**
setelah mendapatkan kemampuan sistem, kehidupan Rahmat Pratama berubah drastis. Dia yang awalnya dihina, miskin, dan terlilit hutang, kini telah berdiri di puncak .
Namun, kejayaan itu hanyalah awal dari badai yang sesungguhnya.
Saat Rahmat merasa telah menguasai segalanya, sebuah serangan siber mematikan dari organisasi misterius bernama Black Spider nyaris menghapus seluruh asetnya.
Sertifikat Galeria yang ia bangun dengan darah dan keringat hampir saja berpindah tangan dalam hitungan detik.
Black spider kembali menyerang, bukan dengan fisik melainkan dengan serangan dari dalam.
Rahmat juga menyadari satu kenyataan pahit: Sistem Analisis Nilai miliknya bukan
sekadar keberuntungan jatuh dari langit.
Ada sejarah gelap yang ditinggalkan oleh sang pemilik pendahulu, dan mengenai sang pencipta asli yang kini datang untuk menagih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1—Berhasil Dicegah
Malam itu, raungan mesin Ducati membelah kesunyian kota tersebut. Rahmat melompat dari motor mahalnya bahkan sebelum standar terpasang sempurna. Ia berlari kencang menuju pintu utama Galeria, gedung ruko mewah yang kini menjadi simbol keberhasilannya.
Dulu, Rahmat hanyalah remaja yang dihina karena miskin dan terlilit hutang miliaran. Namun, sebuah fenomena misterius memberinya Sistem Analisis Nilai—sebuah antarmuka digital yang hanya bisa dilihat oleh matanya, memungkinkannya melihat harga dan potensi segala sesuatu di dunia ini. Dari sanalah, kekayaannya bermula.
Dia yang awalnya dihina dan Diremehkan kini berdiri di puncak.
Namun kini, segalanya terancam. Di layar HUD helmnya, angka persentase penghapusan data berkedip merah, menghujam jantungnya dengan rasa cemas yang luar biasa.
[DATA DELETION PROGRESS: 94%... 95%...]
"Sial, sedikit lagi!" umpatnya.
Tangan Rahmat gemetar saat mencoba membuka pintu. Ia tahu, musuh misterius yang menyebut diri mereka Black Spider—organisasi bayangan yang sudah beberapa kali mencoba menjatuhkannya.
sedang mencoba membobol server pusatnya. Jika data kepemilikan asetnya terhapus, ia akan kembali menjadi Rahmat yang miskin dalam semalam.
"Sistem! Di mana terminal akses fisik tercepat?!" teriaknya dalam hati.
[DING!]
[Melakukan Analisis Bangunan...]
[Bangunan Terdeteksi: Panel kontrol serat optik terletak di box utilitas sisi kanan gedung. 15 meter dari posisi Anda.]
Tanpa pikir panjang, Rahmat berbalik dan berlari ke samping gedung. Ia melihat sebuah kotak besi terkunci dengan logo peringatan tegangan tinggi. Inilah jantung pertahanan fisiknya.
[97%...] Angka itu terus merangkak naik di sudut penglihatannya. Panik mulai menguasai.
"Buka paksa!" Rahmat menghantam kunci kotak itu dengan tendangan keras. Sekali, dua kali, lalu—
BRAK! Engselnya jebol. Di dalamnya, ribuan kabel serat optik dan modul server cadangan berkedip-kedip hijau, menandakan aliran data yang sangat sibuk. Namun itu terlalu banyak; memutus kabel yang salah sama saja dengan bunuh diri digital.
[98%...]
"Yang mana yang harus dicaBut?!"
Dunia seolah melambat. Di mata Rahmat, jajaran kabel itu mendadak diselimuti garis-garis digital biru. Ini adalah efek dari Skill Hacking yang baru saja ia beli dari Toko Sistem seharga jutaan Rupiah. Sebuah investasi yang kini terasa sangat murah dibanding harga ruko ini.
Satu kabel berwarna hitam pekat terlihat bergetar hebat, memancarkan aura merah peringatan di mata sistemnya.
“Untung saja aku punya skil hacking.”
. Satu kabel berwarna hitam pekat terlihat bergetar hebat, memancarkan aura merah peringatan.
"Itu dia!"
Rahmat menjangkau kabel induk (Main Backbone) tersebut. Namun, tepat saat jarinya menyentuh kabel, sebuah sengatan listrik statis meledak, memukul tangannya hingga terpental. Ia sedikit tersentak, Black Spider telah memasang protokol perlindungan fisik!
[99.5%...]
"Jangan kira ini cukup untuk menghentikanku!" Rahmat berteriak, mengabaikan rasa sakit yang menjalar di lengannya. Ia mencengkeram kabel itu dengan kedua tangan, giginya gemeretak menahan beban emosi dan amarah.
"PUTUUUUSSS!!!"
SREEEET—CELEK!
Rahmat menyentak kabel itu dengan seluruh tenaga hingga konektornya hancur berantakan.
Hening.
Serangan Black Spider tadi adalah serangan berbasis sinyal dan data. Mereka menggunakan jaringan internet sebagai jalan tol untuk mengirim perintah penghapusan ke server pusat Galeria. Dengan menghancurkan panel kontrol dan memutuskan kabel induk secara paksa, Rahmat baru saja menghancurkan "jalan tol" tersebut.
Kondisi ini disebut sebagai Air-Gap.
Secara teknis, server Galeria kini terisolasi total dari dunia luar. Tidak ada WiFi, tidak ada jalur kabel, tidak ada celah bagi peretas untuk mengirimkan satu bit pun perintah tambahan. Meskipun proses penghapusan sudah menyentuh angka 99,9%, perintah terakhir untuk "mengeksekusi" penghapusan permanen gagal terkirim karena jalurnya sudah hilang secara fisik.
Rahmat telah melakukan satu-satunya hal yang tidak bisa dilawan oleh software tercanggih sekalipun: Mematikan akses dunianya dari jaringan global.
Dengan kata lain, proses dan hacking dari pihak telah sukses dia gagalkan, walau sangat nyaris sekali.
Angin malam berhembus pelan. Layar di helmnya mendadak mati, lalu melakukan reboot cepat. Jantung Rahmat berdegup kencang hingga terasa mau copot. Ia jatuh terduduk di depan panel utilitas, napasnya memburu.
"Sistem... status?" bisiknya parau.
Sebuah panel biru muncul perlahan, mengambang di depan matanya.
━━━━━━━━━━━━━━━
[EMERGENCY PROTOCOL: STOPPED]
Status Penghapusan: Terhenti pada 99.9%.
Sertifikat Kepemilikan: Aman (Terfragmentasi namun dapat dipulihkan).
Koneksi Luar: Terputus Total (Air-gapped).
Sisa Saldo Sistem: Dikonsumsi RP 150.000.000 (Operasi Pertahanan Darurat).
━━━━━━━━━━━━━━━
"Satu detik... hanya satu detik lagi dan aku kehilangan galeri ini," gumam Rahmat sambil tertawa getir. Keringat dingin bercucuran dari keningnya. “Hahaha, jangan bercanda aku baru saja memulai bisnis ini, semua juga berjalan baik. Tak mungkin kubiarkan jatuh segampang itu!”
Meskipun saldonya terkuras habis-habisan dalam hitungan menit, ia tidak peduli. Galeria miliknya masih aman.
Baginya Galeria bukan hanya ruko tempat dia bisnis, namun juga sebagai lambang keberhasilan. Lambang dia berkuasa dan mulai berdiri di puncak. Dia yang dulu dihina, dibully, diremehkan karena miskin, sekarang membalikan keadaan. Galeria adalah lambang dia adalah Rahmat yang baru, karena itu dia tidak akan menyerahkan secara mudah.
Rahmat bangkit berdiri, menatap gedung Galeria-nya yang gelap gulita karena seluruh daya diputus secara paksa. Ia mengepalkan tangan yang tadi tersengat listrik. Rasa sakit itu justru menjadi pengingat bahwa musuhnya kali ini tidak punya belas kasihan.
"Kalian hampir mendesakku," desis Rahmat. Matanya yang berpendar biru kini berubah menjadi gelap dan penuh intimidasi. "Kalian menyerang bisnisku jangan harap kalian bisa lolos begitu saja."
Rahmat berjalan perlahan menuju motornya, menatap ke arah kegelapan jalanan gelap.
***
Sementara itu di sebuah ruangan yang gelap pekat, seorang pria terlihat menatap layar monitor, dan komputernya. Jari-jari dia terus menari di keyboard, lalu berhenti ketika melihat status hacking yang gagal total.
Mata dia sejenak terbuka lebar, lalu terkekeh. “Hebat-hebat. Gini baru menarik, sudah kuduga dia memang bukan sembarangan orang.”
Klek!
Pintu di ruangan itu terbuka, sosok pemuda dengan jaket hoodie serta masker yang menutupi sebagian besar wajahnya. “Aku melakukan sesuai perintahmu, kak. Jadi sekarang apa yang harus kulakukan?”
Pria yang disebut ‘kakak’ itu mengambil sebuah lolipop di mejanya, meletakan di mulut dan mulai menjilatinya. “Awasi dia terus. Bagaimanapun kamu berada di zona yang sama dengannya.”
Pemuda dengan jaket itu menganggukan kepala, lalu keluar dari dalam ruangan. Setelah keluar dari ruangan mimik wajahnya terlihat berubah, wajah yang sok sopan berganti dengan emosi.
Brak!
Dia memukul tembok meluapkan emosinya.. ‘sialan!