NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengangguran Terhormat

Hujan belum reda sejak pukul tiga sore. Sekarang sudah hampir magrib, dan Bambang masih duduk di teras rumah kontrakannya yang sempit, memandangi genangan air di depan pagar. Usianya dua puluh delapan tahun, tapi sudah tiga tahun lebih dia tidak menyentuh uang gaji. Yang ada hanya uang receh dari bantu-bantu tetangga: angkat galon, bersihkan got, jaga warung semalam suntuk jika penjaganya sedang sakit.

Dia menarik napas panjang. Asap rokok dari rumah sebelah masuk ke hidungnya. Mamat pasti lagi santai sambil nonton TV. Mamat punya TV empat puluh dua inci hasil jualan tanah warisan. Setiap malam, suara TV itu terdengar jelas sampai ke teras rumah Bambang. Kadang sinetron, kadang berita, kadang lawakan yang membuat Mamat tertawa keras sendiri.

Bambang tidak punya TV. Ponselnya pun blackberry jadul dengan layar retak di pojok kanan.

"Bang, tolong angkat galon dong!"

Suara Bu RT dari seberang jalan. Bambang bangun, kakinya sedikit kram setelah duduk terlalu lama. Dia mengucek matanya dan berjalan melewati genangan air. Bu RT sudah berdiri di depan pintu dengan dua galon kosong di tangan.

"Dua galon, Bang. Yang satu buat dapur, yang satu buat kamar mandi."

Satu galon diangkat ke lantai dua. Kemudian galon kedua. Bambang tidak banyak bicara. Tangannya terasa panas karena menarik beban, tapi dia sudah terbiasa. Bu RT mengulurkan uang lima ribu rupiah dan sebungkus kerupuk kemasan plastik.

"Makasih, Bang. Lamaran kerja gimana?"

"Masih nunggu, Bu."

"Ya sudah, semoga cepat dapat. Kasihan sama orang tuamu."

Bambang tahu nada suara Bu RT tidak tulus. Itu nada kasihan tapi tidak mau terlalu peduli. Nada yang sudah dia hafal di luar kepala. Dia hanya tersenyum tipis dan berbalik.

Saat dia kembali ke teras, Mamat sudah bersandar di pagar rumahnya. Rokok sampoerna kretek mengepul di bibirnya. Matanya menyipit melihat Bambang.

"Wah, galon lagi galon lagi," kata Mamat sambil tertawa kecil. "Kapan dapet kerja tetap, Bang? Udah tiga tahun nganggur, malu-maluin orang tua aja."

Bambang tidak menjawab. Dia memasuki rumah dan menutup pintu perlahan.

Di dalam, lampu hanya satu yang menyala. Lampu lima watt di ruang tamu sekaligus ruang makan sekaligus kamar tidur orang tuanya. Rumah kontrakan ini hanya punya dua ruangan. Satu untuk orang tua Bambang, satu untuk Bambang sendiri yang ukurannya tidak lebih besar dari kandang ayam.

Ibu sedang menanak nasi di dapur belakang. Asap dari kompor minyak tanah membuat mata perih. Wajah Ibu kusam, garis-garis lelah mengukir di sekitar matanya. Ibu sudah tidak muda lagi. Enam puluh tahun dengan badan kecil dan tulang punggung yang mulai bungkuk.

"Bambang," panggil Ibu pelan. "Kamu sudah makan?"

"Belum, Bu."

"Nasi masih setengah mateng. Tunggu sebentar ya."

Bapak terduduk di kursi bambu dekat jendela. Tangan kanannya gemetar terus. Bekas stroke ringan dua bulan lalu yang menghabiskan tabungan terakhir keluarga. Bapak dulu kuli bangunan. Sekarang dia hanya bisa diam sambil menatap jalanan dari balik jendela yang kusam.

"Bapak, minum obat sudah?" tanya Bambang.

Bapak menggeleng. "Belum. Ntar aja."

"Harus teratur, Pak."

"Biarin. Obatnya tinggal dua strip. Buat minggu depan aja."

Bambang mengepalkan tangannya. Dia masuk ke kamarnya yang sempit. Hanya ada kasur lipat, lemari plastik, dan satu tumpukan koran bekas yang dia kumpulkan untuk melihat lowongan kerja. Setiap hari dia melamar ke sana kemari. Pabrik, toko, supermarket, jaga malam, jaga toko, apapun. Tapi usianya dianggap terlalu tua untuk posisi rendah, dan terlalu tidak berpengalaman untuk posisi yang lebih tinggi. Lulusan SMA dengan nilai pas-pasan tidak punya daya saing di kota yang setiap hari melahirkan sarjana baru.

Dia membaringkan badannya di kasur. Plafon rumah terlihat retak-retak. Di pojok kiri ada bekas bocor yang sudah ditambal tapi tetap meninggalkan noda kuning. Dia memejamkan mata.

Tiga tahun. Tiga tahun dia mendengar sindiran Mamat. Tiga tahun dia melihat Ibu menjahit sampai jam satu malam untuk makan sehari-hari. Tiga tahun dia menjadi beban.

Ponselnya bergetar.

Bambang malas mengambilnya. Biasanya itu Mamat yang iseng nelpon pake nomor siluman cuma buat ngejek. Tapi getarannya terus berulang. Satu kali, lalu diam. Kemudian bergetar lagi. Itu tanda SMS.

Dia meraih ponsel dari saku celananya. Layar retak itu menyala redup. Satu SMS masuk dari nomor tidak dikenal. Tidak tersimpan di kontak. Tidak ada nama. Hanya angka yang panjang.

Bambang membacanya sekali. Lalu membacanya lagi.

"Dibutuhkan satpam. Gaji 15 juta per bulan. Akomodasi lengkap. Lokasi Kalimantan Tengah. Hubungi 0812-XXXX segera."

Matanya tidak berkedip. Lima belas juta. Itu lebih besar dari pendapatan setahun keluarganya sekarang. Ibu paling banter dapat satu juta sebulan dari jahitan. Itu pun tidak tentu. Kadang hanya lima ratus ribu.

Dia duduk. Punggungnya tegang. Ini pasti penipuan, pikirnya. Modus baru orang-orang yang mau menjual ginjal atau semacamnya. Tapi jari jemarinya tetap menekan nomor itu. Tidak untuk menelepon. Hanya untuk melihat lagi dan lagi.

Ibu muncul di pintu kamar. "Nasi sudah matang, Nak. Ayo makan."

"Bu, lihat ini."

Bambang menunjukkan ponselnya. Ibu mengambil kacamata dari saku bajunya. Kacamata dengan bingkai retak yang diplester di bagian pelipis. Dia membaca SMS itu dengan bibir bergerak perlahan.

Ibu diam cukup lama. Matanya tidak berkedip. Lalu dia berkata, "Coba telepon, Nak. Tidak ada salahnya."

"Ini pasti penipuan, Bu."

"Coba dulu. Kalau penipuan, kita tutup teleponnya. Tapi kalau beneran..."

Ibu tidak melanjutkan kalimat. Bambang mengerti maksudnya. Ibu sudah terlalu lelah. Bapak sudah terlalu sakit. Angka lima belas juta adalah angka yang terlalu besar untuk dilewatkan begitu saja.

Bambang menekan tombol panggil. Satu dering. Dua dering. Suara pria paruh baya menyambut di ujung sana.

"Halo, Bapak Bambang?"

Bambang terkesiap. Dia tidak menyebutkan namanya di SMS itu. "Halo, iya. Saya Bambang."

"Bapak Bambang, saya Toni dari HRD PT. Karet Nusantara. Terima kasih sudah menghubungi kami. Apakah Bapak tertarik dengan lowongan satpam yang kami tawarkan?"

Suara Pak Toni terlalu halus. Terlalu rapi. Seperti suara yang sudah dilatih untuk meyakinkan banyak orang. Bambang menjawab dengan hati-hati. "Iya, Pak. Saya tertarik. Tapi saya ingin tahu lebih dulu detailnya."

"Tentu. Bagaimana kalau kita bertemu besok? Saya bisa jelaskan semuanya secara langsung. Ada kafe di dekat pasar lama yang buka dari pagi. Saya tunggu Bapak jam sepuluh."

Bambang mengerjap. Dia belum setuju. Tapi Pak Toni sudah seperti memutuskan. "Baik, Pak. Saya akan datang."

"Bagus. Jangan lupa bawa KTP dan ijazah ya. Sampai besok."

Tutup.

Bambang menatap ponselnya. Ibu menatap Bambang.

"Gimana, Nak?"

"Besok wawancara, Bu."

Ibu tersenyum untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu. Senyum yang membuat kerutan di wajahnya semakin dalam. "Bapak, dengar itu? Bambang dipanggil wawancara."

Bapak hanya mengangguk dari kursi bambunya. Tangan kanannya masih gemetar. Tapi di sudut matanya, ada titik air mengkilap.

Malam itu, Bambang tidak bisa tidur. Dia bolak-balik memikirkan angka lima belas juta. Pikirannya melayang ke rumah yang lebih layak, ke obat-obatan untuk Bapak yang tidak perlu dihemat, ke Ibu yang tidak perlu menjahit sampai larut malam. Dia juga memikirkan Mamat. Besok pagi, sebelum berangkat, dia akan lewat depan rumah Mamat. Tidak untuk pamer. Hanya untuk berjalan dengan kepala tegak.

Dia tidak tahu bahwa besok adalah awal dari sesuatu yang tidak akan pernah bisa dia lupakan.

Bambang juga tidak tahu bahwa senyum Ibu tadi malam adalah senyum terakhir yang dia lihat dalam waktu yang sangat lama.

1
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!