NovelToon NovelToon
Whispers Beneitah The Sajadah

Whispers Beneitah The Sajadah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: jlianty

“Aku nggak mau nikah sama ustaz dingin kayak kulkas berjalan!”




Itulah teriakan Naura Aleesha saat orang tuanya menjatuhkan keputusan ia akan menikah dengan Gus Azzam Al-Farizi, pewaris pesantren ternama. Bagi Naura, gadis modern yang mencintai kebebasan, café, dan koleksi bunga, menikah dengan lelaki yang hidupnya diatur oleh aturan agama adalah akhir dari dunianya.



Di sisi lain, Gus Azzam menerima wasiat terakhir almarhum kakeknya dengan tenang. Meski calon istrinya jauh dari kesan islami, keras kepala, dan bahkan tidak berhijab syar’i, Azzam adalah lelaki yang tak pernah membantah takdir. Ia berjanji akan menjaga Naura, meski dengan caranya yang diam dan penuh batas.



Pernikahan yang diawali penolakan dan kesalahpahaman ini perlahan mempertemukan dua dunia yang bertolak belakang. Di balik tatapan dingin Azzam, ada taman bunga yang diam-diam ia tanamkan untuk istrinya. Di balik keras kepala Naura, ada kelembutan yang mampu melelehkan hati sang Gus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jlianty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 - Gus Viral

Dua hari berlalu tanpa kabar dari keluarga Al-Farizi. Naura tak akan mengakuinya bahkan di bawah ancaman senjata bahwa ia memeriksa ponselnya lebih sering dari biasanya. Bukan karena menunggu pesan dari Gus Azzam. Tentu saja bukan. Ia hanya... habitually checking. Itu saja.

Namun pagi itu, ponselnya meledak. Bukan secara literal. Tapi hampir saja.

Cipa: NAU. BUKA TWITTER. SEKARANG.

Cipa: BUKA TWITTER NAURA

Cipa: BUKAAAAAAAAAAAAAAAA

Naura, yang sedang duduk di meja sarapan dengan roti panggang setengah dimakan, mengerutkan dahi. Ia menekan ikon Twitter dengan jempol, dan alaman trending topic menyapu layarnya seperti gelombang tsunami.

|#1 Trending: GusAzzamAlFarizi|

|#2 Trending: SangGus|

|#3 Trending: CeramahViral|

|#5 Trending: PesantrenAlFarizi|

"Apa ini?" bisik Naura, ibu jarinya bergerak otomatis mengetuk layar.

Ia membuka thread pertama yang muncul, dan matanya langsung melebar. Ada video. Sebuah klip pendek berdurasi 47 detik. Kualitasnya tidak terlalu bagus jelas direkam diam-diam dari belakang masjid tapi subjeknya terlihat dengan sangat jelas.

Gus Azzam Al-Farizi berdiri di mimbar.

Ia mengenakan koko putih lurus tanpa kusut, sorban putih yang melingkar sempurna, dan jubah hitam yang jatuh elegan di tubuhnya. Tangan kanannya menggenggam mic, tangan kirinya di belakang punggung. Posturnya tegak bukan kaku, tapi tegak seperti pohon besar yang mengakar dalamdan saat ia berbicara, suaranya... Naura menekan play.

"...dan ketika hatimu merasa sempit, jangan cari pintu keluar. Carilah sajadah. Karena Allah tidak pernah menutup pintu-Nya bagi hamba yang bersujud."

Suara bariton itu mengalir dari speaker ponsel, meresap ke dalam tulang Naura seperti getaran bass yang ia rasakan saat berdiri terlalu dekat dengan speaker konser. Tapi ini berbeda. Getaran ini tidak menggoyahkan tubuhnya. Ia menggoyahkan sesuatu yang lebih dalam.

"Ya Tuhan," batin Naura, roti panggangnya terlupa di tangan. "Suara se-enak itu emang boleh?"

Ia memutar ulang video. Kali ini, fokusnya bukan pada suara, tapi pada wajah.

Kamera sedikit bergoyang, lalu zoom in saat Azzam menoleh ke sisi lain mimbar. Profilnya tertangkap sempurna rahang tajam yang seolah diukir dari granit, hidung mancung yang melempar bayangan di pipinya, bibir yang tipis namun penuh, dan mata... Mata itu.

Bahkan melalui layar ponsel yang buram, Naura bisa merasakan intensitas tatapan itu. Matanya seperti dua lubang hitam yang menelan semua cahaya di sekitarnya, namun anehnya, bukan gelap yang menakutkan. Melainkan gelap yang menenangkan. Seperti langit malam yang menjanjikan bintang.

Video berakhir. Naura menyadari ia menahan napas. Ia melepaskan napas itu perlahan, lalu melihat ke bawah. Roti panggangnya sudah dingin. Tangannya gemetar sedikit.

Lalu ia scroll ke komentar dan dunianya runtuh untuk alasan yang sangat berbeda dari dua hari lalu.

@pesantrenlovers: GUS AZZAM GIMANA BISA SEGANTENG ITU?! ASTAGHFIRULLAH HALAFZAKI HATIKU! 😭😭

@hafidzah_cantik: Sumpah, kalau suamiku Gus Azzam, aku nggak akan keluar rumah. Mau ngaji 24 jam aja bersedia. 🤲🤲

@jamaahsetia: SUARA NYA KAYA MADU YG DICAMPUR COKELAT DAN DISAJIKAN DI PAGI HARI. SUBHANALLAH.

@santriwatimodern: Gue mau nikah sama Gus Azzam. Siapa mau jadi istri kedua? 😂😂

@zahra_humaira_fans: Gus Azzam sudah ada pemiliknya. Beliau akan menikah dengan Zahra Humaira. Back off, semua. 🙄

@netizen_jujur: Lho bukannya Gus Azzam dijodohkin sama anak pengusaha yg modern itu? Yg fotonya viral kemarin?

@pesantrenlovers: YANG NGGAK PAKAI HIJAB ITU?! NGGAK PANTAS BANGET! 🤮

@hafidzah_cantik: Gus Azzam terlalu suci buat orang model gitu. Zahra lebih pantas.

@jamaahsetia: Setuju! Zahra itu santriwati teladan. Calon istri Gus yang sejati!

Naura menatap layarnya dengan ekspresi kosong. Roti panggang di tangannya perlahan digenggam hingga remuk.

"Zahra lagi," batinnya, rasa aneh yang sama dengan saat ia membaca komentar pertama kali kembali menyembul. Panas. Tajam. Membakar. Zahra Humaira. Siapa dia? Kenapa semua orang sepertinya sudah memilihkan istri untuk Gus Azzam?

Ia menggeleng keras. "Tunggu. Kenapa aku peduli? Aku kan tidak mau menikah dengannya. Aku yang menolak. Seharusnya aku senang ada perempuan lain yang mau menggantikanku."

Tapi logika dan perasaan adalah dua hal yang sangat berbeda dan perasaan Naura saat ini badmood.

Berita viral itu tidak hanya menghantam Naura. Seluruh Jakarta bahkan Indonesia seperti terobsesi dengan video 47 detik itu.

Sore harinya, Naura sedang berdiri di dapur, membuat teh tarik untuk dirinya sendiri, ketika ibunya masuk dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Naura," Diana meletakkan tas belanjanya di meja, lalu menatap putrinya. "Kamu sudah lihat video itu?"

"Video Gus Azzam?" Naura berpura-pura acuh tak acuh, menuangkan teh ke gelas. "Iya. Trending di mana-mana."

Diana menghela napas, duduk di kursi bar dapur. "Ibu-ibu tadi semua membicarakannya. Mereka bilang... anak pesantren itu sangat tampan. Salah satu ibu bahkan bilang dia rela jadi poligami hanya untuk—" Diana berhenti, menyadari topiknya melenceng. "Intinya, video itu bikin heboh."

Naura hanya mencelupkan tehnya, tidak menanggapi.

"Dan," Diana melanjutkan hati-hati, "mereka juga membicarakan... perjodohan itu."

Tangan Naura terhenti di tengah udara, sendok teh melayang di atas gelas. "Oh?"

"Mereka bilang... banyak pihak yang tidak setuju jika Gus Azzam menikah dengan gadis di luar lingkaran pesantren." Diana memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati. "Mereka bilang... ada santriwati yang lebih... pantas."

Naura menaruh sendoknya dengan suara klak yang lebih keras dari yang ia inginkan. "Maksud Mama apa?"

Diana mengangkat tangan. "Mama hanya memberitahumu apa yang mereka bicarakan, Naura. Bukan berarti mama setuju dengan mereka."

"Ya sudah kalau begitu," Naura mengambil gelasnya dan berjalan keluar dapur dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya. "Urusan siapa yang pantas atau tidak, itu bukan urusan mereka. Dan bukan urusanku juga. Aku kan sudah menolak."

Diana menatap punggung putrinya yang menghilang di balik pintu, lalu tersenyum tipis. Ia bukan sosialita bodoh. Ia tahu benar apa artinya anak perempuannya berjalan keluar dapur dengan gelas teh yang masih terlalu panas untuk dimimum langsung.

Itu artinya Naura sedang marah dan Naura Aleesha hanya marah seperti itu untuk satu hal sesuatu yang ia coba sangat keras untuk tidak pedulikan.

.

.

.

Malam itu, Naura tidak bisa tidur. Ia terbaring di atas kasur, ponsel di atas kepalanya, scroll tanpa henti. Ia sudah menonton video Gus Azzam itu... tujuh kali. Bukan karena ia sengaja menghitung. Tapi karena jempolnya secara otomatis menekan tombol replay setiap kali video berakhir.

Setiap kali suara bariton itu mengalir, sesuatu di dada Naura bergetar. Bukan jantungnya tentu saja bukan. Mungkin... ususnya. Ya, mungkin ususnya yang butterfly atau apa pun itu istilahnya.

"STOP!" tegur Naura pada dirinya sendiri. "Kau tidak boleh terpikat suara seorang ustaz."

Ia scroll lebih jauh, melewati ratusan akun fans Gus Azzam yang bermunculan seperti jamur di musim hujan. Ada akun yang khusus memposting foto-foto lama Azzam saat ceramah, ada yang membuat editan estetik dengan caption ayat Al-Qur'an, dan ada pula yang...

Naura terhenti.

Sebuah postingan menarik perhatiannya. Akun @zahra_humaira_official. Follower nya ratusan ribu, jelas akun besar di kalangan pesantren. Foto yang diposting menunjukkan seorang gadis bercadar dengan jubah hitam, berdiri di depan mimbar masjid, tersenyum sopan sambil memegang buku kitab. Di belakangnya, blur, tapi cukup recognizable, ada sosok Gus Azzam yang sedang berbicara.

Caption-nya:

"Dunia mungkin melihatnya dari jauh, tapi aku melihatnya dari dekat. Gus Azzam Al-Farizi bukan hanya wajah di layar ponselmu. Beliau adalah ilmu, kebaikan, dan ketenangan. Dan aku bersyukur telah diberi kesempatan untuk berada di sampingnya selama ini. 🤍 #GusAzzam #ZahraHumaira #PesantrenAlFarizi"

Naura menatap caption itu begitu lama hingga layar ponselnya secara otomatis menggelap.

"Dari dekat," ulang batinnya. "Berada di sampingnya selama ini."

Perut Naura terasa seperti diremas. Rasanya seperti saat ia minum teh terlalu cepat panas, sesak, dan membuatnya ingin muntah. Tapi ini bukan teh. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

"Cemburu," bisik suara jujur di kepalanya.

"Nggak!" bisik suara pembelaannya. "Gue cuma... cuma penasaran! Itu wajar kan?! Orang yang seharusnya jadi suamiku itu dekat dengan perempuan lain! Tentu gue punya hak untuk merasa... terganggu!"

Tapi suara pembelaannya terdengar sangat lemah. Karena kenyataannya, Naura tidak merasa terganggu. Ia merasa terancam. Dan yang lebih mengerikan ia merasa... kalah.

Zahra Humaira adalah segalanya yang Naura tidak punya. Alim, berhijab syar'i, mengerti dunia pesantren, dekat dengan Azzam selama bertahun-tahun. Orang-orang melihat Zahra sebagai istri yang sempurna untuk Gus Azzam.

Lalu apa yang dimiliki Naura? "Celana pendek dan koleksi novel romance?" batinnya getir. "Taman bunga dan terrarium?"

Naura melempar ponselnya ke samping, memejamkan mata, dan berusaha tidur. Tapi bayangan yang muncul di kegelapan bukanlah wajah Zahra.

Bayangan yang muncul adalah sepasang mata hitam yang menatapnya dengan tenang. Bibir yang mengucapkan 'aku tidak datang untuk merampas kebebasanmu'. Dan senyum tipis yang meski hanya terlihat sekali sudah cukup membuat dada Naura berdenyut seperti drum.

"Gus Azzam," bisik Naura dalam gelap, namanya terasa asing di lidahnya sendiri. "Lo benar-benar masalah besar."

.

.

.

Di malam yang sama, di Pesantren Al-Farizi. Gus Azzam duduk di mejanya, membaca kitab tafsir dengan cahaya lampu meja yang hangat. Di sampingnya, secangkir teh hijau sudah setengah dingin, tak tersentuh.

Ponselnya bergeta. Lalu bergeta lagi. Dan lagi.

Azzam menghela napas, menutup kitabnya, dan mengambil ponsel itu. Layarnya dipenuhi notifikasi pesan dari sesama ustaz, dari pengurus pesantren, dari nomor-nomor yang tidak ia kenal.

Ia membuka satu pesan dari ustaz senior.

Ustaz Makmur: Gus, video ceramah Gus kemarin viral. Mungkin Gus harus waspada. Banyak pihak yang mulai memperhatikan. Ada positifnya, tapi ada juga negatifnya. Semoga Gus sehat-sehat saja.

Azzam membacanya, lalu membalas dengan singkat:

Azzam: Terima kasih, Ustaz.

Ia scroll sedikit, dan tanpa ia sadari, jempolnya berhenti pada sebuah foto.

Foto Naura.

Bukan foto yang viral itu terlalu menyakitkan untuk dilihat. Tapi foto yang lain. Foto yang ia simpan dari akun media sosial Naura sebelum semuanya terjadi. Foto di mana Naura sedang duduk di antara bunga-bunga di taman sebuah cafe , tersenyum lebar dengan mata yang berbinar, rambutnya diikat tinggi, memegang kamera dengan tangan yang penuh cincin aesthetic.

Azzam menatap foto itu lama-lama.

Senyum itu. Senyum yang tidak ia lihat langsung. Senyum yang hanya ada di layar ponselnya. Senyum yang membuatnya bertanya-tanya seperti apa rasanya jika senyum itu ditujukan padanya.

"Belum saatnya ," bisik Azzam dalam hati. "Tapi suatu saat nanti, aku akan membuatnya tersenyum seperti itu untukku."

Ia mematikan ponsel, kembali membuka kitabnya, tapi matanya tidak fokus pada huruf-huruf Arab di halaman itu.

Pikirannya melayang pada gadis yang menolaknya. Gadis yang berdiri di bawah hujan dengan baret yang jatuh. Gadis yang merawat bunga putih. Gadis yang matanya berbinar saat marah, seperti api yang menolak padam.

"Kamu bilang aku kulkas berjalan, Naura?" batin Azzam, sudut bibirnya terangkat. "Kita akan lihat siapa yang mencair duluan."

Ia mengambil baret kecil berwarna pastel dari laci mejanya, baret yang jatuh dari kepala Naura sore itu. Ia memutar baret itu di jarinya, lalu meletakkannya kembali dengan hati-hati.

Di luar jendela, bulan sabit menggantung di langit Jakarta. Dan di bawah cahaya yang sama, dua orang yang terpisah oleh dunia dan takdir, sama-sama terjaga.

Sama-sama memikirkan satu sama lain. Sama-sama menolak mengakui bahwa ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka.

Tapi takdir tak pernah meminta izin.

.

.

.

1
Nina Utami
novelnya baru ya kak?
jlianty: Iyaa, ikutin terus ya. Aku update tiap hari kok🤭
total 1 replies
Nina Utami
Gus Azzam kata katamu bikin nangiss
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!