Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengungkap Konspirasi — Rio, Andre, dan Vania Hari Selasa. Sekolah.
Hari Selasa. Sekolah.
Aku dan Rasya resmi menjadi pasangan—tapi kita sepakat untuk tidak mengumumkannya ke siapa pun dulu. Terlalu berbahaya.
Sasha tahu, tentu saja. Si anak kupu-kupu itu langsung curiga begitu melihat aku dan Rasya jalan berdua menuju kantin, tangan kami bergandengan di balik tas masing-masing.
"GILA! KALIAN PACARAN?!" teriak Sasha di kantin.
"Sha, pelan-pelan," desisku, menutup mulutnya.
"Maaf, maaf." Sasha menepuk-nepuk dadanya sendiri. "Tapi aku kaget banget. Kirain kamu benci sama Rasya."
"Aku nggak pernah benci," kataku. "Aku cuma... butuh waktu."
"Itu kode 'aku suka dia dari awal tapi nggak mau ngaku'," Sasha menyeringai. "Aku anak psikologi, Nay. Aku tahu."
Rasya yang duduk di sebelahku hanya tersenyum kecil, lalu kembali makan mi ayamnya dengan tenang.
"Tapi kalian harus hati-hati," lanjut Sasha, suaranya tiba-tiba serius. "Soalnya... Vania dan Rio kayaknya lagi mengincar kalian berdua."
"Kami tahu," kataku.
"Aku lihat Rio ngobrol sama anak kelas 3 di belakang laboratorium. Mereka ngomongin soal 'rencana besar'. Aku nggak denger semuanya, tapi aku dengar namamu, Nay."
Rasya berhenti mengunyah. Matanya menyipit. "Sasha, kamu bisa bantu kita?"
"Bantu gimana?"
"Pantau Rio. Tapi jangan ketahuan."
Sasha mengangguk tegas. "Bisa. Aku kan mungil, gampang nyusup."
Aku tertawa. Sasha memang kecil—hampir 10 cm lebih pendek dariku. Dengan postur seperti itu, dia bisa dengan mudah bersembunyi di balik tembok atau rak buku.
"Tapi hati-hati, ya," pesanku. "Jangan sampai kamu ikut terseret."
"Tenang, Nay. Aku juga punya insting bertahan hidup." Sasha mengedip. "Lagipula, kalau aku mati, siapa yang akan jadi saksi di pernikahan kalian nanti?"
"SASHA!"
---
Jam Istirahat Kedua — Di Belakang Laboratorium
Sasha memberi kode: dua kali tepukan di pundakku saat kami berpapasan di lorong. Artinya, Rio sedang di belakang laboratorium.
Aku dan Rasya diam-diam menuju ke sana.
Kami bersembunyi di balik dinding, di antara dua ruang laboratorium yang kosong. Dari sini, kami bisa mendengar suara Rio—dan seseorang yang lain.
"Jadi, kamu sudah memberi tahu Andre?" suara Rio—dingin, terukur.
"Belum. Andrenya keras kepala. Dia masih sayang sama Nayla." Suara itu... Vania.
"Sayang?" Rio tertawa kecil—tawa yang membuat bulu kudukku berdiri. "Andre itu tidak sayang siapa-siapa selain dirinya sendiri. Dia cuma mau Nayla karena Nayla kaya."
"Tapi orang tua Nayla di kehidupan ini nggak sekaya dulu."
"Tidak masalah. Kita bisa atur ulang semuanya. Kita punya pengalaman dari kehidupan sebelumnya. Kita tahu kelemahan semua orang."
"Termasuk Rasya?" tanya Vania.
"Rasya... ah, Rasya." Rio mendesah. "Dia masalah terbesar. Di kehidupan sebelumnya, dia hampir menjatuhkan kita semua. Untung dia mati bersama Nayla."
"Terus sekarang?"
"Sekarang kita bunuh dia. Sebelum dia bertindak."
Aku merasakan tangan Rasya menggenggam erat tanganku. Tangannya dingin—tapi genggamannya kuat. Seperti dia menenangkan aku sekaligus dirinya sendiri.
"Tapi gimana caranya?" suara Vania terdengar ragu.
"Aku sudah punya rencana. Minggu depan, ada karyawisata sekolah ke Puncak. Kita akan manfaatkan momen itu."
"Karyawisata? Tapi gurunya banyak—"
"Kita tidak perlu membunuh sekarang. Cukup membuat dia celaka. Kecelakaan. Patah kaki. Tidak bisa datang ke sekolah selama beberapa bulan. Selama dia tidak mengganggu, kita bisa bebas menghancurkan Nayla."
Aku menggigit bibir. Minggu depan. Puncak. Mereka akan mencelakai Rasya.
"Nay," bisik Rasya pelan, "kita harus—"
Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat.
"Nggak, sembunyi—" aku menarik Rasya ke dalam ruang laboratorium yang kosong, menutup pintu perlahan.
Kita berdua bersembunyi di balik meja besar, napas tertahan.
Rio berjalan melewati laboratorium. Kami mendengar suara sepatunya yang ritmis di lantai keramik. Lalu... berhenti.
"Vania, kamu yakin nggak ada orang di sini?"
"Yakin. Tadi sepi."
"Tapi aku merasa ada yang memperhatikan."
Keheningan. Rasya dan aku tidak bernapas.
"Nggak ada, Rio. Ayo balik. Nanti ketahuan."
Setelah beberapa detik yang terasa seperti jam, langkah kaki Rio menjauh.
Aku menghela napas lega.
"Nayla," bisik Rasya. "Kita harus lapor ke guru."
"Nggak bakal percaya. Kita nggak punya bukti."
"Maka kita harus membuatnya."
Aku menatap matanya. "Rencana?"
Dia tersenyum tipis—senyum yang penuh arti. "Kita pergi karyawisata. Tapi bukan sebagai korban. Sebagai... pemburu."
---
Malam Itu — Chat Log Grup (Nayla, Rasya, Sasha)
Nayla (21.30): "Oke, guys. Minggu depan karyawisata ke Puncak. Rio dan Vania berencana mencelakai Rasya. Kita harus mencegahnya—tapi juga menjebak mereka balik."
Sasha (21.31): "Gila. Seriusan? Ini kayak film action!"
Rasya (21.31): "Bukan film, Sasha. Ini nyata."
Sasha (21.32): "Aku tahu. Tapi tetap seru."
Nayla (21.32): "Sha, fokus."
Sasha (21.33): "Iya, iya. Jadi rencananya gimana?"
Nayla (21.33): "Kita harus rekam percakapan mereka. Bukti. Setelah itu kita bawa ke guru—atau polisi."
Rasya (21.34): "Aku bisa curi handphone Rio. Tapi butuh pengalihan."
Sasha (21.34): "Aku pengalihan. Kasih aku tugas."
Nayla (21.35): "Sasha, kamu harus pura-pura jatuh sakit. Bikin Rio dan Vania sibuk."
Sasha (21.35): "Bisa. Aku bisa pura-pura muntah."
Rasya (21.36): "Jangan pura-pura. Beneran muntah. Biar dramatis."
Sasha (21.36): "..."
Sasha (21.37): "Rasya, kamu kejam."
Rasya (21.37): "Realistis."
Nayla (21.38): "Oke, rencana siap. Kita bahas detail besok di sekolah. Sasha, bawa camilan."
Sasha (21.38): "Bawa camilan sambil atur rencana? Wah seru nih, aku suka."
Rasya (21.39): "Good night."
Nayla (21.39): "Good night, semua. Semoga sukses."
Sasha (21.40): "Good night, pasangan kekasih. Aku tahu kalian bakalan chat berdua setelah ini."
Aku tertawa.
Nayla (21.41): "Sha, tutup mulut."
Sasha (21.41): "Iya, iya. Bye!"