Ada cinta yang tumbuh… bukan untuk dimiliki sepenuhnya, tapi untuk bertahan di hati yang sudah retak.
~ Zahra ~
Zahra menikahi Adnan, seorang duda yang kehilangan istrinya karena maut lebih dulu memanggil. Ia tahu, sejak awal, bahwa ia bukan cinta pertama. Ia hanya perempuan yang datang setelah sebuah kisah agung berakhir. Namun Zahra tetap memilih bertahan, menanam kasih di tanah hati yang sebagian masih ditumbuhi bayang-bayang masa lalu.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan yang bukan tentang dirinya dan Adnan.
Lalu sampai kapan sebuah hati sanggup bersabar?
Sampai kapan cinta bisa hidup tanpa benar-benar dimiliki?
Di antara kesetiaan, keikhlasan, dan luka yang tak pernah benar-benar sembuh… Zahra harus memilih: tetap berusaha mencintai, atau pergi menyelamatkan dirinya sendiri.
Sebab terkadang…
yang paling menyakitkan bukan tidak dicintai,
melainkan dicintai setengah hati oleh seseorang yang masih hidup di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jodoh seperti apa?
Beberapa jam kemudian, Zahra duduk memeluk tas kecilnya. Matanya tak lepas dari ruangan itu.
Beberapa tenaga medis keluar masuk. Seragam hijau dan biru muda berlalu cepat. Suara langkah kaki tergesa, bunyi roda troli, serta suara mesin dari balik pintu tertutup menciptakan irama menegangkan yang tak putus-putus.
Tak hanya sekali terdengar suara tangis dari sudut lorong. Seorang keluarga pasien lain sedang memeluk satu sama lain, beriringan dengan isak yang akhirnya pecah, sebab kerabat mereka yang berada di dalam telah mengakhiri perjuangannya di dunia.
Zahra menelan napas yang sangat menghimpit. Semua pemandangan selama disana cukup membuat dadanya ikut sesak.
Ya Allah… sehatkan Abah… jangan dulu Kau ambil Beliau… bisiknya dalam hati, sebab melihat situasi itu tentunya membuat hati semakin rapuh. Dimana kekhawatiran semakin meninggi.
A’ Musa berdiri bersedekap di dekat pintu. A’ Akbar duduk sembari menelfon istrinya di sebrang. Daud sesekali berdiri, berjalan dua langkah mengintip-ngintip ruangan steril tersebut, lalu duduk lagi. Gelisah yang tak bisa disembunyikan. Sementara Hanifa duduk dengan kepala menyandar ke dinding.
Meskipun sama-sama sedang di rundung ke khawatiran, aura kelelahan di wajah mereka tetap saja nampak. Membuat Umi berkali-kali mempersilahkan beberapa anaknya untuk pulang dan datang secara bergantian. Agar mereka tak sama-sama kelelahan. meminta. Terutama dua kakak laki-laki Zahra yang telah berkeluarga. Tapi tak satu pun bergeser. Mereka ingin terus di sini, sampai kondisi Abah mereka benar-benar stabil dan sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.
Antara terharu dan bangga ketika melihat putra-putri mereka yang tak selangkah pun pergi dari rumah sakit ini demi Ayah mereka tercinta. Umi hanya mengangguk.
Di tengah keheningan yang terbungkus ketegangan, adzan Ashar terdengar dari speaker masjid rumah sakit. Suaranya menggema lembut, memanggil hati-hati yang lelah untuk kembali bersandar pada Tuhan.
A’ Musa berdiri lebih dulu, mengajak dua adik laki-lakinya untuk menjalankan ibadah 4 rakaat.
Mereka pun mengikuti langkah anak pertama dalam keluarga itu menuju masjid.
Setelah mereka kembali, barulah Zahra, Hanifah, dan Ummi melangkah perlahan. Kaki Zahra terasa berat, namun ia memaksakan diri. Ia tahu, doa adalah satu-satunya sandaran yang tak boleh dilepas. Empat rakaat Ashar dijalani dengan khusyuk uang di mana setelah itu, ketiganya larut dalam doa. Air mata menitik tanpa suara, jatuh di sajadah yang dingin. Tak ada isak, hanya dada yang sesak oleh harap dan takut yang bercampur jadi satu.
Ya Allah, jika Engkau masih memberi kami waktu… panjangkanlah umur Abah. Jika ini ujian, kuatkan kami menjalaninya.
Zahra memejamkan mata, mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak. seiring doa yang naik, bulir-bulir bening berjatuhan. Meskipun semua sudah di tetapkan. Namun tak ada salahnya ketika hati masih menginginkan waktu bersama lebih lama.
Setelah selesai wanita berparas cantik itu melepaskan mukenanya, serta melipat bagian atasan lebih dulu. Di saat yang bersamaan, Umi menyentuh tangannya.
“Teh,” panggil Umi pelan.
Zahra menoleh. Matanya bertemu dengan mata Umi yang teduh.
"Hani duluan, ya Umi, Teh. Mau ke cafetaria juga. Mau cari jajan," ujar Hanifah yang tau ada yang ingin di bicarakan antara ibunya dan kakaknya.
"Ya, Nak." Umi mengangguk, begitu juga Zahra dengan bibir melengkungkan senyum yang tipis. Setelah Hanifah menjauh, Umi kembali melanjutkan kata-katanya.
“Abah sudah bicarakan semuanya sama kamu apa yang Beliau inginkan?” tanya Umi.
Ia mengangguk pelan. “Iya, Mi," jawabnya kemudian.
Genggaman Umi menguat. “Maaf ya, Teh. Umi tau. Bukan ranah kami sebagai orang tua untuk ikut campur dalam pilihan hidupmu. Tapi kalau boleh Umi meminta. Tolong pertimbangkan keinginan Abah yang sejatinya baik untukmu, Teh."
Zahra terdiam karena kebimbangannya. Antara bakti, namun ia belum mampu untuk membuka hati. Ya, ia sangat paham ini amat keterlaluan. Menyukai laki-laki yang bukan jodohnya sampai membuat hatinya mati rasa hingga saat ini. Seakan ia tengah menjerat lehernya sendiri dengan seutas tali.
"Maaf, ya, Teh. Abah sakit itu memang bukan karena Teteh. Tapi, jujur saja selama ini isi kepala Abah tuh penuh sama kamu. Abah selalu bilang, kapan Zahra menikah? kalau malah jodohnya Hanifah duluan yang datang bagaimana? Kasian Teteh kalau harus di lompati. Abah benar-benar tidak mau putri tertuanya dilangkahi."
Zahra menunduk, ia tak berani mengeluarkan sepatah katapun sampai Umi selesai bicara. sementara isi hatinya merasa pedih karena Abah seperhatian itu padanya.
Umi menghela nafas berat. "Sebenarnya, selama ini ada yang sedang ingin menikahi Hanifah. Dan Hanifah juga menyukainya. Tapi Abah menolak, karena alasan itu tadi, Teh."
"Sebenarnya, Zahra nggak papa Umi. Kalau Hanifah, mau melangkahi Zahra untuk menikah lebih dulu."
"Enggak bisa, Sayang." Umi menggenggam tangan Zahra, kini dengan kedua tanganya. Ucapnya berusaha ia perlembut lagi demi menyentuh Ceruk hati Zahra yang keras. "Umi memang nggak tau orang seperti apa yang membuatmu menutup hati sampai seperti ini. Umi hanya ingin kamu membuka mata, Allah tidak hanya menciptakan satu ihkwan di dunia ini. Kamu menginginkannya namun takdirnya menolak itu. Kamu tidak bisa menentang keputusan Allah yang telah mengatur jodohnya dan juga jodoh mu. Kamu harus menikah Zahra. Jangan terus menolak lamaran laki-laki. Karena semakin lama, pilihannya akan semakin sempit."
Zahra mendengarkan tanpa menyela lagi. Kata-kata itu mulai masuk satu per satu, menumpuk di hatinya. Kemudian Ummi menarik napas dalam-dalam, seolah menguatkan diri.
“Abah sudah lama ingin mengenalkan seseorang. Tapi Abah juga pesimis karena sudah tau kamu pasti akan menolaknya,” ucapnya pelan.
"Mi?"
“Namanya Adnan," potong Umi.
Zahra mengangkat wajahnya perlahan.
“Jujur saja Dia seorang duda, Teh. Tapi masih muda, dan belum punya anak. Istrinya dulu meninggal karena kanker. Pernikahan mereka… singkat sekali hanya sekitar dua bulan, sekitar delapan tahun yang lalu."
Zahra semakin bimbang. Duda. Ditinggal mati. Ada getar kecil di dadanya. Bukan takut, melainkan ketidaksiapan yang sulit dijelaskan. Namun cerita tentang kesetiaan lelaki itu menyisakan rasa lain. Sebuah keheranan yang pelan-pelan berubah menjadi penasaran.
“Maaf Umi, apakah Perjodohan ini atas persetujuannya juga? Bukan paksaan?” tanya Zahra hati-hati.
Umi mengangguk pelan, mengusap lengan Zahra. “Dia sudah bersedia menikah dengan siapa pun yang mau menerima hidupnya. Karena dia juga ingin melanjutkan hidup dengan normal."
Zahra tak bertanya lagi. Di dalam hatinya, keraguan beradu dengan rasa bersalah. Namun ia segera menggeleng, menepis pikiran itu. Selesai bicara, Mereka pun kembali menuju lorong ICU.
Saat hampir sampai, seorang pria berpapasan dengan mereka. Kemeja biru langit membalut tubuh tinggi dan tegap. Celana bahan rapi, sepatu mengilap. Aroma parfum mahal tertinggal sesaat di udara. Wajahnya tenang, sorot matanya dalam. Ia menunduk sopan, lalu berlalu, berbelok ke lorong lain. Umi tiba-tiba berhenti.
Zahra menoleh. “Kenapa, Mi?”
Umi menatap arah pria itu pergi, lalu tersenyum tipis. Ia menggeleng pelan, seolah menepis sesuatu yang tak perlu diucapkan.
“Tidak apa-apa,” katanya singkat, lalu mengajak Zahra melanjutkan langkah. Zahra menuruti, meski rasa heran menyelinap di hatinya.
🍂
🍂
🍂
Pria berkemeja biru itu berhenti di dekat pintu masuk. Ponselnya bergetar. Ia mengangkatnya dan menempelkannya ke telinga.
“Assalamu’alaikum…”
Ia mendengarkan beberapa detik.
“Iya, Mah… saya sudah menjenguk Pak Huda.”
Diam lagi. Hanya napasnya yang terdengar.
“Belum… saya belum bertemu putrinya.”
Ada jeda panjang. Lalu pria itu menghembuskan napas berat.
“Iya, Mah… Aku sudah bilang kalau aku telah bersedia untuk menikah lagi. Jadi Mamah tidak perlu khawatirkan Aku akan berubah pikiran."
Telepon ditutup. Pria itu kembali menghembuskan nafasnya berat. Menatap pintu keluar. Tatapannya dalam dan tenang. Bahkan tak bisa terbaca apa yang sedang di pikirkannya saat ini. Namanya… Adnan Husein.
Dan tanpa Zahra sadari, takdir perlahan mulai menulis bab baru bagi kehidupannya.