Suatu hari, setiap umat manusia dari bumi diseret secara paksa ke dunia apocalypse dimana monster berada. Mereka menerima Aspek, sistem, dan satu tujuan tunggal yakni bertahan hidup.
Player 991 tidak panik. Dia tidak bergantung pada siapapun. Dia tidak mencari bantuan. Dia hanya mulai membunuh.
Sementara yang lainnya membentuk kelompok untuk memastikan keselamatan mereka, Player 991 mendaki papan peringkat global satu demi satu melalui jumlah kill yang dia kumpulkan sendirian.
Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Ketika sistem memilih enam pemain terkuat sebagai Sovereign dan memberi mereka kekuasaan untuk membangun kembali peradaban manusia di dunia yang baru, Nate Leicester menemukan dirinya bukan hanya sebagai pemain terkuat — tapi sebagai salah satu dari enam penguasa yang akan menentukan masa depan seluruh umat manusia.
Papan peringkat tidak pernah berbohong. Dan saat ini, hanya ada satu nama di puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RyzzNovel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
'Ini sangat aneh.'
Nate tidak bisa menahan perasaan gelisah yang terus merayap di dadanya. Dia terus menghunus sabitnya, melakukan pembunuhan tanpa henti, tapi justru semakin banyak yang mati semakin janggal dungeon ini terasa. Kemudahannya terlalu mencurigakan.
Sejak kapan dunia ini mulai bersikap lunak?
Nate tenggelam dalam pikirannya sambil terus bermanuver ke sana kemari, mengurangi jumlah musuhnya, sampai akhirnya dia tersentak dengan pupil matanya yang tiba-tiba terkunci pada suatu tempat.
"...Hah?"
Salah satu dari manusia itu melakukan kanibalisme terhadap yang sudah mati.
Lalu Nate melirik sekelilingnya dengan keringat dingin yang perlahan-lahan turun.
Mereka semua melakukannya. Melahap satu sama lain tanpa sedikit pun perasaan janggal, bahkan tampak menikmatinya. Suara daging yang terkoyak terdengar di mana-mana, diikuti bunyi mengunyah yang renyah dan bau amis darah yang perlahan-lahan menguasai seluruh arena.
Lalu...
"WAAAAAHHH!!!"
Teriakan dari para penonton meledak sekaligus, sangat keras hingga Nate meringis dengan gendang telinga yang berdengung kesakitan.
Dia menutup matanya sesaat. Begitu membukanya kembali, manusia-manusia yang telah menyelesaikan aksi kanibalisme mereka tiba-tiba membuka mata mereka yang kini berwarna hitam pucat.
Lalu dengan satu lirikan, kurang dari seratus manusia itu mengarahkan pandangan mereka langsung ke arah Nate, seolah-olah telah memilihnya sebagai satu-satunya target.
Nate terdiam sejenak. Lalu senyuman gugup dengan kilatan berbahaya di matanya muncul perlahan.
"Dasar gila."
Manusia yang sudah tidak bisa disebut manusia itu melesat dan menerjang ke arahnya. Mereka tidak lagi membunuh satu sama lain, tapi bergerak sebagai satu kelompok dengan satu tujuan yang sama.
Nate menghunus sabitnya, menebas lengan salah satu dari mereka, lalu mundur beberapa langkah begitu melihat tombak yang melesat tepat ke arah wajahnya.
Saat itulah dia tersentak dengan senyuman yang perlahan melebar.
Pria yang dia potong lengannya tidak mati. Efek korosi tidak mempan. Mereka kebal.
Itu mengejutkan, mengingat Nate bahkan sudah mengenakan Abyss Pendant yang memperkuat efek korosinya secara signifikan. Tapi mereka bisa menahannya?
"...Tak masalah."
Dadanya perlahan-lahan mulai berdebar semakin kencang.
Jika korosi tidak bekerja, maka ada cara lain.
Buum!! Buum!!
Ledakan terjadi dan tubuh manusia itu meledak menjadi serpihan daging dan darah merah pucat yang bercampur asap ungu. Ledakan itu menjangkau beberapa orang yang berdekatan, tapi tidak meninggalkan luka serius. Entah kenapa, tubuh mereka terasa jauh lebih kuat dari sebelumnya, begitu pula dengan kecepatan mereka.
'Apa ini efek dari kanibalisme? Mereka melahap satu sama lain untuk menjadi lebih kuat?'
Itu adalah asumsi yang paling masuk akal sejauh ini. Jika begitu, dia benar-benar harus berhati-hati karena tidak bisa mengukur pertumbuhan kekuatan mereka.
Sistem pun tidak membantu. Tidak ada level atau peringkat yang bisa dibaca dari manusia-manusia ini. Tidak ada EXP, tidak ada credit, tidak ada item apapun saat mereka mati.
Nate mendecakkan lidahnya, lalu kembali melesat. Tebasan melengkung yang bersih diikuti ledakan, lalu dia melihat sebuah tombak melesat ke bahunya, merunduk sedikit, dan menghantam perut penyerangnya dengan kakinya hingga terpental.
Sraaang!! Buum!!
Tidak butuh waktu lama. Bahkan dengan peningkatan dari kanibalisme, mereka tetap tidak cukup untuk mengimbangi kekuatan Nate.
Kini Nate sendirian, pupil matanya dingin tapi kontras dengan seringai di wajahnya yang dipenuhi kesenangan.
Lalu tanpa peringatan, lebih banyak manusia keluar dari lorong arena.
Nate menghunus sabitnya. Kali ini dia tidak menunggu, langsung melesat dan meledakkan mereka. Kali ini, dia tidak akan membiarkan mereka melakukan kanibalisme sedikit pun.
Perlahan-lahan Nate tenggelam dalam sensasi itu. Sabitnya memotong tubuh manusia bagaikan pisau tajam yang memotong tahu, dan kepuasan yang dia rasakan saat membunuh mulai membuncah di dalam dirinya tanpa dia minta.
Semakin dia menebas, semakin lebar senyumannya. Semakin banyak yang dia bunuh, semakin keras jantungnya berdebar.
Sampai akhirnya Nate terhenti, menatap daging-daging yang dicincang dengan rapi di hadapannya.
Dia menjilat bibirnya sendiri.
Rasa lapar. Dia mulai merasa lapar tanpa alasan yang jelas. Dan saat menatap daging yang tercincang itu, ada sesuatu yang seolah-olah memanggilnya untuk mendekat.
Haruskah dia memakannya?
Nate mengambil satu langkah. Dua langkah. Lalu berhenti tepat di hadapan daging itu.
Dia mengambil segenggam daging di telapak tangannya dan menatapnya dengan seksama.
Senyuman lebar muncul di wajahnya.
"Aku mengerti."
Pertama-tama, Nate bisa merasakan bahwa dia telah terpengaruh oleh sesuatu yang membuatnya tenggelam dalam kesenangan membunuh. Lalu perlahan-lahan, aroma darah yang terus memenuhi arena ini mulai berubah menjadi sesuatu yang membuatnya lapar, sangat menginginkan daging yang ada di depannya.
Bahkan sekarang, dengan segumpal daging di telapak tangannya, keinginan untuk menelannya terasa sangat kuat dan nyata.
Sayangnya bagi rangsangan itu, Nate punya kemauan yang jauh lebih kuat.
Dia meremukkan daging itu, merasakan setiap tetes darah merembes keluar dan tumpah di sela-sela jarinya. Perasaan lengket dan menjijikkan yang sangat jelas sebelum akhirnya rasa lapar itu tiba-tiba digantikan oleh perutnya yang terasa seperti dipelintir.
Nate merasa mual dan ingin muntah seketika.
Dia menjatuhkan daging itu, lalu berdiri perlahan dengan ekspresi yang sulit ditebak.
"Bagaimana denganmu?"
Nate berbicara saat tatapannya tertuju pada seorang pria dengan rambut hitam dan pupil mata abu-abu pucat, tenggelam dalam kegilaan, mengunyah setiap potongan daging yang ada di hadapannya dengan kerakusan yang sulit untuk dimengerti.
Nate menatapnya sejenak, lalu tersenyum mengejek.
"Jadi seperti inilah aku jika aku menyerah dan memilih untuk mengonsumsi daging itu, benar kan?"
Pria di hadapannya adalah Nate sendiri.
Bagian putih matanya sudah berubah menjadi hitam, rambutnya panjang menyentuh punggung, perawakannya kacau dengan berbagai goresan kuku yang menyebar di seluruh wajahnya. Tapi yang paling mengganggu adalah senyumannya yang tampak menyimpang, memberikan tekanan aneh yang bahkan Nate sendiri bisa rasakan.
'Nate' itu perlahan-lahan menyelesaikan makanannya, lalu berdiri.
"Biarkan aku mengonsumsimu. Dengan begitu, keinginanmu untuk menjadi yang terkuat akan terwujud."
Suara itu terdengar, lalu sebuah sabit ungu gelap dengan campuran hitam pekat muncul di tangannya, entah dari mana. Nate menatapnya sejenak. Terasa sama seperti miliknya, tapi diselingi dengan energi gelap yang jauh lebih pekat.
Nate menatap dirinya sendiri itu, lalu berkedip beberapa kali.
"Kamu makan sangat banyak, tapi berat badanmu tidak bertambah. Apa rahasianya?"
Seringai muncul di wajahnya.
Sraaang!!
Nate melesat maju tanpa ragu, menerjang langsung ke versi ideal dirinya sendiri yang menyerah pada kegilaan.
***