"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.
Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"
"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"
"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."
Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.
Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
Gema langkah kaki yang terburu-buru di atas lantai marmer seolah menjadi melodi pembuka bagi kehancuran yang sebentar lagi tiba.
Kompleks mansion mewah keluarga Joseph yang berdiri megah di kawasan elite Los Angeles malam itu diselimuti sunyi yang mencekam.
Namun, di dalam kamar utama yang dirancang dengan kemewahan paripurna—dilengkapi lampu gantung kristal yang memendarkan cahaya temaram dan tempat tidur berukuran king size yang bersepuh sutra—sebuah badai besar sedang mengoyak fondasi pernikahan yang baru seumur jagung.
"Dia hamil, David! Dia mengaku hamil anakmu! Kamu mengkhianatiku, brengsek!!!"
Suara lengkingan penuh amarah dan rasa sakit itu memecah keheningan malam. Amieyara Walker berdiri dengan napas memburu, gaun pengantin putihnya yang indah dan anggun kini terasa seperti kain yang mencekik lehernya.
Air mata kemarahan mengalir deras, merusak riasan wajahnya yang sempurna.
Hanya beberapa jam yang lalu, dia berdiri di altar, mengikrarkan janji suci di hadapan ratusan pasang mata kaum borjuis Los Angeles.
Kini, di kamar pengantin yang seharusnya menjadi saksi malam pertama mereka, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun.
David Joseph, pria berusia 24 tahun dengan setelan jas pernikahan yang sudah setengah tanggal, melangkah mundur dengan wajah pias.
Ketampanannya yang biasa dipuja-puja kini tampak menyedihkan di bawah sorot mata Yara yang menghujam tajam.
"Maafkan aku, Yara... Maafkan aku," ratih David, mencoba menggapai jemari istrinya, namun segera ditepis dengan kasar. "Dia yang menggodaku, Yara! Ini... ini juga bukan sepenuhnya salahku! Kau yang selalu menolakku, kau yang selalu mengatakan ingin melakukannya setelah menikah! Dan sebagai pria normal, aku..."
Tawa hambar dan sinis lolos dari bibir Yara, memotong kalimat David dengan telak. Tatangannya dipenuhi rasa muak yang tak terhingga.
"Dan sekarang kau menumpahkan kesalahanmu padaku? Bajingan kau!"
Wajah David yang semula dipenuhi rasa bersalah tiba-tiba mengeras.
Kilat kemarahan dan harga diri pria yang terluka mulai mengambil alih akal sehatnya.
Tekanan sebagai pewaris tunggal keluarga Joseph, ditambah dengan rasa frustrasi yang terpendam selama masa pertunangan mereka, meledak seketika.
Dia menatap Yara dengan tatapan merendahkan, tatapan yang sama dengan yang sering Yara terima dari orang-orang luar yang membencinya.
"Kau terlalu sok suci, Yara!" teriak David, suaranya naik beberapa oktav, menggema di dinding-dinding kamar yang luas.
"Bukankah kau hanya gadis panggilan di luar sana? Seluruh kampus tahu siapa kau! Kenapa setiap kuajak bercinta kau tidak pernah mau? Kenapa berlagak perawan di depanku?!"
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri David, menyisakan bekas kemerahan yang kontras dengan kulitnya yang putih.
Suara hantaman itu begitu nyaring, menyisakan kesunyian yang mencekam di antara keduanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari pagi Los Angeles bersinar terik, memantulkan kilau menyengat di atas deretan mobil sport mewah yang berjajar di pelataran parkir salah satu universitas paling bergengsi di kota itu.
Tempat ini adalah wadah bagi kaum borjuis muda; sebuah ekosistem yang melelahkan di mana strata sosial ditentukan oleh isi dompet orang tua, merk pakaian yang melekat di tubuh, dan seberapa lihai seseorang bersilat lidah dalam pusaran gosip kaum elite.
Sebuah sedan sport hitam metalik meluncur mulus, membelah keangkuhan pelataran parkir sebelum akhirnya berhenti di area khusus.
Pintu pengemudi terbuka secara perlahan, menarik perhatian beberapa pasang mata yang memang selalu haus akan drama.
Dari dalam mobil, turunlah seorang gadis dengan keanggunan yang intimidatif.
Amieyara Walker. Di usianya yang baru menginjak 24 tahun, Yara memiliki segalanya yang mampu membuat pria bertekuk lutut dan membuat wanita terbakar cemburu.
Perawakan fisiknya begitu sempurna, definisi nyata dari keindahan yang matang. Tubuhnya tinggi semampai dengan lekuk yang berisi dan proporsional.
Pagi itu, dia memilih mengikat tinggi rambut hitam pekatnya—gaya high ponytail yang tegas—memamerkan leher jenjangnya yang mulus tanpa cela serta rahangnya yang kokoh.
Cuiittt... cuiiiit!
Suara siulan nakal yang bernada merendahkan langsung menyambut langkah pertamanya begitu dia menginjakkan kaki di koridor luar fakultas bisnis.
Suara siulan sampah itu mulai terdengar lagi, memecah ketenangan pagi. Yara tidak sudi menoleh. Dia hanya memutar bola matanya malas, mempertahankan ekspresi wajahnya yang sedingin es batu.
Di sekelilingnya, pandangan mata dari pria-pria sialan mesum kaya yang isi otaknya sangat miskin sudah mengarah padanya dengan tatapan lapar yang menjijikkan.
Yara sudah terbiasa digoda seperti itu sejak hari pertama dia mengajar dan belajar di tempat ini. Kakinya yang jenjang terus melangkah mantap menuju ruang kelas pagi.
"Here we go again," batin Yara sembari memperlebar langkahnya. Kampus yang hanya diisi oleh pria-pria kaya berotak selangkangan. Selama mereka tidak menyentuhku, tetaplah menatapku sampai bola mata mereka keluar. Menjijikkan.
Yara bukan sekadar mahasiswi biasa. Di balik penampilannya yang memikat, dia memegang posisi terhormat sebagai Asisten Profesor Bisnis karena kecerdasannya yang berada di atas rata-rata.
Namun, kampus ini terlalu dangkal untuk menghargai sebuah otak yang encer. Ditambah lagi, Yara tidak hanya mengajar; saat ini dia juga sedang mengambil kelas khusus di Fakultas Hukum pada universitas yang sama.
Dia adalah perpaduan antara kecantikan yang mematikan dan ambisi yang tak terbendung.
"Bisa denganku malam ini, Yara?"
Sebuah suara bariton yang sarat akan kesombongan menginterupsi langkahnya. Seorang pria, anak dari salah satu konglomerat papan atas Los Angeles, berdiri di depannya dengan senyum meremehkan sembari menyandarkan tubuhnya di dinding koridor.
Yara menghentikan langkahnya sejenak. Dia tidak tampak terkejut, apalagi takut. Malah, seulas senyum sinis yang sangat manis terukir di bibirnya yang dipoles lipstik tipis.
"Sorry, aku tidak tertarik denganmu yang masih anak mami," jawab Yara, suaranya terdengar lantang, bergema jernih di sepanjang koridor yang mulai ramai. "Bagaimana kalau dengan ayahmu saja? Setidaknya dia yang menghasilkan uang, bukan cuma bisa menghabiskannya seperti anak manja."
Oooohhhh!!!
Sorakan mesum dan tawa riuh langsung pecah dari kelompok pria yang duduk berkumpul di sekitar koridor itu.
Mereka menertawakan teman mereka yang baru saja diskakmat dengan telak oleh sang asisten profesor. Wajah pria yang menggoda Yara langsung berubah merah padam, menahan malu yang luar biasa.
Yara tidak memedulikan raut emosi pria itu. Dia malah mengibaskan rambut hitamnya yang diikat tinggi dengan gerakan anggun yang penuh kebanggaan.
Tindakan yang sengaja dia lakukan untuk semakin memanasi anak-anak manja tidak berguna yang suka menghabiskan uang orang tua dan merusak diri sendiri itu.
Yara tahu betul bagaimana cara menempatkan diri. Dia tidak butuh teman di kampus ini. Dia adalah serigala tunggal yang tahu tujuannya.
Namun, ketenangan itu kembali diusik saat dia melangkah mendekati area loker. Sekelompok mahasiswi dari kalangan sosialita kampus sudah berdiri menghadangnya dengan tatapan sinis.
"Waw, libur seminggu telah selesai. Sepertinya pel*cur kampus kita semakin cantik saja setelah masa tugasnya," sahut salah satu wanita dengan nada bertenaga cemburu yang kentara.
"Sok cantik," timpal yang lain dari belakang. "Murahan. Kaya sih kaya, tapi haus belaian pria."
Yara menarik napas pendek, lalu mengembuskannya perlahan. Dia sudah sangat terbiasa dengan hinaan kasar seperti itu.
Rumor mengenai dirinya sudah seperti air yang mengalir di universitas ini, tak pernah kering dan selalu diperbarui setiap waktu.
Semua orang tahu dia berasal dari keluarga Walker yang terpandang, namun kabar bahwa dirinya hanyalah anak haram hasil hubungan simpanan sang ayah sudah menjadi rahasia umum.
Namun, Yara tidak pernah tunduk. Dia tidak pernah malu dengan asal-usul yang tidak bisa dia pilih itu.
Dia percaya diri, dia sangat pintar, dan dia tidak mudah ditindas oleh siapapun. Rumor bahwa dia sama murahannya dengan ibunya sudah menjadi makanan kampus sehari-hari.
Perawakan sempurnanya dengan bentuk tubuh yang berisi dan menggoda selalu dijadikan bahan cemoohan egois oleh mereka yang menganggapnya sebagai gadis pelacur atau simpanan orang tua kaya.
Dan hari ini, setelah cuti selama seminggu penuh untuk menenangkan diri, predikat yang melekat pada namanya kembali bertambah.
Sebuah predikat baru yang jauh lebih liar dan mengerikan: Janda satu malam dari pria bernama David Joseph.
Pernikahannya yang megah dan mendadak dengan David Joseph seminggu lalu—yang awalnya dikira akan menjadi aliansi bisnis terbesar—kini menyisakan puing-puing gosip yang memuakkan.
Rumor gila yang beredar di antara para mahasiswa mengatakan bahwa Yara ditinggalkan oleh David di malam pertama mereka dikarenakan dia sudah tidak perawan, serta memiliki tubuh yang 'longgar dan kendor'.
Sebuah kebohongan menjijikkan yang sengaja dikonstruksi untuk menjatuhkan harga dirinya sedalam mungkin.
Dan Yara tahu persis dari mana muara racun itu berasal. Seluruh universitas mengetahui rumor gila tersebut dari mulut adiknya sendiri, Cinmocha Walker.
Caca, anak sah ayahnya yang juga berkuliah di kampus yang sama, dengan sengaja menyebarkan cerita palsu itu demi memuaskan rasa dengki.
Lebih menjijikkan lagi, David—si brengsek yang tidak tahu malu itu—kini kabarnya telah resmi menikah secara tertutup dengan sahabat Yara sendiri, Meliana karena kehamilan itu.
Dan ku doakan mereka bahagia di neraka, batin Yara, mencengkeram tali tasnya erat-erat hingga buku-jarinya memutih sejenak sebelum dia menguasai emosinya kembali.
Namun, apa Yara peduli dengan semua gunjingan yang berdengung di telinganya pagi ini? Tidak. Sama sekali tidak.
Yara melangkah melewati kerumunan wanita yang masih berbisik-bisik itu dengan kepala tegak dan tatapan mata yang menghujam lurus ke depan.
Biar saja namanya rusak di mata orang-orang dangkal ini. Biar saja rumor menjijikkan itu beredar liar hingga ke sudut-sudut kelas. Dia tidak akan repot-repot membuat klarifikasi atau merengek meminta keadilan.
Amieyara Walker bukan orang rendahan yang akan membuka aib orang lain ke publik demi membersihkan namanya sendiri.
Dia terlalu berkelas untuk berteriak-teriak menceritakan fakta yang sebenarnya—bahwa dialah yang meninggalkan David Joseph setelah tamparan keras di malam pertama mereka, bukan David yang meninggalkannya.
Dia membiarkan mereka menertawakannya sekarang, karena dia tahu, sebagai seorang calon pengacara, balas dendam terbaik tidak dilakukan dengan adu mulut di koridor kampus, melainkan dengan kehancuran yang legal, sunyi, dan mematikan di atas meja pengadilan kelak.
Dengan senyum dingin yang penuh teka-teki, Yara melangkah masuk ke dalam kelas, siap memulai harinya seolah badai Malam Pertama tidak pernah terjadi.
...🌷🌷🌷...