Renata seorang istria dan ibu rumah tangga, dia mengabdikan hari-harinya untuk sang suami tercintanya Raditya dan anak semata wayang mereka Rindiani.
Dulunya Renata merupakan seorang direktur diperusahaan yang saat ini dipegang oleh suaminya tapi karena dia sudah memiliki anak jadi memilih untuk menyerahkan jabatan ke Raditya suaminya dan akan mengurus anaknya saja dirumah.
Tapi sepertinya keputusan dia salah, karena sang suami ternyata berselingkuh dibelakangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atul Maronge, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Kecurigaan Renata
Suara deru mobil terdengar memasuki halaman rumah, aku segera berjalan ke depan pintu untuk menyambut suami tercintaku.
"Mas, kok sampai tengah malam begini?" tanyaku pada mas Raditya.
"Kan aku sudah kasih tahu kamu kalau lembur sayangku, maaf ya buat kamu nunggu sampai malam gini" Ucapnya mencium keningku.
"Iya mas, mau makan dulu apa mandi?" tanyaku.
"Langsung mandi saja sayang, tadi mas udah makan kok dikantor. kamu makan dulu aja kalau lapar" jawab mas Raditya dan segera berlalu ke kamar.
Aku mengikuti langkahnya untuk naik ke lantai dua dimana kamar kami berada, dengan membawa tas kerjanya dan juga jas hitam miliknya.
"Hmm kok bau parfum wanita" gumamku.
Sesampainya dikamar aku langsung menaruh jas suamiku dikeranjang baju kotor, serta celana dan kemeja yang dilemparkanya diatas ranjang.
Memang kebiasaan buruk suamiku selalu meletakkan barang dengan sembarangan, bahkan baju kotor juga dilemparkan di atas ranjang.
Saat aku melihat kemeja milik suamiku ada yang janggal dengan kerah kemeja ini, segera ku teliti.
"Noda lipstik siapa ini? Tadi aroma parfum di jas sekarang noda lipstik. Apa yang kamu sembunyikan dariku mas" gumamku dan segera menaruhnya di keranjang baju kotor yang terletak di sudut kamar.
Ceklek, bunyi suara pintu dibuka membangunkan lamunanku malam ini.
Mas Raditya keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililitkan dipinggangnya, dengan beberapa tetesan air dirambutnya.
"Sayang, kamu kenapa kok mukanya ditekuk gitu?" Tanyanya dan mengambil baju yang ada dilemari.
"Hmm gak apa mas, aku ke kamar Rindiani dulu ya." Ucapku dan berlalu dari kamar.
Entahlah aku malam ini seperti tengah dilanda kecurigaan serta kekecewaan yang menjadi satu. Aku ragu jika suamiku main dibelakangku tapi aku jadi curiga kenapa ada noda lipstik di kemejanya.
Aku segera berjalan ke kamar Rindiani yang berada di sebelah kamar kami, gadis mungil yang sebentar lagi berusia lima tahun itu tengah terlelap dengan memeluk boneka beruang kesayangannya, hadiah dari mas Raditya di ulang tahunnya yang ke empat.
"Sayang, semoga saja kecurigaan mama gak benar ya nak" gumamku sambil mengusap perlahan puncak kepala putriku.
"Aku akan menyelidikinya mas, awas aja kalau kamu ada main dibelakangku. Ku pastikan kamu akan menyesal..!!" Sumpahku dalam hati.
Karena aku tak mentolerir namanya perselingkuhan, sekali berselingkuh akan tetap seperti itu.
setelah puas memandangi putri kecilku, aku segera berjalan ke kamarku dan dengan perlahan membuka pintu kamar karena takut kalau mas Raditya baru saja tidur nanti bisa terganggu dengan suaraku membuka pintu kamar.
"Iya, besok mas janji akan belikan berlian yang kamu mau sayang. Asal imbalannya setimpal" Ucap mas Raditya di balik telepon.
"Berlian?Sayang?Dan juga imbalan apa yang dimaksud. Astaga aku harus segera menyelidiki ini semua" Ucapku dalam hati.
Aku pura-pura tak tahu jika suamiku tengah bertelepon.
"Mas, lagi apa?" Ucapku yang berjalan kearahnya.
Dia gelagapan saat tahu aku sudah berada didalam kamar, dengan segera mas Raditya menempelkan jari telunjuk dibibirnya.
Pertanda agar aku diam dulu.
"Iya pak, besok saya akan menghubungi sekretaris saya agar menyiapkan jadwal untuk kita golf bersama" Ucapnya di telepon.
Aku tahu jika dia berpura-pura mengalihkan pembicaraan ditelepon agar aku tidak curiga.
Beberapa saat kemudian mas Raditya sudah selesai bertelepon dan ikut berbaring disebelahku.
"Siapa mas?" Tanyaku dengan menghadap ke arahnya.
"Itu rekan bisnis baru, katanya pengen main golf bareng mas. Ya mas sih mau aja asalkan tidak diwaktu weekend kan jadwal bersama keluarga " Jawabnya.
"Terus masa main golf di jam kerja mas?"
"Ya gak gitu sayang, kalau ada waktu senggang sih oke. Mangkanya tadi mas akan tanya dulu ke Rohana jadwal mas beberapa hari kedepan"
"Oh gitu, kalau gak ada jadwal kosong gak apa kok mas. Kan gak enak juga kalau menolak ajakan rekan baru bukan? Kan cuma satu kali aja kamu melewatkan weekend bersama kami sih gak apa" Ucapku dengan santai.
"Beneran sayang?" Tanyanya dengan antusias.
"Iya mas, kapan sih aku pernah gak serius kalau bicara sama kamu"
"Hehe gak gitu sayang, makasih ya sayang udah mengerti" Jawabnya dan mencium keningku.
Aku segera memejamkan mataku tapi tidak untuk tidur melainkan menyusun rencana untuk mengetahui apa yang sedang disembunyikan oleh mas Raditya dibelakangku.
Hingga aku kefikiran untuk menyadap ponsel miliknya, tapi bagaimana caranya? Selama ini mas Raditya selalu membawa ponselnya kemana-mana. Ah sial...!
Aku harus memikirkan cara yang lain. Otakku benar-benar buntu untuk malam ini, lebih baik aku segera tidur agar besok lebih fresh dan bisa memikirkan ide untuk mengetahui kerjaan suamiku diluar kantor.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Suara adzan subuh membangunkanku pagi ini, aku segera membangunkan mas Raditya agar kami bisa melakukan sholat subuh secara berjemaah seperti biasanya.
"Mas, bangun udah subuh nih" Ucapku sambil menggoyangkan lengannya.
"Bentar sayang, kamu duluan aja kalau mau sholat " Jawabnya yang membuatku kaget tak biasanya dia menolak untuk sholat berjemaah denganku.
Tanpa memikirkannya lagi aku segera kekamar mandi untuk mengambil wudhu dan segera melakukan tugasku sebagai umat muslim.
Setelah sholat subuh aku kembali membangunkan mas Raditya dan akhirnya dia bangun dari tidurnya meskipun dengan wajah ditekuk katanya masih ngantuk.
Tak habis fikir aku dengan suamiku ini, bisa- bisanya dia menggerutu karena dibangunkan untuk sholat, aku segera ke kamar putriku untuk membangunkannya seperti biasa dan jogging sebentar di halaman rumah.
Rindiani memang aku biasakan setelah sholat subuh tidak tidur lagi melainkan olahraga agar badannya sehat dan tidak mudah terserang sakit.
Setelah hampir satu jam kami melakukan jogging disekitaran rumah, kini aku kembali masuk ke dalam kamar untuk membangunkan mas Raditya agar segera siap-siap ke kantor.
"Semoga saja hari ini aku menemukan bukti kecurigaanku mas" gumamku dalam hati.
Flashback on...
Saat sedang jogging bersama dengan Rindiani aku kefikiran untuk menghubungi sahabatku Rohana, aku segera menceritakan kecurigaanku kepada mas Raditya dan juga noda lipstik di kemeja miliknya yang sangat kentara itu.
[Kamu ada alat sadap berukuran mini yang bisa di letakkan di mobil gak han?] Tanyaku setelah menceritakan kejadian tadi malam.
[Ada dong, aku kesana sebentar lagi. Ini aku juga lagi ditoko, sekitar lima belas menit lagi aku sampai] Ucapnya di telepon.
[Buruan, nanti mas Raditya keburu bangun] Ucapku.
[Iya bawel...! Udah aku mau turun kebawah dulu mau ambil alat sekalian langsung OTW kerumah kamu.] Jawab Rohana dan langsung mematikan panggilannya secara sepihak.
Rohana ini memiliki toko perlengkapan elektronik, jadi dengan mudah dia menyiapkan alat penyadap untukku karena kebetulan sekali tadi malam dia tidur diruko karena capek mau pulang kerumahnya.
Suaminya masih dinas diluar kota, dia memang jarang pulang kerumah kalau suaminya sedang keluar kota. Jadilah tidur diruko pilihan terbaiknya, toh disana dia tidak sendirian. Ada beberapa karyawan yang tidur disana.
Toko milik Rohana terdiri dari empat lantai, lantai satu dan dua digunakan untuk transaksi jual beli.
Sedangkan lantai ke tiga gudang penyimpanan dan lantai empat sebagai mess karyawan yang rumahnya jauh, juga ada satu kamar pribadi miliknya.
Beberapa saat kemudian Rohana sudah datang dan membawa alat penyadap yang akan ku tempelkan di bawah alat kemudi mobil mas Raditya. Karena disana merupakan tempat yang paling aman, tidak mungkin ketahuan karena alatnya juga sangat kecil.
"Segera lakukan" Ucapnya dan memberikan alat itu.
"Ajak Rindiani main dulu pastikan dia tidak tahu kalau aku masuk ke mobil papanya" Ucapku dan langsung diangguki oleh Rohana.
Aku segera melakukan aksiku sesuai dengan rencanaku tadi, tak butuh waktu lama aku sudah selesai menempelkan alat itu.
"Sudah beres?" Tanya Rohana saat aku mendekat ke arahnya.
"Sudah, buruan pulang sana. Nanti kalau mas Raditya bangun dia curiga kamu disini ngapain sepagi ini. Bayarannya udah aku transfer ke rekeningmu besti" Ucapku karena takut mas Raditya bangun duluan.
"Iya iya, nanti kita ketemu di tempat biasa setelah kamu mengantar Rindiani kesekolah" Ucap Rohana dan langsung aku angguki saja, karena aku juga akan meminta banyak bantuan kepadanya.
Flashback off...
Setelah memastikan mas Raditya bangun dan mandi, aku segera menyiapkan pakaian kerjanya dan aku letakkan diatas ranjang seperti biasanya.
"Siap semuanya sekarang gantian ke kamar Rindiani" gumamku dan berjalan keluar kamar dan berjalan ke kamar anakku.
Rindiani terlihat masih didalam kamar mandi, meskipun usianya belum genap lima tahun tapi dia sudah terbiasa mandi sendiri hanya saja untuk berpakaian kadang masih membutuhkan bantuan.
Beberapa saat kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk yang dililitkan ke badannya.
"Sini sayang, mama bantu pakai seragam sekolahnya" Ucapku.
Dengan telaten aku memakaikan seragam juga mengikat rambut milik putriku yang panjangnya sepundak itu.
"Ululu cantik sekali anak mama, nanti belajar yang pintar disekolah ya nak. Sebentar lagi kakak akan kenaikan kelas ke TK B jadi harus rajin belajarnya" Ucapku dan mencium gemas pipi putriku.
"Siap mama, nanti kakak jadi diantarkan papa kan ma?" Tanyanya dengan penuh harap.
"Nanti kita tanya papa dulu ya sayang, yuk kita sarapan dulu" Ucapku dan membawakan tas sekolah milik anakku.
Di meja makan terlihat mas Raditya sudah duduk menikmati kopinya dan sesekali melihat kearah ponsel yang ada dimeja.
"Pagi papa..." Sapa Rindiani dengan riang dan duduk di sebelah papanya.
"Pagi sayangnya papa, hmm cantik sekali princess" Jawab mas Raditya dengan menatap putri kami penuh cinta, aku tidak bisa berfikir bagaimana jika benar mas Raditya selingkuh. Rindiani pasti terluka karena cinta pertamanya malah menghianati mamanya.
"Ayok kita sarapan, nanti terlambat" Ucapku dan mulai menyendokkan makanan untuk mas Raditya juga Rindiani.
"Pa, nanti jadi antar kakak ke sekolah kan?" Tanyanya.
"Maaf sayang, nanti kakak diantar mama ya. Papa harus ke kantor pagi nak" lagi-lagi mas Raditya membuat Rindiani kecewa karena selalu mengingkari janjinya untuk mengantarkan Rindiani kesekolah.
"Ga apa ya sayang, nanti sama mama kesekolahnya?" Ucapku dengan memandang Rindiani yang terlihat sangat kecewa dengan papanya.
"Iya udah ga apa, tapi hari minggu kita jadi kan renang bersama pa?" Tanyanya lagi dengan penuh harap.
"Siap tuan putri, akan papa usahakan ya" Jawab mas Raditya.