Tidak ada yang mundur.

“Aku tidak mau mengecewakan pelanggan,” tambah Nindi, lebih pelan tapi lebih dalam.

Untuk beberapa detik, Clay hanya diam. Apa yang dikatakan Nindi, itu sama persis dengan prinsipnya. Dan itu membuatnya, tertarik.

“Kalau begitu,” gumam Clay, “Kamu tahu kalau meja ini segalanya bagi barista kan?”

“Ya.”

“Lalu kenapa kamu tetap datang ke sini?”

“Karena aku tidak perlu takut,” jawab Nindi. “Dalam satu kafe, biasanya ada lebih dari satu barista.”

Ia menatap lurus.

“Ini bukan soal siapa yang lebih berhak. Ini soal bagaimana kita bekerja.”

Clay memperhatikannya lebih dalam. Gadis ini tidak hanya berani. Dia juga tahu apa yang dia bicarakan. Tatapan Clay perlahan turun. Ke bibir Nindi. Tipis. Tidak mencolok. Namun entah kenapa, menarik perhatiannya. Untuk sesaat, ekspresi dinginnya menghilang. Digantikan sesuatu yang lebih lembut. Lebih intens. Lebih, berbahaya.

Nindi menahan napas. Ada sesuatu dalam tatapan itu. Dan ia tidak yakin itu aman.

Bugh!

Nindi mendorong dada Clay. Cukup keras untuk menciptakan jarak.

“Jangan terlalu dekat,” katanya cepat, sedikit lebih keras dari sebelumnya. Clay mundur setengah langkah. Sedikit terkejut. Lalu, tertawa kecil. Menarik.

“Jangan-jangan kamu yang takut padaku,” lanjut Nindi, mencoba mengambil alih situasi.

Clay mengangkat alis.

“Apa?”

“Kamu takut kalau pelangganmu pindah ke aku.”

Clay tertawa lebih jelas sekarang.

“Hah?”

“Iya,” Nindi menatapnya menantang. “Kamu takut, kan?”

Tawa Clay mereda. Digantikan senyum tipis.

“Aku tidak punya alasan untuk takut,” katanya santai. “Aku yakin minuman buatanku lebih enak.”

“Kalau begitu…”

Nindi melangkah sedikit maju. “Bagaimana kalau kita bertaruh?”

Clay terdiam. Menarik.

“Buktikan kalau kamu benar-benar tidak takut.”

“Apa yang aku dapat?” tanya Clay. “Aku tidak tertarik dengan taruhan kecil.”

Nindi tidak ragu.

“Kalau kamu menang, meja bar ini sepenuhnya milikmu. Aku tidak akan mengganggumu. Aku akan jadi pelayan saja.”

Sunyi. Clay menatap mata Nindi. Ada tekad di sana. Keras. Tidak main-main. Dan itu, memicu sesuatu dalam dirinya.

“Oke,” jawab Clay akhirnya. “Aku terima.”

“Kapan?”

“Sekarang,” jawab Nindi. “Sebelum kafe buka.”

Clay tersenyum tipis.

“Deal.”

Tak lama, mereka sudah berdiri di masing-masing sisi meja bar. Maron, Cris, Maria, dan Sonya berkumpul sebagai juri. Suasana berubah. Lebih hening. Lebih serius. Mesin kopi mulai berdengung. Suara grinder memecah udara, diikuti denting logam portafilter yang dikunci dengan presisi. Clay bergerak lebih dulu. Cepat. Terlatih. Tanpa ragu. Ia menimbang bubuk kopi seolah tidak perlu melihat timbangan. Tamper ditekan mantap—rata, padat, sempurna. Klik. Ekstraksi dimulai.

Di sisi lain, Nindi tidak terburu-buru. Ia menarik napas pelan, lalu mulai bekerja dengan ritmenya sendiri. Tenang. Stabil. Namun justru di situlah ketegangannya terasa.

Uap panas dari steam wand mendesis. Clay memutar pergelangan tangannya, membentuk mikrofoam dengan presisi. Matanya focus, tapi sesekali, melirik Nindi. Cukup untuk melihat perbedaan cara bekerja mereka. Nindi lebih lambat tapi rapi. Terukur.

Clay menyipitkan mata sedikit. Sekali lagi ini menarik.

Nindi bisa merasakan tatapan itu. Tanpa menoleh.

“Jangan terlalu lama.”

Suara Clay tiba-tiba terdengar di sampingnya.

Nindi sedikit menoleh. Clay sudah berdiri di sisinya. Lebih dekat dari yang ia sadari.

“Kalau over-extract, rasanya pahit.”

Nindi mengangkat alis. “Fokus saja ke punyamu.”

Clay tersenyum tipis.

Suara tetesan kopi berhenti hampir bersamaan. Sejenak, hening. Hanya suara napas dan uap panas yang tersisa. Clay menuang lebih dulu. Gerakannya cepat. Tegas. Pola terbentuk rapi tanpa ragu. Sementara Nindi, menuang lebih pelan. Lebih halus. Pola di cangkirnya muncul perlahan. Lembut. Mengalir.

Tanpa sadar, keduanya saling melirik sekilas. Tapi terasa cukup lama. Tatapan itu rasanya bukan lagi sekadar kompetisi. Ada sesuatu yang lain. Yang belum mereka akui.

Beberapa menit kemudian, semua berkumpul di area bar. Maron, Cris, Maria, dan Sonya berdiri sebagai juri. Suasana terasa berbeda. Lebih serius. Dua cangkir kopi tersaji.

Piccolo milik Clay.

Flat white milik Nindi.

Aroma kopi memenuhi ruangan. Hangat. Dalam. Menggoda. Clay berdiri di satu sisi. Nindi di sisi lain. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kata. Tapi jelas, ini bukan sekadar kopi. Para juri mulai mencicipi. Satu per satu. Hening. Hanya suara kecil sendok dan tegukan.

“Baik,” ujar Sonya akhirnya.

Semua menoleh.

“Minuman kalian sama-sama enak. Teksturnya bagus. Aromanya kuat. Rasanya seimbang.”

Nindi mulai tersenyum.

“Terutama milikmu, Nindi.”

Senyumnya melebar.

Clay mendecih pelan.

“Tapi,” lanjut Sonya, “milik Clay lebih berkarakter.”

Senyum itu langsung memudar. Kini giliran Clay yang tersenyum. Tipis.

“Jadi… pemenangnya adalah Clay.”

“Yess,” gumam Clay pelan, tapi jelas puas.

Tatapannya kembali ke Nindi. Sedikit meremehkan.

“Maaf, Nindi,” kata Sonya. “Kali ini belum berhasil.”

Nindi menarik napas. Menahan kecewa.

“Tidak apa-apa. Aku akan coba lagi.”

“Tapi minumanmu enak,” sahut Maron cepat. “Aku suka.”

“Aku juga,” tambah Cris. “Yang suka manis pasti pilih punyamu.”

Nindi tersenyum tipis. “Terima kasih.”

“Eh,” sela Clay, “aku yang menang. Kenapa tidak ada yang kasih selamat?”

“Kamu tidak butuh itu,” jawab Maron santai.

“Kalau kamu menang, tidak ada yang berubah,” tambah Maria.

“Iya,” sahut Cris. “Kamu tetap penguasa bar.”

Clay mendengus kesal. Namun, di balik itu, ia masih memperhatikan Nindi. Dan entah kenapa, perasaan ini belum selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!