NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Kehadiran Devan yang Menghancurkan Kaset Rusakku

​Banyak orang bilang, masa kuliah adalah masa di mana warna-warni kehidupan meledak dalam kanvas masa mudamu. Mereka bicara tentang cinta pertama yang canggung di sudut perpustakaan yang berdebu, tentang demonstrasi yang membakar semangat di tengah lapangan aspal yang terik, atau sekadar tentang tawa lepas di kantin fakultas yang riuh di bawah naungan pohon beringin. Masa transisi menuju kedewasaan, kata mereka. Masa kebebasan.

​Namun, untukku, semuanya tidak lebih dari sekadar siaran televisi hitam putih dengan sinyal yang buruk. Statis. Monoton. Dan teramat sangat membosankan.

​Namaku Anya. Sembilan belas tahun, mahasiswi semester tiga jurusan Sastra Klasik di Universitas Bina Harapan. Jika kau bertanya pada teman-teman sekelasku tentang siapa aku, mereka mungkin butuh waktu beberapa detik untuk menelusuri memori mereka, mengernyitkan dahi, lalu menjawab dengan enggan, "Oh, Anya? Gadis kurus pucat yang selalu duduk di baris ketiga dari belakang, yang tak pernah melepas earphone-nya, dan selalu mencoret-coret buku bersampul kulit itu?"

​Mereka tidak salah. Sama sekali tidak. Begitulah caraku mendefinisikan eksistensiku di dunia ini. Aku adalah entitas yang lewat begitu saja, bayangan di sudut ruang yang tak pernah menuntut atensi. Aku adalah pengamat. Aku lebih suka melihat dunia dari balik lensa kacamataku yang berbingkai tipis, mencatat setiap detail absurd dari manusia-manusia di sekitarku, ketimbang terjun dan berinteraksi dengan mereka.

​Bukan karena aku sombong atau menganggap diriku lebih superior. Melainkan karena aku merasa... kosong.

​Ada bagian dari diriku yang hilang, persis seperti kaset pita usang yang pitanya kusut dan terputus di tengah lagu. Tiga tahun lalu, hidupku di-pause secara paksa oleh sebuah kecelakaan mobil di malam badai. Aku terbangun di ranjang rumah sakit dengan bau antiseptik yang menyengat, perban yang melilit kepalaku, dan tatapan penuh air mata dari Ayah. Secara fisik, aku selamat. Tulang rusukku yang retak telah menyatu, dan luka robek di pelipisku hanya menyisakan parut tipis yang bisa kututupi dengan poni.

​Namun secara mental, aku adalah rumah dengan beberapa ruangan yang terkunci rapat. Psikiaterku, Dokter Frans, menyebutnya sebagai Amnesia Disosiatif. Trauma hebat dari benturan itu—dan mungkin trauma psikologis yang mendahuluinya—membuat otakku mengambil keputusan sepihak untuk mematikan sekring ingatanku. Sebagian besar memori masa SMA-ku lenyap. Terhapus. Meninggalkan sebuah lubang hitam yang dingin dan hampa di tengah-tengah dadaku.

​Keluargaku, terutama Ayah, bilang aku beruntung bisa hidup. Mereka bilang aku tidak perlu mengingat masa lalu, bahwa aku harus fokus pada masa depan. Tapi mereka tidak mengerti. Terkadang, saat aku bercermin di pagi hari, aku menatap pantulan mataku sendiri dan merasa sedang melihat orang asing. Aku tidak benar-benar hidup. Aku hanya bernapas.

​Aku menjalani rutinitas layaknya mesin otomasi. Bangun pukul enam pagi, membuat roti panggang hambar, naik kereta komuter pukul tujuh dengan telinga tersumbat earphone yang memutar musik ambient tanpa lirik. Aku duduk di kelas, mencatat hal-hal yang tidak kuingat satu jam setelahnya, makan ayam geprek di sudut kantin sendirian sambil memandangi semut yang berbaris di dinding, lalu pulang. Begitu terus, siklus tanpa akhir.

​Hingga hari ini. Hari di mana jarum jam seolah berhenti berdetak, gravitasi terasa berubah arah, dan kaset rusak di kepalaku tiba-tiba memutar intro sebuah lagu yang sangat asing, namun entah mengapa terasa begitu menyayat hati.

​Pagi itu, cuaca di luar jendela gedung fakultas sedang tidak bersahabat. Awan kelabu menggantung rendah bak kanopi beton di atas kampus, sesekali memuntahkan rintik hujan yang memukul-mukul kaca jendela kelas dengan ritme yang acak. Udara dari mesin pendingin ruangan terasa lebih menusuk tulang dari biasanya, membuatku harus menarik ritsleting jaket rajutku hingga ke kerah.

​Ruang kelas 302 biasanya selalu berisik sebelum dosen datang. Di barisan depan, ada Rina yang sedang sibuk memoles lipstiknya sambil mengeluhkan pacarnya lewat voice note. Di sisi kiri, sekelompok mahasiswa asyik berdebat tentang tugas esai tragedi Yunani yang deadline-nya tinggal menghitung jam. Aku sendiri sedang asyik menunduk, menggoreskan pena hitam di atas kertas moleskine-ku, membuat sketsa kasar siluet pohon di luar jendela yang meliuk diterpa angin.

​Lalu, hal itu terjadi.

​Dengungan obrolan puluhan mahasiswa itu tiba-tiba mereda, seakan-akan oksigen baru saja disedot habis dari dalam ruangan. Keheningan turun dengan sangat drastis dan tidak wajar. Seolah seseorang baru saja menekan tombol mute pada remote control semesta.

​Aku yang biasanya tidak peduli dengan sekitarku, terpaksa menghentikan goresan penaku. Ujung penaku meninggalkan setitik noda tinta di atas kertas saat aku mengangkat kepala dengan kening berkerut. Ada apa?

​Pintu kelas kayu yang berat itu terbuka perlahan, mengeluarkan bunyi derit engsel halus yang entah mengapa terdengar memekakkan telinga di tengah kesunyian ini. Pak Haris, dosen Sastra Klasik kami yang selalu tampil rapi dengan kemeja flanel berlapis rompi rajut, melangkah masuk. Beliau membawa tumpukan presensi di lengannya.

​Namun, mata seluruh penghuni kelas tidak tertuju padanya. Seratus persen atensi dari tiga puluh orang di ruangan ini tersedot habis oleh sosok jangkung yang berjalan tepat di belakang Pak Haris.

​Sosok itu adalah seorang pemuda.

​Dari posisiku di baris ketiga, aku menyipitkan mata. Ia mengenakan kemeja flanel berwarna biru gelap yang lengannya digulung asal-asalan hingga sebatas siku. Celana jeans hitamnya tampak sedikit basah di bagian bawah betis, dan ia mengenakan sepasang sepatu boots kulit hitam yang terlihat berat dan bergesekan pelan dengan lantai keramik kelas. Rambutnya yang legam sedikit berantakan, basah oleh rintik gerimis, jatuh menutupi sebagian dahi dan alisnya yang tebal.

​Ia tidak repot-repot menyisirnya dengan jari. Ia membiarkannya begitu saja, seolah ia tak pernah memedulikan penampilannya.

​Namun, sungguh, bukan penampilannya yang membuat seisi kelas terpaku seolah disihir oleh Medusa. Melainkan auranya.

​Ada sesuatu yang luar biasa dingin, pekat, dan mendominasi dari cara pemuda itu berdiri. Saat ia berhenti di depan podium di sebelah Pak Haris, ia tidak membungkuk canggung atau tersenyum kaku seperti mahasiswa baru pada umumnya. Ia berdiri sangat tegak, posturnya nyaris menyerupai seorang prajurit di medan perang. Kedua tangannya tenggelam di saku celana jeans-nya, dan garis rahangnya mengeras sempurna. Ia seakan memancarkan perisai tak kasat mata, sebuah dinding peringatan berduri yang meneriakkan: jangan mendekat atau kau akan terluka.

​"Selamat pagi semuanya. Maaf saya sedikit terlambat, ada urusan administrasi yang harus diselesaikan di bawah," suara bariton Pak Haris akhirnya memecah keheningan yang mencekik itu, memecahkan gelembung ketegangan. "Hari ini, kelas kita kedatangan mahasiswa pindahan dari kampus di luar kota. Silakan, perkenalkan dirimu secara singkat pada teman-teman barumu."

​Pemuda itu tidak langsung bicara. Ia berdiri di sana, seperti sebuah patung marmer yang dipahat dengan ekspresi paling getir di dunia. Matanya... ya Tuhan, matanya. Kelopak matanya sedikit turun, dan iris matanya sekelam langit malam tanpa bintang. Ia menyapu seisi kelas dengan pergerakan lambat. Berpindah dari satu deret bangku ke deret bangku lain. Dari satu wajah ke wajah lain. Begitu dingin. Begitu menghakimi dan kosong.

​Lalu, pergerakan matanya berhenti.

​Tatapan itu membeku tepat di sudut ruangan, dekat jendela basah. Tepat ke arahku.

​Jarak kami mungkin terpisah tiga baris meja, tapi tatapan kami bertubrukan melintasi udara dingin ruang kelas itu dengan kekuatan sebuah tabrakan kereta api. Dan pada detik itu juga, aku merasa paru-paruku berhenti bekerja sepenuhnya.

​Jantungku, yang biasanya berdetak dengan ritme monoton yang membosankan, mendadak berdegup dengan kecepatan yang gila hingga menghantam tulang rusukku. Dug. Dug. Dug. Tiba-tiba saja, udara terasa sangat tipis. Kepalaku terasa ringan sekaligus luar biasa berat.

​Aku membalas tatapannya, tak bisa memutuskan kontak mata, seolah ada magnet tak kasat mata yang menahan pupilku. Saat itulah kemampuan observasiku mengambil alih. Dari kejauhan, aku bisa melihat jakun pemuda itu bergerak naik turun, menelan ludah dengan susah payah seolah ada bongkahan kaca di tenggorokannya.

​Sorot matanya yang tajam dan tak acuh tadi, mendadak retak. Hancur berantakan.

​Ada kilat emosi yang bergemuruh begitu hebat di sana—sebuah getaran samar yang sangat kontras dengan postur tubuhnya yang kaku. Kelopak mata yang sedingin es itu sedikit memerah, seolah ia sedang setengah mati menahan sebuah badai emosi atau air mata yang akan tumpah.

​Ia menatapku, menembus lensaku, hanya padaku, seakan-akan tiga puluh mahasiswa lain dan Pak Haris di ruangan ini hanyalah manekin plastik tak bernyawa.

​Bibir pemuda itu perlahan bergerak, membentuk kata-kata tanpa suara. Sangat pelan, hampir tak kentara oleh siapa pun di kelas itu. Namun, kemampuanku mengobservasi gerak tubuh selama bertahun-tahun membuat otakku secara otomatis menerjemahkan gerak bibirnya. Suku kata demi suku kata terukir jelas dalam benakku:

​'A-khir-nya, a-ku me-ne-mu-kan-mu la-gi.'

​Aku mengerjap cepat, tersentak seolah baru saja disiram air es. Tubuhku menegang. Bulu kuduk di tengkukku meremang. Apa? Menemukanku? Apa dia bicara padaku? Ataukah dia sedang bergumam pada dirinya sendiri karena masalah kejiwaan?

​Rasa pening tiba-tiba menyerang pelipis kiriku, sebuah denyutan tajam seperti ditusuk jarum yang selalu datang setiap kali aku mencoba memaksa otakku memikirkan masa laluku yang hilang. Aku buru-buru memalingkan wajah, menunduk menatap meja kayuku dengan napas yang memburu dan telapak tangan yang mendadak berkeringat dingin.

​"Nama saya Devan," akhirnya suaranya keluar, menembus ruangan.

​Suaranya terdengar serak, berat, namun memiliki resonansi yang bergema di dinding ruang kelas, menghancurkan sisa-sisa lamunanku.

​"Devan Mahendra. Mohon bantuannya."

​Singkat. Padat. Dingin. Tidak ada senyum ramah yang dipaksakan, tidak ada basa-basi tentang asal kota atau hobi. Ia seolah ingin proses ini cepat selesai.

​Pak Haris berdeham pelan, terlihat sedikit salah tingkah menghadapi mahasiswa yang aura intimidatifnya lebih besar daripada dosen itu sendiri. "Baik, Devan. Selamat bergabung di Universitas Bina Harapan. Silakan cari kursi yang kosong dan kita akan segera memulai materi tentang tragedi Sophocles."

​Mata Pak Haris menyapu ruangan, mencari celah di antara meja-meja yang sudah terisi. Aku berdoa dalam hati. Tolong, biarkan dia duduk di depan. Tolong, biarkan dia duduk jauh dariku. Lalu, pandangan Pak Haris berhenti di deretanku.

​"Ah, sepertinya di sebelah Anya ada satu kursi yang kosong. Kebetulan sekali," ujar Pak Haris sambil tersenyum ke arahku. "Anya, tolong angkat tanganmu sedikit agar Devan tahu di mana tempatnya."

​Sialan. Sialan. Dari semua kursi, dari puluhan ruang kelas di gedung ini, kenapa semesta harus bercanda selucu ini?

​Tubuhku membeku. Otakku meneriakkan perintah untuk lari, tapi puluhan pasang mata kini menatap ke arahku, menuntut. Dengan enggan, gerutuan tertahan di tenggorokan, dan tangan yang sedikit gemetar, aku mengangkat tangan kiriku sebatas dada. Hanya dua detik, lalu menurunkannya kembali dengan cepat.

​Devan tidak membuang waktu. Ia melangkah turun dari podium, berjalan menyusuri lorong antar meja dengan langkah yang teratur namun berat. Lurus ke arahku.

​Setiap langkah sepatunya yang beradu dengan lantai keramik—tap... tap... tap...—terdengar seperti detak jarum jam yang menghitung mundur menuju ledakan bom. Sesuatu yang tak kupahami. Sesuatu yang terasa sangat... berbahaya bagi kewarasanku.

​Ia tiba di sebelahku, menarik kursi kayu berlengan itu hingga berderit pelan, lalu duduk. Jarak kami hanya terpisah gang selebar setengah meter. Begitu dekat.

​Saat ia duduk, udara di sekitarku bergeser. Aku bisa mencium aromanya dengan sangat jelas. Aroma air hujan yang segar bercampur dengan wangi mint samar, dan di bawah lapisan itu, ada sesuatu yang lain—aroma spesifik yang mengingatkanku pada kertas tua yang ujungnya terbakar. Bau itu sangat unik, maskulin, dan entah mengapa anehnya membuat denyut di pelipisku semakin berdenyut liar, seolah otakku mencoba mengenali sinyal yang familier.

​Aku menelan ludah. Kepalaku masih tertunduk, tapi dari sudut mataku, aku bisa melihat lengan flanelnya yang tergulung dan jam tangan kulit hitam di pergelangan tangannya. Sebagai orang yang selalu mencoba bersikap invisible, aku tahu aturan dasar sosial agar tidak terlihat aneh. Aku harus menyapa. Hanya sekadar formalitas agar ia tahu aku hidup dan kemudian mengabaikanku untuk sisa semester ini.

​"Halo," sapaku canggung. Suaraku nyaris seperti cicitan tikus yang tercekik. Aku bahkan tidak berani menoleh untuk menatapnya secara langsung.

​Devan tidak menjawab. Sama sekali tidak.

​Ia hanya membuka ritsleting tas ransel hitamnya, mengeluarkan sebuah buku tulis hitam polos tebal, dan meletakkannya di atas meja tanpa membukanya. Lalu, ia melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap lurus ke arah papan tulis. Rahangnya masih mengeras, dan postur tubuhnya sangat kaku, seolah ia sedang bersiap menerima serangan fisik kapan saja.

​Pengabaian total itu membuatku menghela napas lega, namun di saat bersamaan, sejumput rasa kesal menyelinap di dadaku. Kesan pertamaku padanya: sombong, bermasalah, penuh teka-teki, dan membawa aura bermusuhan yang kental.

​Aku memutuskan untuk kembali pada duniaku sendiri. Kuambil penaku, membuka halaman baru di buku catatanku, dan mulai menulis cepat di sudut halamannya untuk menyalurkan rasa gugupku.

​Observasi: Devan Mahendra.

Kesan: Kulkas berjalan dengan setelan suhu minus dua puluh derajat. Punya tatapan mata yang bisa menguliti orang dari jarak sepuluh meter. Jelas punya masalah temperamen atau sembelit kronis. Aroma: Hujan dan kertas terbakar. Rekomendasi: Hindari interaksi jika tidak ingin mati muda.

​Dua jam perkuliahan Sastra Klasik berlalu dengan penderitaan dan kecanggungan yang mencekik leher. Aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi pada penjelasan Pak Haris tentang ironi dalam cerita Oedipus Rex. Bagaimana aku bisa fokus jika tragedi yang sebenarnya sedang duduk dengan kaku berjarak setengah meter di sebelah kananku?

​Devan sama sekali tidak membuka bukunya. Ia tidak memegang pena. Ia hanya diam menatap lurus ke depan. Tapi, dengan ketajaman intuisiku, aku bisa merasakan dengan jelas bahwa perhatian pemuda itu sama sekali tidak tertuju ke depan kelas. Perhatiannya—entah lewat ekor matanya atau sekadar kesadarannya—terasa mengunciku sepenuhnya. Seolah ia sedang mengukur pola napasku, gerakan tanganku yang menulis, hingga caraku menggeser posisi duduk.

​Tatapannya yang tak kasat mata itu membuat kulitku seolah ditusuk-tusuk jarum halus.

​Akhirnya, lonceng penyelamat berbunyi. Pak Haris menutup bukunya dan membubarkan kelas.

​Aku tidak ingin membuang waktu sedetik pun. Sebelum Pak Haris bahkan keluar dari pintu, aku segera meraup buku-buku tebal dari atas meja—buku teks Sastra, novel Iliad yang kupinjam dari perpustakaan, dan buku catatanku—menyatukannya ke dalam pelukan erat di depan dada. Aku harus segera keluar dari ruangan ini. Ke toilet, ke kantin, ke stasiun kereta, ke mana saja asalkan jauh dari radar pemuda aneh yang merusak ketenanganku ini.

​Aku berdiri dengan tergesa-gesa. Namun, karena terlalu fokus melirik ke arah pintu keluar dan terbebani oleh tumpukan buku yang tebal, aku tidak memperhatikan ruang gerak kakiku saat melangkah keluar dari balik meja.

​Brukk!

​Ujung sepatu sneakers putihku dengan telak menabrak dan menginjak bagian depan sepatu boots kulit hitam milik Devan. Ia ternyata kebetulan sedang meluruskan kakinya ke arah lorong saat hendak berdiri.

​Benturan itu tidak keras, tapi cukup untuk membuat keseimbangan tubuhku yang buruk goyah. Aku terhuyung ke depan. Peganganku pada tumpukan buku terlepas seketika.

​Buku-buku bersampul tebal itu meluncur bebas, menghantam lantai keramik dengan suara debuman keras yang langsung bergema di ruang kelas yang sudah setengah kosong. Beberapa lembar kertas tugas yang terselip terbang berantakan di sekitar kaki meja kami.

​"Astaga!" pekikku panik, merasakan darah seketika naik ke wajahku, membakar pipiku dengan rasa malu yang luar biasa. Teman-teman sekelas yang masih ada menoleh ke arah kami.

​"Aduh, maaf! Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja," ucapku cepat, suaraku bergetar karena panik. Aku segera berjongkok, dengan tergesa-gesa memunguti kertas-kertas dan buku yang bertebaran di sekitar kaki Devan.

​Aku berharap, setidaknya sebagai manusia normal, ia akan menyingkirkan kakinya untuk memberiku ruang, atau lebih baik lagi, membantuku memungut buku yang jatuh tepat di antara kedua sepatunya.

​Namun, ia tidak melakukan keduanya. Ia berdiri mematung.

​Saat aku sedang memungut buku Iliad, Devan menunduk. Ia menatapku yang sedang berjongkok di dekat kakinya dengan tatapan dingin yang luar biasa merendahkan. Ia mendengus kecil. Sebuah cibiran keluar dari bibirnya yang pucat, terdengar sangat sinis, membelah jarak di antara kami.

​"Tidak punya mata untuk jalan?" tanyanya ketus. Suaranya rendah, tak bernada, memotong udara seperti pisau belati yang baru diasah.

​Gerakanku memungut buku terhenti seketika. Tanganku yang sedang memegang sampul buku mencengkeramnya kuat-kuat hingga buku-buku jariku memutih. Darahku, yang tadinya membeku karena panik, kini mendidih karena amarah.

​Aku ini memang amnesia, aku pendiam, dan aku suka menyendiri seperti penyendiri menyedihkan. Tapi aku bukan orang bodoh yang mau diinjak-injak harga dirinya begitu saja oleh orang asing. Wajahnya memang luar biasa tampan dan auranya memang mengintimidasi, tapi mulutnya sungguh berbisa! Tidak bisakah ia melihat aku sedang kesulitan?

​Aku mendongak dengan cepat, menantang tatapannya, bersiap untuk memuntahkan kata-kata pedas sebagai balasan. "Dengar ya, mahasiswa baru—"

​Namun, kata-kata umpatan itu mati di pangkal tenggorokanku.

​Saat aku mendongak untuk menatap wajahnya langsung, Devan membuang muka dengan gerakan kaku yang aneh. Ia menatap lurus ke arah jendela yang basah oleh hujan, tangannya tiba-tiba sibuk menyampirkan tali tas ranselnya dengan gerakan yang sedikit terlalu kasar, terlalu cepat, dan sangat tidak wajar untuk orang yang baru saja menghinaku dengan tenang. Ia berusaha memasang wajah datar, rahangnya tetap kokoh, seolah ia sangat terganggu oleh eksistensi dan kecerobohanku.

​Tapi, aku adalah Anya. Sang pengamat. Mataku terlatih menangkap detail terkecil yang sering kali terlewatkan oleh dunia.

​Dari posisiku di bawah sini, menengadah menatap profil samping wajahnya, aku melihatnya dengan sangat, sangat jelas. Di balik helai rambut legamnya yang sedikit berantakan di sekitar telinga... ujung telinga pemuda yang sedingin es dan bermulut tajam itu... memerah.

​Bukan warna merah meradang karena amarah, tapi merah padam yang menjalar pelan hingga ke bagian belakang lehernya. Sebuah reaksi otonom saraf simpatik yang tak bisa dikendalikan. Reaksi fisik yang muncul saat seseorang sedang setengah mati menahan malu, atau menahan emosi yang meluap-luap yang tak ingin ditunjukkannya pada dunia.

​Telinga pemuda kulkas itu memerah seperti kepiting rebus.

​Otakku seketika berhenti memproses amarah. Ia tidak sedang marah karena aku menginjak sepatunya. Ia sedang... apa? Gugup? Salah tingkah karena kedekatan jarak kami saat aku berjongkok? Ataukah karena sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang berhubungan dengan tatapan hancurnya saat pertama kali ia melangkah masuk ke kelas ini?

​"Minggir," ucapnya tiba-tiba, memutus kontak sama sekali.

​Ia melangkah maju, melewatinya begitu saja seolah aku hanyalah rintangan jalan yang merepotkan. Ia meninggalkanku yang masih berjongkok membeku di lantai kelas dengan buku yang kudekap erat di dada. Aku hanya bisa menatap punggung tegapnya yang menjauh dengan cepat, menembus pintu kelas, dan menghilang ditelan keramaian lorong fakultas.

​Ia pergi, meninggalkan sebuah tanda tanya raksasa yang kini menghantam kepalaku bak palu godam.

​Devan Mahendra. Siapa dia sebenarnya? Pemuda dengan mata hancur, kata-kata ketus, dan telinga yang memerah saat disentuh. Dan mengapa, entah bagaimana, rasanya kehadirannya di ruangan ini baru saja merobek paksa lapisan pelindung yang kubangun susah payah selama tiga tahun terakhir ini?

​Pening di pelipisku kembali berdenyut, kali ini jauh lebih tajam, seolah ada suara yang mencoba meronta keluar dari balik pintu ingatanku yang terkunci.

​[KILAS BALIK SINEMATIK ]

​FADE IN:

​EXT. HALAMAN SEKOLAH MENENGAH ATAS - SORE HARI (MASA LALU)

​Filter visual pada layar terasa hangat, keemasan dan sedikit pudar seperti direkam menggunakan pita kaset usang. Suasana senja di musim kemarau. Debu-debu keemasan menari di udara. Semuanya sedikit kabur di bagian tepi, khas sebuah ingatan yang rusak dan tertahan.

​Kamera berada di posisi rendah (Low Angle), menyorot sepasang kaki yang sedang berdiri berhadapan di bawah bayangan pohon rindang.

Satu kaki memakai sepatu sneakers kanvas putih yang sudah sedikit kotor (milik ANYA).

Satu kaki lagi memakai sepatu boots kulit hitam yang terlihat berat dan kokoh (milik seorang PEMUDA).

​Terdengar suara tawa pelan dari ANYA. Tawa yang sangat jernih, lepas, dan tanpa beban—sebuah suara yang sudah mati dan tidak pernah ia miliki lagi di kehidupan masa kininya.

​ANYA (V.O)

(Suaranya menggema, penuh keceriaan)

"Kau selalu memakai sepatu boots konyol ini, Devan. Ini musim kemarau. Bukankah kakimu kepanasan?"

​Kamera perlahan bergerak naik menyusuri tubuh mereka, menyorot tangan PEMUDA (DEVAN) yang jauh lebih besar dan kokoh. Tangan itu terulur, dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian merapikan helai rambut dari wajah ANYA, lalu menyelipkannya di belakang telinga gadis itu.

​DEVAN (V.O)

(Suaranya sangat berbeda dari masa kini. Suaranya di sini begitu lembut, hangat, dan penuh dengan puja, sama sekali tidak ada nada dingin)

"Biar saja. Kalau kau tidak sengaja menginjak kakiku saat kau berlari ceroboh seperti biasanya, setidaknya jari kakiku aman dari seranganmu, Nya."

​Kamera terus bergerak naik, perlahan mulai fokus pada wajah PEMUDA itu yang sedang tersenyum sangat lebar dan tulus, matanya berbinar menatap Anya.

​Namun, tepat satu milidetik sebelum wajah pemuda itu terlihat jelas di layar, gambar mendadak berkedip keras. Distorsi statis merusak layar seperti kaset pita yang kusut dan ditarik paksa.

​SUARA DECITAN BAN MOBIL YANG BERGESEKAN DENGAN ASPAL BASAH MENGGELEGAR, SANGAT KERAS DAN MEMEKAKKAN TELINGA.

​SUARA KACA MOBIL PECAH BERANTAKAN.

​Layar mendadak berubah menjadi merah darah yang sangat pekat selama satu detik, sebelum akhirnya terputus dan menjadi hitam total.

​FADE OUT.

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!