NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ba 33

Bibir Arkan akhirnya terlepas pelan, meninggalkan rasa hangat yang membuat jantungku masih berdegup kencang tidak keruan. Di dalam ruangan tangga darurat yang sepi dan agak remang-remang ini, aku bisa mendengar suara napas kami berdua yang saling bersahut-sahutan. Pria kaku di depanku ini masih saja mengunci pinggangku erat-erat, seolah-olah kalau dia melepas pegangannya sedikit saja, aku akan langsung terbang menghilang.

Aku buru-buru mengambil cermin kecil dari dalam tas kerjaku, lalu memeriksa wajahku. Benar saja dugaanku.

"Arkan! Lihat nih, lipstikku jadi berantakan semua!" bisikku kesal sambil memukul dadanya pelan. "Kalau Rini atau karyawan lain melihatku keluar dengan kondisi begini, akting musuhan kita bisa gagal total! Mereka nggak akan percaya kita lagi perang dingin, mereka malah mikir kita habis tawuran pakai bibir!"

Arkan langsung menjauhkan wajahnya sedikit, memalingkan pandangan ke arah tembok sambil berdehem kaku berkali-kali. Pipi dan telinganya langsung berubah warna jadi merah jambu—sebuah pemandangan super langka yang selalu berhasil membuatku gemas setengah mati.

"Itu... itu bukan salahku, Naura," dalih Arkan dengan nada ketus yang sangat dibuat-buat, berusaha keras mengembalikan wibawa bos besarnya yang sudah runtuh. "Aku cuma sedang menguji ketahanan produk kosmetik yang kamu pakai. Sebagai suami, aku harus memastikan istriku tidak memakai barang tiruan yang berbahaya untuk kesehatan kulit."

Aku memutar bola mata jengkel. "Alasan saja! Bilang saja kalau Pak CEO yang terhormat ini memang sudah rindu setengah mati padaku tapi terlalu gengsi untuk mengakuinya, kan?"

"Jangan terlalu percaya diri," Arkan merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut, kembali memasang wajah triplek andalannya. "Tadi itu cuma tindakan spontan untuk menenangkan pikiranku sebelum kembali menghadapi rapat yang membosankan dengan Dimas. Sekarang, cepat rapikan riasanmu. Kita harus segera kembali ke posisi masing-masing sebelum ada orang yang curiga."

Sebelum membuka pintu besi tangga darurat, Arkan tiba-tiba berbalik lagi. Tangan besarnya bergerak pelan, merapikan beberapa helai anak rambutku yang berantakan dengan sangat lembut, lalu menyelipkan sebuah permen karet rasa stroberi ke dalam saku rok kerjaku.

"Makan ini supaya bau parfum vanila yang menyebalkan itu hilang dari pikiranmu," bisik Arkan dengan suara rendah yang sangat manis, sebelum akhirnya dia membuka pintu dan melangkah keluar lebih dulu dengan wajah yang mendadak berubah jadi sangat menyeramkan dan dingin.

Pria ini benar-benar punya dua kepribadian yang bikin pusing. Di dalam sini dia bisa manis seperti gulali, tapi begitu keluar pintu, dia langsung berubah jadi monster yang siap memakan orang hidup-hidup.

***

Aku sengaja menunggu sekitar tiga menit sebelum akhirnya keluar dari pintu tangga darurat. Dengan wajah yang dibuat selayu mungkin, seolah-olah aku baru saja habis menangis di pojokan sepi, aku berjalan pelan menyusuri koridor lantai pemasaran menuju ruanganku.

Baru saja aku mau memegang gagang pintu ruang kerja, sebuah suara manis yang sangat kukenali terdengar dari arah belakang.

"Bu Naura... Ibu tidak apa-apa?"

Aku membalikkan tubuhku perlahan. Valerie berdiri di sana sambil memegang sebuah papan jalan berisi tumpukan kertas laporan gudang. Wajahnya dipasang seolah-olah dia sangat mengkhawatirkanku, tapi aku bisa melihat dengan sangat jelas ada binar kebahagiaan dan kepuasan yang luar biasa di dalam sepasang matanya.

"Saya tadi tidak sengaja lewat dan dengar Pak Arkan marah-marah besar di ruangan Ibu," ucap Valerie dengan nada suara yang dilemas-lemaskan, pura-pura bersimpati. "Saya jadi merasa sangat bersalah, Bu. Apa... apa semua ini gara-gara saputangan saya yang tertinggal di ruangan beliau kemarin sore? Saya benar-benar minta maaf kalau kehadiran saya malah membuat hubungan Ibu dan Pak Arkan jadi retak."

Aku menahan napas sejenak, mencoba menahan diri agar tidak menyemburkan tawa di depan wajahnya. *Wah, akting wanita ini benar-benar luar biasa bagus,* batin atau pikirku geli. Dia mengira aku benar-benar termakan jebakan parfumnya semalam.

Gengsiku sebagai seorang Naura langsung bangkit berdiri. Aku melipat tangan di dada, lalu menatap Valerie dengan pandangan mata yang sangat dingin dan ketus, persis seperti seorang istri sah yang sedang terbakar api cemburu tingkat dewa.

"Kalau kamu sudah tahu kehadiranmu bikin pusing, mendingan kamu jauh-jauh dari area kerjaku, Valerie!" jawabku dengan suara agak meninggi, sengaja agar Rini dan beberapa staf di dekat kubikel bisa mendengar obrolan kami. "Pak Arkan memang sedang sangat sensitif hari ini, dan aku tidak punya waktu untuk mengurusi asisten logistik yang ceroboh seperti kamu. Urus saja semua kardus-kardus barangmu di gudang bawah, jangan sering-sering naik ke lantai atas!"

Wajah Valerie sempat menegang selama satu detik karena ucapanku yang cukup pedas, namun dia dengan cepat menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura sedih. "Baik, Bu Naura. Maafkan saya. Saya berjanji tidak akan membuat Pak Arkan marah lagi pada Ibu."

Valerie kemudian berbalik dan berjalan pergi dengan langkah cepat. Dari pantulan dinding kaca kantor, aku bisa melihat dengan sangat jelas kalau wanita itu sedang tersenyum miring penuh kemenangan.

Tepat jam dua belas siang, saat perutku sudah mulai mengeluarkan suara keroncongan yang cukup nyaring, seluruh karyawan di divisi pemasaran mendadak heboh lagi.

Rini tiba-tiba berlari masuk ke dalam ruanganku tanpa mengetuk pintu, wajahnya terlihat sangat panik seperti orang yang habis melihat hantu di siang bolong.

"Bu... Bu Naura! Gawat, Bu!" seru Rini sambil menyodorkan komputer tablet miliknya ke depan wajahku. "Pak Arkan baru saja mengirimkan surat perintah resmi lewat surel kantor ke seluruh kepala divisi, termasuk cc ke Pak Dimas dan bagian personalia!"

Aku mengernyitkan kening, lalu membaca tulisan di layar tablet tersebut. Aku harus menggigit bagian dalam pipiku kuat-kuat agar tidak meledak dalam tawa saat membaca isi surat perintah dari suamiku yang gesrek itu:

SURAT PERINTAH EVALUASI LANGSUNG

Kepada: Manajer Pemasaran (Naura)

Berhubung kinerja dan sikap Anda sangat buruk serta tidak profesional hari ini, saya perintahkan Anda untuk menghadap saya di kantin utama lantai tiga tepat pukul 12.15 WIB.

Anda diwajibkan melakukan makan siang di bawah pengawasan langsung dari saya untuk menerima evaluasi dan hukuman atas kesalahan laporan Anda. Tidak ada penolakan.

Tertanda,

Arkan Mahendra (CEO)

Pria gila! Dia benar-benar menggunakan kekuasaannya sebagai bos besar untuk memaksaku menemaninya makan siang dengan kedok "hukuman dan evaluasi". Dia pasti tahu kalau aku tidak akan mau menemuinya kalau dia tidak memakai cara paksa seperti ini di depan umum.

"Wah... Pak Arkan benar-benar keterlaluan ya, Bu," bisik Rini dengan wajah penuh rasa kasihan. "Makan siang saja sampai harus diawasi seperti tahanan penjara. Apa Ibu mau saya pesankan makanan di ruangan saja biar Ibu punya alasan untuk menolak?"

"Tidak usah, Rini," balasku sambil berdiri dari kursi, memasang wajah sekaku mungkin demi totalitas akting. "Aku akan datang ke sana. Biar semua orang di kantor ini melihat seberapa sewenang-wenangnya bos besar mereka itu!"

***

Kantin utama lantai tiga siang ini sangat ramai oleh ratusan karyawan yang sedang beristirahat. Namun, begitu aku melangkah masuk ke dalam ruangan luas itu, suasana mendadak berubah menjadi agak sunyi. Pandangan semua orang langsung tertuju padaku, lalu beralih ke sudut ruangan dekat jendela besar.

Di sana, di meja nomor satu yang paling eksklusif, Arkan sudah duduk dengan tegap. Wajah tampannya dipasang seseram mungkin, memancarkan aura dingin yang membuat meja-meja di sekelilingnya kosong melompong karena tidak ada karyawan yang berani duduk dekat-dekat dengannya. Di atas meja sudah tersedia dua porsi besar makanan: satu porsi nasi campur dengan lauk ayam goreng kesukaanku, dan satu porsi soto betawi milik Arkan.

Aku berjalan dengan langkah yang dihentak-hentak, lalu menarik kursi di depan Arkan dengan kasar hingga menimbulkan suara decitan yang cukup keras. Aku duduk dan menatapnya dengan pandangan membunuh—sekali lagi, ini semua demi penonton di pojokan kantin. Ya, dari kejauhan, aku bisa melihat Dimas dan Valerie sedang duduk bersama sambil berpura-pura mengobrol, padahal mata mereka terus memantau meja kami.

"Silakan makan, Manajer Naura," ucap Arkan dengan suara baritonnya yang sengaja dikeraskan, terdengar sangat dingin dan tidak bersahabat. "Habiskan semua makanan itu sebagai bentuk hukuman karena sudah membuat kepalaku pusing sejak pagi tadi."

"Terima kasih atas 'hukumannya', Pak CEO yang terhormat," balasku dengan nada ketus yang tidak kalah tajam.

Aku langsung mengambil sendok dan mulai menyuap nasi ke dalam mulutku. Namun, begitu wajah kami berdua sama-sama menunduk menatap piring masing-masing, dan pandangan mata kami terhalang oleh vas bunga kecil di tengah meja, drama romantis rahasia kami kembali dimulai.

"Kenapa cuma ambil ayamnya? Itu sayurnya juga dimakan," bisik Arkan dengan suara yang sangat pelan, nyaris tidak terdengar oleh siapa pun kecuali aku. Wajahnya di atas meja masih terlihat sangat cemberut dan galak, membuat karyawan yang lewat mengira dia sedang memarahiku. "Semalam kamu bilang lemas karena kehujanan. Kalau kamu sakit, siapa yang mau menemaniku berdebat di apartemen?"

"Berisik, Arkan," bisikku balik sambil melotot tajam ke arahnya, namun tanganku tetap menyuap sayur yang dia tunjuk. "Lihat ke arah jam dua belas sana. Dimas dari tadi senyum-senyum terus melihat kita. Tolong pasang wajah yang lebih menyeramkan lagi, biar dia mengira kamu mau memecatku sekarang juga."

Arkan langsung mengubah posisi duduknya, menopang dagunya dengan tangan kiri sambil menatapku dengan pandangan mata yang sangat tajam dan mengintimidasi. Namun di bawah meja yang tertutup taplak kain panjang, kaki panjangnya perlahan merayap maju, mencoba menyentuh ujung sepatuku dengan gerakan yang sangat usil.

*Plak!*

Aku langsung memberikan tendangan pelan ke arah tulang keringnya di bawah meja sebagai peringatan agar dia tidak macam-macam.

Arkan sempat meringis sedikit, rahangnya mengetat menahan sakit akibat tendanganku, membuat wajah kerutan di dahinya terlihat semakin menyeramkan dari luar. Dimas yang melihat ekspresi Arkan dari kejauhan pasti mengira kalau Arkan sedang menatapku dengan rasa muak yang luar biasa.

"Kamu berani menendang pimpinan tertinggimu di bawah meja, Naura?" bisik Arkan lagi dengan nada suara yang terdengar sangat gemas, matanya berkilat nakal menatapku. "Hukumanmu akan kutambah nanti malam di apartemen. Tidak ada ampun."

"Coba saja kalau berani, Pak Bos," tantangku balik dengan senyum miring tersembunyi di balik sendok makanku. "Aku akan pastikan seluruh pintu kamar terkunci rapat dari dalam, dan kamu harus tidur bersama Si Bulat di ruang tengah lagi."

1
Kristina Sambas
alur cerita lucu, menarik, tapi aneh kenapa yg baca nya dikit yaa
pokonya terus semangat author
Eunoia Fashion: Terimakasih ya 🥰🙏
total 1 replies
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!