Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26
Sementara itu, di lantai teratas gedung Equinox Ventures, rapat sedang berlangsung. Di ujung meja panjang, Benedict duduk di kursi kebesarannya. Matanya menatap tajam ke arah layar proyektor yang menampilkan grafik tren pertumbuhan salah satu startup teknologi yang baru mereka danai. Aura dingin dan mengintimidasi yang memancar dari Benedict membuat direktur investasi yang sedang presentasi di depan beberapa kali mendadak gagap karena gugup.
“Jadi, berdasarkan laporan audit kuartal ini, portofolio kita di sektor fintech ini mengalami stagnasi total, Mr. Franklin. Strategi mereka tidak menghasilkan metrik yang kita harapkan. Singkatnya, investasi kita disini terancam mati sebelum kita sempat melakukan exit atau mengambil keuntungan lewat IPO,” jelas sang direktur dengan peluh dingin di pelipisnya.
Ruang rapat mendadak hening, bahkan suara helaan napas pun terdengar enggan keluar. Benedict mengetuk-ngetuk meja dengan pena nya.
“Mati sebelum exit?” potong Benedict datar. “Aku menyetujui pendanaan seri B untuk perusahaan itu karena kalian menjamin likuiditasnya aman hingga tahun depan. Sekarang kalian mengatakan modal Equinox tertahan disana tanpa kejelasan?”
“B-bukan begitu, Mr. Franklin. Pasar sedang mengalami kontraksi, dan kami menyarankan untuk melakukan write off atau suntikan dana darurat untuk memperpanjang napas mereka—“
“Tidak ada suntikan dana untuk manajemen yang tidak kompeten,” potong Benedict cepat, matanya dingin menatap pria di depan.
“Aku tidak membayar kalian untuk mengemis kelonggaran pada pasar. Cari cara untuk merestrukturisasi aset mereka atau paksa akuisisi sebelum akhir bulan. Jika tidak, aku yang akan merestrukturisasi posisi kalian di perusahaan ini.”
“Baik, Mr. Franklin. Kami akan segera menyiapkan opsi akuisisi—“
Ceklek.
Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka tanpa ketukan. Luca melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Wajah nya tampak tegang, napasnya sedikit memburu, dan ia bahkan tidak memedulikan tatapan bingung dari belasan eksekutif di dalam ruangan. Luca berjalan cepat memutari meja, lalu membungkuk disamping kursi Benedict, membisikkan sesuatu tepat di telinganya.
“Conal baru saja menekan tombol darurat dari toko roti, Tuan,” bisik Luca. “Toko diserang segerombolan pria bersenjata. Komunikasi terputus. Conal tidak bisa mengatasi karena hari ini ia berjaga sendirian.”
Deg.
Pena di jemari benedidt seketika patah menjadi dua. Matanya menggelap, memancarkan aura membunuh yang begitu kuat hingga beberapa orang yang duduk didekatnya refleks memundurkan kursi mereka karena ketakutan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Benedict langsung berdiri, menyentak kursi hingga berdecit keras ke belakang.
“Rapat selesai,” ucap Benedict pendek.
Ia melangkah lebar keluar dari ruang rapat, mengabaikan dokumen-dokumen yang tertinggal. Luca dengan sigap mengikuti dari belakang, ia langsung menempelkan ponselnya ke telinga untuk berkoordinasi.
“Panggil seluruh tim alfa,” perintah Benedict tanpa menoleh “Jika ada goresan sekecil apapun itu di tubuhnya, aku akan pastikan bajingan-bajingan itu memohon untuk mati,” lanjut Benedict.
Langkah kakinya yang lebar dan cepat berubah menjadi larian kecil saat melewati lorong menuju lift eksekutif.
“Tuan, tim alfa butuh waktu tiga menit untuk bersiap di—“ Luca mencoba mengejar langkah Benedict sambil terus menempelkan ponsel ke telinganya.
“Aku tidak punya waktu tiga menit, Luca!” potong Benedict. Suaranya menggelegar di dalam lift yang bergerak turun.
Begitu pintu lift berdenting terbuka di lantai basemen, benedict langsung menyentak kunci mobil dari tangan Luca.
“Kau pimpin tim alfa. Aku tunggu disana,” perintah Benedict.
“Tapi, Tuan, terlalu berisiko jika anda pergi tanpa pengawalan—“
Belum sempat Luca menyelesaikan kalimatnya, Benedict sudah masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya hingga tertutup rapat. Tanpa ragu, Benedict menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil itu melesat bak peluru, membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, menyelip di antara taksi-taksi kuning dan kendaraan lain yang langsung membunyikan klakson panjang karena terkejut.
“Aku tidak akan terlambat. Aku akan membawakan mu makan siang.”
Suara Zara dan senyum tulusnya terus terngiang, beradu dengan suara deru mesin mobil yang kian meninggi. Pikiran bahwa gadis itu sedang ketakutan, atau lebih buruk lagi, membuat darah Benedict mendidih hingga ke ubun-ubun. Cengkeraman tangannya pada setir mobil begitu kuat hingga jemarinya memutih.
Ia mengabaikan dua lampu merah, membuat beberapa pejalan kaki di trotoar memekik kaget saat mobilnya berbelok tajam memotong jalur persimpangan jalan.
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit bagi Benedict untuk sampai. Suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal berbunyi nyaring saat Benedict membanting setir, menghentikan mobilnya tepat di depan toko. Mobil itu bahkan naik sebagian ke atas trotoar.
Begitu matanya menangkap pemandangan di depan, napas Benedict seketika tertahan. Pintu kaca toko kini telah hancur total. Dari dalam toko, samar-samar masih terdengar suara barang yang di banting.
Tanpa mematikan mesin mobil, Benedict membuka pintu dan melangkah keluar. Ia meraba bagian belakang pinggangnya, menarik sebuah pistol hitam dari balik jasnya.
Ia melangkah masuk melewati pecahan kaca yang berserakan. Hal pertama yang ia lihat adalah Conal. Pengawal itu tergeletak di sudut ruangan, wajahnya dipenuhi darah dan nyaris tidak sadarkan diri. Dua orang preman masih berdiri di dekat Conal, bersiap melayangkan tendangan terakhir.
“Hei! siapa baji—“
DOR! DOR!
Dua tembakan beruntun menggema di dalam ruangan, memekakan telinga. Tanpa peringatan, tanpa sepatah kata pun, Benedict melepaskan tembakan tepat di lutut kedua preman tersebut, membuat mereka langsung ambruk dan menjerit kesakitan sambil mencengkeram kaki mereka.
Suara tembakan itu seketika menghentikan seluruh aktivitas di dalam toko. Tiga orang preman lain yang berada di area tengah langsung berbalik, wajah beringas mereka mendadak pias saat mengenali siapa pria yang sedang berdiri di ambang pintu dengan pistol yang masih mengepulkan asap tipis.
“F-Franklin” ucap salah satu dari mereka, langkahnya otomatis mundur ke belakang.
Benedict tidak memedulikan mereka. Matanya bergerak cepat memindai seluruh ruangan, mencari satu sosok yang paling penting. Namun, Zara tidak ada disana. Fokusnya kemudian tertuju pada pintu dapur belakang yang terbuka lebar. Dari dalam sana, terdengar suara jeritan yang familiar.
Darah Benedict seketika berdesir panas, amarahnya mencapai puncak. Ia melangkah maju, melewati dua preman yang mengerang di lantai tanpa belas kasihan sedikit pun.
“Bunuh bajingan itu!”
Dua orang preman maju menerjang Benedict sambil mengacungkan balok kayu dan pisau lipat. Namun, kecepatan mereka sama sekali bukan tandingannya. Benedict dengan mudah mengelak dari ayunan balok kayu, menangkap pergelangan tangan pria itu, lalu memutarnya hingga terdengar bunyi patahan tulang yang mengerikan. Sebelum pria itu sempat berteriak, Benedict menghantamkan gagang pistolnya keras-keras ke pelipis pria tersebut hingga pingsan seketika.
Satu preman lainnya mencoba menusuk perut Benedict dari samping. Benedict bergeser satu langkah, mencengkeram kerah jaket pria itu, dan membanting tubuh besarnya ke atas etalase kaca hingga hancur berantakan.
Tersisa satu orang preman yang berjaga di depan pintu dapur. Preman itu gemetar hebat melihat Benedict yang berjalan mendekat. Sebelum ia sempat mengangkat senjatanya, Benedict sudah melayangkan tendangan lurus yang telak ke dadanya, membuat pria itu terpental ke dalam dapur dan menghantam meja.
BRAKKKK!
Benedict langsung melangkah melewati ambang pintu dapur, senjatanya terarah lurus ke depan.
Di sudut dapur, pemandangan di depannya seketika membuat rahang benedidt mengatup begitu rapat. Pemimpin preman itu sudah bergerak lebih cepat, ke menarik paksa tubuh Zara dari lantai, mencengkeram bahunya dari belakang, dan menempelkan sebilah pisau belati tepat di leher gadis itu.
Zara menangis tertahan, tubuhnya bergetar hebat dalam sekapan sang preman.
“Jangan bergerak, Franklin! Satu langkah saja kau maju, aku robek leher pelacur ini!” ancam preman.
Tangannya mencengkeram Zara semakin erat. Ia memundurkan langkahnya hingga punggungnya membentur dinding dapur, menggunakan tubuh Zara sepenuhnya.
Benedict berhenti melangkah. Pistol ditangannya tetap terarah lurus, membidik tepat di antara mata si preman. Wajahnya kini benar-benar datar, tanpa emosi.
“Lepaskan tangan kotormu darinya,” ucap Beneidt. “Atau aku pastikan kau tidak akan pernah bisa melihat matahari terbit lagi besok.”
“Kau pikir aku takut, hah?! Buang senjatamu sekarang atau—“
“Aku tidak suka mengulang ucapanku,” potong beneidict. “Kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa, keparat!”