NovelToon NovelToon
S2 Menikahi Mantan, Selamanya

S2 Menikahi Mantan, Selamanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author: VYI_syi

Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai di Balik Layar Kota

Cahaya matahari kota yang terik mulai menerobos masuk melalui celah gorden apartemen mewah di kawasan pusat bisnis. Di dalam kamar yang didominasi warna abu-abu dan hitam itu, Isaac perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa sangat berat, seolah ada ribuan ton beban yang menghimpit pelipisnya. Ia tidak segera bangun. Tubuhnya terasa ringkih, dan suhu tubuhnya sedikit di atas normal—dampak dari tumpukan stres dan jam tidur yang hanya menyentuh angka tiga jam setiap malam selama seminggu terakhir.

Di kota ini, Isaac bukan hanya sekadar sosok nakhoda panti yang lembut. Ia adalah pemimpin utama dari IL Architecture & Associates, sebuah firma arsitektur yang namanya sedang naik daun namun kini tengah dihantam badai konflik internal yang menguras energi.

Isaac meraih ponselnya yang tergeletak di lantai dekat ranjang. Hal pertama yang ia lihat adalah deretan notifikasi pesan dari Luna. Ia menghela napas panjang, ada rasa sesak yang menghantam dadanya melihat pesan-pesan istrinya yang hanya ia baca tanpa sempat ia balas. Ia tahu Luna pasti sedang cemas, bahkan mungkin sedang berpikir yang tidak-tidak. Namun, setiap kali ia ingin mengetik balasan, masalah kantor selalu datang menyerangnya secara bertubi-tubi.

Kemarin adalah hari yang paling melelahkan. Hendra, asisten tangan kanan Isaac yang selama ini dikenal sebagai eksekutor paling tenang dan santai, sedang berada di titik didihnya. Hendra dituduh melakukan penggelapan dana oleh salah satu investor utama mereka. Investor tersebut memberikan ultimatum yang kejam: jika Hendra tetap berada di perusahaan, sang investor akan menarik seluruh dananya yang bernilai miliaran rupiah.

Masalahnya, tuduhan itu sama sekali tidak memiliki bukti nyata. Hendra, yang biasanya bisa tertawa sambil bekerja, berubah menjadi sosok yang menyeramkan. Ia tidak terima harga dirinya diinjak-injak. Konflik itu membuat suasana kantor menjadi tegang luar biasa, dan Isaac berada di tengah-tengah sebagai penengah sekaligus benteng bagi anak buahnya. "Pak Isaac, saya lebih baik mengundurkan diri daripada harus bekerja di bawah telunjuk investor yang memfitnah saya!" kalimat Hendra yang diucapkan dengan nada tegas dan dingin kemarin masih terngiang di telinga Isaac.

Belum lagi permintaan dari perusahaan lain yang mendesak agar proses pembangunan proyek prestisius di pinggiran kota segera dipercepat. Tekanan-tekanan itulah yang membuat Isaac beberapa kali mengalami drop. Ia sempat pingsan di ruang kerjanya dua hari lalu karena kelelahan kronis, namun ia melarang sekretarisnya untuk memberitahu siapa pun, terutama Luna. Ia tidak ingin istrinya yang sudah sibuk mengurus lima belas anak di bukit harus terbebani dengan kondisi kesehatannya yang menurun.

Pagi ini, Isaac menatap layar ponselnya cukup lama. Ia merasa sangat bersalah telah mengabaikan Luna. Ia duduk di tepi ranjang dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, lalu mencoba mengambil sebuah foto diri (selfie). Dalam foto itu, Isaac mencoba tersenyum sealami mungkin, menyembunyikan wajahnya yang pucat dan lingkaran hitam di bawah matanya. Ia ingin terlihat baik-baik saja agar Luna tenang.

[Pesan Terkirim ke Luna]

"Selamat pagi, Istriku. Maafkan aku yang sangat sulit dihubungi beberapa hari ini. Pekerjaan di sini benar-benar menyita seluruh waktuku. Aku baru saja bangun dan hal pertama yang aku ingat adalah wajahmu. Aku sangat merindukanmu, Luna. Jangan terlalu banyak berpikir, ya? Aku di sini hanya sedang berjuang untuk masa depan kita dan anak-anak. Aku mencintaimu."

Setelah menekan tombol kirim, Isaac segera meletakkan ponselnya kembali. Ia tidak ingin Luna bertanya terlalu jauh jika ia tetap memegang ponsel. Ia harus segera mandi dengan air hangat untuk sedikit meredakan demamnya sebelum berangkat ke kantor untuk menghadapi 'perang' selanjutnya.

Satu jam kemudian, Isaac sudah berada di kantornya yang terletak di lantai tiga puluh sebuah gedung pencakar langit. Suasana di dalam firma IL Architecture & Associates terasa kaku. Begitu ia keluar dari lift, para karyawan langsung menunduk hormat. "Selamat pagi, Pak Isaac," sapa beberapa staf dengan nada sungkan. Isaac hanya mengangguk pelan sembari melangkah menuju ruangannya.

Di sana, Hendra sudah menunggu dengan tumpukan dokumen. Wajah Hendra yang biasanya ramah kini tampak tajam dan penuh amarah yang tertahan. "Pak, investor itu kembali menelepon pagi ini. Dia menagih keputusan Anda," lapor Hendra dengan nada yang dingin. "Jika Bapak ingin menyelamatkan dana itu, saya siap membawa barang-barang saya keluar dari gedung ini hari ini juga. Saya tidak ingin menjadi beban bagi perusahaan Bapak."

Isaac duduk di kursi kebesarannya, memijat keningnya yang berdenyut. "Duduklah, Hendra. Jangan bicara seperti itu."

"Tapi Pak, ini masalah harga diri. Saya tidak pernah menyentuh satu rupiah pun dari dana mereka secara ilegal!" Hendra mulai meninggikan suaranya. Sisi menyeramkannya mulai keluar; matanya berkilat penuh emosi. Jika Hendra sudah seperti ini, seluruh kantor biasanya akan terdiam ketakutan.

Isaac menatap asistennya itu dengan tenang, meskipun sebenarnya ia sedang menahan rasa pusing yang luar biasa. "Aku tahu kau tidak melakukannya, Hendra. Itulah sebabnya aku tidak akan membiarkanmu pergi. Dana itu bisa kita cari dari sumber lain, tapi asisten yang setia dan kompeten sepertimu tidak bisa aku beli di mana pun. Biarkan aku yang menghadapi investor itu siang ini."

Hendra terdiam, amarahnya sedikit mereda melihat ketenangan Isaac yang tetap teguh melindunginya meskipun sang atasan tampak sedang tidak sehat. "Bapak pucat sekali. Apa Bapak sudah makan?"

"Hanya kurang tidur saja," dusta Isaac singkat. "Sekarang, tolong siapkan berkas pembelaan kita. Kita akan buktikan bahwa tuduhan mereka hanyalah upaya untuk mengambil alih kendali proyek."

Sepanjang siang itu, Isaac tenggelam dalam rentetan rapat yang melelahkan. Ia harus meyakinkan beberapa sub-kontraktor untuk tetap berada di jalur jadwal asli, sembari menyiapkan strategi hukum untuk melawan fitnah sang investor. Setiap kali ia merasa lemas, ia hanya meminum air putih sebanyak-banyaknya dan memaksakan dirinya untuk tetap tegak di depan bawahannya. Baginya, martabat perusahaan dan keselamatan ekonomi panti asuhan di bukit ada di pundaknya.

Ia tidak pernah menyebutkan sepatah kata pun tentang konflik ini kepada Luna. Baginya, Luna adalah tempat untuk beristirahat, bukan tempat untuk membuang beban pekerjaan. Ia takut jika Luna tahu kondisinya yang sering drop, istrinya itu akan memaksa untuk datang ke kota, dan itu akan membuat manajemen panti menjadi kacau.

Saat jam makan siang, Isaac sempat melirik ponselnya. Melihat balasan pesan dari Luna yang tampak lebih tenang membuatnya tersenyum tipis. Rasa bersalah karena telah membuatnya menunggu tetap ada, namun ia merasa ini adalah pilihan terbaik. Biarlah ia dianggap sebagai suami yang sibuk daripada suami yang lemah dan sakit-sakitan.

"Satu minggu lagi, Luna. Hanya satu minggu lagi sampai masalah ini tuntas, dan aku akan pulang memelukmu," bisik Isaac dalam hati sembari menutup matanya sejenak di tengah tumpukan cetak biru bangunan di mejanya.

Di luar ruangan, Hendra kembali bekerja dengan ketenangan yang mulai pulih, terinspirasi oleh ketegasan sang bos yang selalu pasang badan untuknya. Isaac kembali membuka matanya, menarik napas dalam-dalam, dan bersiap menghadapi janji temu dengan pihak investor. Ia harus menang, demi Luna, demi lima belas anak di perbukitan, dan demi nama baik yang telah ia bangun dengan susah payah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!