Dibuang dua puluh tahun ke London, Kalea dipaksa pulang hanya untuk menjadi tumbal wasiat kakaknya. Najwa, sang bidadari pesantren yang sedang menjemput ajal, meminta satu hal yang mustahil: Kalea harus menggantikan posisinya sebagai istri Gus Malik.
Kini, si pemberontak berpakaian seksi itu harus terjepit dalam pernikahan "turun ranjang" bersama pria sedingin es yang hanya mencintai kakaknya. Di bawah atap yang sama dengan Najwa yang kian merapuh, sanggupkah Kalea bertahan menjadi bayang-bayang di atas ranjang pria yang menganggapnya penuh dosa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu Kepulangan
Dentum bass yang memekakkan telinga seolah bergetar di dalam rongga dada Kalea. Cahaya neon berwarna biru dan ungu berkelebat liar, menyinari kepulan uap vape dan aroma alkohol yang pekat di salah satu klub eksklusif di pusat kota London. Kalea berdiri di tengah lantai dansa, mengenakan dress ketat berwarna perak yang nyaris seperti kulit kedua. Rambut pirangnya basah oleh peluh, wajahnya cantik namun tampak lelah dengan kehidupan yang ia jalani sebagai pelarian.
Tepat saat ia hendak menyesap gelas ketiga, ponsel di saku jaketnya yang tersampir di kursi bar bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar: **Najwa (Sister)**.
Kalea mendengus, hendak mengabaikannya, namun panggilan itu masuk untuk kelima kalinya. Dengan langkah sedikit gontai, ia menjauh dari kerumunan menuju lorong toilet yang sedikit lebih tenang.
"Halo! Kak, lo tahu jam berapa di sini?" teriak Kalea ketus begitu menekan tombol hijau.
"Lea..." suara di seberang sana terdengar lemah, sangat kontras dengan kebisingan di latar belakang Kalea. "Pulanglah, Dek. Ibu... Ibu sedang sakit."
Jantung Kalea seolah berhenti berdetak sesaat. Rasa pening akibat alkohol mendadak sirna digantikan desiran dingin yang menjalar ke punggung. "Sakit apa? Bukannya bulan lalu dia masih bisa ikut pengajian?"
"Kondisinya menurun drastis. Ibu terus memanggil namamu. Kakak mohon, Lea... pulang ya? Hanya sebentar saja," suara Najwa terdengar serak, seperti ada beban berat yang tertahan di tenggorokannya.
Kalea terdiam. Ia membenci rumah itu. Ia membenci kenyataan bahwa ia seolah dibuang ke luar negeri selama 20 tahun hanya karena ia tidak bisa menjadi "sempurna" seperti Najwa. Tapi mendengar suara kakaknya yang begitu rapuh, ego Kalea luruh seketika.
"Oke. Gue cari tiket besok," jawab Kalea singkat sebelum memutus sambungan.
Dua puluh jam kemudian, udara Jakarta yang lembap menyambutnya. Kalea melangkah keluar dari pintu kedatangan internasional dengan penampilan yang sama sekali tidak berubah: jaket kulit, *tank top* sutra rendah, dan kacamata hitam besar. Ia tidak peduli pada tatapan sinis orang-orang di bandara yang melihat pakaian "berani"-nya di tengah kerumunan yang konservatif.
Mata Kalea menangkap sosok wanita dengan khimar panjang berwarna hijau zamrud. Najwa. Di sampingnya, berdiri seorang pria yang tampak seperti monumen kewibawaan yang dingin.
"Lea!" Najwa melambaikan tangan. Saat Kalea mendekat, Najwa langsung memeluknya erat, mengabaikan aroma parfum mahal yang bercampur sisa asap rokok yang mungkin masih menempel pada pakaian adiknya. "Alhamdulillah, kamu sampai, Lea."
"Ibu mana? Kenapa kalian yang jemput?" Kalea langsung bertanya tanpa basa-basi begitu pelukan terlepas.
Najwa tersenyum tipis, matanya yang teduh nampak menyimpan rahasia kelam. "Nanti kita bicara di rumah. Lea, kenalkan, ini suamiku... Mas Malik. Dan ini Arkan, keponakanmu."
Kalea mengalihkan pandangan pada pria di samping Najwa. Pria itu tinggi, tegap, mengenakan baju koko putih bersih dan peci hitam. Wajahnya sangat tampan namun kaku seperti pahatan batu. Kalea secara refleks mengulurkan tangannya yang dihiasi kuku panjang berwarna merah menyala. "Kalea."
Namun, tangan itu hanya menggantung di udara.
Begitu mata tajam pria itu menangkap sosok Kalea mulai dari rambut pirang yang tergerai liar, potongan baju yang memamerkan kulit dadanya, hingga cara berdirinya yang angkuh rahang pria itu mengeras.
Gus Malik langsung membuang muka dengan gerakan cepat, memalingkan pandangannya ke arah lain seolah-olah melihat sesuatu yang haram.
"Astaghfirullahaladzim... Astaghfirullah..." bisik Gus Malik. Suaranya rendah, berat, dan penuh nada penolakan yang nyata.
Pria itu langsung berbalik badan, memunggungi Kalea sepenuhnya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun sambutan. Ia seolah-olah baru saja melihat pemandangan yang sangat mengganggu kesucian matanya.
"Lea..." Najwa berbisik lembut, mencoba memegang lengan adiknya yang wajahnya mulai memerah padam karena malu dan marah. "Mas Malik memang sangat menjaga pandangan. Maafkan dia, ya?"
"Menjaga pandangan atau emang nggak diajarin sopan santun?" Kalea menarik tangannya dengan kasar. Suaranya meninggi, menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka. "Gue rela terbang belasan jam dari London karena lo bilang Ibu sakit, tapi sampai sini gue malah dianggap najis sama suami lo yang sok suci ini!"
"Lea, tolong... Arkan ada di sini," mohon Najwa sambil melirik putranya yang berusia lima tahun.
Gus Malik masih tidak bergerak. Ia tetap memunggungi Kalea, seolah keberadaan adik iparnya itu adalah ujian kesabaran yang paling berat baginya. Tanpa menoleh sedikit pun, ia mulai melangkah pergi menuju parkiran sambil menggandeng erat tangan Arkan.
"Ayo kita pulang, Najwa. Jangan biarkan anak kita terlalu lama di sini," ucap Gus Malik datar, tanpa menyebut nama Lea sedikit pun, seolah gadis itu adalah angin lalu yang membawa polusi.
Kalea berdiri mematung di tengah hiruk pikuk bandara. Matanya panas. Bukan karena rindu pada keluarga, tapi karena penghinaan yang ia terima di menit pertama ia kembali ke tanah air. Ia tidak tahu bahwa pria yang baru saja menghinanya itu adalah pria yang dipersiapkan Najwa untuk menjadi sandarannya di masa depan.
"Gue benci tempat ini," desis Kalea tajam, sebelum akhirnya terpaksa melangkah mengikuti langkah dingin Gus Malik yang semakin menjauh.