NovelToon NovelToon
Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
​Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
​Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28: Lembah Pedang Patah

​Kecepatan Lin Tian menembus Hutan Rawa Beracun di bagian utara Reruntuhan Ribuan Siluman melampaui batas wajar seorang kultivator Pendirian Yayasan. Di sekelilingnya, pepohonan mati terendam dalam lumpur hitam yang terus-menerus menggelegak, melepaskan gelembung-gelembung miasma berwarna ungu pekat.

​Kultivator biasa yang melintasi area ini harus mengonsumsi Pil Penawar Racun tingkat menengah setiap satu jam dan membuang separuh cadangan Qi mereka hanya untuk mempertahankan perisai pelindung tubuh. Namun, bagi Lin Tian, rawa kematian ini tidak lebih dari sekadar kabut pagi yang menyegarkan.

​Setiap kali miasma beracun itu menyentuh kulitnya, pori-porinya secara otomatis menyerap gas mematikan tersebut. Di dalam Dantiannya, Dapur Lebur Kekacauan berputar lambat, menghancurkan struktur molekul racun dan memurnikannya menjadi tetesan Qi netral yang memperkaya danau spiritualnya. Alih-alih terkuras, stamina Lin Tian justru terus terisi penuh selama perjalanan.

​"Logika penciptaan Mutiara Kekacauan Primordial benar-benar melampaui dimensi fana," analisa Lin Tian secara rasional sambil melompat dari satu akar pohon raksasa ke akar lainnya. "Racun hanyalah energi yang struktur elemennya tidak beraturan. Dengan memaksakan hierarki Kekacauan di atasnya, segala bentuk energi mematikan hanyalah bahan bakar gratis."

​Setelah menempuh jarak sejauh dua ratus mil dalam waktu empat jam tanpa henti, pemandangan di depannya akhirnya terbuka. Miasma ungu memudar, digantikan oleh aura tajam yang membuat kulit terasa perih, seolah ribuan jarum tak kasat mata beterbangan di udara.

​Lin Tian menghentikan langkahnya di balik sebuah bongkahan batu obsidian raksasa. Pandangannya terkunci lurus ke depan.

​Sekitar lima ratus meter dari posisinya, sebuah gunung menjulang tinggi membelah langit yang kelabu. Namun, gunung itu tidak utuh. Bagian tengahnya terbelah secara vertikal dengan presisi yang mengerikan, menciptakan sebuah lembah sempit yang sangat rata di kedua sisinya. Tebing yang terbelah itu sehalus cermin giok, sebuah bukti mutlak bahwa gunung raksasa tersebut dibelah oleh satu tebasan pedang tunggal di masa lalu kuno.

​Ini adalah Lembah Pedang Patah.

​Resonansi tajam bergetar di dalam Dantian Lin Tian. Embrio Pedang Kekacauan miliknya berdenyut girang, seolah mencium aroma makanan lezat yang telah lama hilang. Di pusat lembah tersebut, samar-samar terlihat sebuah pedang logam berwarna perak yang tertancap di atas altar batu. Pedang itu patah di bagian ujungnya dan dipenuhi karat, namun niat pedang (sword intent) yang memancar darinya masih cukup kuat untuk merobek dimensi saku ini.

​"Senjata tingkat Surga kelas menengah," gumam Lin Tian, matanya menyipit memancarkan cahaya kalkulatif. "Bahkan dalam keadaan rusak, esensi materialnya cukup untuk memadatkan Embrio Pedangku ke tahap selanjutnya."

​Namun, Lin Tian tidak gegabah melangkah maju. Matanya beralih dari pedang tersebut menuju area di mulut lembah.

​Di sana, sebuah perkemahan besar telah didirikan. Puluhan kultivator muda berseragam mewah yang memancarkan aura Pendirian Yayasan tingkat menengah berjaga dengan ketat. Di tengah perkemahan, lima buah kursi berlapis bulu siluman harimau diduduki oleh lima pemuda yang memancarkan tekanan Qi paling dominan. Mereka adalah para pemimpin Aliansi Darah Emas, kelompok jenius bangsawan dari Ibukota Kekaisaran.

​Pemuda yang duduk di kursi tengah mengenakan jubah emas dengan sulaman naga bermata merah. Ia adalah Huangpu Ye, Pangeran Ketiga dari salah satu klan penguasa di Ibukota. Fluktuasi energinya berada di Pendirian Yayasan Tingkat 7 awal, sebuah pencapaian yang sangat langka bagi pemuda berusia di bawah dua puluh tahun.

​Namun, yang menarik perhatian Lin Tian bukanlah kelima pemimpin arogan tersebut, melainkan pemandangan tragis yang terjadi tepat di depan mulut lembah.

​Terdapat sekitar tiga puluh kultivator pengembara—peserta ujian yang kurang beruntung—diikat dengan Tali Pengunci Qi. Wajah mereka penuh dengan keputusasaan, memar, dan darah. Mereka berlutut di tanah berdebu, ditodong oleh tombak dan pedang dari anggota aliansi.

​Huangpu Ye, sang Pangeran Ketiga, berdiri dari kursinya. Ia menatap lembah yang memancarkan niat pedang mematikan itu sambil memutar cincin giok di jarinya.

​"Formasi Sembilan Istana Pemotong Jiwa ini benar-benar menjengkelkan," ucap Huangpu Ye dengan nada bosan. "Kekuatan formasi peninggalan master kuno ini tidak bisa dihancurkan secara paksa. Namun, setiap formasi membunuh membutuhkan energi untuk memicu serangannya. Jika kita menghabiskan energi simpannya, jalan menuju pedang Surga itu akan terbuka."

​Ia menoleh ke arah puluhan tawanannya dengan senyum yang sangat kejam. "Bawa lima ekor babi itu ke depan."

​Para penjaga aliansi segera menendang dan menyeret lima kultivator yang terikat. Tanpa mempedulikan tangisan dan permohonan ampun mereka, para penjaga melempar kelima orang itu tepat melewati garis batas mulut lembah.

​Saat tubuh para tawanan itu menyentuh tanah di dalam area lembah, batu-batu di sekitar mereka seketika menyala memancarkan cahaya perak.

​Zrep! Zrep! Zrep!

​Udara di dalam lembah terdistorsi. Ribuan bilah pedang tak kasat mata tercipta dari ketiadaan, menyapu area tersebut dengan kecepatan kilat. Suara jeritan yang menyayat hati hanya terdengar kurang dari satu detik sebelum kelima kultivator itu dicincang menjadi kabut darah dan serpihan daging. Tidak ada tulang yang tersisa utuh.

​Melihat hujan darah itu, para tawanan lainnya menangis histeris. Beberapa dari mereka mengompol karena ketakutan yang meremukkan akal sehat.

​Namun Huangpu Ye hanya tertawa pelan. "Lihat? Intensitas cahaya formasi itu meredup sepersekian persen setelah membantai mereka. Teoriku logis dan terbukti. Majukan lima orang lagi! Terus lemparkan mereka sampai formasi pedang itu kehabisan Qi!"

​Di balik batu obsidian yang berjarak lima ratus meter dari sana, mata Lin Tian sedingin es abadi. Ia tidak merasakan kemarahan heroik atas kekejaman Huangpu Ye. Di dunia kultivasi, kelemahan adalah dosa, dan mereka yang ditangkap harus siap menjadi batu pijakan bagi yang kuat. Itu adalah hukum alam.

​Namun, akal sehat dan analisis teknis Lin Tian melihat kecacatan fatal dalam tindakan Aliansi Darah Emas.

​"Metode yang sangat tidak efisien dan bodoh," Lin Tian menggelengkan kepalanya perlahan. "Formasi Sembilan Istana Pemotong Jiwa memang menghabiskan energi saat menyerang, tapi formasi kuno ini dibangun selaras dengan senjata tingkat Surga di tengahnya. Darah dan kebencian fana dari para korban itu justru mengotori resonansi suci dari pedang perak tersebut."

​Lin Tian mengalihkan pandangannya ke pedang kuno di atas altar. Benar saja, setiap kali korban dicincang dan darah mereka meresap ke tanah, seberkas karat baru muncul di pangkal pedang itu. Niat pedang yang semula murni perlahan tercemar oleh miasma kemarahan.

​Jika pembantaian ini diteruskan hingga tiga puluh orang tawanan habis, formasi mungkin akan terbuka, namun pedang Surga itu akan sepenuhnya rusak secara internal, berubah menjadi sepotong besi rongsokan beracun yang kehilangan nilai absolutnya.

​"Mereka merusak sumbr dayaku," gumam Lin Tian. Suaranya tidak lagi sekadar dingin, melainkan mengandung niat membunuh yang pekat.

​Menyelamatkan para tawanan bukanlah tujuannya. Menjaga kemurnian pedang Surga itu sebagai pakan untuk Embrio Pedang Kekacauan adalah prioritas mutlak. Untuk itu, Aliansi Darah Emas harus disingkirkan dari persamaan saat ini juga.

​Lin Tian tidak langsung menerjang ke tengah perkemahan seperti orang gila. Logika taktisnya bekerja secara sistematis. Berhadapan langsung dengan lima jenius di Tingkat 6 dan 7, ditambah puluhan anak buah mereka, akan memakan terlalu banyak energi. Taktik terbaik adalah pembunuhan senyap pinggiran (perimeter assassination) untuk meruntuhkan rantai komando mereka.

​Ia menekan fluktuasi Qi-nya hingga menyatu dengan frekuensi bayangan bebatuan. Tubuhnya berkelebat layaknya asap hitam yang tipis, menyelinap ke sayap kiri perkemahan Aliansi Darah Emas tanpa menimbulkan riak angin sedikit pun.

​Di sayap kiri, dua orang penjaga di Pendirian Yayasan Tingkat 3 sedang berdiri mengawasi sisi luar lembah, sesekali tertawa melihat eksekusi tawanan di depan.

​"Tuan Muda Huangpu benar-benar jenius. Menggunakan tikus-tikus ini menghemat ratusan jimat pemecah formasi kita," tawa penjaga pertama.

​"Tentu saja. Begitu kita mendapatkan pedang Surga itu, posisi Aliansi Darah Emas di ujian akademi ini tidak akan tergoyahkan," sahut penjaga kedua.

​Mereka bahkan tidak menyadari bahwa sebuah bayangan abu-abu telah berdiri tepat di belakang mereka. Tidak ada fluktuasi Qi, tidak ada suara napas. Hanya keheningan kematian.

​Lin Tian mengangkat kedua tangannya secara bersamaan. Ia menggunakan kekuatan fisik murni dari Tubuh Pedang Kekacauan, menargetkan bagian belakang leher kedua penjaga tersebut.

​Krak! Krak!

​Dua suara patahan tulang yang redam terdengar nyaris bersamaan. Tangan Lin Tian meremukkan tulang leher sekaligus memutus saraf tulang belakang mereka sebelum otak mereka sempat mengirimkan sinyal bahaya ke pita suara.

​Kedua penjaga itu langsung kehilangan kekuatan pada tubuh mereka. Sebelum tubuh mereka jatuh dan menimbulkan suara berdebum ke tanah, Lin Tian dengan cepat menangkap kedua mayat tersebut secara presisi, lalu membaringkannya perlahan di balik batu-batu besar yang tidak terlihat dari pusat perkemahan.

​Hanya butuh dua detik. Dua nyawa kultivator Pendirian Yayasan melayang tanpa suara. Lin Tian mengambil token hitam mereka dan menggabungkannya, menambahkan poinnya dengan tenang.

​Ia kemudian bergerak kembali layaknya hantu di siang bolong, menyusuri garis batas perkemahan menuju target berikutnya.

1
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ayooooo naikkan kekuatan bantaaaaaaaiiiiii 👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe akhir nya bisa lebih kuat ada kesempatan 😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ayoooo terus kuat
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
cerita diawal dan alur ceritanya bagus👍👍
yos helmi
💪💪💪👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍😍😍😍💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪🙏
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣3🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪
yos helmi
💪💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!