Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 PERMAINAN
Setelah mengatakan itu Salsa melepaskan pelukannya.
Raka hanya terkekeh dalam hati melihat kelakuan gadis itu yang selalu membuatnya tersenyum bahagia.
Berbeda jika dengan Liora, meski mereka tinggal satu atap. Raka sama sekali belum pernah menyentuhnya. Liora selalu menolak dengan alasan mereka belum menikah dan ia tahu tunangannya sangat menjunjung tinggi prinsip hidupnya.
[ boleh menyentuhku asalkan kita sudah menikah ]
Kalimat itu yang selalu Raka dengar jika ia meminta hal intim padanya. Walaupun hanya sebuah ciuman, ia tetap akan menolaknya.
Salsa yang sudah tidak ingin berlama-lama lagi, akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana.
''Li, aku pamit pulang dulu, ya.''
''Kenapa buru-buru? Padahal aku masih ingin menghabiskan waktu denganmu, Sa."
"Next time, aku pasti akan rajin berkunjung ke apartemenmu. Untuk menghabiskan waktu bersamamu.''
Liora hanya mengangguk pelan.
Setelah itu, Salsa melangkah pergi meninggalkan apartemen itu.
Kini hanya Liora dan Raka di kamar itu, suasana seketika hening tidak ada yang memulai percakapan.
Hingga suara Liora memecah keheningan di antara mereka.
"Bagaimana dengan kondisi kamu?" tanyanya dengan nada cemas.
"Aku sudah baikkan, Sayang. Ternyata sahabatmu sangat baik, ya."
Ia memuji Salsa secara langsung di hadapan tunangannya sendiri, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Dia memang sangat baik." Liora terdiam sejenak. Ia menatap kedua mata Raka yang menyimpan ketertarikan pada sahabatnya. "Dia sahabatku sejak kecil. Tidak mungkin dia mengkhianatiku, kan?" ujarnya dengan penekanan di akhir kalimat.
Seketika, tubuh Raka menjadi kaku saat mendengar kata pengkhianatan yang keluar dari mulut sang tunangan.
Ia berdehem pelan, mencoba menghilangkan rasa gugup itu. "I-iya, tentu saja. Lagian mana mungkin Dia tega melakukan itu, apalagi sama kamu, Sayang."
Raka menjawab dengan tawa hambar yang dipaksakan.
Liora hanya diam membisu tanpa ingin membalas ucapan itu.
Di tengah lamunannya. Tiba-tiba Raka menariknya masuk ke dalam pelukannya. Ia ingin mengusir kecurigaan yang sempat terbesit dalam pikirannya, tapi kalimat pujian yang laki-laki itu lontarkan untuk sahabatnya tidak bisa ia abaikan.
Raka yang melihat keraguan dari wajah Liora berusaha meyakinkan gadis itu, pelukannya seketika mengerat.
"Kamu jangan berpikir yang macam-macam, Sayang. Aku hanya mencintaimu." bisiknya dengan suara rendah tepat di samping telinga gadis itu.
Liora membiarkan tubuhnya dipeluk. Ia mencium aroma parfum dipakaian tunangannya, yang sangat ia kenal milik sahabatnya sendiri. Tanda bahwa laki-laki itu memang berbohong.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di tempat lain, Salsa baru saja sampai di kediamannya dan Kevandra. Ia segera menuju kamar untuk membersihkan diri agar tidak tercium oleh suaminya sisa-sisa percintaannya dengan Raka.
"Untung saja Dia belum pulang." gumamnya, menghembuskan napas lega.
Ia langsung menuju kamar mandi, air dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya membuatnya rileks. Saat memejamkan mata seketika ingatannya terbersit tentang kejadian di mana ia dan Raka hampir saja ketahuan.
"Sedikit saja aku salah bicara, Liora pasti akan mengetahui hubunganku dengan Raka." gumamnya pelan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di tempat lain, saat ini Kevandra sedang dalam perjalanan menuju kediamannya.
"Rio, pastikan rapat besok pagi harus siap." perintahnya dingin dan tegas.
"Baik, Tuan. Semuanya sudah saya persiapkan." jawab Rio, asisten pribadi Kevandra sekaligus kaki tangan kepercayaannya.
Kini mobil yang dikendarai sang asisten itu melaju membelah jalanan hiruk-pikuk kota, selama perjalanan hanya keheningan yang menyelimuti. Kevandra menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.
Saat matanya terpejam, pikirannya mulai berkelana memikirkan nasib pernikahannya.
Meski pernikahan ini hanya sebuah perjodohan, ia mencoba menerimanya.
Tidak dengan gadis itu. Dia selalu menjauh darinya meski ia bersikap baik.
"Kenapa Dia masih belum bisa menerima pernikahan ini? Apa yang kurang dariku?"
Lima belas menit berlalu, setibanya di rumah. Ia melihat istrinya sudah rapi dengan gaun di atas lutut.
Tanpa menoleh, Kevandra melangkah melewati Salsa begitu saja, lagian percuma ia mencoba ramah jika istrinya tidak menginginkan pernikahan ini.
Kening Salsa berkerut dalam, saat suaminya berlalu tanpa menyapanya seperti biasa. "Ada apa dengannya?" bisiknya pada dirinya sendiri, tidak ingin ambil pusing Salsa memilih mengabaikan laki-laki itu, pikirannya kini hanya fokus pada laki-laki yang selalu membuatnya berada di puncak kenikmatan saat mereka bersama.
"Lebih baik aku menghubungi Raka."
Tanpa membuang waktu, Ia meraih ponselnya dan langsung mengetik sebuah pesan.
[ Raka, aku merindukanmu. ]
Senyum manis terpancar dari bibirnya saat pesan itu sudah terkirim. Ia merebahkan tubuhnya di atas sofa, memeluk ponselnya sembari membayangkan tunangan sahabatnya yang lebih tepatnya, kekasih gelapnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain, tiba-tiba bunyi pesan masuk mengusik pasangan yang sedang berpelukan.
"Siapa yang menghubungimu?" tanya Liora tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Raka.
Raka membeku sesaat ketika ia melihat layar ponsel itu, tangannya bergetar saat melepaskan pelukannya.
Semua gerak-gerik itu tidak lepas dari pengamatan Liora.
"Re-kan... kerjaku." kilahnya, suaranya sedikit terbata-bata. "Kamu kan tahu hari ini aku sedang sakit, pasti mereka ingin menanyakan soal pekerjaan."
Raka mencoba mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terlihat mencurigakan. Namun, Liora tetap menangkap gelagat yang sangat mencurigakan itu. Ia tersenyum tipis nyaris tidak terlihat.
"Aku kira, dari seseorang yang mencoba masuk ke dalam hidupmu." cibirnya dengan nada lembut, tangannya terangkat merapikan kerah baju Raka. "Selama tiga hari aku tidak ada di samping kamu."
"Kenapa Dia menghubungiku di saat bersama Liora."
"Tentu bukan, Sayang. Ini hanya rekan kerjaku. Sebaiknya kamu istirahat, kamu kan baru saja sampai dari luar kota." Raka terdiam sejenak, matanya bergerak gelisah mencoba mencari alasan agar Liora percaya. "Aku khawatir dengan keadaanmu. Jangan sampai kamu kelelahan karena mencemaskanku hingga melupakan kesehatanmu."
"Baiklah kalau begitu, aku akan istirahat. Kamu juga, jangan sampai hal buruk terjadi padamu. Aku takut kamu tidak akan bisa pulang dengan selamat." jawab Liora dengan nada rendah yang sulit diartikan.
Ia bergegas melangkah pergi menuju kamarnya, meninggalkan Raka yang diam mematung.
"Apa yang dia katakan barusan?" gumam Raka. Tersirat rasa takut jika perselingkuhannya diketahui Liora.
Saat Liora berada di dalam kamar, air mata mulai menetes tanpa bisa ia cegah.
"Brengsek! Kalian pikir aku tidak mengetahuinya? Lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk kalian berdua." desisnya di tengah isak tangisnya. Ia mengusap air matanya dengan kasar, tangannya mengepel erat.
"Air mata ini terlalu berharga untuk pengkhianatan kalian. Jangan Kalian pikir aku wanita bodoh yang bisa kalian tipu dengan mudah. Aku tidak sebodoh yang kalian lihat."
Ia menatap tajam layar ponsel yang menyala, tangannya meremas ponsel itu hingga kukunya memutih, mencoba menyalurkan kekecewaannya.
Langkah kakinya terasa berat saat ia menuju tempat tidur. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya sejenak, sebelum menyusun rencana tantang langkah apa yang harus ia ambil.
syukur kalau Liora yang pergi duluan. 🤭