NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:172
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Untuk pertama kalinya, Alia diam tanpa kata. Seakan dirinya tidak ada dorongan untuk belajar karena merasa lelah dan bingung harus berbuat apa.

Sepulang sekolah.

Alia hanya diam dan tidak tahu apa yang guru terangkan hari itu. Baginya, mungkin semuanya akan sia-sia saja bila ia menjalaninya tanpa tujuan. Tak lama kemudian, Alia dipanggil ke ruang BK.

Alia pergi ke ruang BK dan mengetuk pintu ruangan itu. Tanpa sadar, ia berjalan tanpa memerhatikan siapa yang ada di sekelilingnya.

“Alia.”

“Ya, Bu. Kenapa?”

“Kamu tahu alasan kenapa kamu dipanggil ke sini, Alia?”

Alia hanya menggeleng kepala, menyadari bahwa ia memang tidak tahu. Ia hanya diam dan menatap ke arah guru BK.

“Maaf, Bu. Saya tidak dengar apa yang Ibu bicarakan. Sekali lagi, saya minta maaf.”

Pria yang sering bertabrakan dengannya membuat Alia tak gentar sama sekali, karena ia merasa mungkin butuh pelarian untuk sesaat.

Pria itu hanya diam dan mencoba menahan Alia, namun di sisi lain ia tidak tahu siapa nama wanita tersebut. Ia juga tidak ingin memberi harapan kepada wanita itu, karena sadar mereka tidak saling mengenal.

Mungkin, tidak saling kenal dan tidak mencampuri urusan orang lain adalah pilihan terbaik dibanding bersikap sok tahu dan ikut campur dalam masalah yang tidak ia pahami.

Alia menangis dengan kencang, seakan dunia tidak berpihak kepadanya. Pria itu bernama Arnold.

Arnold ingin menghampiri Alia, tapi ia bingung apakah boleh berpura-pura dekat seperti ini. Ia khawatir Alia malah semakin risih dengan sikapnya.

Namun, Arnold merasa bahwa tidak ada salahnya mencoba bersikap baik kepada orang lain.

Arnold mengulurkan saputangannya kepada Alia.

Alia bingung, tidak tahu dari siapa sapu tangan itu berasal. Ia menatap ke arah pemberinya, dan melihat Arnold. Alia langsung berdiri dari bangkunya dan menatap pria itu.

“Hmm, ini ambil. Saya masih sibuk dan ada urusan lain.”

Arnold mencoba bersikap dingin, seakan tidak ada urusan dengan Alia. Saat hendak pergi, Alia menahan tangannya.

Arnold bingung dengan tindakan Alia, dan bertanya-tanya untuk apa ia menahan tangannya.

Arnold hanya melihat ke arah Alia, dan Alia membalas tatapannya.

“Maaf, boleh kamu temani aku sebentar? Aku butuh kamu. Maaf kalau merepotkan, tapi aku butuh kamu.”

Arnold hanya diam mendengar itu, lalu mengangguk dan menuruti kemauan Alia.

Setelah duduk bersama, Alia menatap Arnold. Ia tidak menyangka betapa indahnya wajah Arnold jika dilihat dari dekat.

“Kamu ganteng, ya? Aku iri sama orang yang dari lahir udah cakep dan enak dipandang.”

Arnold hanya diam dan kaget. Sampai saat ini, sulit sekali melihat Arnold tersenyum, dan Alia berhasil membuatnya tersenyum.

Saat Arnold tersenyum, Alia tak menyangka betapa manisnya senyum pria itu.

“Emangnya di dunia ini ada ya orang seganteng ini?”

Tanpa sadar, saat Alia hendak mendekat ke Arnold, bel sekolah pun berdering. Alia langsung bergegas pergi tanpa sempat berpamitan.

Alia merasa dirinya sudah benar-benar tergila-gila pada pria itu. Ia bingung bagaimana jika bertemu lagi dengannya.

“Kenapa gue kayak tadi, ya? Nggak pernah-pernahnya gue kayak gitu. Dan kenapa harus pria itu, padahal gue nggak kenal dia.”

Alia memiliki ide gila: ia ingin membicarakan hal ini kepada kedua orang tuanya.

Di meja makan malam hari, bersama orang tua.

“Papa, Mama, Alia mau bicara sebentar. Boleh?”

Papa dan Mama merasa bingung dengan sikap Alia. Tidak biasanya Alia bersikap seperti ini. Pasti ada sesuatu yang ingin ia utarakan.

“Papa, Mama... boleh nggak Alia langsung menikah setelah lulus SMA nanti?”

Papa hanya menggeleng kepala, sedangkan Mama terdiam. Mereka merasa itu adalah keputusan yang sembrono.

“Kamu lihat anak kamu? Karena kamu selalu memanjakan dia, jadinya dia menganggap enteng kita sebagai orang tuanya.”

“Alia nggak menggampangkan Papa dan Mama kok. Alia cuma mau jelasin apa yang Alia rasakan.”

“Yang kamu mau itu tindakan sembrono, Alia! Dan kamu tahu, itu nggak bisa dinormalisasi. Tindakan kamu benar-benar bikin Papa dan Mama kecewa!”

Alia terus memandang ke arah Mamanya, berharap sang ibu bicara dan mendukung perasaannya.

“Mama, kok Mama nggak ngomong apa-apa sih? Alia berharap Mama bicara tentang Alia. Apa Mama juga kecewa sama Alia kayak Papa?”

Saat itu, suasana di rumah sangat tegang. Seolah-olah tidak ada lagi kehangatan keluarga seperti yang orang lain miliki.

Alia sadar kalau tindakannya mungkin salah dan sembrono seperti kata Papa. Tapi ia juga merasa berhak untuk memilih jalannya sendiri.

Alia capek selalu dituntut menjadi sempurna, sementara dirinya sendiri penuh kekurangan.

Arnold yang masih berada di sekolah, bingung harus berbuat apa. Ia tak menyangka bisa sedekat itu dengan Alia, padahal sebelumnya mereka tidak pernah benar-benar akrab.

Sesampainya di rumah.

Alia langsung masuk ke kamarnya tanpa bicara pada Papa dan Mama.

Mungkin rasa Alia terhadap orang tuanya sudah bukan lagi seperti anak kepada orang tua, melainkan rasa kecewa yang dalam.

Ia menangis di kamarnya. Sang Mama tak tega melihatnya seperti itu. Bagaimanapun juga, semua ini demi kebaikan Alia.

Alia merasa hidupnya tidak adil. Apa salahnya jika ia ingin menikah setelah lulus SMA? Apa itu pilihan yang benar-benar salah?

Pagi harinya, di meja makan.

“Alia, Papa mau bicara sama kamu. Tolong pikirkan dulu sebelum kamu menjawab,” kata Papa.

Alia hanya diam, mencoba mendengarkan. Mungkin ini pertanyaan yang ia tunggu-tunggu. Mungkin Papa dan Mama akan setuju.

“Kamu sudah yakin dengan keputusan kamu kemarin? Untuk menikah setelah lulus sekolah?”

Alia terkejut mendengar pertanyaan itu. Ia hanya mengangguk, meyakinkan Papa bahwa ia tidak main-main.

Papa terdiam, menatap ke arah Alia. Ia tampak serius. Alia merasa sangat takut dengan apa yang akan Papa katakan selanjutnya.

Namun sebelum Papa sempat berkata apa-apa, ponselnya berdering. Telepon dari klien di tempat kerja.

Papa pun pergi meninggalkan meja makan. Alia menghela napas panjang. Ia takut akan kata-kata yang mungkin akan Papa lontarkan nanti.

“Al.”

“Ya, Ma?”

“Kamu yakin, Nak, dengan keputusan kamu?”

“Yakin, Ma. Kenapa, Ma? Mama ragu dengan keputusan yang Alia buat?”

Mama hanya tersenyum mendengar perkataan Alia. Alia semakin bingung, mengapa mamanya hanya bereaksi seperti itu.

Apa mamanya marah kepadanya, sehingga tak lagi peduli? Alia mencoba untuk tenang dan tidak terlalu berpikir yang tidak-tidak.

“Alia, Mama nggak marah kok, Nak. Jadi kamu jangan mikir yang macam-macam, ya.”

Alia kaget karena mamanya bisa tahu isi pikirannya, padahal ia sama sekali tidak memberitahukan apa yang ada di dalam hatinya.

Alia hanya tersenyum kepada mamanya. Tak lama, mamanya menatap ke arah Papa yang datang dari kejauhan.

“Papa kamu sudah mau datang. Kamu harus jaga sikap ya, sayang, supaya Papa kamu nggak marahin kamu. Oke? Paham, kan?”

“Ya, Ma. Paham kok. Makasih ya, Mama.”

“Ya, sayang. Sama-sama.”

Papa mendekat ke arah istri dan anak tercintanya. Ia tampak bingung, karena suasana tidak seperti biasanya. Ia merasa pasti ada sesuatu yang sedang disembunyikan Mama darinya.

“Mama, sembunyiin apa dari Papa? Hayo, ngaku, Ma.”

“Tidak ada kok, emang ada, Alia?”

“Tidak ada, Pa. Mama cuma nanya, nanti mau makan apa.”

“Masa, sih? Perkara makan aja Papa nggak boleh tahu? Padahal Papa juga pengin tahu. Ya udahlah, wanita juga punya rahasia ya.”

Mama dan Alia hanya tersenyum melihat Papa yang terus menggoda mereka tanpa henti. Tak lama kemudian, Papa kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!