NovelToon NovelToon
Become Mafia Family

Become Mafia Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Teen
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: nanastar

Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!

Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Roti Tawar

Entah sejak kapan aku memasuki tubuh gadis ini. Yang pasti, terakhir kali yang aku ingat adalah diriku terjatuh saat sedang berlarian ditangga sekolah. Ya, aku masuk ke dunia novel laknat yang telah aku baca dari perpustakaan pusat kota. Novel tanpa judul itu menarik perhatianku yang akhirnya malah menyesatkan jiwaku. Dasar diriku! Mentang-mentang namanya samaan!

Aku menatap sedih bayangan diri dipantulan cermin yang ada di kamar. Ini adalah setahun dari waktu kematiannya. Mungkin inilah mengapa Tuhan menyembunyikan waktu kematian setiap orang, rasanya sangat resah dan tidak tenang saat kita tau kapan kita akan mati dan dengan bagaimana caranya. Itu sungguh membuat hati gelisah galau merana! Mungkin aku yang dulu sudah mati, tapi aku yang sekarang tidak akan membiarkan kecerobohan itu terjadi lagi. Aku ingin hidup lebih lama lagi, menikmati masa muda, mengejar cita-cita, dan pastinya aku ingin menikah dulu.

Sisir merah muda yang berada dimeja itu ku raih pelan. Kulihat lekat benda pipih itu. Lucu. Satu kata untuknya. Aku tidak begitu tau tentang kehidupan Lily yang tidak terlalu disorot dinovel. Apa boleh buat, dia kan hanya figuran. Aku memijit pelipis pelan.

"Sekarang harusnya si Lily ini ngapain ya?" Gumamku sambil menanggu dagu dengan satu tangan. Ini kan malam, mungkin seharusnya aku tidur kan?

. . . . .

"Non, bangun non Lily. Den Zevan bilang dia nungguin non buat sarapan!" Teriak bi Iroh dari luar kamar Lily.

"Engh..." Lalu didalam sana seorang gadis yang baru bangun karena ketukan pintu tadi mulai membuka matanya perlahan. Ia sesekali mengucek matanya yang terasa berat untuk terbuka itu. Ah kenapa ia kebo sekali? Tanpa ia sadari ia pun tumbang kekasurnya lagi. Entahlah, kasur selalu saja membuatnya terlena sampai lupa dunia.

Tok

Tok

Tok

Pintunya kembali diketuk. Tapi suaranya terasa tidak ramah di telinga Lily.

"Lily..." Suara berat dan dingin itu terasa menusuk ulu hati. Lily yang tadinya masih terlelap langsung membuka matanya cepat mengerjap beberapa kali pada pintu itu. Ah dia ingat! Ini sudah pagi kan?! Buru-buru ia bangun dan langsung menuju kamar mandi.

"AKU MANDI!" Teriaknya.

"Huh!" Dengus seseorang yang berada diluar kamarnya. Ia sangat benci yang namanya terlambat. Tidak tepat waktu membuatnya beberapa kali kehilangan kesempatan. Dia juga membenci orang yang tidak menghargai waktu dengan baik.

"Bi, katakan padanya untuk pergi sekolah naik kendaraan umum saja" Ucapnya sembari berlalu dari sana. Bi Iroh hanya mengangguk faham. Meskipun ia merasa iba pada sang gadis yang ditinggalkan tapi ia bisa apa?

Didalam kamar Lily cepat-cepat bersiap. Ia bahkan belum sempat menata rambut panjangnya dengan pantas. Tak mau berlama-lama, ia pun keluar kamar dengan seragam yang ia temukan dilemarinya. Hari ini bukan hari libur, kan?

"Non, Den Zevan sudah duluan ke kampus. Katanya non Lily kesekolah naik kendaraan umum saja" Ujarnya dengan menunduk takut. Kenapa dia terlihat takut pada Lily? Gak mungkin kan dulunya Lily jahat?

"Oh iya deh gak papa bi" Jawab Lily santai sembari melahap roti selainya yang berada di meja makan. Ngomong-ngomong, dia takjub sekali melihat rumah sang antagonis utama pria ini. Besar, megah, asri dan pastinya surga duniawi sekali. Lily ingin menghabiskan waktunya dengan menikmati keindahan dunia barunya ini. Kenapa tidak bukan?

"Bi, aku pamit sekolah dulu ya! Daaah!" Lily langsung keluar dengan tas merah mudanya. Kenapa Lily yang ini suka sekali warna merah muda? Apakah merah muda itu warna favoritnya? Ah masa bodo.

Lily melangkahkan kakinya keluar dari gerbang rumahnya. Ia menatap jalanan sepi depan gerbangnya dengan bingung. Dimana ia harus menunggu bus umum? Apa disini suka ada bus lewat? Pikirnya termenung. Namun karena waktu semakin berjalan ia pun memilih untuk menyusuri jalan raya kecil itu. Siapa tau didepan sana sekolahnya bukan? Tapi apakah di perumahan elit ini ada kendaraan umum lewat?

Selang beberapa lama, Lily merasa lelah dan ia baru saja tiba di depan gerbang perumahan elit itu. Baru juga mandi tapi tubuhnya sudah berkeringat lagi. Mana ini masih pagi. Lily merasa dunia barunya begitu suram. Walaupun dulunya ia hanyalah gadis biasa, tapi dulu juga ia bahagia. Lily menyeka keringatnya. Dia memicingkan matanya melihat keatas. Matahari mulai naik, tapi dia belum juga sampai ke sekolah. Aduh mana Lily tidak tahu letak sekolahnya dimana?

Ckik!!

Sebuah mobil berwarna hitam hampir saja menerjang Lily yang sedang duduk di trotoar. Kaget akan hal itu, Lily langsung terjatuh ke samping. Jantungnya berdetak cepat, entah kenapa ia mulai merasa takut. Dunia memang tempat yang paling tidak aman. Ingatanya kembali pada masa lalunya. Dimana ia dan ayahnya tertabrak truk besar saat sedang mengendarai motor. Tentu saja karena truk itu nyelip! Seolah sengaja melakukannya. Yang Lily sedihkan adalah ayahnya meninggal dunia tepat didepannya. Apakah hal itu patut diingat?

"Ya ampun maaf ya! Dek? Kamu gak papa kan?!" Dari dalam mobil itu turun seorang pria yang terlihat cukup berumur. Ia terlihat panik dan membantu Lily untuk bangun.

"Ah iya! Aku gak papa kok, om" Jawabnya gelagapan. Ia menatap tak nyaman pria berumur didepannya karena orang itu seperti menatap dirinya dengan selidik.

"Kau, adik Zevan bukan?" Tanyanya dengan nada intimidasi. Lily bingung harus menjawab iya atau tidak. Takutnya salah pilih, ntar dia celaka.

"Um..." Lily terdiam bingung.

"Ah lupakan, mungkin aku salah liat. Ngomong-ngomong mau sekolah ya? Mari saya antar sebagai bentuk permaafan saya!"

Lily termenung. Bagus juga sih ada yang mau nganterin. Berhubung dia juga kan gak tau sekolahnya dimana. Gak salah kan kalo dia ikut?

"Tenang aja, aku gak bakalan macem-macem sama gadis" Ucapnya kemudian membukakan pintu belakang mobilnya untuk Lily. Lalu tanpa pikir panjang ia pun masuk. Pria berumur itu nampak tersenyum miring. Mudah sekali mengelabui gadis polos sepertinya.

Unknown

Zevan, adik bodohmu ada ditanganku. Lalukan permintaanku atau akan terjadi sesuatu padanya.

Lily mengerjap heran ketika pria berumur itu terus tersenyum padanya. Lama-lama ia jadi takut juga. Bukankah ramah bila seseorang lebih sering tersenyum? Tapi entah kenapa senyuman pria itu terlihat menakutkan. Apa jangan-jangan dia peculik?! Duhh tidak boleh berburuk sangka.

"Om... Bukan om-om pedo kan?" Tanya Lily dengan hati-hati.

"Apa? Pedo?"

"Pedofil..." Lily menatapnya dengan siaga.

"HAHAHAHA!!" Pria itu malah tertawa mendengar pertanyaan konyol dari gadis itu. Kenapa ia begitu berani mempertanyakan hal itu pada orangnya langsung?

"Aku terlalu blak-blakan ya... Maaf kalo nyinggung perasaan om"

Pria itu menatap Lily dari kaca spion atas. Ada rasa aneh pada hatinya. Kenapa gadis ini terlihat biasa saja? Bukankah seharusnya ia curiga padanya? Bukankah seharusnya ia takut? Apalagi seingatnya dulu mereka pernah bertemu sekali dan sikap gadis itu nampak tak mempercayai siapa pun.

"Om, ini aku bawa roti tawar. Om mau?" Tanyanya dengan pipi mengembang karena sedang memakan roti tawar yang di bawanya. Matanya mengerjap beberapa kali menunggu respon sang pria.

Pria itu mengulum tawanya. Bisa-bisanya ia malah menawarinya makan pada kondisinya yang seperti ini? Oh pria itu mulai tertarik padanya. Dia merubah rencananya.

'Baiklah, kita mulai dari sini' Batin pria itu.

"Tidak usah, makan saja semuanya buatmu" Katanya dengan tersenyum miring.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!