NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1

Aira Maharani, 28 tahun, berdiri di depan gedung kantor barunya dengan napas yang sedikit tertahan. Bangunan itu menjulang tinggi, berlapis kaca yang memantulkan cahaya pagi, tampak megah dan berwibawa. Sangat berbeda dengan kantor lamanya di Bekasi yang terasa lebih sederhana dan padat. Ia merapikan tas di bahunya, berusaha menenangkan diri.

“Baiklah, Aira… ini kesempatan baru,” gumamnya pelan.

Dengan langkah mantap, ia masuk ke dalam gedung. Lobi luas dengan lantai marmer mengilap langsung menyambutnya. Beberapa pegawai berlalu-lalang dengan pakaian rapi, menciptakan suasana profesional yang terasa serius, namun tidak kaku.

Seorang resepsionis menyapanya dengan senyum ramah. Setelah menyebutkan namanya dan tujuan, Aira diarahkan menuju lantai bagian finance. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat saat pintu lift terbuka.

Begitu keluar, seorang wanita paruh baya dengan penampilan rapi dan aura tegas langsung menghampirinya.

“Kamu Aira Maharani, ya?” tanyanya.

“Iya, Bu,” jawab Aira sopan sambil sedikit menunduk.

“Saya Ida, manager finance di sini. Ikut saya.”

Tanpa banyak basa-basi, Bu Ida langsung memimpin jalan. Cara bicaranya cepat dan efisien, membuat Aira sadar bahwa ritme kerja di tempat ini pasti jauh lebih tinggi.

Mereka masuk ke ruang kerja yang cukup luas. Deretan meja tertata rapi dengan komputer dan dokumen yang tersusun. Beberapa pegawai menoleh saat mereka masuk.

“Teman-teman, ini Aira Maharani. Dia pindahan dari cabang Bekasi. Mulai hari ini dia akan bergabung dengan tim kita,” ucap Bu Ida.

Beberapa orang langsung tersenyum, beberapa lainnya mengangguk.

Namun tatapan mereka perlahan berubah menjadi rasa penasaran yang tidak disembunyikan.

“Serius ini pegawai baru?” bisik seseorang, cukup pelan tapi masih terdengar.

Aira hanya tersenyum tipis. Ia sudah terbiasa.

Tinggi badannya yang hanya 153 cm sering membuat orang salah paham.

Seorang pegawai lain tertawa kecil. “Kirain anak magang atau anak SMA lagi PSG.”

Ruangan langsung dipenuhi tawa ringan.

Aira mengangkat bahu santai. “Saya juga sudah pasrah, Bu. Sudah minum susu peninggi badan juga tetap segini.”

Tawa semakin pecah. Suasana yang awalnya canggung berubah menjadi lebih hangat.

“Sudah, sudah,” potong Bu Ida, meski ia sendiri tersenyum. “Aira, kamu duduk di sana.”

Ia menunjuk meja kosong di samping seorang wanita muda berpenampilan rapi dan cantik.

Begitu Aira mendekat, wanita itu langsung menyapanya dengan antusias.

“Hai, aku Ayunda Risma,” katanya sambil tersenyum lebar. “Akhirnya ada teman senasib.”

Aira mengerutkan kening sedikit. “Maksudnya?”

Ayunda mendekat sedikit dan berbisik dramatis, “Di sini semuanya sudah menikah. Aku sendirian yang masih lajang. Sekarang ada kamu, jadi aku tidak sendirian lagi.”

Aira tertawa kecil. “Syukurlah. Aku juga sempat khawatir jadi yang paling muda sendiri.”

“Bukan cuma muda,” sahut Ayunda sambil menatap Aira dari atas ke bawah. “Kamu itu kelihatan seperti anak sekolah.”

Aira menghela napas panjang pura-pura lelah. “Itu sudah jadi takdir hidupku.”

Keduanya tertawa bersama.

Tak butuh waktu lama, mereka langsung akrab. Ayunda orangnya terbuka dan ceria, sementara Aira cukup cepat menyesuaikan diri.

“Nomor kamu berapa?” tanya Ayunda.

Aira menyebutkan, dan keduanya langsung saling menyimpan kontak.

“Kalau nanti ada apa-apa, tanya saja. Aku di sini sudah lumayan lama,” kata Ayunda.

“Terima kasih. Aku pasti bakal sering bertanya,” jawab Aira jujur.

Setelah itu, Ayunda mulai bertanya, “Kamu tinggal di mana sekarang?”

“Masih cari tempat. Dulu di Bekasi aku tinggal sama sepupu. Sekarang harus kost sendiri.”

Ayunda langsung berhenti mengetik dan menatapnya serius. “Kamu belum dapat tempat tetap?”

“Belum. Baru dapat sementara.”

Ayunda mengangkat alis. “Kalau begitu, kamu harus lihat kost-ku.”

Aira terlihat terkejut. “Kost kamu?”

“Iya. Aku tinggal di kost yang orang tuaku punya. Tidak jauh dari sini. Jalan kaki juga bisa.”

“Serius?” Aira mulai tertarik.

“Iya. Kalau kamu tidak cocok dengan tempatmu sekarang, pindah saja ke sana. Lebih aman, dan aku juga ada di sana.”

Aira terdiam sejenak, mempertimbangkan.

“Boleh juga… nanti aku lihat dulu, ya.”

“Siap. Aku tunggu keputusanmu,” kata Ayunda sambil tersenyum puas.

Percakapan mereka terhenti saat Bu Ida kembali dan memberikan beberapa dokumen.

“Aira, ini pekerjaan awalmu. Kita lihat dulu kemampuanmu.”

“Iya, Bu.”

Aira mulai bekerja. Ia langsung tenggelam dalam angka dan laporan. Meski skala pekerjaan di sini jauh lebih besar, ia merasa tertantang. Ada rasa puas ketika berhasil memahami alur kerja yang lebih kompleks.

Beberapa kali ia terlihat berpikir keras, dan di situlah Ayunda sering membantu.

“Bagian ini kamu cek ulang saja di sistem. Jangan manual,” saran Ayunda.

“Oh, pantesan tadi tidak ketemu,” jawab Aira.

“Di sini semuanya serba cepat. Kalau manual, bisa ketinggalan.”

Aira mengangguk. “Baik, mentor.”

Ayunda terkekeh. “Tenang saja, aku baik kok.”

Menjelang siang, Ayunda berdiri.

“Ayo, aku tunjukkan pantry.”

Mereka berjalan ke sebuah ruangan kecil namun nyaman. Rak penuh dengan berbagai jenis kopi, teh, dan perlengkapan minum tersusun rapi.

“Mewah juga ya,” gumam Aira.

“Ini penyelamat hidup kita,” jawab Ayunda.

Ia mengambil sebuah gelas, lalu menuliskan nama “Aira” dengan spidol khusus.

“Nah, ini punyamu.”

“Serius?” Aira terlihat senang.

“Supaya tidak dipakai orang lain. Di sini kalau tidak dikasih nama, hilang.”

Aira tertawa kecil. “Terima kasih.”

Tak lama, seorang pria paruh baya masuk sambil membawa lap.

“Pak Tono, ini Aira, pegawai baru,” kata Ayunda.

Pak Tono tersenyum ramah. “Oh, yang baru itu ya. Selamat datang, Mbak.”

“Terima kasih, Pak.”

“Kalau ada apa-apa soal kebersihan, bilang saja. Nanti sore gelas-gelas biasanya saya cuci.”

Aira mengangguk. “Baik, Pak.”

Setelah Pak Tono pergi, Aira mulai membuat kopi.

Aroma kopi hangat memenuhi ruangan. Ia menghirup pelan, merasa sedikit lebih rileks.

“Ayunda…” panggilnya.

“Hmm?”

“Bos di sini… seperti apa orangnya?”

Ayunda menoleh, lalu tersenyum misterius.

“Kamu penasaran?”

“Sedikit,” jawab Aira jujur. “Soalnya ini cabang besar. Aku kira yang pegang orang senior dan galak.”

Ayunda tertawa pelan. “Aku dulu juga mikir begitu.”

“Terus?”

“Bos kita masih muda.”

Aira mengangkat alis. “Serius?”

“Iya. Dia anak ketiga pemilik Satria Group.”

Aira terdiam sesaat.

“Anak pemilik…?”

“Iya. Namanya Bima.”

Aira menatap cangkir kopinya.

“Masih muda tapi pegang cabang sebesar ini?” gumamnya.

Ayunda mengangguk. “Dan bukan cuma itu.”

“Apa lagi?”

“Dia baik.”

Aira terlihat sedikit tidak percaya.

“Baik? Biasanya yang seperti itu… ya, kamu tahu lah.”

“Galak? Sombong?” tebak Ayunda.

Aira mengangguk pelan.

Ayunda tersenyum. “Tidak sama sekali.”

“Benarkah?”

“Dia tegas, tapi tidak menyebalkan. Dan…” Ayunda berhenti sejenak.

“Dan apa?”

Ayunda menyeringai. “Tampan.”

Aira langsung memutar mata. “Kamu serius?”

“Aku tidak pernah bercanda soal itu,” jawab Ayunda dengan ekspresi dramatis.

Aira tertawa kecil.

“Kamu pasti akan betah di sini,” lanjut Ayunda.

Aira menatap cangkir kopinya lagi, lalu tersenyum tipis.

Dalam hati, ia merasa sedikit lebih tenang.

Ekspektasinya tentang bos galak perlahan memudar.

Sebaliknya, rasa penasaran mulai tumbuh.

“Baiklah,” katanya pelan. “Sepertinya aku memang akan betah di sini.”

Dan tanpa ia sadari, hari pertamanya bukan hanya tentang pekerjaan baru.

Tapi juga awal dari sesuatu yang belum ia pahami.

1
Wayan Sucani
Lanjut thor...
Black Rascall: siap kak jangan lupa dukungannya
total 1 replies
Nurjana Bakir
lanjut thoor
Black Rascall: siap👍👍👍 jangan lupa likenya kak
total 1 replies
Cucu Rodiah
udah kalou begini terus tidak baca lagi
Black Rascall: makasih udah mampir kak semoga nanti mau mampir lagi
total 1 replies
Cucu Rodiah
komentar apalagi udah dua kali komentar
Black Rascall: tenang aja kak nanti kalau view nyentuh 5K saya update 10 bab sehari buat ngasih bonus ke pembaca yang sudah mendukung
total 1 replies
Cucu Rodiah
teruskan kan jangan di potong potong
Black Rascall: sabar ya kak udah saya siapkan bab terjadwal sampai bab 44 kok update setiap hari
total 1 replies
Cucu Rodiah
maki seru bagus
Black Rascall: makasih dukungannya bab berikutnya mungkin lebih parah ributnya
total 1 replies
Nana umi
bagus
Black Rascall: makasih kak bantu likenya
total 1 replies
Lempongsari Samsung
makasih crazy up nya thor❤❤❤
Black Rascall: yang penting likenya yang rajin kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!