NovelToon NovelToon
PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

PEMBALASAN DENDAM SANG PEMBERSIH JEJAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Mafia
Popularitas:18.1k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dikhianati dan diledakkan di dalam mobilnya sendiri, Kara, algojo terbaik Aegis Syndicate, lolos dari kematian. Enam bulan kemudian, dia menyamar sebagai Riana. Bukan membawa peluru, dia datang membawa kacamata tebal, buku pedoman karyawan, dan kartu pengenal Manajer HRD.

​Aegis Corp adalah kedok pencucian uang raksasa yang sangat takut pada audit pajak negara. Riana memanfaatkan celah itu untuk menghancurkan mereka dari dalam. Algojo menolak rotasi kerja? Pecat. Petinggi mafia mangkir tugas? Cabut asuransinya. Bos mafia mau kabur bawa uang perusahaan? Blokir rekeningnya dengan alasan belum mengembalikan laptop kantor!

​Balas dendamnya berjalan mulus, sampai Jace bergabung menjadi petugas kebersihan. Pewaris sindikat musuh yang sedang menyusup itu malah salah fokus. Bukannya meretas data server Aegis, Jace keasyikan menonton HRD culun itu membuat para monster dunia bawah tanah menangis memohon ampun hanya lewat selembar Surat Peringatan Ketiga.

​"Welcome to the real hell."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Pembersih yang Disingkirkan

​"Kerja bagus untuk misi hari ini. Target utama sudah bersih. Goodbye, Kara (Selamat tinggal, Kara)."

​Suara berat dari pelantang suara ponsel itu terdengar sangat tenang. Di balik kemudi Veloce hitam yang melaju kencang membelah jalan tol pesisir, Kara mengernyitkan dahi. Bos besar Aegis Syndicate tidak pernah mengucapkan kalimat perpisahan panjang seperti itu. Pria itu selalu menutup telepon sepihak tanpa repot-repot berbasa-basi.

​Bau bahan kimia sintetis mendadak memenuhi kabin mobil mewah tersebut. Sengatan aroma khas C4 yang sangat pekat dan memuakkan.

​Insting Kara yang sudah terasah tajam bertahun-tahun di dunia bawah tanah langsung bereaksi. Otaknya menghitung mundur secara otomatis. Tiga detik.

​Dia menendang pintu mobil sekuat tenaga hingga terbuka lebar. Tubuhnya melenting keluar menembus terpaan angin pesisir, berguling-guling kasar di atas aspal jalanan yang dingin dan keras. Luka gores langsung menganga lebar di lengan dan kakinya.

​Ledakan dahsyat memekakkan telinga merobek keheningan jalan tol. Api berkobar sangat hebat menjilat langit gelap, mengubah Veloce hitam itu menjadi rongsokan besi menyala yang terlempar belasan meter ke udara. Gelombang udara panas menghantam punggung Kara telak, membakar sebagian kerah baju dan kulit leher bagian belakangnya.

​Dia terkapar menahan perih di tepi jalan pembatas, menatap nanar kobaran api yang menelan mobil kesayangannya perlahan-lahan. 

Kara dulunya adalah algojo pencabut nyawa terbaik milik Aegis Syndicate, sampai organisasinya sendiri meledakkan mobilnya. Kepercayaan mutlak yang dia bangun mati-matian belasan tahun hancur lebur saat itu juga. Darahnya mendidih seketika. Dendam menyala jauh lebih terang dan panas daripada api di depannya.

****

​Langkah sepatu hak tinggi beradu nyaring dengan lantai marmer lobi utama Gedung Aegis Corp. Riana membenarkan letak kacamata berbingkai tebal yang bertengger di hidungnya. 

Nama dan wajah lamanya sudah mati terbakar bersama ledakan dahsyat itu. Enam bulan operasi rekonstruksi wajah secara rahasia mengubah bentuk rahang, hidung, dan garis matanya secara total. Tidak ada lagi Kara sang pembunuh bayaran berdarah dingin.

​Gedung pencakar langit raksasa ini adalah pusat operasi kotor dan pencucian uang triliunan rupiah milik Aegis Syndicate. Riana melangkah masuk penuh percaya diri membawa buku pedoman karyawan tebal bersampul biru dan tablet kerja di tangannya. 

Tujuannya kembali ke sarang penyamun ini bukan untuk mengamuk, melempar granat, atau menembaki orang secara membabi buta. Dia memilih jalur yang jauh lebih menyakitkan dan mematikan. Jalur birokrasi murni.

​"Pagi, Bu Riana," sapa petugas keamanan lobi dengan ramah saat dia melewati mesin pemindai.

​"Dasi lo miring," balas Riana tanpa menoleh sedikit pun. "Rapikan segera sebelum gue laporkan ke atasan lo sebagai pelanggaran tata tertib kerapian berpakaian."

​Petugas keamanan itu langsung menelan ludah gugup dan buru-buru membenarkan dasinya dengan tangan gemetar.

​Riana melangkah masuk ke dalam lift khusus eksekutif. Plakat perak elegan bertuliskan Manajer Sumber Daya Manusia menempel manis di pintu kayu mahoni ruangannya di lantai lima belas. Hari pertama kerja selalu menarik dan penuh kejutan. Riana memutar kenop pintu perlahan dan mendorongnya masuk.

​Suasana ruangan itu sama sekali tidak seperti yang dia harapkan untuk standar kebersihan kantor modern. Udara dipenuhi asap cerutu yang sangat pekat dan bau menyengat hidung.

​"Siapa yang izinkan lo masuk ruang HRD, hah?"

​Suara serak dan berat itu menyambut kedatangan Riana dengan nada meremehkan. Gideon, Kepala Divisi Logistic Aegis Corp, duduk sangat santai di kursi manajer empuk milik Riana. Kedua sepatu bot kotor berlumpurnya diangkat tinggi-tinggi ke atas meja kerja yang bersih mengkilap. Tiga kancing atas kemejanya sengaja dibuka, memperlihatkan tato kalajengking besar di dada bidangnya yang berotot.

​Riana tidak menunjukkan reaksi terkejut atau mundur ketakutan sedikit pun. Dia berjalan mendekat dengan langkah stabil, meletakkan tablet kerjanya di ujung meja yang masih kosong.

​"Turunkan kaki kotor lo dari meja kerja gue sekarang juga," tegur Riana dengan nada datar. Tidak ada getar kepanikan sama sekali dalam suaranya.

​Gideon tertawa terbahak-bahak mendengar teguran itu. Dia mengisap cerutunya dalam-dalam dan mengembuskan asap putihnya sengaja ke arah wajah Riana, berniat mengintimidasi.

​"Lo pasti manajer HRD baru yang sok pintar itu," ejek Gideon kasar sambil menunjuk wajah Riana. "Biar gue perjelas aturan main di gedung ini, Nona Kacamata. Divisi Logistik itu jantung utama perusahaan ini. Lo nggak punya hak buat ngatur-ngatur orang lapangan kayak gue dan tim elit gue."

​"Surat keputusan rotasi karyawan sudah ditandatangani oleh jajaran direksi tadi subuh," balas Riana tenang tanpa terpancing emosi. Tangannya membuka buku pedoman karyawan ke halaman empat belas. "Divisi lo punya tingkat pelanggaran disiplin paling parah sepanjang sejarah Aegis Corp berdiri. Enam belas orang mangkir absen selama satu minggu penuh tanpa surat keterangan medis dari dokter yang sah."

​"Mereka lagi tugas khusus di perbatasan, idiot!" Gideon menggebrak sandaran lengan kursi dengan keras hingga roda kursi berderit. "Mereka itu ujung tombak Aegis! Mereka bunuh musuh buat perusahaan! Mereka bukan kacung kantoran lemah yang harus pusing memikirkan absen sidik jari tiap datang!"

​"Peraturan perusahaan pasal dua belas menyebutkan dengan sangat jelas bahwa seluruh karyawan tanpa pengecualian wajib melakukan rekam kehadiran," jawab Riana sedingin es, menatap tajam menembus kepulan asap cerutu Gideon. "Tidak ada pengecualian untuk divisi algojo sekalipun. Kalau anak buah lo menolak rotasi kerja ke divisi pengemasan gudang, anggap saja mereka semua sudah mengundurkan diri secara sukarela mulai detik ini."

​Wajah Gideon memerah hebat menahan amarah yang meledak. Urat-urat tebal di lehernya menonjol keluar seperti cacing. Sebagai salah satu bos mafia paling ditakuti dan disegani di dunia bawah tanah, belum pernah ada orang kantoran berseragam rapi yang berani membantahnya secara langsung. Apalagi seorang perempuan culun dengan kacamata tebal yang terlihat seperti kutu buku rendahan.

​"Satu hal lagi," tambah Riana saat posisi mereka berdua saling berhadapan tegang. "Menurut laporan divisi keuangan, tiga anak buah lo itu mengklaim asuransi kesehatan perusahaan minggu lalu untuk mengobati luka tembak di dada. Asuransi kesehatan Aegis Corp tidak menanggung cedera akibat baku tembak di luar jam kerja operasional."

​"Itu urusan keamanan wilayah! Mereka berdarah-darah mempertahankan aset bos besar di dermaga!" bantah Gideon berteriak kencang.

​"Tidak ada surat perintah lembur yang ditandatangani oleh atasan. Artinya, secara administratif, mereka sedang jalan-jalan malam santai dan kebetulan tertembak preman," potong Riana tanpa ampun sedikit pun. "Gue sudah mencabut paksa fasilitas asuransi mereka. Mereka harus bayar biaya operasi rumah sakit pakai uang pribadi."

​"Bitch! (Jalang!)" maki Gideon keras. "Lo mau cari mati cepat, hah? Lo nggak tahu berhadapan dengan siapa?"

​"Gue tahu persis siapa lo, Gideon." Riana melipat tangannya di dada. Matanya tidak lepas dari sosok raksasa berbahaya di depannya. "Lo cuma karyawan biasa bermasalah dengan manajemen waktu yang sangat buruk dan rekam jejak indisipliner yang panjang. Dan asal lo tahu, ruangan ini adalah area bebas asap rokok. Matikan cerutu bau itu atau gue panggil petugas keamanan gedung untuk mengusir lo paksa karena pelanggaran fasilitas kantor tingkat satu."

​Gideon mendengus kasar seperti banteng marah. Dia melempar cerutunya ke atas karpet lantai yang mahal dan menginjaknya hingga padam. Pria itu bangkit berdiri, menjulang tinggi membayangi tubuh Riana. Postur tubuhnya yang besar seharusnya membuat wanita mana pun kencing di celana karena teror.

​"Lo pikir lo bisa memecat anak buah andalan gue cuma modal buku pedoman bodoh dan kacamata tebal lo itu?" Gideon mendecih remeh. "You are digging your own grave (Lo sedang menggali kuburan lo sendiri)."

​"Sesuai prosedur ketenagakerjaan pasal dua puluh ayat tiga, pemutusan hubungan kerja sepihak tidak memerlukan izin dari Kepala Divisi jika pelanggaran sudah melampaui batas toleransi surat peringatan ketiga," timpal Riana tanpa mengubah intonasi suaranya. "Tito, Bimo, dan Alex. Ketiga algojo kesayangan lo itu dipecat tanpa pesangon hari ini juga. Keputusan ini mutlak."

​"Tarik surat mutasi dan pemecatan sampah itu sekarang juga!" geram Gideon buas. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih pasi.

​"Tidak."

​Jawaban Riana keluar singkat, padat, dan benar-benar tidak terbantahkan oleh siapa pun.

​Kesabaran Gideon benar-benar habis di titik nadir. Dia melangkah maju dengan sangat cepat, menabrak pinggiran meja kerja hingga bergeser. Tangan kanannya yang besar terulur kasar, mencengkeram erat kerah kemeja putih Riana. 

Tenaga Gideon cukup kuat untuk mengangkat ujung kaki Riana sedikit terangkat dari lantai marmer. Cengkeraman kuat itu menekan leher Riana, berniat mencekiknya pelan-pelan.

​Riana sama sekali tidak berkedip. Mata di balik lensa kacamata tebal itu menatap kosong lurus ke manik mata Gideon yang menyala murka. 

Tidak ada perlawanan panik, tidak ada jeritan minta tolong yang menyedihkan, dan tidak ada usaha melepaskan diri dari cengkeraman maut itu. Riana tetap diam sedingin es.

1
Susilawati
mantap Riana 👍👍👍
Susilawati
hati2 Riana, kayaknya si Gideon sengaja mau menjebak
This Is Me
Yeyyyy....ditunggu up nya
Savana Liora: okeee
total 1 replies
This Is Me
Ini pancingan aja seprtinya
Maya Ratnasari
gilaa keren abiiiissss kau thor
Savana Liora
Halo. kontrak novel riana dan jace sudah othor terima hari ini. jadi, udah bisa crazy up ya. tp ga tiap hari juga crazy-nya. ntar malah othor yg setres 🤭 happy reading
Susilawati: semangat Thor, selalu di tunggu kelanjutannya 👍
total 6 replies
Muft Smoker
aduuuuh ,, bahayaaa tingkat tingkat niih ,,
semoga aj mereka gx ketahuan ,,


lanjuut kak
Muft Smoker
gx pernah gagal deeh cerita kak Savana 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Susilawati
penasaran, apa yg bakalan terjadi.
lanjut lagi thor 👍
Savana Liora: besok ya. mau tidur dulu 🙏🙏
total 1 replies
This Is Me
Waduh..bahaya menanti
Savana Liora: iyaa 😄😄
total 1 replies
This Is Me
Suka banget ceritanya.
Semoga segera dapat kontraknya ya
Semangat💪💪
Savana Liora: Aamiin. semoga dalam beberapa hari ini. sudah lolos 2 tahapan review. tinggal 1 tahap lg.
total 1 replies
Eli Rahma
ketahuan gk yaaaaccchhh
Savana Liora: kita liat besok pagi ya
total 1 replies
Septi Lahat
lanjut kan kak thor,, 💪💪💪
FHR
Makin menegangkan 😍
This Is Me
Proyek bersih² yang berhasil
Septi Lahat
hukumannya nggk maen2 ya🤔,,penggelapan dana lgsung dicincang😁
Savana Liora: iya. nggak bisa macam2 emang
total 1 replies
Rizky Manik
lanjut thor🤗🤗
Susilawati
hiii sadis banget perintahnya, digiling sampai habis semua badan nya si Frans.
Savana Liora: iyak. jadi pakan ikan
total 1 replies
Susilawati
wah senangnya author up lagi 👍👍👍
FHR
Apakah Bramantyo akan curiga siapa Riana sebenarnya?
Savana Liora: suatu saat akan curiga
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!