Sequel Novel "The End Of Before"
"Satu sayatan mengakhiri Hidupnya, satu dekapan memulai penebusannya."
Satu sayatan dalam di pergelangan tangan menjadi titik terakhir bagi Elowen Valerio. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar dari jeratan cinta terlarangnya. Setelah Setahun pelarian bersama Jeff Feel-Lizzie tak cukup membasuh lukanya.
Namun, takdir berkata lain saat Ezzra Velasquez, seorang pria yang sedang menjalani hukuman sebagai pelayan hotel, menemukannya bersimbah darah.
Ezzra menyadari Elowen adalah labirin berbahaya. Dan Elowen sendiri merasa
menghadapi kenyataan bahwa maut jauh lebih ramah daripada Pria Bernama Ezzra Velasquez.
Selamat Membaca 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Keheningan di ruang perawatan Elowen terasa begitu berat, hanya dipecah oleh bunyi statis dari mesin pemantau jantung yang berdetak konstan.
Ezzra Velasquez menyandarkan kepalanya di tepi ranjang, tangan kanannya masih menggenggam jemari Elowen yang pucat. Ia baru saja terlelap selama tiga puluh menit setelah terjaga hampir sepanjang malam, namun tidurnya yang dangkal terusik oleh getaran kuat dari ponsel di saku celananya.
Ezzra tersentak bangun, matanya yang merah terbuka lebar. Pikiran pertamanya adalah Kai. Atau mungkin polisi. Harapan terbesarnya adalah kabar bahwa Jeff Feel-Lizzie telah ditemukan membusuk di suatu tempat sehingga ia bisa menghabisi bajingan itu dengan tangannya sendiri.
Dengan gerakan cepat namun hati-hati agar tidak membangunkan Elowen, ia merogoh ponselnya. Cahaya layar yang terang menusuk matanya di keremangan ruangan.
Sebuah pesan masuk. Bukan dari Kai. Bukan dari kepolisian.
Mommy.
Ezzra mengernyit. Ia baru saja berniat mengetik balasan bahwa ia akan menginap lagi di rumah sakit dan meminta asisten rumah tangga membawakan baju ganti, namun saat ia membaca baris kalimat yang dikirimkan sang ibu, napasnya seolah terhenti di tenggorokan.
'Jangan khawatir tentang Jeff, Sayang. Ibu sudah mengurusnya. Fokuslah pada istrimu.'
Ezzra mematung. Ponselnya hampir saja terlepas dari genggamannya. "Huh... huh..." Ia menarik napas pendek-pendek, mencoba memasok oksigen ke paru-parunya yang mendadak terasa menyempit. Dadanya sesak bukan karena haru, melainkan karena kengerian yang sudah sangat ia kenali.
Dalam hati, Ezzra merutuk. Oh Tuhan... Mommy tiba-tiba hilang kendali lagi.
Ezzra tahu persis apa arti kata "mengurus" dalam kamus Isabella Velasquez. Ibunya bukan sekadar sosialita yang hobi mengoleksi tas Hermes; wanita itu adalah keturunan keluarga mafia tua yang nama besarnya sudah dihapus dari catatan publik demi reputasi bisnis sang ayah. Namun, darah itu tetap ada. Darah dingin yang akan mendidih jika ada yang berani menyentuh harta atau darah dagingnya.
Ezzra bangkit dari kursinya, berjalan menjauh dari ranjang Elowen menuju balkon kamar rumah sakit. Ia harus memastikan sesuatu. Ia tidak ingin Jeff mati secepat itu—tidak sebelum ia sendiri yang mematahkan tulang bajingan itu satu per satu. Namun yang lebih ia takutkan adalah kekacauan hukum yang bisa ditimbulkan oleh tindakan impulsif ibunya.
Ia menekan nomor kontak yang paling jarang ia hubungi kecuali dalam keadaan darurat.
Daddy.
Nada sambung berbunyi lima kali sebelum suara berat dan maskulin di ujung sana menjawab dengan nada yang sedikit terganggu.
"Ezzra? Ini hampir jam satu pagi. Ada apa? Apa ada perkembangan soal kondisi Elowen?" tanya Dante Velasquez.
Suaranya terdengar jernih, menandakan pria itu sedang bekerja di balik meja kerjanya yang luas di kantor pusat perhotelan Velasquez.
"Dad..." Ezzra melirih. Suaranya bergetar, mencerminkan ketidakberdayaan yang jarang ia tunjukkan.
"Ada apa, Jagoan? Kau terdengar kacau," Dante mulai merasa ada yang tidak beres.
"Mommy berulah lagi, Dad," ucap Ezzra.
Hening sejenak di ujung telepon. Ezzra bisa mendengar suara helaan napas panjang dari ayahnya. Suara kursi kerja yang berderit menandakan Dante baru saja menyandarkan punggungnya, memijat pelipisnya yang pasti mulai berdenyut.
"Apa yang dia lakukan sekarang?" tanya Dante dengan nada pasrah. Pria itu memang penguasa bisnis, namun di depan istrinya, ia hanyalah pria yang sering kali tidak tahu bagaimana cara menjinakkan badai.
"Dia mengirim pesan padaku. Dia bilang dia sudah 'mengurus' Jeff. Dad, aku tahu maksudnya. Jeff hilang sejak lima hari lalu, polisi mencarinya, keluarga Valerio mencarinya... dan ternyata dia ada di tangan Mommy," jelas Ezzra dengan nada cepat.
"Bajingan kecil itu?" Dante berdeham. "Yah, sebenarnya aku tidak keberatan jika istriku—maksudku ibumu—memberinya pelajaran. Tapi jika dia sampai bermain dengan pisau atau... kau tahu, tradisi lamanya, itu akan menjadi masalah diplomatik dengan keluarga Feel-Lizzie dan polisi."
"Dad! Ini bukan soal pelajaran biasa! Elowen keguguran karena bajingan itu! Mommy tahu soal itu, dan dia menganggap Jeff sudah membunuh cucunya. Kau tahu bagaimana Mommy jika sudah menyangkut soal keturunan," Ezzra mulai panik.
"Sial," umpat Dante pelan. "Aku benar-benar tidak tahu soal penculikan itu. Aku terlalu sibuk mengurus akuisisi hotel di Singapura dan memastikan berita penangkapan fitnahmu tidak sampai ke telinga pemegang saham. Aku pikir Isabella hanya sedang sibuk di butiknya."
"Bisa kau cari tahu di mana dia menyembunyikan bajingan itu, Dad? Sebelum Mommy benar-benar menjadikannya mayat?" pinta Ezzra.
Dante terdiam cukup lama. "Ezzra, dengarkan aku. Jika ibumu sudah turun tangan, artinya dia tidak ingin kau mengotori tanganmu lebih jauh. Dia ingin kau tetap bersih agar kau bisa berdiri tegak di samping Elowen. Itu cara dia mencintaimu."
"Aku tidak butuh cara cinta yang seperti itu, Dad! Aku butuh Jeff hidup-hidup agar dia bisa membusuk di penjara setelah aku menghajarnya! Jika Mommy membunuhnya, Jeff menang! Dia akan mati sebagai korban, dan Mommy akan berakhir di pengadilan!"
"Ibumu tidak pernah meninggalkan jejak, kau tahu itu," sahut Dante datar. "Tapi baiklah, aku akan mencoba menghubungi tim keamanannya. Tapi aku tidak janji bisa menghentikannya. Kau tahu sendiri, ibumu adalah penguasa mutlak di rumah ini jika dia sudah memakai senjata pusaka keluarganya."
Ezzra mematikan telepon dengan perasaan yang kian kalut. Ia bersandar di pagar balkon, menatap lampu-lampu kota yang seolah mengejeknya. Di dalam sana, Elowen sedang berjuang dengan traumanya. Di luar sana, ibunya sedang menjelma menjadi algojo.
Ia menoleh ke dalam melalui kaca transparan, melihat Elowen yang bergerak sedikit dalam tidurnya. Ezzra menyadari satu hal: ia dikelilingi oleh orang-orang luar biasa yang mencintainya dengan cara yang mengerikan. Elowen yang rela mati demi Hubungan mereka, dan ibunya yang rela membunuh demi membelanya.
Ezzra masuk kembali ke dalam ruangan, duduk kembali di sisi Elowen. Ia menatap ponselnya, lalu menatap wajah Elowen yang mulai menunjukkan gurat kesakitan meski dalam tidur.
"Maafkan keluargaku, El," bisik Ezzra. "Kami memang berantakan. Tapi aku bersumpah, tidak akan ada lagi yang bisa menyentuhmu setelah badai ini berakhir."
Ia tahu, esok pagi akan ada kabar besar. Entah itu penemuan mayat di pinggir dermaga, atau hilangnya nama Jeff Feel-Lizzie selamanya dari peradaban. Apapun itu, Ezzra harus bersiap. Karena ketika seorang Velasquez memutuskan untuk "mengurus" sesuatu, maka dunia tidak akan pernah sama lagi.
Getaran ponselnya kembali terasa. Satu pesan singkat lagi dari Mommy.
'Tidurlah, Jagoan. Besok pagi, dunia akan menjadi tempat yang lebih bersih untukmu dan Elowen.'
Ezzra memejamkan matanya rapat-rapat. Ia tidak tahu apakah ia harus merasa lega atau justru semakin ketakutan akan kegelapan yang mengalir dalam darahnya sendiri.
biasanya si laki yg dibikin babak belur di ceritamu kak....
poor elowen...