NovelToon NovelToon
Petualangan Suketi

Petualangan Suketi

Status: sedang berlangsung
Genre:Antagonis Jahat / Era Kolonial / Komedi / Nyai / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:59.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Karma tidak pernah salah alamat.

Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.

Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.

Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?

Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Tidak Punya Sopan Santun

Tangannya yang besar mengangkat tutup mangkuk porselen, uap mengepul keluar membawa aroma gurih yang sedap.

"Bubur ayam," gumamnya sambil meletakkan mangkuk di nampan kayu. "Makanan yang cocok untuk orang sakit. Atau lebih tepatnya … orang yang baru mengalami hal buruk.”

Kusumawati masih diam. Otaknya berpikir cepat, menghubungkan satu titik ke titik yang lain.

‘Aku bisa berakhir di sini pasti karena aku dipindahkan tanpa sadar dari kadipaten. Ya, sekarang aku ingat, terakhir kali … aku tidur setelah ritual mandi kembang sebelum tidur.’’

‘Tapi … siapa yang melakukannya?’

Matanya menyipit.

‘Siapa lagi kalau bukan adik-adikku. Para pengkhianat itu. Awas kalian nanti. Tega sekali, kalian buat aku serendah ini. Keterlaluan.’

Tapi kemudian keraguan muncul.

‘Semalam, penjaga penginapan bilang tidak ada pengumuman orang hilang dari kadipaten. Tidak ada pencarian.’

‘Kalau aku hilang, seharusnya putraku langsung mencari. Seharusnya seluruh kadipaten gempar. Seharusnya masuk koran. Seharusnya ….’

Ada sesuatu yang menekan dadanya. Perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Seperti ... sakit?

‘Apa mungkin putraku memang tidak mencariku?’

Pikiran itu muncul seperti belati yang menusuk dari belakang.

‘Apa dia sengaja membiarkanku hilang? Karena selama ini aku terlalu menekannya? Karena aku mengusir istrinya yang anak abdi dalem itu? Karena dia akhirnya tahu semua yang kulakukan pada perempuan itu?’

Tangan Kusumawati mencengkeram selimut lebih erat.

‘Tidak. Tidak mungkin. Dia putraku. Darah dagingku. Dia tidak mungkin ….’

Tapi bayangan wajah Soedarsono muncul di benaknya. Wajah yang semakin dingin setiap kali menatapnya. Wajah yang tidak lagi menunjukkan kehangatan seorang putra kepada ibunya.

Kusumawati menelan ludah yang terasa pahit.

‘Tapi apa pun alasannya, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku harus kembali ke tempatku yang seharusnya dan membalas saudara-saudara yang tidak tahu diuntung itu.’

"Nah."

Suara Jan Coen memecah lamunan. Pria raksasa itu sudah berdiri di samping tempat tidur, memegang nampan dengan mangkuk bubur yang masih mengepul dan secangkir teh hangat.

Dia meletakkan nampan di nakas.

"Makan dulu. Kau pasti lapar."

Aroma bubur ayam yang biasanya sederhana bagi hidung ningratnya, ... kali ini terasa sangat menggugah.

Perih terasa di perut. Dia tidak ingat kapan terakhir kali makan. Kemarin? Atau sebelumnya?

Kusumawati menatap Jan Coen, menilainya.

‘Pria ini tidak akan percaya aku Raden Ayu. Sama seperti penjaga penginapan semalam. Apalagi dia sudah membeliku seharga 550 gulden, tidak mungkin membiarkanku pergi begitu saja.’

Dia melirik ke arah pintu, lalu ke jendela dengan kisi-kisi yang terlalu rapat.

‘Aku harus pergi. Tapi tidak dengan cara yang menimbulkan keributan seperti semalam. Aku hampir mati karena kurang perhitungan.’

Matanya turun ke tubuhnya yang hanya berbalut selimut tipis.

‘Dan aku tidak punya pakaian. Memalukan sekali kembali ke kadipaten dalam keadaan seperti ini. Seperti ... pelacur. Bahkan lebih buruk. Pelacur-pelacur itu masih punya pakaian.’

Rahangnya mengeras.

‘Tidak. Aku harus berpikir lebih cerdas. Bersabar. Mencari kesempatan yang tepat. Jangan sampai yang semalam terulang, apalagi yang lebih buruk. Aku punya banyak musuh di luar sana.’

Tatapannya beralih pada pria di hadapannya. ‘Kalau tertangkap mereka, tentu akan lebih buruk daripada singa raksasa ini.’

"Kenapa kau terus menatapku seperti itu, Sayang?"

Suara Jan Coen memecah lamunan. Mata birunya membulat, menatap gemas pada Kusumawati.

"Kau tidak takut kepadaku sama sekali. Kau perempuan pribumi pertama yang berani menatap mataku langsung. Yang lain biasanya menunduk, gemetar, tidak berani mengangkat wajah."

Kusumawati tidak menjawab. Otaknya sibuk menghitung langkah.

‘Pria ini militer. Tinggi jabatan. Bukan tentara rendahan. Punya uang. Punya kuasa di wilayahnya. Kalau aku bisa memanfaatkannya ….’

Dia menarik napas dalam-dalam. Menekan ego yang berteriak di dalam dadanya.

"Tuan ...." Kata santun itu keluar dengan susah payah, nadanya sedikit memohon. "Bisakah aku ... mendapat pakaian?"

Jan Coen mengangkat alis. "Pakaian? Untuk apa?"

"Untuk ... menutupi tubuh." Kusumawati mengeratkan selimut di dadanya. "Aku tidak bisa terus seperti ini. Ini … tidak sopan."

"Tidak sopan?" Jan Coen terkekeh. "Aku sudah melihatmu telanjang. Untuk apa lagi sopan santun. Kau sempurna seperti itu. Dan aku suka."

Kusumawati membeku. Tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Belum pernah dia seumur hidup dihadapkan dengan pria yang tak punya sopan santun sama sekali. Bahkan dengan mendiang suaminya, dia tidak pernah seterbuka ini.

“Tapi Tuan, rasanya tidak nyaman, selimut itu terlalu … lebar. Aku kemarin jatuh tersandung.”

Jan Coen mentap memar di dahi Kusumawati, lalu menghela napas, tampak sebal seperti anak kecil yang mainannya akan diambil.

"Lipat saja jadi dua agar kau tak jatuh. Pakaian perempuan pribumi merepotkan," gerutunya. "Dililit panjang sekali. Masih lagi dikencangkan dengan kain kendit yang lebih mengherankan lagi panjangnya. Berlapis-lapis. Butuh waktu lama untuk membuka. Kalau aku sedang ingin bercinta, aku harus membuka semua itu dulu. Tidak praktis."

Wajah Kusumawati memerah. Campuran malu dan murka. Biasanya ia tak pernah kekurangan pakaian dan kini, pakaian dalam saja tidak ada.

"Lebih baik seperti ini," lanjut Jan Coen dengan nada santai, menatap Kusumawati dengan tatapan yang mulai berkabut. "Hanya selimut. Gampang dibuka. Kapan pun aku mau, tinggal tarik."

Jan Coen terkekeh melihat wajah Kusumawati yang merah padam, baginya itu semakin menggemaskan. Seperti singa betina yang sedang tersinggung.

"Pakaianmu yang kemarin juga sudah kubuang," tambahnya sambil mengedikkan bahu. "Robek semua. Tidak bisa dipakai."

"Kau buang?!"

Kusumawati nyaris memekik mendengar nasib harta satu-satunya yang dibawa dari kadipaten. Kain kemben dan jarik itu mahal dan halus, bukan kain murahan. Martabatnya masih sedikit terjaga dengan pakaian itu.

"Maaf, aku tidak sabar membukanya waktu itu." Dia menyeringai tanpa malu. "Terlalu banyak lilitan. Aku tarik saja sampai robek. Lebih cepat."

Kusumawati merasakan darah naik ke ubun-ubun. Cuping hidung kembang kempis. Harga dirinya benar-benar di titik terendah.

‘Tenang. Tenang. Jangan terpancing. Kau sudah menghadapi intrik politik kadipaten selama puluhan tahun. Pria ini hanya singa yang berpikir dengan bagian bawah tubuhnya. Akan sangat mudah dikendalikan.’

"Kalau begitu," ia mencoba lagi, suaranya dipaksa tetap datar, "belikan pakaian baru. Aku bosan di kamar, aku mau cari angin segar."

"Untuk apa? Nanti juga kurobek lagi."

"Tuan—"

"Jan." Dia memotong. "Panggil aku Jan. Atau Sayang. Terserah. Nanti saja kubelikan pakaian kalau kita sudah mau berangkat ke hutan. Aku menunda keberangkatan, menunggumu pulih."

Kusumawati menggigit lidah, menahan umpatan yang hampir keluar. ‘Jan coek, tenan!’

"Tapi di rumah nanti, kau tidak perlu berpakaian." Jan Coen menambahkan dengan senyum miring. "Aku akan membelikan sarung batik saja, itu lebih mudah. Di hutan tidak ada orang lain. Hanya aku dan kau. Kau tidak perlu malu.”

Dia meraih mangkuk bubur, menyodorkan ke arah Kusumawati. “Sekarang, makanlah, Sayang. Biar kau punya tenaga. Aku sudah menginginkanmu lagi. Ayo, kusuapi."

Kusumawati mendelik melihat pria itu tanpa malu sedikit pun menyentuh bagian depan celana safari kremnya yang menggembung. Mendiang suaminya bahkan tak pernah seumur hidup demikian. Sudah puluhan tahun dia tidak bercinta dan sekarang …

1
Ricis
Duuuhhh... digantung pas lagi penting²nya
Astuti Puspitasari
Kok ngebut ndoro? seneng sih, tapi sedih juga apakah akan segera berakhir /Frown/
Haniza Putri
lanjut pinisirin bingitttttt tauuuuuu
ian
keti juga ngebut apakah sudah mau berakhir ndoro??
Ani_Sudrajat
Lanjut thor..
Anonim
Ndoro
Astuti Puspitasari
Arjo lebih muda dan ga ada yang nyetir keputusannya, ga ada yang korup juga di belakangnya. Ga kaya bupati lama yang hanya wayang, ga bisa menentukan kebijakannya sendiri, bahkan hidupnya pun ditentukan ibunya /Grievance/
Muhammad Arifin
keti gak tau...klw anak ai rou,jatuh cinta sama putri residen.jd dech PDKT ma bapaknya 😁😁😁
Ricis
subjektif ya keti, biar anak musuh jg klo bagus ya bilang bagus.
jgn khawatir, bupati baru itu ga diragukan lgi kemampuannya. dijamin ga bakal menyesal telah menggantikan putramu 😁
ʟᴀɴɢɪᴛ ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©§͜¢•🦢🍒
Semakin kesini semakin seru ndoro
RJN
Keti mengira kalo anaknyaa benar2 membencinya... 🥺🥺
gak sabar saat mereka dipertemukan lagi dAlam keadaan Keti sedang hamil... 🤭
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
wehhhh kan meski putra dr org lain tp lisht haslinya
knp dlu kau singkirkan hadeh kejam kan kau
tp skrg apa coba
Ario Umbaran
Padahal si bupati putra ai rou itu lg patah hati cintanya ditolak anak residen..

Heu heu kangen update arjo lg ndoro..
Zia Zee
Ndorooo.. aku padamu 😭😭😭
maturnuwun uda update🙏
Haniza Putri
jadi kngen arjo ama Agnes
Elsker
kandang macan jadi rumah yang nyaman yah nyai Keti
Elsker
arjo mmg lebih cekatan..apalagi udah ada something ama residennya 🤣🤣🤣
Kustri
jan coe betul
keti memuji anak tiri'a🤭🤭🤭jd malu

arjo blm up lg... kangen ulah'a yg bikin senyum"😊
Fetri Diani
akhir nya gusti ayu menemukan cinta sejati... selamat ya ndoro... semoga samawa.. bahagia selama lama nyaa.... 💃💃.. amin🙏😄
Astuti Puspitasari
Semangat beberesnya keti 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!