Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1 -BAB 1 -UTUSAN (1)
...ARC 1 -BAYANGAN NEBULA...
Berada di pesisir Laut, berdirilah ibu kota Kekaisaran Aurellian. Aurellian merupakan sebuah negeri yang telah tegak berdiri selama lebih dari seribu lima ratus tahun.
Aurellian bukan sekadar wilayah; ia adalah legenda hidup. Di sinilah Pahlawan Matahari pertama dilahirkan, tempat bernaungnya kuil penyihir agung, dan rumah bagi organisasi petualang terbesar di dunia. Dengan prinsip kesetaraan bagi seluruh ras cerdas, kekaisaran ini menjadi mercusuar bagi siapa pun yang ingin mengubah nasib.
Di sisi barat ibu kota, sebuah menara sihir raksasa mencakar langit dengan angkuh. Menara itu adalah jantung pengetahuan 'Sihir Mana' dunia. Di sanalah Arta Valerion berada. Di usianya yang baru 17 tahun, ia telah menyelesaikan banyak masalah permasalahan pada Magitech dan teori sihir lainnya, menjadikan nya salah stau murid terbaik di Kekaisaran.
- Arta Valerion
Malam hari pun tiba. Di lorong asrama menara sihir yang hening, langkah kaki Arta terdengar berat.
"Sungguh hari yang melelahkan. Rasanya aku ingin langsung tidur tanpa makan malam," gumamnya pelan.
Lorong megah yang biasanya ia kagumi kini terasa membosankan di matanya yang mengantuk. Saat tiba di depan pintu kamar dan melangkah masuk, kakinya tidak sengaja menginjak sesuatu yang tipis.
Surat? Dari siapa... Arta memungutnya, lalu senyum kecil terukir di wajahnya. "Oh, dari Elian."
Elian Solarith adalah keturunan Pahlawan Matahari saat ini, sekaligus kekasih Arta. Meski hatinya hangat melihat nama itu, rasa lelah di tubuhnya pun menang. Arta memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian, Arta merebahkan tubuhnya di kasur yang lembut. Sambil berselimut hangat, ia membuka amplop itu dengan perasaan berbunga-bunga. Setiap akhir pekan, surat-surat Elian adalah penyemangatnya.
**Kepada Arta Valerion,
Selamat akhir pekan. Bagaimana kabarmu di sana? Aku harap engkau selalu berada dalam perlindungan cahaya yang hangat. Namun, Arta, hatiku merasa gelisah. Akhir-akhir ini, suasana di sini terasa begitu mencekam, seolah-olah angin membawa kabar buruk yang belum sempat terucap.
Kami baru saja mengamati sebuah objek misterius yang tiba-tiba mendekati sang dewi malam, bulan kita. Apakah kalian di Menara juga mengetahuinya?
— Elian Solarith
"Bulan?"
Rasa kantuk Arta hilang seketika. Ia langsung beranjak dari tempat tidur dan berjalan cepat menuju jendela. Udara malam yang dingin menusuk kulit saat ia membuka jendela lebar-lebar.
Arta merapal mantra. Dalam sekejap, sebuah lingkaran sihir berwarna biru cerah terukir di depan kedua matanya. Itu adalah sihir penglihatan tingkat menengah-akhir yang mampu memperjelas objek yang sangat jauh. Fokus Arta tertuju pada permukaan bulan yang pucat. Matanya menyipit, jantungnya berdegup kencang saat melihat sesuatu yang tidak masuk akal.
"Apa itu... sebuah kastil?" bisiknya tak percaya.
Kesadaran akan bahaya langsung menghantamnya. Tanpa membuang waktu, Arta mengenakan jubah penyihir formalnya. Ia harus segera melaporkan hal ini, namun bukan ke istana, melainkan kepada sosok yang paling ia percayai: Kepala Akademi Sihir.
Ia merapal mantra tingkat tinggi. Sepasang sayap dari cahaya murni muncul di punggungnya, berkilau indah di kegelapan malam. Dengan satu hentakan, Arta melesat membelah langit menuju kompleks elit di pinggiran ibu kota, tempat sebuah gedung villa megah berdiri—kediaman pribadi sang Kepala Akademi.
Begitu mendarat di depan gerbang villa yang dijaga ketat, Arta langsung menghampiri prajurit jaga yang merupakan seorang beastman serigala abu-abu.
"Penjaga! Aku membawa kabar darurat yang harus kusampaikan malam ini juga kepada Beliau!" serunya dengan nada mendesak.
Melihat lencana murid terbaik menara sihir yang melingkar di bahu Arta, penjaga itu tidak berani membantah. "Baiklah, silakan masuk!"
Meski dipersilakan masuk, ia tetap dikawal ketat oleh sekelompok penjaga melewati taman villa yang luas. Arta harus melewati beberapa pemeriksaan identitas dengan alasan keamanan tingkat tinggi, hingga akhirnya ia benar-benar diperbolehkan mendekati bangunan utama.
Pintu kayu ek villa tersebut terbuka perlahan. Arta berjalan cepat melewati aula yang dipenuhi artefak sihir kuno. Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu putih yang elegan dan mengetuknya dengan keras.
"Permisi, Tuan Jovan Aethelgard! Ini aku, Arta. Ada hal yang sangat penting!"
Pintu terbuka, menampakkan sosok pria tua bijak berjubah putih. Selain sebagai figur guru bagi Arta, Jovan Aethelgard adalah Kepala Akademi Sihir yang paling dihormati.
"Arta? Ada apa malam-malam begini sampai kau terbang ke villa-ku?" ucapnya dengan wajah keheranan.
Tanpa banyak bicara, Arta menceritakan isi surat Elian. Untuk membuktikannya, ia merapalkan sihir penglihatan yang sama kepada Tuan Jovan, membiarkan sang Kepala Akademi itu melihat sendiri kejanggalan di langit sana melalui balkon villanya.
Malam itu, ketenangan di kediaman Jovan berakhir. Esok paginya, atas laporan mendesak dari sang Kepala Akademi, sebuah pertemuan darurat tingkat tinggi di istana pun akhirnya diadakan.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat