Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Predator dan Pelanggar Aturan
SMA Garuda pukul 06.55 WIB. Lima menit menuju "eksekusi" gerbang sekolah.
Ziva Clarissa berlari sekuat tenaga, tas ranselnya yang penuh dengan stiker band indie berguncang hebat di punggungnya. Keringat membasahi pelipisnya, dan napasnya tersenggal. Sialnya, tali sepatu kirinya lepas, membuatnya nyaris tersungkur di aspal depan gerbang.
"Ayo, Ziv! Sedikit lagi!"
seru Sisil dari balik gerbang, wajahnya penuh kecemasan. Sisil sudah aman di dalam, tapi Ziva masih tiga meter dari garis putih yang sakral itu.
Tepat saat tangan Ziva menyentuh besi gerbang, sebuah tangan kekar dengan jam tangan digital hitam yang mengkilap menarik tuas besi itu. Krak. Gerbang tertutup rapat. Bunyi gembok yang dikunci terasa seperti vonis mati bagi Ziva.
Ziva mendongak, matanya bertemu dengan tatapan dingin di balik kacamata frame hitam.
Arkananta Dewa.
Ketua OSIS paling menyebalkan seantero sekolah.
"07.00 lewat lima detik," suara Arkan datar, tanpa emosi, sambil menekan tombol stopwatch di tangannya.
"Arkan, ayolah!
Cuma lima detik!
Gue tadi kejebak macet karena ada kecelakaan di persimpangan!"
Ziva memprotes sambil memegangi jeruji gerbang, wajahnya memelas namun matanya menyala marah.
Arkan tidak bergeming. Ia merapikan letak almamaternya yang tidak berkerut sedikit pun.
"Aturan adalah aturan, Clarissa. Tidak ada pengecualian untuk alasan klasik. Silakan ambil barisan di sebelah sana bersama pelanggar lainnya."
"Lo bener-benar nggak punya perasaan ya? Gue ada ulangan harian jam pertama!"
Arkan hanya melirik papan namanya sendiri, lalu menatap Ziva dengan intensitas yang membuat gadis itu terdiam sejenak.
"Kalau kamu peduli dengan ulanganmu, kamu harusnya datang jam 06.30. Sekarang, masuk lewat pintu piket dan terima poin pelanggaranmu."
Ziva menghentakkan kakinya ke aspal.
"Gue benci banget sama lo, Arkananta! Gue sumpahin idup lo bakal ribet gara-gara aturan lo sendiri!"
Arkan hanya menaikkan satu alisnya, lalu berbalik tanpa kata, membiarkan jubah wibawanya berkibar tertiup angin pagi.
Polemik di Koridor: "Perang Dingin"
Hari itu menjadi neraka bagi Ziva. Di jam istirahat, ia harus menjalani hukuman membersihkan perpustakaan bawah tanah yang berdebu.
"Gila si Arkan itu, Ziv,"
ujar Sisil sambil membawakan sebotol air mineral untuk sahabatnya yang sedang bersin-bersin karena debu.
"Gue denger dia bakal dicalonin jadi siswa teladan tingkat provinsi. Makin sombonglah dia."
Ziva menyeka keringatnya dengan kasar.
"Gue nggak ngerti kenapa orang tua di sekolah ini muja-muja dia. Dia itu bukan manusia, dia itu robot yang diprogram pakai buku saku OSIS. Kaku, dingin, nggak asik!"
Di sudut lain perpustakaan, tersembunyi di balik rak buku sejarah, Gibran—sang Waketos—sedang memperhatikan mereka. Ia lalu menoleh pada Arkan yang sedang mengecek daftar inventaris buku.
"Ar, lo nggak merasa terlalu keras sama Ziva?" tanya Gibran pelan.
"Maksud gue, dia emang sering telat, tapi dia itu jurnalis terbaik kita. Tulisan dia tentang kantin sehat kemarin dipuji Kepala Sekolah."
Arkan tidak menghentikan aktivitasnya.
"Prestasi tidak menghapus kewajiban untuk disiplin, Gibran. Kalau aku membiarkan dia lewat, besok seratus orang akan telat dengan alasan yang sama."
Gibran menghela napas.
"Lo tahu nggak, anak-anak kelas sebelah bilang kalian itu kayak api dan es. Kalau ketemu, pasti ada yang hancur."
Arkan terdiam sejenak. Pikirannya melayang pada wajah merah Ziva saat marah tadi pagi. Ada sesuatu yang berbeda dari cara gadis itu menatapnya—bukan ketakutan seperti murid lain, melainkan perlawanan yang murni.
Kejutan di Meja Makan Malam
Sore harinya, Ziva pulang ke rumah dengan perasaan dongkol yang belum hilang. Ia langsung melempar tasnya ke sofa.
"Ziva, kamu sudah pulang? Cepat mandi dan pakai baju yang rapi. Papa ada tamu penting malam ini," seru Bu Ratna dari dapur.
"Tamu siapa sih, Ma? Ziva capek banget, habis dihukum sama Ketos sombong di sekolah,"
keluh Ziva sambil menaiki tangga.
"Tamu spesial. Teman lama Papa yang baru balik dari luar negeri. Jangan bikin malu, ya!"
Ziva tidak curiga. Ia mandi, memakai dress selutut warna biru langit yang simpel, dan turun ke ruang tamu dengan wajah malas. Saat itu, ayahnya, Pak Surya, sedang tertawa lebar bersama seorang pria paruh baya yang terlihat sangat berwibawa.
"Nah, ini dia putri saya, Ziva," kata Pak Surya bangga.
Ziva tersenyum formal, sampai matanya beralih ke kursi di sebelah tamu itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di sana, duduk seorang remaja laki-laki dengan kemeja batik yang sangat rapi, rambut yang tertata klimis, dan ekspresi yang sama datarnya dengan tadi pagi di depan gerbang.
"Arkan?" gumam Ziva hampir tak terdengar.
Arkan juga terlihat sedikit membeku. Gelas teh di tangannya tertahan di udara. Ia menatap Ziva dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu dengan cepat menguasai dirinya kembali.
"Ziva, Arkan, kalian ternyata sudah saling kenal ya? Bagus kalau begitu,"
ujar Pak Wijaya, ayah Arkan, dengan senyum penuh misteri.
"Karena pembicaraan kita malam ini akan sangat berkaitan dengan masa depan kalian berdua."
Ziva meremas ujung dress-nya. Firasat buruk mulai menjalar ke tengkuknya. Tuhan, tolong jangan bilang kalau tamu spesial ini ada hubungannya dengan laki-laki robot di depanku ini, doanya dalam hati.
Namun, doa Ziva tidak terkabul.
"Papa dan Om Wijaya sudah sepakat," Pak Surya memulai dengan nada serius.
"Untuk mempererat kerja sama perusahaan kita, dan untuk memastikan kalian berdua berada di jalur yang benar... kami memutuskan untuk menjodohkan kalian."
Hening. Sunyi yang mematikan.
"APA?!" Ziva berteriak, mengabaikan sopan santun.
Arkan meletakkan gelasnya dengan denting yang tajam.
"Pa, ini bercanda, kan?"
"Keputusan kami sudah bulat, Arkan. Bulan depan, setelah ujian semester, kalian akan menikah secara tertutup,
" tambah Om Wijaya dengan suara yang tidak menerima bantahan.
Ziva menatap Arkan. Arkan menatap Ziva. Di mata mereka, hanya ada satu hal yang terpancar: Bencana Besar.