NovelToon NovelToon
PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

PUTRI MAFIA YANG TAK TERSENTUH.

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Thahara Maulina

Liora William Anderlecht, putri dari keluarga konglomerat terbesar di Italia, tumbuh dalam luka akibat pengkhianatan ibunya sendiri.
Sejak kecil, ia dipaksa menjadi kuat melindungi tiga adik laki-lakinya dan menggantikan peran seorang ibu yang telah pergi.

Dingin. Tegas. Tak tersentuh.
23 tahun berlalu, setelah kematian sang ayah, Liora mengambil alih kekuasaan keluarga. Namun dunia yang ia hadapi bukan hanya tentang bisnis…

Melainkan juga bayang-bayang masa lalu.

Karena ayahnya… adalah mantan ketua mafia.

Kini, Liora bersumpah akan melindungi keluarganya dengan segala cara.
Dan siapa pun yang berani menyentuh mereka…

Akan merasakan balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thahara Maulina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Luka Yang Tidak Pernah Sembuh.

Setahun berlalu sejak kepergian Adrian, namun bagi Liora, waktu seakan berhenti. Hari-harinya tetap ia jalani seperti biasa, tetapi hatinya masih tertinggal di masa lalu. Setiap minggu ia datang ke pemakaman, membawa buket bunga violet bunga kesukaan Adrian, lambang ketenangan yang selalu ia kagumi dari suaminya.

Di hadapan pusara itu, Liora berdiri dengan pandangan kosong, namun jelas tersimpan kerinduan yang tak pernah padam.

“Mas… bagaimana kabarmu di sana?” bisiknya pelan, suaranya nyaris hilang diterpa angin. “Aku harap kamu sudah tenang. Aku yakin… kamu sudah tidak merasakan sakit lagi.”

Ia menunduk, meletakkan bunga violet itu dengan hati-hati, seolah takut mencederai kenangan yang tersisa.

“Aku bawakan bunga favoritmu. Kamu selalu bilang bunga ini paling tenang… sama seperti dirimu.”

Keheningan menyelimuti area pemakaman. Hanya suara angin yang menjawab kesedihannya.

Liora tersenyum tipis, namun matanya berkaca-kaca.

“Mas… aku pulang dulu, ya. Suatu hari nanti… aku akan menunggumu menjemputku."

Ia terhenti, menatap nisan itu dengan sorot yang dalam.

“Aku masih belum bisa membuka hati untuk siapa pun… selain kamu.”

Setelah beberapa lama terdiam, Liora akhirnya melangkah pergi.

“Selamat tinggal, Mas…” ucapnya lirih sebelum benar-benar menjauh.

Dalam perjalanan kembali, John asisten setianya menatapnya sekilas dari kursi kemudi.

“Nyonya Liora, kita perlu langsung menuju kantor. Ada pertemuan dengan rekan bisnis,” katanya hati-hati.

“Siapa?” tanya Liora dengan nada datar.

“Robert Downey.”

Liora hanya mengangguk tanpa ekspresi.

Setibanya di kantor, seluruh karyawan langsung memberi hormat begitu ia masuk.

“Selamat datang, Nyonya Liora Wiliam Anderlecht.”

Ia berjalan dengan anggun, namun dingin. Tatapannya tajam, wajahnya tenang, seperti patung yang tidak bisa dibaca emosinya.

Di ruang meeting, ia duduk dengan elegan. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Robert Downey masuk bersama asistennya, Tom.

“Selamat datang, Pak Robert,” ucap Liora dengan senyum tipis namun tetap datar.

Sementara itu, di dalam hati Robert berkecamuk perasaan lama yang terus disimpannya sejak mereka masih menjadi mahasiswa di Amerika. Baginya, Liora tidak hanya cantik dia mempesona.

“Baiklah, Pak Robert. Mari kita mulai meeting-nya,” lanjut Liora.

Pertemuan berlangsung mulus hingga kontrak kerja sama akhirnya ditandatangani.

Siang hari tiba. Robert melihat kesempatan untuk mendekat.

“Nyonya Liora,” ujarnya hati-hati. “Apakah Anda berkenan untuk makan siang bersama saya?”

Liora menoleh singkat.

“Maaf, Pak Robert. Saya masih ada urusan penting. Semoga perjalanan Anda menyenangkan.”

Meskipun kecewa, Robert hanya tersenyum kecil. Ia tidak marah. Setidaknya ia masih bisa berada di dekatnya.

Di luar kantor, Tom menatap tuannya.

“Tuan… apakah Anda baik-baik saja setelah ditolak tadi?”

Robert tersenyum tipis.

“Aku baik-baik saja. Meski dia menolak, aku masih bisa menjadi temannya.”

Sementara itu, di kediaman keluarga Anderlecht, Liora masuk ke ruang kerjanya. Saat hendak duduk, matanya menangkap sebuah surat yang diletakkan rapi di atas meja. Tulisannya ia kenali—itu tulisan tangan Adrian.

Dengan tangan bergetar, ia membuka surat itu.

Untuk istriku tersayang, Liora Wiliam Anderlecht…

Kau adalah pujaan hati dan pelindungku.

Maafkan aku pergi terlalu cepat. Kita bahkan belum sempat merasakan malam pertama karena penyakitku.

Tapi satu yang pasti, Liora… kau akan tetap kuat.

Jika suatu hari kau bisa, bangunlah kebahagiaanmu lagi. Jika ada laki-laki yang lebih baik dariku, menikahlah lagi.

Aku tidak ingin melihatmu hidup dalam kesedihan.

Tidak ada yang membuatku bahagia selain melihatmu tersenyum seperti dulu.

Aku mencintaimu, Liora.

Selamat tinggal…

Suamimu, Adrian.

Tangan Liora melemah, surat itu hampir jatuh. Air mata mengalir pelan sebelum akhirnya pecah menjadi tangisan yang teredam.

“Mas… kenapa kamu tinggalkan aku…”

Tangisnya makin pecah.

“Kenapa aku harus kehilangan semua orang yang aku cintai? Ayah… ibu… dan sekarang kamu…”

Emosi yang ia tekan selama ini akhirnya meledak. Liora meraih apa pun yang ada di sekitarnya dan melemparkannya tanpa kendali. Suara kaca pecah memenuhi ruangan seperti simfoni kemarahan dan kesedihan.

“Aaaaaaaahhh!!”

Kepala pelayan berlari masuk.

“Nyonya! Apa yang terjadi?!”

Liora berdiri dengan napas terengah. Tangannya terluka dan berdarah, tetapi ia tampak tidak peduli.

“Aku tidak apa-apa, Bi…” jawabnya dingin.

Setelah dibantu merapikan ruangan, Liora membersihkan dirinya. Ketika ia keluar, ia sudah kembali menjadi sosoknya yang semula—tenang, anggun, dan tanpa emosi.

“Siapkan mobil. Aku pergi ke markas,” perintahnya singkat.

Di markas, suasana tegang menanti.

“Bagaimana keadaan markas?” tanya Liora.

“Semuanya aman, Nyonya… tapi ”

“Ada apa? Cepat bicara.”

“Markas kita diserang oleh kelompok Louis Vuitton!”

Belum sempat ia menjawab, suara tembakan menggema.

Dor! Dor! Dor!

Tanpa ragu, Liora bergerak cepat. Matanya berubah tajam, penuh fokus mematikan.

Ia menerobos medan pertempuran sendirian, menghantam para penyusup tanpa rasa takut.

Di tengah kekacauan, seorang pria muncul sambil bertepuk tangan.

“Luar biasa, Nyonya Liora,” ujar Louis Vuitton sambil tersenyum miring. “Kau lebih kejam dari ayahmu, Heron. Aku seperti melihat bayangannya dalam dirimu.”

Liora tidak bicara. Ia hanya mengangkat senjata.

Pertarungan pun tak terhindarkan. Peluru berdesing, serangan saling bertukar cepat. Keduanya sama kuat, namun Liora jauh lebih lincah dan mematikan.

Dalam satu gerakan cepat…

Sreeet!

Pisau kecil di tangannya menyayat leher Louis.

Mata pria itu membelalak sebelum tubuhnya tumbang, tak bernyawa.

Markas kembali dalam kendali.

Liora kemudian memerintahkan pasukannya mengambil alih seluruh wilayah milik Louis, memperluas dominasi yang sudah lama dipegang keluarganya.

Kini ia tidak hanya menjadi pewaris perusahaan raksasa peninggalan Heron Wiliam Anderlecht…

Ia juga dikenal sebagai pemimpin mafia paling ditakuti, sekaligus pengusaha terkaya di dunia.

Malamnya, Liora pulang dengan pakaian berlumur darah. Ia segera mandi, membuang pakaiannya tanpa ragu. Ia tidak pernah menyimpan jejak—baik jejak musuh maupun jejak luka.

Setelah semuanya selesai, ia berdiri di depan jendela, menatap gelapnya malam.

Dingin. Sepi.

Dan meski dunia mengenalnya sebagai wanita yang tidak pernah menangis, seorang ratu tanpa air mata…

di dalam hatinya masih ada luka yang belum sembuh.

Dan di balik ketegasan dan kekuasaannya…

masih hidup seorang istri yang merindukan cinta yang telah pergi.

1
Meri Nofrita
segampang itu memaafkan wanita yg sudah menyakitinya walau bergelar seorang ibu...
Thahara Maulina: karena anaknya kesabaran dan sifat pemaaf nya lebih besar Dari pada sang ibu kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!